NEVER

NEVER
Party




Sandra menatap dirinya dalam cermin, meneliti gaun pemberian Nichol.


Ia tidak tau pilihannya untuk ikut Nichol ke pesta pertunangan temannya benar atau salah, tapi Sandra tidak bisa menolak. Nichol kekeuh bahkan ia berkata ini permintaan terakhir, entah apa maksudnya.


Namun Sandra bersyukur, gaun yang ia gunakan tidak berat dan lebih menguntungkan lagi perut buncitnya tidak terlalu ketara. Model gaun yang berlayer-layer itu seolah memang tercipta untuknya.



Puas mengamati dirinya Sandra merebahkan pantatnya pada kursi rias, memastikan make-up dan rambutnya sesuai dengan gaun yang ia gunakan.


Riasan tipis natural dan rambut tergerai dengan aksen bunga menempel pada sisi kiri itu nampak sederhana namun menyempurnakan penampilannya. Dan ia berharap Alkana tidak tau hal ini, jika tidak pasti Alkana sangat marah Sandra bisa jamin.


Sebenarnya, Sandra sudah mencoba menghubungi Alkana dengan ponsel barunya, tapi nomor Alkana tidak dapat di hubungi. Jadi Mau tidak mau Sandra harus mencuri waktu.


Tak lama berselang setelah Sandra menyelesaikan ritual merias diri, Nichol datang menjemputnya. Dan tanpa mengulur waktu keduannya meluncur ke tempat tujuan. Nichol sengaja tidak izin sebab Amira dan Hema sedang tidak dirumah, Nichol hanya menyempatkan diri untuk berpamitan lewat telepon.


Malam ini Nichol juga nampak lebih rapi dari biasanya. Dia menggunakan setelan jas warna milo dengan kemeja gelap. Rambutnya disisir keatas, nampak klimis dan tertata. Arloji Daniel Wellington yang melingkar dipergelangan mendukung penampilannya, membuat Sandra berpikir acara ini benar-benar penting.


"Nick, sebenarnya ini acara pertunangan siapa sih?" Sandra penasaran, pasalnya ketika Nichol memaksanya Nichol tidak memberi tahu siapa yang akan bertunangan.


Nichol nampak berpikir, tak berapa lama kemudian tangannya menggapai laci dashboard mengambil sesuatu disana.


"Temen gue, namanya Martin. Ini undangannya," Nichol memberikan kertas undangan dengan sampul keemasan, saat terkena cahanya lampu undangan itu bersinar menyilaukan mata.


Mata Sandra bergerak susuai baris tulisan yang tertera di sana, membaca nama kedua insan yang tengah berbahagia.


Martinus dan Olivia


Sandra manggut-manggut dan setelah puas Sandra menatap lagi pada jalanan.


"Nggak usah takut, Alkana nggak akan marah kok. Aku sudah izin sama dia..."


Sandra mengangguk, percaya saja dengan perkataan Nichol.


"Gimana keadaan Alkana sekarang, udah boleh pulang?" Nichol bertanya seraya mengendalikan kemudi, menatap jalan raya.


"Belum, kata dokter mungkin beberapa hari lagi."


Nichol manggut-manggut. "Syukurlah," tangannya terulur mengusap pundak mulus Sandra yang terekspos tanpa lengan. "Tinggal sebentar lagi, kamu hebat Ra bisa lewatin semuanya."


Sandra melengkungkan sudut bibir keatas, menambah ayu raut wajahnya. "Iya Nick, gue juga lega bisa sama-sama lagi."


"Ini sudah waktunya kamu bahagia..."


Sandra mengangguk dengan senyum masih sama, menyadari hal ini yang sudah lama ia harapkan.


"Oh ya, Ra ada sesuatu yang dari tadi mau aku omongin sama kamu?" Nichol sambil menyempatkan diri menoleh.


"Apa?" Sandra menatapnya balik.


"Kamu cantik, banget malah" puji Nichol tanpa sungkan, "Malam ini..." lanjutnya, seolah sengaja.


