NEVER

NEVER
Cinta Untuk Sandra



         RAMBUT panjang yang biasanya tergerai hari ini tampak di ikat sanggul, tapi tidak mengurangi pesona pemiliknya. Mustahil jika yang di lakukan Sandra saat itu tidak pamer, sebab dengan ia mengikat rambutnya membuat area di sekitar lehernya terpampang jelas. Ia tengah memamerkan leher jenjangnya.


Leher putih nan mulus dengan rambut nakal yang masih menjuntai beberapa helai itu menambah ayu tampilan wajahnya dan tak mungkin bisa abaikan oleh kaum adam yang melihatnya.


Tebar pesona adalah kebiasaan Sandra setiap hari, ia tidak pernah puas melakukannya sekalipun sudah mempunyai banyak barisan mantan. Ada kepuasaan tersendiri ketika ia bisa menarik ulur dan mempermainkan lelaki sesuka hatinya.


Sandra melangkah menuju lapangan Futsal dengan botol minuman isotonik di tangannya melewati puluhan lelaki yang menggonggong, melempar rayuan serta tatapan menjijikkan. Sandra hanya melengos jengah menghadapinya.


Riuh sorak suara suporter beserta tim cheerleader memenuhi lapangan memberi semangat pada jagoannya masing-masing. Sedangkan Sandra hanya duduk diam di antara orang-orang itu seraya mengamati seseorang yang ia incar. Ia berharap minuman di tangannya dapat membawa keuntungan besar baginya.


Peluit panjang terdengar nyaring di iringi tepuk tangan tanda permainan telah berahir. Sandra bangkit mencari seseorang yang ia tunggu sejak tadi. belum sempat ia melangkah Sandra sudah di hadang oleh Satria.


"Hai Ra..." cowok itu sambil mengibaskan rambut panjangnya yang di basahi oleh keringat. "Nyari siapa?"


Sandra menyembunyikan botol minuman itu di belakang tubuhnya, "Minggir" katanya.


"Minuman itu buat siapa?" Satria menatap Sandra penuh selidik. "Beruntung banget kayaknya cowok yang dapetin itu dari lo."


Sandra mengalihkan pandangannya malas menanggapi ketua osisnya.


"Oh gue tau, buat Alkana ya?" tebak Satria seraya melirik Alkana yang masih berdiri di tengah lapangan bersama dengan Jery.


Sandra tidak menjawab malah berputar arah mencari jalan lain. Satria berniat mengejar Sandra tapi kemudian ia melihat Riska bersama dayang dayangnya.


"Ris udah deh jangan di liatin terus, lo kan udah putus sama Satria" salah satu teman Riska menasehati.


"Tapi kenapa harus tu cewek sih yang dia suka?" dengus Riska.


"Mungkin yang Satria lihat fisiknya doang."


Riska membalik badannya "Gue tetap nggak terima apa pun alasannya!" Riska kemudian berlalu pergi.


Setelah kepergian Riska Satria beralih memperhatikan Sandra yang tengah berjalan menghampiri Alkana. Sesuai dugaannya, siapa lagi lelaki beruntung yang bisa mendapatkan perhatian dari Sandra kalau bukan Alkana.


Satria berdecak sebal lalu menyeka keringatnya dengan sorot mata terus mengamati gadis incarannya.


"What!" bola matanya membulat sempurna saat Sandra ternyata melewati Alkana, padahal Alkana tampaknya sudah bersiap menyambut kedatangan pacarnya.


"Sandra mau nyamperin siapa tuh?" Bimo tiba-tiba datang. Satria hanya menggeleng tidak mengerti.


Sandra masih mengayunkan langkahnya dan membiarkan orang orang penasaran dengan siapa sebenarnya lelaki yang ia cari.


Plak...


Sandra menepuk pundak cowok yang tengah mengusap keringat dengan handuk mungil. Cowok itu terkejut lalu menoleh.


"Sayang..."


Sandra tersenyum tipis mendengar panggilan menggelikan itu.


"Eh maaf maaf, Sandra maksudnya. Aku belum terbiasa" sesal cowok itu.


"Nggak papa, nih buat lo?" Sandra menyerahkan minuman di tangannya.


Bukan hanya Satria dan temannya bahkan Jery dan Alkana pun terbelalak melihat Sandra membawakan minuman itu untuk Haris.


"Kok di kasih sama Haris minumannya?" Jery menatap Sandra tidak percaya. "Lo lagi marahan Al sama Sandra?"


Alkana tidak menggubris pertanyaan temannya ia masih fokus menatap Haris yang tampak kegirangan menerima minuman dari mantannya, bukan hanya itu Haris juga langsung meneguk air dalam botol itu sampai habis.


