
Alkana manggut-manggut mendengar itu, "Oh.. jadi kamu cuma tinggal bertiga di rumah?" Alkana sambil melingkarkan kedua lengannya di perut gadis mungil itu.
Pika mengangguk, "Tapi...."
"Ekhem" deheman itu membuat Alkana terperanjat.
"Nanya apa lo barusan?" tanya Sandra yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan Alkana.
"Ng-nggak" Alkana gugup.
"Om Al nanya, katanya...." Alkana langsung membungkam mulut Pika.
"Nggak nyanya apa apa?" namun Pika menepis tangan Alkana.
"Ish om Al tinggal jawab aja pake malu segala."
"Lo mau ngasihani gue?" Sandra menatap Alkana tidak suka.
Pika turun dari pangkuan Alkana dan beralih di pangkuan Jery, ia takut kalau melihat Sandra mulai marah. Jery hanya menatap bingung pada gadis kecil yang tiba-tiba duduk di pahanya tanpa permisi.
Alkana bangkit dari kursi seraya menarik lengan Sandra dan menjauh dari tempat itu.
Alkana baru melepas cengkeramannya setelah sampai di depan tangga. "kenapa, lo keberatan kalau gue nanya keluarga lo?"
"Lo nggak berhak tau tentang gue."
"Terus gimana sama lo? bukannya selama ini lo selalu cari tau tentang gue?" Alkana menatap intens lawan bicaranya.
Sandra terdiam, ia tidak mempunyai pembelaan untuk pertanyaan itu.
"Lo lebih nggak berhak tau tentang gue, dan itu nggak ada gunanya buat lo. Ngerti?"
Sandra hanya bungkam, namun beberapa detik kemudian ketegangan di antara keduanya memudar.
"Tante Om main yuk?"
***
Setelah membuat berantakan seisi rumah Alkana, Sandra, Pika dan Jery akhirnya pulang. Alkana tidak tau persekongkolan apa yang telah Tiga orang itu jalin karena dengan kejamnya memberantakan rumahnya di saat asisten rumah tangganya tidak ada.
"Thanks ya Bro" Jery melambai setelah turun dari mobil. "Sandra sampai ketemu di sekolah?" cowok jangkung itu tersenyum dan hanya di balas anggukan oleh Sandra.
Alkana kemudian melanjutkan mobilnya menuju rumah Sandra.
Hening.
Alkana dan Sandra kalut dalam pemikirannya masing-masing, hanya suara mesin dan klakson yang menemani perjalanan mereka.
Sandra mengusap rambut Pika yang tengah tertidur di pangkuannya dan sesekali mengecup pucuk kepalanya. Ia senang karena seharian ini bisa menghabiskan waktunya bersama Pika tanpa gangguan Reza. Pika sebenarnya bisa menjadi obat penenang baginya tapi terkadang Reza memanfaatkan Pika agar menjadi jembatan untuk menuju Sandra yang membuat Sandra malas berlama-lama di rumah.
"Gua harap lo nggak datang lagi kerumah gue" Alkana seraya mengendalikan kemudinya.
Sandra menoleh menatap lelaki di sampingnya, "Kenapa?"
"Gue nggak suka" Alkana melirik sinis. "Lo pikir itu rumah lo, seharusnya lo tau diri. Lo nggak mau bikin gue nyesel karena udah nolongin lo kan?"
Sandra merapatkan bibirnya berusaha menahan sesak sekaligus menahan air mata yang bisa tumpah kapan saja, "Ra sadar itu bukan rumah lo lagi?" Sandra berusaha menasehati dirinya sendiri.
Sandra menunduk seraya menelan salivanya susah payah, jangankan menjawab untuk sekedar mengangguk saja terasa sulit. Hanya rumah itu yang ia punya, tempat dimana ia bisa mengingat semuanya, tempat dimana ia masih merasa memiliki, tempat dimana ia merasa nyaman. Tapi kini ia seakan di tampar oleh kenyataan bahwa semua telah berubah.
"Lo denger nggak!" Alkana meninggikan nada bicaranya.
Sandra mengangguk pelan lalu menyeka air di sudut matanya yang hampir terjatuh.
"Lo sendirian di rumah itu?" Sandra mengalihkan pembicaraan, "nyokap sama bokap lo kemana?"
"Lo udah lama di gangguin sama kakak ipar lo?"
"Al gue nanya?" Sandra menatap Alkana ingin tahu.
"Udah di apain aja lo sama dia?"
"Al...?"
"Kakak lo tau?" Alkana menatap tajam pada gadis lancang yang telah menanyakan urusan pribadinya.
"Gue cuma nanya keluarga lo, kenapa lo malah ngomongin Reza sih?" Sandra mencebik kesal.
"Emang Reza bukan keluarga lo?"
"Iya tapi gue nggak suka lo ngomongin dia!" Sandra mengeraskan suaranya lalu beralih menatap jalanan.
Alkana menginjak rem memarkirkan mobilnya di tepi jalan, "Gue lebih nggak suka lo nanya nanya tentang keluarga gue?"
"Kenapa?" meskipun malas menatap Alkana tapi keingin tahuan Sandra tidak bisa di tepis begitu saja.
"Kenapa lo nggak suka gue bahas kakak ipar lo?" Alkana malah balik bertanya.
"Lo tau kan alasannya? dia kurang ajar sama gue."
"Itu mungkin bisa jawab pertanyaan lo ke gue."
"Oh..." Sandra mengangguk lalu tersenyum remeh, "Apa bukan lo yang kurang ajar karena udah jual obat terlarang."
