NEVER

NEVER
Falling In Love



SINAR mentari nampak menyilaukan mata sama silaunya dengan senyuman Sandra yang pagi ini sudah terbit untuk Alkana.


Hari ini Sandra sengaja bangun lebih awal untuk membuat sarapan sebelum berangkat kesekolah.


"Pagi Al..." sapa gadis itu seraya tersenyum cerah.


Alkana terpukau menatap gadis itu. Tidak biasanya Sandra pagi-pagi sudah bangun dan menyiapakan sarapan untuknya. Dan lagi Sandra sudah menggunakan seragam sekola bahkan tas selempangnya sudah ada di meja membuat Alkana ingin bertanya, jam berapa ia bangun?


Sandra berlari kecil menghampiri lelaki tampan yang masih berdiri mematung tak jauh dari meja makan.


"Kita Sarapan dulu ya?" lengannya menyelip di lengan kekar lelaki itu dan menuntunnya ke meja makan.


Sandra menarik kursi menyuruh Alkana duduk setelah itu ia menyibukan diri menyiapkan piring, sendok, air minum dan nasi goreng yang baru saja selesai ia masak.


"Nasi goreng kornet, masih anget. Cobain deh?"


Gadis yang pagi ini terlihat cerah dan bersemangat itu duduk di samping Alkana.


Alkana meraih sendok di piringnya dengan tatapan tak lepas dari gadis itu dan tanpa sadar bibirnya melengkung.


"Makasih..."


Sandra mengangakat sebelah alisnya, "buat?"


Lelaki itu menarik pandangannya beralih pada piring, ia tidak tau untuk apa mengucapkan terimakasih. Untuk perhatiannya kah? Untuk kebaikannya atau untuk kehadirannya?


"Buat sarapannya. Makasih udah mau repot-repot masak buat gue."


Sandra mengangguk dengan seulas senyum yang masih sama cerah "iya."


Setelah mengucapkan itu Sandra menyuapkan makanan di mulutnya dan menikmatai sarapannya dengan hikmat. Berbeda dengan Alkana yang sejak tadi diam-diam mengamatinya.


Alkana mengaduk aduk makanan di piring tanpa berniat menyuapkan sesendokpun, matanya tak bisa berpaling dari pahatan indah dan lekuk tubuh gadis itu.


Rambut pirang lurus yang melewati pundak hingga menyentuh punggung, kulitnya putih mulus serta paras cantik dengan senyuman manis itu sungguh memanjakan mata Alkana. Tanpa sadar tangan Alkana bergerak menjumput anak rambut gadis itu dan menyelipkan kebelakang telinga.


Sandra menoleh dengan senyuman merekah.


"Enak?" tanyanya.


Pertanyaan itu membuat Alkana tersadar. Apa yang baru saja ia lakukan?


"Apa lumayan enak?" ralat Sandra.


"Enak kok, bener-bener enak" jawab Alkana. Entah ia mendapat ide dari mana mengatakan itu, padahal ia belum mencicipnya sama sekali.


"Beneran? Masih ada banyak kok, kalau lo mau nanti gue bungkusin buat bekal di sekolah. Mau?"


"Boleh."


"Ya udah nanti gue bungkusin" ujarnya kemudian kembali melanjutkan makannya. Begitu juga Alkana yang akhirnya menyantap makanan itu namun matanya masih sesekali melirik pada gadis di sampingnya seolah enggan melewatkan bentuk menawan ciptaan Tuhan.


Sandra makan dengan anggun, tidak tergesa-gesa dan nampak tenang. Takaran sendoknya pada nasi sangat pas dengan porsi mulutnya, tidak menyebabkan mulutnya terlalu penuh dan berantakan. Ia makan dengan hati-hati dan begitu menikmati seolah menunjukan bahwa ia memang seorang gadis cantik dan berkelas.


Astaga, hanya sekedar melihat Sandra makan Alkana sampai terkagum-kagum. Setelah ini sepertinya ia harus ke dokter, ada yang salah dengan otaknya.


***


Lonceng istirahat baru berbunyi lima menit yang lalu namun Sandra dan kedua temannya masih stay dalam kelas.


Audi sibuk dengan cermin dan make upnya sedang Kanaya sibuk dengan katalog terbaru miliknya.


"Kalian nggak kekantin?" gadis yang rambutnya terurai itu bertanya sambil mengambil sesuatu dalam tas.


"Iya gue bentar lagi kelar," sahut Audi "lo nggak ikut?"


"Gue ada urusan sebentar."


Audi mengatupkan cermin di tangannya, "urusan apa?"


"Ada deh" Sandra bergeming sambil membawa bekal di tangannya.


Kedua temannya beradu pandang.


"Mau kemana lo Ra, tumben-tumbenan bawa bekal segala?" Audi perasaan.


"Buat Alkana ya?" tebak Kanaya.


