NEVER

NEVER
Another Day




    TIDAK ada yang baik baik saja selepas kepergian Alkana. Sandra sering mengurung diri dalam kamar, menghabiskan waktunya untuk menyendiri. Menagis meratapi perpisahan yang tak penah mampu ia jalani.


Sebelumnya ia pernah bermimpi, seusai mengetahui jenis kelamin bayinya Sandra akan berbincang dengan Alkana membicarakan nama yang cocok untuk buah hatinya di balkon rumah, sambil saling memeluk, saling membelai dan bercumbu. Kini semua benar-benar menjadi mimpi, Sandra sudah tidak berminat mengetahui bagaimana keadaan bayinya.


Sandra tidak menyangka jika kecupan Alkana waktu itu adalah kecupan terakhir, begitu juga dengan pelukan hangat dan belaiannya. Sungguh Sandra merindukan semua itu. Rasanya ia masih mendengar jelas kala Alkana berkata "Kita akan menikah, apapun yang terjadi."


Kalimat sederhana yang mampu memberinya kekuatan, walau Sandra mengerti Alkana mengetahui betapa buruk ia dimata ayahnya. Namun lelaki itu memahami ketakukannya, menenagkannya, mengusap air matanya meski yang ia lakulan sia-sia. Sandra ingin lelaki itu ada di sisinya, sekarang. Menemani di saat ia menangis, saat ia rapuh dan saat ia membutuhkan dirinya.


Sandra terisak di pinggiran kasur, entah sudah berapa kali ia berpindah duduk hanya untuk menangis. Sandra tidak bisa memungkiri bahwa ia belum mengiklaskan kepergian lelaki itu, sungguh ia membutuhkan Alkana jiwa dan raga.


Cklek


Sandra terkejut mendengar handle pintu yang terdengar di putar, dan sebelum melihat seseorang muncul dari sana ia buru-buru menyeka air matanya.


"Sayang, kamu lupa ya nggak ikut makan malam?" ucap suara itu yang tak lain adalah Amira, ia datang membawa nampan berisi makanan, air mineral, serta segelas susu.


"Tadi ayah nanyain kamu loh?" Amira mendekat kemudian meletakan nampan bawaannya pada nakas.


"Maaf, tan... Sandra lupa" jawabnya. Sama dengan jawaban di hari hari lain ketika Amira mengingatkannya.


Sebelum berlalu Amira menyempatkan diri merebahkan pantatnya di samping Sandra, "Jangan lupa dimakan ya?" katanya lemah lembut, tangannya seraya menyentuh pundak.


"Makasih tan..." Sandra menjawab tanpa menatap lawan bicara.


Amira menghela nafas, prihatin melihat keadaan Sandra yang berlarut larut dalam kesedihan.


"Sudah satu minggu kamu mengurung diri di kamar, mau sampai kapan kamu seperti ini, nak?"


Sandra sedikit mengangkat kepala, melirik Amira kemudian menggelang pelan.


"Ra?"


"Sandra, pengen sendiri tante," Sandra memotong sebelum Amira sempat menyelesaikan kalimatnya. Walau kecewa Sandra mengusirnya tapi Amira mencoba mengerti.


"Ya udah, kalau gitu... tapi susunya jangan lupa di minum ya?"


Sandra mengangguk, Amira yang melihat itu lalu bergeming meninggalkan kamar putrinya. Awalnya Amira berharap Sandra dapat membagi sedikit saja kesedihannya, tapi untuk saat ini mungkin belum bisa.


Tak lama setelah kepergian Amira Sandra melihat daun pintunya bergerak dan perlahan terbuka memperlihatkan sosok Hema yang mendekat seraya mendorong kursi rodanya sendiri.


"Ayah?" Sandra bangkit begitu melihat Hema tiba-tiba berdiri, lalu melangkah dengan kesusahan dan berpindah duduk di tempat yang sama dengannya.


"Ayah bisa," katanya.


Dan Sandra lega, Hema akhirnya bisa melakukannya sendiri. Sedikit demi sedikit kesehatan Hema semakin meningkat. Sandra senang mengetahui ayahnya bisa berjalan lagi.


Keduanya sudah duduk bersisian namun belum ada yang bersuara, hanya ada hening diantara mereka. Sandra tertunduk diam dengan pemikirannya mengenai Alkana, sementara Hema diam dengan sorot mata tertuju pada putrinya. Sepenuhnya Hema mengerti Sandra sangat terpukul dengan keadaan ini.