Alkana melepas seatbelt memutar arahnya pada Sandra, "Lo nggak tau apa apa tentang gue. Jadi lebih baik lo diam" kecam Alkana penuh penekanan.
"Kenapa, lo di usir dari rumah?" tebak Sandra.
Sandra menepis tangan Alkana lalu tertawa, "Lo pikir gue takut sama lo?" Sandra membalas tatapan sangar itu tanpa rasa takut sedikitpun.
"Ok, gue kasih lo pilihan. Berhenti atau lo nyesal lo tinggal pilih Ra, dan kalau misalnya suatu saat lo nyesel jangan pernah lo datang ke gue."
Kening Sandra berkerut tak terhitung jumlahnya, "Maksud lo?"
Alkana menaikan satu sudut bibirnya lalu melanjutkan perjalanan, "Gue harap lo berhenti biar gue nggak perlu jelasin apa maksud gue."
***
Alkana merebahkan tubuh mungil itu di kamar bernuansa Hello Kitty lalu menyelimutinya.
"Dia siapa?" pertanyaan Reza pada Sandra di ruang tamu terdengar jelas di telinga Alkana.
"Bukan urusan lo."
"Kamu jangan gampang percaya dengan orang asing!"
"Oh terus gue harus percaya sama orang kayak lo?" suara Sandra terdengar sinis.
"Kalau Rena tau kamu pulang malam bawa bawa Pika pasti dia marah, apalagi sama cowok itu" Reza menunjuk kamar putrinya, bersamaan dengan itu Alkana keluar.
Sandra menoleh sekilas pada Alkana lalu beralih menatap Reza, "Lo mau ngadu, aduin aja. Emang itu kelebihan lo kan, lo tu cuma benalu di keluarga gue."
Tangan Reza mengepal mendengar itu.
"Suami macam apa lo yang tega biarin istrinya bolak-balik keluar kota sendirian, sedangkan lo cuma rebahan di rumah, makan enak tiap hasil jeri payah kakak gue. Dan lo masih mau ngurusin hidup gue? Kalo lo punya harga diri harusnya lo malu Za!"
Sebelumnya Sandra tidak pernah berani berkata seperti itu tapi karena ada Alkana baginya tidak masalah, Sandra akan menumpahkan semua kedongkolannya pada Parasit di hadapannya.
"Berhenti lo ngatur ngatur gue percuma, gue sama sekali nggak butuh orang kayak lo."
Reza merapatkan giginya membentuk tegas rahang pada wajahnya, ia tidak terima dengan ucapan itu, ia seolah sangat kecil di mata adik iparnya.
Alkana yang berdiri di belakang mereka lalu melangkah mendekati Sandra, ia harus segera pergi dari rumah itu.
"Gue balik," pamitnya dan kemudian melanjutkan langkahnya kearah mobil.
"Al..." Sandra mengikuti langkah pacarnya, "Tunggu."
"Sandra mau kemana kamu!" Reza menahan lengan adik iparnya.
"Lepasin gue, atau gue aduin sama kak Rena kebejatan lo selama ini" ancam Sandra sambil menepis tangan kekar yang menghalanginya.
"Al... tunggu!!" Sandra berlari mendekati Alkana sedangkan Reza hanya bisa membiarkannya.
"Al..." Sandra menahan daun pintu mobil yang baru saja terbuka.
"Kenapa?" tanya cowok itu malas.
"Kok pulang sih gue kan belum selesai ngasih pencerahan sama Reza, tunggu gue selesai dulu kek" protes Sandra sambil terengah engah.
"Ya udah kalau belum selesai lanjutin aja kenapa malah nyamperin gue?"
"Ya kalau nggak ada lo gue nggak berani," Sandra melirik pintu rumahnya melihat Reza yang tengah berdiri seraya mengamatinya.
"Gue mau balik" Alkana lalu bergeming.
"Tunggu tunggu tunggu..." Sandra tampaknya tidak akan membiarkan Alkana pergi begitu saja.
"Langsung pergi pergi aja gitu" Sandra mendengus sebal.
"Terus," Alkana tidak tau apa yang di inginkan gadis itu.
Sandra menutup daun pintu mobil itu lalu mendekat pada Alkana, "Ini dulu" Sandra menunjuk bibirnya.
"Ogah" jawab Alkana sambil mengalihkan pandangannya.
"Ck, cuma ekting doang, mumpung di liatin tuh?" Sandra setengah berbisik, "lo mau kalau pacar lo di ***** grepein sama Om Om?"
"Bukan urusan gue."
"Ya udah deh sini aja" Sandra beralih menunjuk pipi kirinya mencoba bernegosiasi.
"Gue bilang nggak ya nggak" kekeuh Alkana.
Sandra menghela nafas panjang tanda kekesalannya sudah mencapai ubun ubun, "Munafik banget sih lo, semalem juga lo nyosorin gue!"
Alkana terbelalak, jika bisa ia ingin menghilang saat itu juga, ia malu. Sumpah ia menyesal karena telah mencuri dari gadis itu.
"Sampe puas lagi, lo pikir gue nggak sadar apa?" Sandra memutar bola matanya menatap kearah lain. Sandra memang tidak tau siapa pelaku karya di lehernya tapi ia masih ingat ketika Alkana menciumnya.
Malas berlama-lama Alkana lalu menarik pinggang gadis itu dan menempelkan bibirnya di kening Sandra.
"Gue balik dulu" katanya.
Sandra mengangguk sambil tersenyum kegirangan. Meskipun yang di berikan Alkana tidak sesuai dengan yang ia minta tapi Sandra menyukainya, baginya itu lebih dari cukup.
***
Pacar tantenya Pika