NEVER

NEVER
Kecupan Panjang




Alkana menghampiri gadis yang tengah duduk melamun di roftop. Tatapanya menerawang jauh bahkan mungkin tak lagi di bumi, melayang-layang di udara.


Sebelumnya Alkana tidak pernah tau dari mana Sandra mengetahui tempat itu, sedangkan ia sendiri jarang menghabiskan waktunya di sana. Sebenarnya tempat itu lumayan bagus dan sayang untuk di lewatkan, dan tanpa Alkana memberi tau ternyata Sandra sudah mengetahui semua sisi dirumahnya. Mulai dari pintu belakang yang tak pernah terkunci, jendela kamar pembantu yang tidak di tralis dan terakhir tempat ini. Tempat yang menampakkan pemandangan indah dari ketinggian, dan sangat pas jika di gunakan untuk bersantai atau seperti yang Sandra lakukan saat ini, menenangkan diri.


Sandra melirik sekilas ketika merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya lalu kembali melempar pandangannya pada langit yang gelap.


Menghampiri gadis itu bukan hal yang biasa Alkana lakukan dan itu membuatnya tidak tau harus memulai dari mana obrolannya. Niatnya mendatangi Sandra hanya untuk mengucapkan terimakasih karena Sandra telah merayu ibunya untuk makan bersama.


Memang hal sepele dan sepertinya Alkana berlebihan, tapi selama ini Alkana tidak pernah mampu melakukannya. Selama ini ibunya hanya mempunyai waktu tiga puluh menit dalam sebulan atau bahkan tidak sama sekali. Karena terkadang Fany hanya mengirim uang tanpa memiliki waktu luang untuk menjenguk putranya.


Melihat lelaki di sampingnya hanya terdiam kaku Sandra akhirnya bersuara, meski sebenarnya Sandra ingin lelaki itu yang lebih dahulu menyapanya. Sayangnya menunggu Alkana berbicara sama halnya dengan menunggu kucing bertelur. Tidak mungkin.


"Lo nyari gue?" gadis yang penampilannya sudah lebih cantik dari pada beberapa jam yang lalu itu seraya menoleh.


"Iya."


"Tumben."


Sudut bibir Alkana tertarik keatas di iringi helaan nafas, membenarkan.


"Lo tau dari mana tempat ini?" tanya Alkana dengan nada santai membuat Sandra mengerti lelaki itu ingin mengajaknya mengobrol.


"Gue tau semua sisi rumah ini, termasuk tempat ini."


"Oh.." Alkana manggut-manggut. "Selain lo stalkingin gue ternyata lo juga suka nguntit di rumah gue?"


Sandra nyengir, "tapi lo nggak punya bukti kalau gue penguntit di rumah lo."


"Gue nggak perlu bukti, kenyataanya udah jelas. Lo selalu pengen tau semua tentang gue. iya kan???"


Sandra terhenyak. Ia tidak tau jika Alkana menganggapnya seperti itu.


"Mungkin" jawabnya sedikit membenarkan sekalipun kenyataanya tidak sepenuhnya.


Merasa situasi seperti ini jarang terjadi Sandra lalu bangkit dari kursi akan membuat kopi. Siapa tau dengan secangkir kopi bisa menghangatkan suasana dan membuat Alkana bertahan lebih lama disana.


"mau kemana?" tanya Alkana dengan bola mata bergerak mengikuti gadis yang baru saja bergeming.


"Bikin kopi, lo mau?"


"Boleh."


Sandra mengangguk lalu melanjutkan langkahnya. Selama di perjalanan sampai Sandra menuju dapur senyuman di bibirnya tak pernah pudar, ia senang Alkana mendekatinya dan ini adalah perkembangan pesat. Jika terus seperti ini Sandra yakin ia akan lebih mudah menaklukan lelaki itu.


Tak lama berselang Sandra sudah kembali dengan membawa dua cangkir cappuccino di tangannya.


"Thanks" kata Alkana seraya menerima cangkir pemberian pacarnya.


Sandra tersenyum lalu kembali pada tempatnya.


Alkana menghirup aroma wangi kafein di tangannya lalu menyesap minuman itu.


"Lumayan kan?" ucap Sandra yang sudah menebak apa yang akan keluar dari mulut Alkana.


Alkana tersenyum sekilas lalu mengangguk.


"Oh iya, lo ngapain nyariin gue?"


Alkana meletakan cangkirnya lalu merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Sedangkan Sandra malah mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila menghadap Alkana dengan kedua tangan memegang cangkir.


"Gue mau bilang makasih sama lo?"


"Makasih???" Sandra menatap Alkan dengan alis berpaut "buat apa?"


"Karena tadi lo udah ngerayu nyokap gue buat makan bareng."


Sandra terdiam. 'Apa makan bersama adalah hal istimewa sampai membuat seorang Alkana berterimakasih?' pikirnya.