Di tengah kalutnya pemikiran mereka, tangan Hema terulur mengusap pundak anak perempuannya.


Sandra terhenyak, ia langsung menoleh. Hema memang tidak berkata-kata tapi tatapannya terbaca. Tatapan itu, seperti tatapan Alkana saat ia berkata semua akan baik baik saja.


"Ayah?"


Sandra menghambur dalam pelukan Hema lalu menangis tersedu-sedu, ia tidak bisa lebih lama lagi menahan rasa sesak di dadanya sendirian.


"Ayah tau sayang," ayahnya berujar dengan usapan lembut terus bergerak. "Ayah tau gimana perasaan kamu. Ini pasti berat, tapi ayah yakin kamu bisa melewati semua ini...."


Sandra mengangguk, dekapannya kian mengerat. Entah sudah berapa lama ia tidak memeluk ayahnya seperti ini, tapi sungguh semua ini membuatnya sedikit lebih baik. Sandra merasa nyaman menghirup aroma hangat khas ayahnya, dan ia bersyukur di saat seperti ini bisa merasakan kehadiran seorang ayah.


"Kenapa ya, yah? semakin kesini Sandra merasa semakin susah buat bersatu sama Al?" Sandra berkata dengan nada serak, ia mencoba mencurahkan isi hatinya. "Kenapa ayahnya Al jahat banget sama Sandra? kenapa dia pisahin Sandra sama Al?"


Sandra mendongak menatap ayahnya. "Apa karena kesalahan Sandra nggak bisa di maafin? atau karena dosa Sandra terlalu banyak sampai Tuhan nggak kasih jalan buat Sandra bahagia? Sandra sama Al udah sama-sama menyesal, ayah dan nggak akan ngulangin kesalahan lagi. Al mau tanggung jawab dan nikahin Sandra, tapi kenapa sekarang jadi begini, kenapa ayah???


"Kamu nggak bisa nyalahin keadaan...


Kalau kamu yakin niat Alkana itu baik, Tuhan pasti beri jalan."


"Tapi kapan?" Sandra kembali terisak didada ayahnya, "Sandra capek yah. Sandra nggak kuat lama-lama pisah sama Al, Sandra butuh Al ayah... Sandra harus gimana???"


"Sabar, nak" Hema memberi jarak, kemudian meraih kedua pundak putrinya. Matanya menyorot tajam, menguatkan, "Percaya sama ayah, ini hanya sementara. Suatu saat, Al pasti pulang ini cuma soal waktu."


Hema menekan pundak lebih kuat, memaksa Sandra mambalas tatapannya. Hema sendiri sebenarnya tidak bisa melihat putrinya seperti ini, jika bisa ia ingin melakukan sesuatu pada Albert atau memenjarakannya bila perlu namun disisi lain Hema takut itu malah membuat Albert semakin menjauhkan Alkana dari putrinya. Itu bukan memperbaiki keadaan tapi memperburuk, dan Sandra akan lebih sedih lagi kalau sampai hal itu benar-benar terjadi.


Hema tersenyum bangga, "Ini baru anak ayah."


***


Setelah Hema keluar dari kamarnya, Sandra merasa jauh lebih baik. Sesingkat apapun kehadiran Hema tentu sangat berarti besar bagi Sandra. Hema perduli dan mau menemaninya, itu sudah cukup membuatnya senang.


Kini Sandra sudah bertekat untuk melanjutkan hidupnya dengan atau tanpa adanya Alkana. Kebahagiaannya harus tetap berlanjut karena nantinya akan ada buah hati yang selalu menemaninya.


Drrrt... drrrt...


Sandra yang hampir saja terlelap kembali tersadar. Tangannya lalu meraba mencari asal bunyi itu.


Sandra bangkit, begitu menemukan dimana ponselnya. Dan sebelum menggeser layar ponselnya kening Sandra berkerut, heran melihat nomor cantik tanpa nama yang tertera pada layar ponsel. Walau tidak tau siapa pemilik nomor itu Sandra menggeser layar berwarna hijau.


Tidak ada orang lain yang ada di fikirkan Sandra kecuali Alkana, apalagi beberapa hari ini lelaki itu memang sulit dihubungi dan semoga saja dugaannya tidak salah.


"Al?" tanpa menunggu sang penelpon menyapa Sandra memanggil terlebih dahulu.


