
"Jangan bawa koper, kakakmu sudah datang dari tadi" ucap Reza pada gadis yang tengah melepas seatbelt.
Sandra menghentikan gerakannya dan sejenak menatap Reza.
"Aku nggak ngomong apapun sama kakakmu. Kamu aman" imbuhnya.
Sandra melengos, lalu turun dari mobil. Dia tidak harus senang dulu aman dari amukan Rena, sebab di balik semua itu ia harus tetap berhati-hati. Lelaki yang satu itu sulit untuk dipercaya, mustahil Reza berbuat baik padanya tanpa mengharap sebuah imbalan.
Langkah panjang gadis itu berhenti di depan pintu dan tubuhnya berbalik saat melihat sebuah mobil terparkir di samping mobil kakaknya. Sebuah mobil tua bermerek Toyota Corolla DX namun masih terlihat begitu terawat. Sandra tidak tau siapa pemilik mobil itu tapi jika melihatnya ia jadi teringat ayahnya. Dulu ayahnya gemar mengoleksi barang-barang antik seperti mobil itu contohnya.
Pandangannya beralih ketika sebuah teriakan anak kecil memenuhi gendang telinga.
"TANTEEE!!!" panggil Pika dengan seyuman paling ceria se-Nusantara di iringi tatapan penuh binar yang tertuju padanya.
"Pika kangen" katanya seraya memeluk pinggang gadis cantik berseragam SMA.
Merasa tidak nyaman di peluk dengan posisi berdiri, Sandra ahirnya duduk bertumpu pada lutut dan memeluk keponakannya.
"Tante juga kagen" jawab Sandra tak kalah senang.
Aroma khas bedak My baby bercampur minyak telon menyusup penciuman, wangi khas yang tak pernah berubah sejak benerapa tahun lalu. Aroma Pika bahkan lebih menenangkan dari pada lantunan musik melow yang sering ia dengar sebelum tidur. Tidak bisa di pungkiri Sandra sangat merindukan keponakannya.
Setelah beberapa saat hening dalam pelukan Pika ahirnya menarik diri.
"Tante kok pulang sekolahnya lama sih?" ujar Pika dengan nada di buat manja.
"Tadi di jalan macet sayang...." Reza yang tengah melintas ikut menyahut.
"Pantesan tante lamaaa... banget."
Sandra tersenyum lalu mengulurkan tangannya menyelipkan anak rambut di belakang telinga. "Gimana liburannya, seru nggak?"
Pika mengangguk cepat, "Seruuu banget" Pika amat yakin.
Bibir Sandra tertarik lucu menanggapi tingkah keponakannya yang menggemaskan.
Reza yang masih berdiri di antara mereka tersenyum sekilas lalu mengusap pucuk rambut putrinya dan berlalu memasuki rumah.
"Tante Pika bawa oleh-oleh loh buat Tante?"
"Apa?"
Pika bukannya menjawab malah menarik lengan Sandra.
"Ayo tante ikut." Pika membawa Sandra memasuki rumahnya, "Pika beliin Tante kucing. Tante suka nggak?"
Seharunya Sandra sudah menebak apa yang ada dalam fikiran Pika. Tak ada yang lebih menarik baginya kecuali seekor kucing.
"Main kucingnya nanti ya sayang Tante biar nemuin tamunya dulu?" pinta Rena kemudian seraya mendekati putrinya.
Pika menatap ibunya kecewa, ia terlalu bersemangat untuk menunjukan kucing barunya pada Sandra sampai lupa jika di rumahnya ada tamu yang sejak tadi menunggu kehadiran tantenya.
"Iya ma. Tapi tante janji ya habis ini harus main sama Pika?" rayunya dengan tatapan sayu.
"Iya. Janji...." Sandra mengacungkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan kalau ia pasti menepati janjinya.
Tanpa berfikir lagi Pika langsung mengaitkan jari mungilnya dengan milik Sandra. Keduanya kemudian tersenyum, sepakat.
"Jangan lama-lama ya Tante" pesan Pika dan hanya di balas anggukan oleh Sandra.
Pika lalu melangkah menuju kamarnya.