"Kalau nggak ada lo pasti nyokap gue langsung pulang. Selama ini gue nggak pernah mampu nahan nyokap gue lebih dari tiga puluh menit di rumah ini tapi tadi lo bisa. Thanks ya?"


Sandra mengangguk mengerti. "Emang selama ini nyokap lo gimana?"


"Nyokap gue selalu datang tiap minggu, atau kadang tiap bulan. Tapi pernah sampai nggak datang sama sekali selama satu tahun. Dia sibuk dengan keluarga barunya."


Alkana tidak tau apa yang membuatnya begitu mudah menceritakan masalah keluarganya pada Sandra, mungkin karena gadis itu memiliki nasip yang sama. Broken home.


"Keluarga baru, maksudnya?"


Netra biru itu menyorot tajam seakan sebuah peringatan karena pertanyaan itu terlalu lancang.


"Maksud gue... kalau nyokap lo punya keluarga baru bukanya otomatis itu keluarga lo juga. Jadi kenapa lo... misahin diri?"


Sandra tau apa artinya keluarga baru. Kurang lebih pasti sama dengan ayahnya yang sibuk dengan pelakor, istri barunya.


"Karena gue nggak termasuk, nyokap gue bilang dia nggak punya anak."


"Apa???" Sandra terkejut. Ia tidak percaya dengan itu, bagaimana mungkin ada seorang ibu yang tidak mau mengakui anaknya?


Alkana tersenyum getir seraya mengangangguk, ia merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya.


"Dari awal, sejak dia menikah lagi dia bilang kalau dia nggak punya anak. Dan gue cuma di anggap keponakannya. Gue nggak tau salah gue dimana. Gue gu-gue...." Alkana mulai terbata tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.


Sandra meletakan cangkir ditangannya lalu memeluk Alkana. Ia tau betapa sakitnya berada di posisi itu, jangankan merasakan mendengarnya saja ia tidak sanggup.


"Gue rasa hidup ini nggak adil Ra..." Suara Alkana terdengar gemetar seakan menahan sesak yang luar biasa. "Dulu gue masih kecil, gue nggak tau apa-apa. Tapi kenapa nyokap gue tega... tega nggak ngakuin gue sebagai..."


"Nggak usah di lanjutin Al" ucap Sandra dengan derai air mata yang mengalir. "Gue ngerti gimana perasaan lo."


Sedikit banyaknya Sandra tau bagaimana rasanya di campakkan. Dan kini Sandra mengerti bahwa Alkana juga memiliki kekurangan yang sama dengannya yaitu tidak memiliki keluarga dan kurang kasih sayang.


Pelukan itu mengerat begitu saja. Alkana tidak pernah tau mengapa ia bisa dengan mudah terbuka pada gadis itu. Padahal sebelumnya ia tidak pernah bercerita pada siapapun apalagi mengenai keluarganya.


Setelah Sandra merasa Alkana sedikit lebih baik Sandra menarik diri memberi jarak pada tubuhnya. Tidak ada air mata yang keluar dari sudut mata lelaki itu tapi sorot matanya menjelaskan betapa rapuh hatinya.


"Gue nggak bisa bilang keluarga gue lebih baik dari lo, karena lo tau sendirikan nyokap gue udah nggak ada."


Alkana mengangguk. "Mungkin harusnya gue lebih bersyukur karena nyokap sama bokap gue masih ada."


"Emang kalau boleh gue tau bokap lo dimana?"


"Di luar negri. Semenjak orang tua gue pisah gue nggak pernah lihat dia lagi. Dia juga udah punya istri. Dulu nyokap gue cuma di nikahi bawah tangan, dan itu yang bikin nyokap gue minta pisah. Bokap gue nggak jujur kalau dia udah punya istri di Landon."


"Jadi maksud yang tadi di bilang nyokap lo itu dia pengen lo sekolah yang bener terus kalau udah lulus lo dipindahin gitu keluar negri?"


"Iya, dia bilang bokap gue nggak mau kesini lagi. Jadi harus gue yang kesana."


"Kalau bokap lo sendiri gimana?" tanya Alkana balik.


"Ada, dia ada di Jakarta. Tapi di mana tempatnya aku nggak tau, gue nggak perduli. Sama kayak dia yang udah nggak pernah perduli lagi sama gue."


Tangan Alkana terulur mengusap pundak gadisnya. "Gue yakin dia pasti punya Alasan?"


"Alasan dia ya pelakor itu."


"Selain itu pasti ada, percaya sama gue," tutur Alkana. "Contohnya nyokap gue, dia nggak ngakuin gue sebagai anaknya karena dia bilang gue mirip banget sama bokap. Dan kehadiran gue bikin dia selalu ingat sama orang yang pernah bohongin dia."


"Masak sih?" Sandra kurang yakin. Alasan itu terdengar tidak masuk akal.


"Iya, dan lo tau nggak yang mirip banget sama bokap gue apanya?"


"Apa?"


Alkana menipiskan jarak wajahnya. "beneran mau tau?"


Sandra mengangguk penasaran.


"Gantengnya" kata Alkana lalu tergelak.