"Makasih ya?" Haris menampilkan deretan gigi putihnya.


Sandra mengangguk, "Ke kantin yuk?" ajaknya kemudian.


"Se-serius?"


Sandra mengangguk yakin.


"Tapi aku mau ganti baju dulu ya?"


"Gue tunggu."


Haris langsung berlari menuju tempat berganti pakaian, ia tidak mau membuat Sandra lama menunggu. Lagi pula jarang jarang Sandra mengajaknya makan di kantin.


"Woi Al...!" Jery memekik di telinga Alkana. "Di tanyain malah bengong, fokus dong fokus"


"Bukan urusan gue" jawab Alkana lalu pergi.


"Di tanya apa jawabannya apa?"


***


        


        Sandra meletakkan mangkuk mi ayam pesanan Haris, lalu kembali lagi mengambil frestea lengkap dengan batu esnya.


"Makasih" ucap Haris di iringi senyuman di wajahnya. Sandra mengangguk singkat lalu menikmati makanannya.


Tak lama kemudian Audi dan Kanaya datang menghampiri mereka dan berdiri di depannya.


"Lo ngapain duduk di depan Sandra, mau bikin selera makan dia ilang?" kata Audi dengan suara khasnya yang melengking dan berhasil membuat seisi kantin menoleh.


"Lo udah di putusin ingat!!" imbuh Kanaya sambil melotot.


Haris hanya mendongak memasang wajah melasnya tanpa berani membela diri.


"Ih... di katain malah bengong, minggir!" usir Audi.


Haris beralih menatap Sandra meminta pertolongan tapi percuma karena Sandra masih sibuk dengan makananya. Mungkin Sandra sudah bersekongkol dengan teman temannya untuk mempermalukan dirinya.


"Selain cupu ternyata lo budek juga, pergi sana pindah! hus hus" Kanaya sambil mengisyaratkan tangannya agar Haris segera menyingkir.


Haris meraih mangkok mi ayam dan botol minumannya lalu berdiri, namun kemudian Sandra menahan pergelangan cowok itu.


"Gue yang nyuruh dia duduk di sini," Sandra sambil menyeruput mi ayam di mangkuknya.


"Serius lo?" Kanaya tidak percaya.


Sandra mengangguk, "Lo duduk sini aja, jangan kemana-mana."


Haris kembali duduk di tempatnya sambil tersenyum "Makasih."


Haris sangat senang Sandra berbuat baik padanya padahal selama pacaran ia selalu teraniaya, apa mungkin Sandra menyesal? Entahlah.


"Ra lo kesambet apa?" tanya Audi.


"Udah deh mendingan lo duduk, kalau mau pesan makan ya tinggal pesan aja nggak usah ngerecokin gue!" ucapan Sandra terdengar ketus dan itu membuat kedua temannya bungkam.


Audi dan Kanaya lalu duduk di kursi samping sahabatnya.


Sandra melirik Haris yang tampaknya mulai menikmati makanannya. Di lapangan tadi Sandra sedikit terpesona dengan penampilan Haris saat ia tidak menggunakan kaca mata dan menggunakan seragam olahraga. Tapi sekarang baju putih abu-abu dan kaca mata tebal itu membuat Sandra risih.


Haris mengangguk, "Tapi udah terbiasa, biar gampang juga kalau mau belajar langsung kelihatan" Haris lalu nyengir.


Tanpa permisi Sandra langsung menarik kacamata milik Haris, "Ya udah lepas aja gue nggak suka."


Haris mengucek matanya menyesuaikan penglihatannya. Audi dan Kanaya hanya beradu pandang.


"Terus juga ngapain tuh baju di kancingin semua, norak tauk!" Sandra menunjuk kerah bajunya.


Haris melongo "Emang kenapa?"


Sandra memakai kacamata milik Haris kemudian tangannya terulur membuka kancing baju teratas cowok itu.


"Nah gitu kan enak lihatnya" Sandra tersenyum puas melihat Haris yang terlihat lebih normal dari biasanya, "Dasinya di longgarin."


Haris menurut mengikuti saran dari Sandra, "Kayak gini."


"Iya, gue lebih suka lihat lo kayak gitu."


Haris mengangguk, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menuruti keinginan gadis yang ia cintai.


"Kalian nggak balikan kan?"


***


            Haris melangkah beriringan dengan Sandra menuju kelasnya. Meskipun masih merasa aneh dengan tingkah Sandra tapi Haris mencoba menepis prasangka buruknya, ia berfikir bahwa Sandra mungkin sudah benar-benar berubah atau ingin memperbaiki kesalahannya. Haris terlalu baik untuk gadis liar seperti Sandra.


Sandra berbelok memasuki ruang kelasnya lalu duduk di kursi. "Sini" Sandra menepuk kursi di sampingnya, "Sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo?"