"Kakak senang karena selama liburan bu Septi nggak neror kakak." Rena berkata sambil mengusap pundak adiknya. "Dan oleh sebab itu kakak nggak akan nanya sekolah kamu gimana, karena kakak yakin pasti baik-baik saja?" lanjutnya dengan senyuman bangga tercetak dibibirnya.
Sandra mengangguk senang. Setelah ribuan hari yang ia lewati bersama kakaknya, dan setelah banyaknya makian serta kekecewaan yang Rena tunjukan ahirnya Sandra bisa melihat senyum tulus itu lagi.
"Oh iya kak emang di rumah ada siapa?" Sandra bertanya penasaran.
"Nanti kamu juga tau. Ayo...." Rena menuntun adiknya menuju ruang tengah, dengan seulas senyum yang masih sama.
Gadis berseragam SMA itu hanya menurut mengikuti langkah kakaknya.
"Dia sudah lama nunggu kamu?"
Sandra menatap kakaknya intens, dari kedengarannya tamu itu sangat penting. Sandra sepertinya bisa menebak siapa orang itu.
"Apa itu Hema???" Sandra menajamkan matanya, ia sangat kecewa jika kakaknya mempertemukan dirinya dengan lelaki yang paling ia hindari.
"Sejak kapan kamu manggil dia Hema?"
"Pakai embel embel ayah itu terlalu terhormat untuk lelaki seperti dia."
Rena mengangguk mengerti. Percuma membantah adiknya, kepalanya bahkan lebih keras melebihi batu.
"Jadi benar tamu itu Hema?" Sandra sambil menghentikan ayunan langkahnya. Sudah ia pastikan jika benar itu ayahnya ia akan melarikan diri.
"Bukan" Rena menjawab dengan santai membuat Sandra merasa lega.
Setelah sampai di ruang tengah Rena menyuruh Sandra duduk, tapi anehnya Sandra tidak melihat siapapun. Hanya secangkir teh yang nampak tinggal setengah dan tas jinjing yang tergeletak disofa, entah milik siapa.
"Dia di toilet" Rena seolah sudah tau apa yang akan di tanyakan adiknya.
Sandra mengangguk mengerti dengan perasaan resah yang menyerang tiba-tiba. Menunggu seseorang yang sejak tadi menunggunya cukup mendebarkan. Selama ini siapa yang perduli padanya selain Rena. Bahkan Hermawan atau yang lebih sering ia panggil Hema tidak pernah memperdulikan dirinya.
Sandra mendongak ketika melihat bayangan seorang wanita berdiri berjarak dua meter dengannya. Hanya melihat perempuan itu saja membuat hatinya serasa di remas.
Sandra beranjak dari kursi hendak melariakan diri tapi sayang Rena yang duduk berseberangan dengan sigap mencekal kuat pergelangannya.
"Jangan pergi, dengarkan dia dulu baik-baik dan apa tujuannya datang kesini" pinta Rena.
"Sandra nggak butuh!" tukasnya tanpa memperdulikan perasaan wanita yang masih berdiri di balik sofa.
"Buat apa kakak bawa perempuan itu kesini?!" Sandra membentak kakaknya.
Sandra mungkin sangat kecewa jika tamunya itu adalah ayahnya tapi setelah ia mengetahui orang itu bukan ayahnya ia lebih kecewa, sebab perempuan itu ibu tirinya.
"Dia bilang ayah sakit, ayah mau ketemu sama kamu" Rena menjawab dengan air mata menggenang, entah itu karena prihatin dengan keadaan ayahnya atau prihatin dengan kondisi keluargannya.
Sandra menepis tangan yang mencekal lengannya lalu bersidekap sedangkan pandangannya menatap ke lain arah, tidak sudi melihat wanita itu.
"Oh jadi pas Hema sakit dia ingat sama Sandra. Terus pas lagi sehat dia kemana aja?" sindirnya.
Wanita berumur Lima tahun lebih tua dari kakaknya itu duduk tepat berhadapan dengan Sandra, hanya meja yang menjadi pembatas di antara mereka.
"Ayahmu selalu ingat sama kamu Sandra, bahkan sejak tahun pertama setelah dia pergi. Dia sudah lama sakit, tapi dia tidak mau kamu tau karena dia nggak mau kamu sedih." Wanita itu berkata dengan hati-hati berharap gadis keras kepala di depannya dapat mengerti.