Malam ini, berarti tidak untuk malam lain atau hari hari yang lain. Bibir yang semula tersenyum cerah juga nampak memberengut.


"Malam ini doank, nih?" protes Sandra agak kesal.


"Iya," Nichol mengerang, "Kalau dulu iya, cantiknya setiap waktu. Kalau sekarang nggak, kan kamu pacarnya Alkana jadi mungkin dimata dia aja kamu catik setiap hari."


"Iya deh iya," Sandra mengedarkan pandangannya kelain arah.


"Gitu doang ngambek," goda Nichol sambil terkekeh.


Sandra diam, malas menyahut.


"Kamu masih tetap cantik Ra, dan masih sama seperti dulu," sambung Nicole. Sandra sampai menoleh. "Seandainya sampai sekarang Alkana nggak mau tanggung jawab aku mau kok jadi ayah dari anak kamu."


Hening, Sandra diam seribu bahasa. Tatapannya menajam pada Nick, sementara dadanya berkecamuk tidak karuan.  Mungkinkah sedalam itu Nichol mencintainya? atau ia mengatakan itu karena merasa bersalah atas masa lalunya? Sandra tidak tau mana yang lebih tepat.


"Tapi sekarang, kan Alkana mau tanggung jawab jadi aku rasa aku nggak perlu gantiin posisi dia."


"Apaan sih Nick, ngaco deh kalau ngomong" balas Sandra, tidak mau Nichol membahas hal itu.


"Baper ya? padahal aku bercanda doang."


Sandra mendelik, "Ish nyebelin, becanda lo nggak lucu," Sandra memukul pundak Nick. Lelaki itu hanya tertawa.


Tidak ada yang tau pasti, bagaimana perasaan Nichol sebenarnya dan apapun itu Sandra lega Nichol tidak serius mengatakannya.


Tiga puluh menit menempuh perjalanan akhirnya keduannya sampai di tempat tujuan. Nichol turun membukakan pintu untuk Sandra kemudian melangkah memasuki sebuah hotel berbintang.


Mengetahui Sandra kesulitan berjalan sendiri, Nichol membantunya. Sandra berpegangan pada lengan Nick. Bagi orang lain yang tidak tau mungkin mereka mengira Sandra dan Nick adalah pasangan kekasih namun Sandra tidak perduli, dia tidak punya pilihan lain.


Sebelum memasuki sebuah ruang dimana pesta diadakan, Nichol memberikan undangan pada seorang penjaga. Anehnya sang penjaga itu menatap aneh pada kertas yang ia terima.


"Nick, kok om om tadi kayak kebingungan gitu?" Sandra ikut heran melihat ekspresi si penjaga.


Nichol mengendikan bahu sambil terus melangkah lebih dalam menuju pesta. Sandra yang tidak bisa berbuat banyak lalu memilih mengabaikannya.



Sedetik kemudian Sandra menganga. Matanya mengerjab beberapa kali untuk memastikan yang ia lihat.


"Nick, beneran di sini tempatnya." Sandra bertanya dengan tatapan tak lepas dari lampu-lampu apik dan bunga hias yang di tata dengan begitu indah. Sebuah dekorasi bernuansa putih itu nampak mewah nan elegan.


Nichol terkekeh, Sandra sudah seperti kerbau masuk kampung. Katro!


"Jangan bilang ini pertama kalinya kamu datang ke pesta?" selidik Nick, kakinya sambil terayun pelan.


Bibir Sandra tertarik lucu, "Tempat pesta setau gue cuma di Deluxe" jujurnya.


"Ya gitu kalau keseringan Clubbing, sampai nggak tau kalau ada pesta dimana kita bisa melihat kebahagian orang lain. Bukan pesta yang bisa bikin diri kita sendiri bahagia."


"Jadi lo sering datang ke acara beginian?"


Nichol mengangguk, "Iya, beberapa kali dan aku senang bisa nglihat kebahagian mereka, kali aja ntar ketularan. Apalagi nanti yang bahagia itu kamu..."


"Aku?" ralatnya.