Sandra menggeleng, "buat Haris" katanya yang kemudian menghilang dari balik pintu.


Selain ia masak untuk Alkana Sandra juga membawakan bekal untuk Haris. Apalagi alasannya kalau bukan karena Alkana yang belum memberi Sandra uang jajan, dan itu membuatnya terpaksa harus membawakan bekal untuk Haris sebagai ganti.


Di sisi lain, Alkana masih terpaku di mejanya. Ia ingin ke kantin tapi ia ingat jika Sandra sudah memberinya bekal dan sayang jika tidak di makan meskipun itu hanya nasi goreng.


Alkana menoleh melihat Jery yang tengah sibuk dengan HPnya kemudian menatap ke sekeliling kelas yang sepi. Hanya ada Haris di meja belakang paling pojok, ia nampak sibuk dengan buku-buku. Alkana tidak tau apa yang di kerjakan tapi lelaki itu kerap menghabiskan waktu istirahatnya dalam kelas.


"Jer, lo mau nasi goreng nggak?" kata cowok itu sejurus kemudian.


"Lo mau neraktir gue?"


Alkana mengeluarkan ranselnya dalam laci, "nggak. Gue di bawain bekal sama Sandra."


"Serius lo" jika menyangkut makanan gratis Jery langsung bersemangat, "mana."


Ransel Alkana mulai terbuka membuat Jery buru-buru menyimpan ponselnya dalam saku.


"Tau aja lo kalau gue lagi laper" Jery langsung merebut kotak bekal yang baru saja keluar dari sarangnya.


"Sandra masak buat gue Jer!" sewot Alkana.


"Terus lo ngapain tadi nawarin gue?"


"Gue basa-basi doang. Balikin gak!" katanya, tidak terima miliknya di rebut.


Jery mendengus sebal lalu mengembalikan barang rampasannya. "Pelit banget lo jadi orang, nggak setia kawan" gerutunya tidak iklas.


"Ntar kalau gue udah kenyang gue kasih sisaan gue buat lo, gimana?"


Jery bergeser, menjauhkan kursinya dari Alkana, "nggak usah. Makasih."


"Serius nggak mau?" Alkana membuka tutup bekal itu yang seketika membuat aroma khas nasi goreng menyusup indra penciuman, "nggak nyesel."


"Dari pada gue makan bekas lo" kekeh Jery. Padahal sebenarnya ia pengen, dari aromanya sepertinya enak apa lagi rasanya. Tapi sayang Jery hanya bisa menelan ludah, Alkana shit.


"Enak Jer sumpah" Alkana meyakinkan sambil mengunyah makanan dimulutnya.


"Kornetnya nggak terlalu banyak tapi terasa, matengnya pas, bumbunya merata lagi dan yang harus lo tau Jer rasanya... nendang di lidah. Very very tasty" Alkana melebih lebihkan.


Jery menelan ludah untuk kesekian kalinya, jika bisa ia ingin menyumpal mulut Alkana dengan sepatu tapi ia sadar itu tidak mungkin. Jery berharap Alkana segera menyelesaikan ritual makanannya agar ia segera terbebas dari siksaan cacing perutnya yang meraung-raung minta di isi.


"Gue tanya sekali lagi," Alkana menggeser bekal itu kearah temannya "beneran lo nggak mau, nggak nyesel. Ntar lo ngiler?"


Jery memutar bola matanya jengah, "lo lagi seneng apa gimana. Tumben lo kelihatannya happy" Jery mengalihkan pembicaraan. "Dapat morning kiss lo dari Sandra?"


Alkana tersedak, tangannya kemudian menggapai air mineral di meja belakang dan meneguknya tanpa perduli siapa pemiliknya.


"Gue biasa aja" bantah Alkana seraya mengusap sisa air minum yang membasahi bibir.


"Lo ngomong lebih dari empat kata itu untung tapi tadi, lo nerocos. Kosa kata lo udah banyak?"


Alkana diam, menelaah perkataan Jery. Sejak kapan ia banyak bicara? sekalipun dengan Jery selama ini ia selalu sehemat mungkin. Tapi tadi, Alkana tanpa sungkan menggoda temannya bahkan melebih lebihkan kalimatnya.


"Tapi tenang Al, gue tau lo kenapa?" Jery menaik turunkan sebelah alisnya membuat Alkana menoleh dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Itu adalah evek jatuh cinta" lanjut Jery dramatis. "Menurut buku yang pernah gue baca kehadiran seseorang yang kita cintai bisa membuat hidup kita lebih bahagia, bisa mengurangi rasa sakit, stres dan meningkatkan kekebalan tubuh."


"Buku apa?" Alkana kurang yakin, siapa tau Jery mengada-ngada.


"Buku..." tangannya memegang dagu, Jery nampaknya lupa. "Buku Tatang Sutarman" kata Jery asal membuat Alkana menyesal telah menunggu jawabannya.