Sandra berdecak sebal. "Serius nggak sih???"


"Iya serius."


"Kok malah ketawa."


"Gue serius Ra..." Alkana mencubit gemas hidung mungil gadisnya. Sandra hanya cemberut.


Setelah bercanda beberapa saat kini suasana berubah drastis mereka diam, canggung. Keduanya kalut dalam lamunan masing masing sambil menatap bintang yang bertebaran di langit malam.


Sandra mengubah posisi duduknya sejajar dengan Alkana dan turut merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Al, gue boleh nanya sesuatu?" ucap Sandra kemudian memecah keheningan.


"Apa?"


Gadis itu tidak langsung menjawab, Sandra terdiam beberapa saat ia tidak yakin ingin menanyakan hal itu.


"Kenapa kemarin, lo ninggalin gue di lapangan?"


Pertanyaan itu mungkin konyol, tapi Sandra ingin tau apa alasan Alkana melakukannya. Ia tidak terima saat Alkana meninggalkan dirinya di lapangan dalam keadaan yang mengenaskan.


"Oh... itu. Emang kenapa?"


Sandra terbengong 'emang kenapa' ralatnya dalam hati. Maksudnya apa coba? Hal sepenting itu ternyata hanya di anggap sepele oleh Alkana.


"Eh maksud gue lo kemana. Lo nggak pingsan juga kan?"


Alkana tersenyum penuh arti dengan sorot mata tertuju pada Sandra.


"Lo ngarep gue nolongin lo?"


"Ng-nggak. Haha..." Sandra memaksa bibirnya tertawa meski terasa hambar. "Gue cuma nanya."


"Gue pikir lo pura-pura pingsan, makannya gue tinggal."


"Ck ish lo nyebelin banget sih masak gue di kira pura-pura pingsan kurang kerjaan banget" Sandra bersungut sebal sambil memukul lengan Alkana.


"Lagian mana ada orang mau pingsan ngomong dulu."


"Tapi gue beneran pingsan tauk, jahat banget sih lo tega ninggalin gue!"


"Iya gue tau. Tapi waktu gue mau balik lagi udah ada Satria, ya udah jadi gue nggak nolongin lo."


"Serius lo balik lagi?" tanya Sandra dengan sorot mata berbinar-binar.


"Apa perlu gue cariin bukti lewat CCTV sekolah. Gue mau nyamperin lo udah sampai setengah jalan tiba-tiba Satria datang jadi gue balik lagi" jelas Alkana.


Sandra mengangguk percaya di iringi senyuman lebar di bibirnya. itu cukup membuatnya mengerti karena Alkana tidak seburuk yang ia fikirkan.


"Kalau gue boleh gantian nanya sama lo?"


"Apa?" Sandra antusias memasang telinganya.


"Kenapa tadi lo nangis?"


Sandra membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sama dengan aliran darahnya begitu juga dengan nafasnya yang tiba-tiba tercekat. Ia baru sadar dengan apa yang dilakukan, mengapa ia menangis?


Apa Sandra benar-benar cemburu? tapi tadi ia merasa sakit, ia kecewa ketika Alkana bersama wanita lain ia tidak rela sebelum ia mengetahui bahwa Fany adalah ibunya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?


"Lo mau tau kenapa gue nangis?"


"Iya."


"Gue takut lo selingkuh."


"Kenapa?" lelaki itu tidak mengerti dengan maksut pembicaraan gadis di depannya. Sandra takut karena apa? Benarkah selama ini Sandra perduli atau ada hal lain.


"Karena gue cinta sama lo Al."


Ya. Sandra sangat yakin dengan ucapannya meskipun ia sendiri tidak tau sejak kapan. Yang ia rasakan sama persis seperti saat ia melihat Nichol bersama perempuan lain, dan Alkana adalah lelaki kedua yang berhasil membuatnya jatuh cinta setelah Nichol.


Kini Alkana yang membeku. Nerta birunya mencari kebohongan di sorot mata gadisnya tapi tidak ia temukan.


"Sejak?"


"Gue nggak tau, detail waktunya kapan. Semunya datang tiba-tiba. Gue rasa juga, gue belum siap buat semua ini tapi..."


Sandra tidak menyelesaikan kalimatnya karena Alkana sudah membukam mulutnya dengan bibir.


Apa yang Alkana lakukan?


Sandra tidak bisa berkata apa-apa lagi, detak jantungnya berpacu cepat ketika Alkana menciumnya lembut, menyeluruh dan menuntut. Ini berbeda dari kecupan yang biasa Alkana berikan sebelumnya kali ini lebih panas dan memabukkan.


Sandra tidak bisa berpikir jernih, otaknya kosong. Terlebih saat lidah Alkana mendesak masuk membelai rongga mulutnya dengan erotis, membelit lidahnya hingga tanpa sadar Sandra mengerang dan merangkul bahu Alkana untuk memperdalam ciumannya.


Sandra terlena, hanyut dalam kecupan panjang yang memabukan.


***