"Iya..." Nichol yakin, tapi bagi Sandra kalimat itu seperti sindiran. Jangankan mengadakan pertunangan seperti ini, membayangkan saja Sandra tidak pernah. Sandra bisa menikah dengan Alkana, itu saja sudah lebih dari cukup. Walaupun di hati kecil yang terdalam ia juga menginginkan sebuah perayaan.


Ada rasa menyesal kala mengingat nasipnya yang hamil sebelum menikah sebab kalau tidak, mungkin ia bisa merasakan bagaimana kebahagian seperti ini.


"Ra, kenapa?" Nichol menatapnya heran.


"Nggak papa."


Nichol tersenyum lalu menghela nafas sebelum bicara, "Gue juga pengen suatu saat bikin pesta sederhana kayak gini."


Sebentar, Sandra merasa salah dengar. Pesta yang menurutnya wah ini Nichol bilang sederhana? jadi seperti apa pesta mewah menurut Nichol.


"Ini sederhana Nick?" Sandra menyorotkan tatapan ingin tau.


"Iya. Kamu lihat aja tamu undangannya sedikit, hanya keluarga, teman dekat dan rekan kerja yang di undang. Acara pertunangan ini sangat intim, aku suka."


Sandra manggut-manggut, membenarkan. Tempat itu memang masih terlihat sangat luas, meski lebih terlihat nyaman tanpa perlu bersempit-sempitan.


Pandangan Sandra menyapu pada tamu undangan yang nampak duduk di kursi yang sudah di sediakan, semuanya nampak tenang memperhatikan pemandu acara.


"Nick, kita telat ya?"


"Nggak kok, kita datang tepat waktu malah..."


Dan di detik selanjutnya Sandra terheran heran. Puluhan tamu undangan yang beberapa detik lalu menatap MC kini beralih padanya. Membuat Sandra merasakan sesuatu akan terjadi.


Sandra mendongak, menatap Nick yang terus melangkahkan kakinya. Padahal seharusnya ia berhenti dan duduk di antara tamu undangan.


"Nick, kenapa nggak duduk?" tanyanya lagi, heran Nichol nampak tenang dan santai. Sementara langkah kakinya sudah lewat lima meter dari kursi, bahkan beberapa langkah lagi ia sampai di podium.


Bersamaan dengan kebingungannya Sandra tak sengaja melihat lampu yang menyala menerangi sebuah inisial nama yang terpajang jelas di belakang MC.



'A & S'


Bacanya dalam hati, dan sesaat kemudian kening Sandra berkerut. Jelas, itu bukan inisial nama dari undangan yang ia baca, malah menurutnya lebih mirip seperti inisial nama Alkana dan namanya.


'Tapi, tidak mungkin!' Sandra menepis kemungkinan itu jauh jauh.


Disela kebingungan Sandra, matanya mengedar keseluruh tamu undangan. Berharap apa yang ada dibenaknya hanya sebuah kebetulan atau halusinasi, tapi keadaan sepertinya memperumit pemikirannya. Sandra melihat Hema dan Amira. Mereka duduk manis dengan senyuman berseri seri, berbeda dengan Sandra yang menatapnya penuh tanda tanya. Tidak hanya itu, di meja yang sama Sandra juga melihat kakaknya bersama Reza dan Pika duduk di pangkuan kakak iparnya.


Beralih dari Hema, di seberang meja lain Sandra melihat Fany. Ia duduk dengan tenang sambil memangku gadis kecil berusia Lima tahun dan Sandra yakin itu anaknya. Sementara di sisi kirinya seorang lelaki, lebih muda dari ayahnya. Masih nampak gagah dengan balutan jas warna maroon, dan tidak salah lagi itu pasti suaminya.


"Nick, jelasin ke gue ini acara siapa sebenarnya?" Sandra gelisah, namun ia tetap tidak mau mengambil kesimpulan.


Nichol berhenti sebelum malangkah pada undakan podium. "Maaf, Ra. Aku bohong, tapi aku pastiin ini kebohonganku yang terakhir. Ini acara pertunangan kamu sama Alkana" katanya serius, dan kemudian di susul senyuman semringah, "Berbahagialah" lanjutnya.