"Eh salah Al lebih tepatnya Psikolog."


"Ngarang lo" sahut Alkana yang kemudian melanjutkan makannya.


"Gue serius, buktinya lo."


"Gue kenapa?"


"Ya lo kan kemarin sakit, tapi karena di rumah lo ada Sandra jadi sembuhnya cepetkan, lo nggak sampai di bawa ke dokter. Dan itu bukti kalau seseorang yang sakit dan di rawat oleh orang yang kita cintai bisa membuat rasa sakit yang kita alami berkurang dan cepet sembuh."


"Masak?"


"Terserah lo deh Bambang, capek gue ngomong sama lo" Jery berputar arah membelakangi Alkana jengah menghadapi temannya.


Alkana terpaku sedangkan otaknya berputar menggabungkan fakta dan apa yang di katakan oleh Jery.


Sialnya ucapan Jery benar, Alkana memang merasa lebih baik sejak kehadiran gadis itu. Ada rasa senang ketika setiap saat ia bisa melihat gadis itu di rumahnya.


"Satu hal Al yang harus lo ingat, gue nggak percaya kalau lo bilang lo nggak suka sama Sandra" ucap Jery tanpa menoleh.


Alkana tidak membantah, membiarkan Jery dengan pendapatnya.


Bersamaan dengan itu Alkana melihat Sandra memasuki ruang kelasnya. Alkana gelagapan dan seketika menyimpan makanannya dalam laci tidak ingin Sandra melihat apa yang sedang ia lakukan.


Langkah kecil gadis itu mengayun dengan santai, bola matanya bergerak mencari seseorang. Setelah menemukan yang ia cari Sandra mendekat menghampiri orang itu.


"Hai Sandra," sapa Jery yang kemudian menurunkan ponselnya. "Nyari Alkana ya?"


Sandra berhenti di samping meja Alkana sedangkan kedua tangannya bersembunyi di belakang punggung. Belum sempat Sandra menjawab Alkana bangkit dari kursi.


"Gue mau ke kantin" pamitnya.


"Loh Al mau kemana!?" pekik Jery.


"Biarin aja Jer. Lagian gue cuma mau nyapa doang kok."


"Sorry ya, kalau gitu gue juga mau nyusul Alkana juga deh. Duluan ya Ra?" Jery bangkit lalu beranjak pergi mengejar Alkana.


Sandra melanjutkan langkahnya lalu berhenti di samping meja mantannya.


"Hai..."


Haris mendongak, melihat siapa yang mendekatinya.


"Sandra?"


"Udah selesai?" Sandra merebahkan pantatnya di kursi dan memutar arah menghadap laki-laki itu.


"Sudah tapi ada yang belum, bukannya kamu bilang kamis ya. Inikan baru hari..."


"Gue cuma nanya, belum mau gue ambil."


Haris menghela nafas lega, ia fikir Sandra akan marah.


"Oh iya. Ini buat lo?" Sandra mengulurkan bekal yang sejak tadi ia bawa. "Kebetulan tadi gue masak banyak, terus gue bungkusin buat lo. Lo mau kan?"


Haris meletakkan balpoin ditangannya kemudian dengan ragu menerima pemberian gadis itu. Biar bagaimanapun Haris menghargai pemberian Sandra meski sebenarnya ia tidak percaya jika Sandra benar-benar ingin berniat baik padanya. Siapa tau Sandra ingin mengerjainya.


"Karena gue udah masakin lo itu artinya sama ajakan gue traktir lo makan?"


"Iya Ra, makasih" jawabnya kaku.


Haris ingin Sandra segera pergi agar ia bisa memastikan bahwa yang Sandra berikan padanya adalah makanan bukan racun, pencuci perut atau sejenisnya.


Sandra tersenyum senang melihat Haris menerima pemberiannya, "di makan dong?"


"Nanti ya Ra, bentar lagi bel" alibinya.


"belum kok masih kurang beberapa menit lagi."


Krrring..


Haris merasa terbebas dari paksaan gadis itu.


Sandra mendesah, "yah kok udah bel" gerutunya sebal. "Habis ini lo pelajaran apa?"


"Seni budaya."


"Gurunya nggak masuk."


"Masak?"


"Iya, tadi gue juga jam kosong."


"Lo kenapa nggak masuk kelas?" usir Haris secara halus.


"Habis ini gue olahraga. Paling pak Yoza cuma nyuruh anak cowok main basket jadi yang cewek bebas deh."


Haris mengangguk "Oh..."


Sial, ia kehabisan cara untuk mengusir gadis itu.


"Ayo Ris dimakan. Gue mau lo nyicipin masakan gue" rayunya.


"I-iya deh" Haris pasrah lalu terpaksa membuka tutup bekalnya.


"Lo nggak mikir gue bakal ngeracunin lo kan???"


***


Jery