Haris merebahkan pantatnya "Apa?"


"Emm..." Sandra tampak berfikir seolah ragu dengan apa yang akan ia katakan. "Kita kan udah putus maaf ya kalau selama ini gue sering ngrepotin lo?"


Haris tersenyum mendengar itu lalu mengangguk cepat, ia tidak menyangka Sandra bisa mengucapkan kata maaf padanya.


"Udah aku maafin kok" jawabnya sungguh-sungguh.


"Beneran?"


"Serius."


Sandra tersenyum penuh arti, "Kalau lo beneran udah maafin gue berarti lo mau dong temenan sama gue."


"Boleh."


"Yakin, lo nggak nyesel temenan sama gue?"


"Nggak. Malah aku seneng, yang penting kamunya jangan marah marah."


"Ok. Aku nggak akan marah marah lagi, gimana?"


Haris mengangguk setuju.


"Aku fikir kamu masih dendam sama aku gara gara yang kemarin?"


"Nggak. Apapun yang kamu lakuin asalkan itu kamu aku nggak akan dendam kok."


Ucapan itu tulus dari hati tapi sayang Sandra tidak bisa melihatnya.


"Syukur deh," Sandra memperbaiki posisi duduknya. "kalau gitu lo mau nggak bantuin gue?"


"Bantuin apa?" Haris masih bersemangat menatap gadis cantik di depannya.


Sandra mengeluarkan beberapa buku paket dan buku tulisnya. "Bantuin gue ngerjain PR. Lo tau kan selama ini biasanya lo yang ngerjain tugas gue jadi selama kita putus gue nggak bisa ngerjainnya, nilai nilai gue jelek semua semenjak nggak ada lo. Ya mau ya bantuin?" Sandra menatap Haris dengan tatapan memohon.


Haris langsung cemberut, seharusnya ia sadar bahwa gadis itu tidak akan pernah berubah dan tetap menganggapnya sebagai kacung. Tapi ia terlalu lemah untuk sekedar menolak, ia terlalu menyukai Sandra.


"Kalau lo nggak mau nggak papa kok" Sandra memasukkan buku bukunya lagi dalam laci dengan rasa kecewa, "sialan!" batinnya.


"Gue mau kok" jawab Haris kemudian.


"Serius?"


Haris mengangguk yakin, "Aku serius."


Sandra meraih tumpukan buku bukunya lagi "Nih, jangan lupa senin depan di kumpul ya" ucap Sandra sesuai dengan tabiat aslinya.


"Iya."


"Tenang aja gue minta tolong lo nggak gratisan gue bakal traktir lo kalau lo habis ngerjain PR gue."


"Boleh," tawaran itu lebih menarik dari pada Sandra menerima bantuannya secara cuma-cuma.


"Makasih, lo temen gue yang paling baik sedunia."


Haris tersenyum mendengar pujian itu, "Ra. Udah dulu ya aku mau ke kelas" pamitnya.


Namun Haris tak segera bergeming, ia masih terpaku menatap Sandra.


"Kenapa?"


"Kacamata ku."


"Oh iya.." Sandra melepas kacamata yang sejak tadi masih bertengger manis di telinganya, "Sory gue lupa."


"Nggak papa" Haris seraya menggunakan kacamata itu.


"Kok di pake lagi kan gue udah bilang jangan di pake?"


Haris terdiam sejenak lalu berkata. "Kamu bilang kalau kamu suka lihat aku nggak pake kacamata tapi setelah aku pikir pikir itu percuma Ra karena aku yakin kamu nggak akan ninggalin Alkana demi cowok kayak aku."


Sandra mengerjapkan matanya, ia tidak tau apa maksud Haris berkata seperti itu.


"Aku lebih baik jadi diri ku sendiri."


"Maksud lo?"


Haris bangkit dari kursi tapi sebelum bergeming ia menoleh "Aku nggak tau kamu emang nggak tau atau pura pura nggak tau, tapi yang jelas selama ini aku tulus sayang sama kamu."


Sandra ternganga seraya menatap kepergian cowok itu. Sebodoh itukah ia selama ini karena tidak bisa merasakan ketulusan lelaki itu, atau Sandra terlalu buta dan tidak menyadari bahwa masih ada lelaki baik di dunia ini, Haris contohnya.


"Kok gue baper sama tu cupu, astaga" Sandra menepuk pelan jidatnya berkali-kali menyadari bahwa ia barusan terharu mendengar perkataan Haris.


Sekeras apapun Sandra pada Haris tidak mustahil jika Haris bisa meluluhkannya dengan ketulusan. Seperti batu yang bisa tembus hanya dengan tetesan air.


***