"Apa?"


Sandra syok, bahkan jantungnya hampir melompat keluar. Ia masih tidak percaya ini. Tubuhnya seketika dingin, kakinya gemetar, ia lemas. Sandra serasa ingin pingsan. Sandra tidak tau harus berekspresi bagaimana, haruskah marah atau sedih karena terlalu bodoh dan tidak menyadari semua ini. Meski yang lebih mendominasi adalah perasaan senang. Yang jelas rasanya tak terlukiskan, ini kejutan terindah seumur hidupnya.


Sandra mengarahkan tangannya, menangkup mulut agar tidak menganga terlalu lebar. Cairan bening dimatanya mengalir seiring dengan bunga-bunga yang bermekaran di dada.


"Sudah waktunya tukar cincin Ra," ucap Nichol yang kemudian menuntun Sandra menaiki undakan podiam yang lebih tinggi.


Astaga, bahkan Sandra tidak memiliki waktu untuk terkejut.


Diwaktu yang sama, Sandra melihat seseorang melangkah mendekat. Dari jarak sepuluh meter Sandra sudah bisa menebak siapa yang datang.


Sama seperti Nicole, lelaki yang kini menggunakan setelan jas warna gelap itu terlihat tenang. Namun garis melengkung pada bibir sexynya seolah mencerminkan suasana hati.


"Al?" panggil Sandra lirih, masih tidak menyangka ide seperti ini muncul di benak Alkana.


Setelah Alkana berdiri di depan Sandra Nichol turun. Ia memilih bergabung bersama Amira dan Hema, dan acara simbolis tukar cincinpun dimulai.


Meski terlihat gemetar Sandra akhirnya berhasil memasukan cincin di jari manis Alkana, begitu juga sebaliknya. Dan jika biasanya setelah tukar cincin sang pria mengecup pucuk rambut atau kening tunangannya tapi kini tidak berlaku untuk mereka. Begitu tukar cincin selesai Sandra langsung menghambur dalam pelukan Alkana sambil menangis. Tanpa menghiraukan suara bertepuk tangan dari tamu undangan.


"Nichol bohongin gue..." ucap Sandra di sela tangisan.


Alkana, MC dan wanita yang tadi di tugaskan untuk membawa cincin hanya terkekeh.


***


Sandra baru bisa bernafas lega setelah acara pembacaan do'a dan kemudian disusul dengan acara ramah tamah serta makan bersama. Sementara beberapa menit yang lalu ia masih benar-benar syok.


"Gimana, suka nggak?" tanya Alkana, yang saat itu duduk pada salah satu kursi tepat di sampingnya.


"Gue mau pingsan," Sandra sambil mengusap air mata yang masih mengalir sesekali.


"Ya, jangan. Kasian nanti tamunya kalau di tinggal pingsan."


Sandra mengangguk, berusaha bersikap senormal mungkin walaupun sulit sekali rasanya. Sandra masih terkejut dengan pertunangan dadakan ini, meski tidak bagi Alkana.


Disisi lain Alkana nampak was was, khawatir Sandra benar-benar pingsan. Pasalnya Sandra pernah berkata seperti itu dan setelahnya ia pingsan sungguhan, ck ck ck.


"Udah nggak usah nangis lagi," tangan Alkana terulur mengusap pipinya, "Mubazir, kan cantiknya kalau nangis?"


"Beneran cantik?" Sandra menatap mata Alkana, bibirnya mengerucut manja.


"Iya dong, terus apa?"


"Cantiknya malam ini doang kan?" Sandra memperjelas, ia tidak ingin besar kepala siapa tau Alkana akan berkata seperti Nichol.


"Nggak, sayang," Alkana memencet hidungnya gemas, "Cantiknya sejak lahir..."


Sandra merekahkan senyuman lebar, baru sadar jika Nichol dan Alkana sangat berbeda meski keduanya pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.