"Ayah kamu lumpuh...." lanjutnya dan seketiaka membuat Rena terisak dalam tangisan.
Senyum sinis itu tersungging begitu mendengar kalimat terahir yang di lontarkan wanita itu.
"Lo fikir gue percaya?"
Rena terperanggah mendengar itu, Amira sudah berkata dengan penuh kesungguhan tapi dengan tanpa perasaan Sandra tidak menganggap berati ucapan ibu tirinya.
"Kamu fikir penyakit ayah itu lelucon?!" bentak Rena.
"Kakak percaya sama perempuan licik itu?" Sandra menatap Amira dengan tatapan yang masih sama dengan tatapan Tiga tahun lalu, penuh kebencian.
"Mama meninggal karena sakit, Sandra" jelas Rena.
"Iya memang. Dan mama sakit karena mikirin papa yang selingkuh sama perempuan itu" balas adiknya tak mau kalah.
Rena menunduk di kursinya dan semakin terisak. Amira hanya diam menahan dongkolan yang menyesakkan dadanya. Ia akui kehadirannya di keluarga ini tidak di inginkan tapi biar bagaimana pun ia sangat mencintai suaminya dan situasi seperti ini harus bisa ia lalui.
"Mau ngapain lagi lo disini, apa kurang jelas yang gue bilang tadi. Kedatangan lo nggak ada gunananya... jadi lebih baik lo pergi?!"
Tangan Amira mengepal mendengar pengusiran itu terlontar tanpa sopan santun, hatinya serasa di sayat berulang.
"Baik" ucap Amira yang akhirnya memilih meraih tas dan menyampirkan dipundak, "Saya pamit" sambungnya.
Amira berdiri seraya menyeka cairan bening yang tiba-tiba menetes, ia mengaku kalah. Ternyata masuk dalam keluarga seseorang tidak semudah ketika ia jatuh hati.
Baru dua langkah Amira bergeming suara Rena menghentikannya.
"Tunggu!"
Sandra melotot melihat apa yang dilakukan kakaknya, 'untuk apa Rena menahan Perempuan itu?' pikirnya.
"Amira" Rena bangkit dan menuntun Amira agar kembali duduk. "Tunggu di sini sebentar biar saya yang bicara sama Sandra."
Amira tersenyum senang lalu mengangguk, tidak ada salahnya ia menunggu lebih lama mungkin ia hanya perlu bersabar.
"Sandra, kakak mau bicara sama kamu." Rena menarik pergelangan adiknya dan membawanya memasuki kamar.
"Kakak apa-apaan sih, lepas...." Sandra meronta berusaha lepas dari cengkraman kakaknya, sumpah ia ingin segera berlari Sandra paling benci situasi seperti ini.
Rena tidak perduli keinginan adiknya ia terus melangkah menuju kamar. Begitu keduanya sampai Rena langsung menutup pintu kamarnya.
Sandra duduk di pinggir kasur diikuti kakaknya, keduanya masih saling diam sedang dalam hatinya terus berperang.
Rena menghela nafas, mempersiapkan diri untuk berbicara pada adiknya. Sepenuhnya Rena menyadari Sandra bukan anak kecil yang bisa ia paksa sesuka hatinya.
"Ayah mamang sakit" lirih Rena.
"Suruh aja anak laki-lakinya yang rawat" sinis Sandra asal.
"Maksud kamu?" Rena menatap adiknya tidak mengerti.
"Bukannya Perempuan itu punya anak?"
"Dia masih berumur Tiga tahun, bisa apa dia?"
"Bukannya dulu Hema nglupain kita karena anak itu?!" Sandra nampak masih kekeuh pada pendiriannya.
"Dia juga sudah meninggal... tiga bulan yang lalu."
Sandra tercengang mendengar itu, ia tidak tau jika adik tirinya sudah meninggal.
"Ayah benar-benar ingin kertemu sama kamu Sandra. Temui dia meskipun cuma sebentar" bujuk Rena belum menyerah.
"Kakak aja yang nemuin dia, Sandra males?"
"Kakak sudah jenguk Ayah tadi dan itulah sebabnya Amira ikut sama kakak."