Namun siapa sangka jika seseorang yang menghubunginya dari seberang sana memang benar Alkana.


"Iya, ini aku..."


Sandra merekahkan senyum, tidak menyangka Alkana menghubunginya.


"Maaf," ucap Alkana lirih. Kedengarannya ia sudah mempersiapkan diri untuk mengatakan itu.


"Aku ngerti kok," Sandra merunduk, menyelipkan anak rambut di belakang telinga. "Kalau misalnya aku jadi kamu, mungkin aku akan ngelakuin hal yang sama."


"Makasih ya sayang, aku seneng kamu bisa ngertiin keadaan aku."


Sandra mengangguk, sekalipun ia tau Alkana tidak melihatnya.


Sepenuhnya Sandra mengerti, ini bukan mutlak kesalahan Alkana dan mungkin benar apa kata Hema ini soal waktu. Dan ia akan menunggu dengan sabar, lebih sabar lagi.


"Disini, aku lagi berusaha bujuk ayah agar dia bisa nerima kamu, supaya kita bisa sama-sama lagi. Aku tau, Ra ini berat buat kamu?"


"Buat kamu juga kan Al?" Sandra menyahut diikuti air matanya yang kembali menggenang. Sandra sebenarnya tidak ingin menangis, tapi mendengar suara Alkana yang lemah dan seolah berputus asa membuatnya bersedih.


"Iya, kamu benar. Ini juga berat buat aku, dan aku nggak punya pilihan lain."


Setelah mendengar itu, Sandra tidak mendengar apa-apa lagi. Hening, benar-benar hening. Mungkin Alkana menangis? tapi Sandra tidak mendengar suara isakan.


"Al, kamu baik-baik aja?" tanya Sandra, cemas lelaki itu hanya diam.


"Nggak ada yang baik-baik aja setelah aku ninggalin kamu Ra, maafin aku...." suara itu terucap penuh penyesalan membuat cairan bening dimata Sandra terurai, bertumpah ruah.


Sandra mengerti, Alkana begitu rapuh. Sama dengan dirinya beberapa menit yang lalu sebelum Hema datang, sebelum Hema menguatkannya.


"Aku nggak papa Al, aku ngerti kok. Ini hanya soal waktu. Aku yakin kalau kamu terus berusaha buat yakinin ayah kamu, lama lama dia pasti ngerti. Ya, mungkin memang butuh waktu dan nggak sebentar, tapi selama apapun itu aku akan nunggu kamu.... Demi anak kita.


"Makasih Ra, aku janji akan terus berusaha buat yakinin ayah. Biarbagaimana pun aku juga nggak bisa jauh dari kamu, juga anak kita. Aku butuh kalian."


"Iya Al, disini aku juga akan berusaha jaga anak kita." Sandra mengusap perut buncitnya, "Aku akan pastiin dia baik-baik aja sampai dia bisa ketemu sama kamu... Al, dia butuh kamu?"


"Pasti, dan aku akan secepatnya jemput kamu."


Sandra merekahkan senyum, senang Alkana masih dalam keyakinan yang sama.


"Ra, aku sayang kamu. Kamu yang pertama dan terakhir di hidup ku..." Sandra mendengar Alkana menghela nafas, "Aku kangen banget sama kamu, Ra?"


Sandra mengangguk, seiring dengan air mata yang terus membasahi dipipinya. Sungguh ia pun merasakan hal yang sama dengan Alkana, Sandra ingin merengkuh lelaki itu erat dan tak akan ia lepaskan.


"Jangan pernah berfikir aku disini aneh-aneh ya? karena nggak akan pernah ada yang lain, cuma kamu satu-satunya, Ra. Aku cinta kamu...."


Sebagai seseorang yang jarang bahkan nyaris sulit jatuh cinta Sandra percaya jika Alkana pasti setia padanya. Sandra lega mendengar pengakuan itu, artinya ia sudah mendapatkan Alkana secara lahir dan batin.


Setelah ini, mungkin Sandra tidak harus cemas dengan bagaimana nasipnya. Mungkin memang hanya menunggu waktu, sementara di sisi lain Sandra tidak perlu khawatir Alkana meninggalkannya sebab lelaki itu tidak pernah bisa meninggalkannya mereka hanya terpisah jarak dan hatinya masih tetap menyatu.


Ya, itu jauh lebih penting.


Untuk saat ini.