"Oh iya, kok lo udah bisa kesini? seharusnyakan lo masih dirumah sakit, lo belum pulih Al. Lo masih butuh perawatan."


Alkana menggeleng, tidak setuju. "Gue baik-baik aja."


"Nggak, gue masih ingat kemarin dokter bilang apa. Lo masih lemah..."


"Dan gue bisa kuat, asalkan lo selalu sama gue..." Alkana seraya meraih tangan Sandra meletakan pada luka diperutnya.


"Iya deh." Sandra menarik diri, malu ditatap intens oleh Alkana ditengah keramaian.


"Ngomong-ngomong, lo dapat hidayah dari mana bikin pesta beginian" Sandra bertanya setelah diam beberapa saat, tatapannya mengedar pada setiap inci tempat yang memanjakan mata.


"Dari..." belum sempat Alkana melanjutkan, seseorang memanggilnya.


"Al...?" sapa orang itu yang tak lain suami Fany. "Selamat ya," pria bersuara matang itu seraya mengulurkan tangannya.


Alkana menoleh, kemudia buru-buru bangkit dan menyalami ayah tirinya.


"Makasih Om," balasnya ramah.


Lelaki berjambang tipis itu mengangguk. Sementara di sisi lain Fany mendekati Sandra dan memeluk calon menantunya.


Setelah selesai kini giliran Alkana yang menghambur dalam pelukan ibunya.


"Mama," bisik Alkana selirih mungkin, namun dapat di dengar jelas oleh Fany dan tanpa sadar keduanya menangis penuh haru.


"Seandainya ayahmu hadir di sini, pasti dia senang. Kamu kelihatan gagah malam ini..." puji Fany sambil menepuk pundak putranya.


"Om Romy yang datang aja Al udah seneng kok" sahut Alkana.


"Iya dong, om pasti datang" Romy menegaskan. Meski dari puluhan orang yang ada disana dialah satu satunya orang yang paling sulit ditemui di acara-acara seperti itu. Dia super sibuk.


Fany tersenyum sambil menarik diri, lega mendengarnya. Sandra yang melihat keberadaan suami Fany hanya membungkuk memberi hormat, dan di balas senyuman tipis oleh Romy.


"Oh iya Pa, Alya mana?" Fany tiba tiba bingung begitu menyadari gadis kecilnya tidak ada.


Mereka lalu celingukan, meneliti tempat sekitar mencari gadis kecil berusia Lima tahun.


"Itu bukan tan?" Sandra sambil menunjuk pada gadis kecil yang nampak sedang asik makan bersama keponakannya.


"Ya ampun, anak itu" Fany mendesah, tak habis pikir dengan putri kecil yang tak bisa menahan diri jika sudah melihat makanan.


"Kenapa kita nggak selalian aja gabung sama mereka?" saran Romy saat melihat ada Hema, Amira serta Rena dan suaminya.


"Bener juga, Pa... ayo" Fany menyanggupi. "Kalian mau ikut?" Fany bertanya pada Sandra dan Alkana.


"Boleh..." mereka menjawab bersamaan.


Sepakat, mereka kemudian memutuskan untuk bergabung.


Berkumpul bersama keluarga, momen sederhana yang paling Sandra tunggu dan sukai sepanjang hidupnya. Apalagi sebentar lagi keluarganya akan bertambah, Alkana dan bayinya. Ahh memikirkan saja sudah membuat Sandra tidak sabar.


"Kenapa?" Alkana bertanya, heran melihat Sandra tersenyum senyum sendiri.


"Nggak, nggak papa."


"Are you sure???"


Sandra mengangguk yakin, dan di sela langkahnya Sandra menautkan tangannya dengan jemari Alkana. Alkana tersenyum seraya meremat tangan dingin di genggamannya.


Sebelum Fany sampai di tempat dimana anggota keluarga Sandra, Sandra terlebih dahulu berbisik pada Alkana.


"Lo hutang cerita ke gue?"



...Huuuaaaa... Otor terharu, akhirnya mereka tunangan juga. 😭😭😭...