Rena kemudian memeluk adiknya, "Mungkin kamu mengira Amira bukan wanita baik-baik. Iya, kakak tau itu. Gara-gara dia ayah melupakan kita, tapi setelah ayah menikah dengan Amira ayah hidup dengan rasa bersalah. Ayah menyesal meninggakan ibu, ayah menyesal meninggakan kita, ayah...." Rena menangis terisak, sulit rasaya menjelaskan betapa ayahnya ingin kembali memeluk ia dan adiknya.
"Ayah menyesal membiarkan kita dalam kebencian. Ayah menyesal Sandra... kasihani ayah. Sekali saja kakak mohon temui ayah, sebelum ayah benar-benar pergi."
Tesss
Cairan bening yang semula tertahan di pelupuk mata kini bertumpah ruah. Sandra mengangguk sambil menangis di pelukan kakaknya.
"Kalau kamu tidak mau menemuai ayah karena Amira, tumui ayah demi Kakak" Rena sambil mengusap rambut adiknya.
"Iya kak, Sandra janji akan nemuin ayah."
Rena menarik keatas sudut bibirnya lalu mengusap air mata yang membasahi pipi adiknya.
"Sandra juga kangen sama ayah."
Rena mengangguk paham, sebenci apapun Sandra pada Hema Rena yakin itu tidak mungkin mengalahkan rasa sayangnya.
"Ayah melewati banyak masa sulit. Ayah yang setiap hari selalu sibuk sekarang cuma bisa duduk di kursi roda. Selama ayah sakit Amira yang merawat ayah, bahkan dia juga yang kerja keras buat ayah. Biar ayah bisa cepat sembuh."
Sebaik apapun perempuan itu pada Hema tetap ada rasa sakit yang luar biasa ketika mendengar nama Perempuan itu disebut oleh kakaknya.
"Amira juga yang selama ini bantu kakak kasih uang tambahan buat biaya sekolah kamu."
Sandra seketika mendongak. Ucapan kakaknya barusan terdengar memalukan.
"Selama ini???" ralat Sandra.
Rena mengangguk, "Iya, dan sebentar lagi kamu lulus. Kakak nggak tau gimana jadinya kalau Amira nggak bantuin kakak."
"Bukannya kakak kerja keras selama ini, Sandra di hidupin sama kakak kan. Sandra nggak butuh apapun dari Perempuan itu!"
"Sandra kebutuhan kakak banyak, lagi pula dia mengurus perusahaan ayah. Nggak ada salahnya kalau...." Belum sempat Rena menyelesaikan kalimatnya Sandra langsung bergegas keluar kamar.
"Sandra, dengerin kakak!" Rena berlari mengejar adiknya.
"Itu buat kebaikan kamu Sandra!"
Sandra terus melangkah sampai melewati ruang tengah, Amira yang masih duduk di sana hanya menatapnya tidak mengerti.
"Sandra!!!" Rena berteriak ketika Sandra berhasil melewati garis pintu.
"Mau kemana kamu?"
"Kemana aja asalkan hidupku nggak bergantung sama perempuan itu!" ketus adiknya lalu melangkah menjauh dari pekarangan rumah.
Mendadak Rena merasakan sesak didadanya hingga ia kesulitan bernafas.
"Ayah! Ayah mama kenapa?!" Pika berteriak sambil menghampiri ibunya.
Reza yang mendengar teriakan putrinya langsung berlari.
Tak kuat menahan rasa sakit akhirnya Rena jatuh pingsan. Dengan terburu-buru Reza memboyong tubuh lemas istrinya menuju kamar.
Pika langsung berlari mencari Sandra. Langkah kecilnya mengayun cepat menuju pekarangan rumah.
"TANTEEE!!!" Panggil Pika dengan suara pilu diiringi air mata yang mengalir di pipinya.
Pika tidak tau mengapa Sandra pergi sedangkan Sandra telah berjanji akan bermain dengannya, belum lagi Sandra meninggakan dirinya saat ibunya pingsan itu membuat Pika semakin sedih. Mungkin Pika hanya anak kecil tapi ia tau ada sesuatu yang terjadi diantara Sandra dan ibunya.
Sandra yang baru saja melewati gerbang hanya menoleh sejenak kemudian berlalu. Sandra kecewa Rena menyimpan hal paling memalukan itu padanya.
***
Pikutt...