
"Ra kalau kalian sama sama nggak cinta kenapa pacaran???"
"Yang pacaran dia kenapa lo yang sewot" Jery menyahut dari belakang lalu meletakkan minumannya dimeja, "Lo nggak punya hak buat ikut campur."
Haris seketika menunduk menyesali ucapannya.
"Itu dia yang bikin gue bingung Ris?"
Haris langsung menoleh menatap Sandra yang memasang wajah tak mengerti.
"Kalau Alkana nggak cinta ya nggak mungkinlah dia mau pacaran sama lo" tatapan Jery beralih pada Haris, "Lo nggak usah ngomong macem-macem, lo mau hasut dia?" kecam Jery sambil melotot.
"Tapi gue nggak ngrasa Alkana cinta sama gue."
"Ya mungkin dia belum mau nunjukin aja kalau dia cinta sama lo."
"Kenapa?" Sandra menatap cowok berhidung bangir itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Gue-gue nggak tau, tapi gue yakin kok Alkana suka sama lo." Kalimatnya terdengar pasti tapi Jery mengucapkannya penuh keragu-raguan.
"Gue nggak percaya. Pasti Alkana punya maksud lain kenapa dia maksa gue jadi pacarnya?"
Jery menggaruk tengkuknya, "Umm.. gimana kalau lo sendiri aja yang nanya" Jery menyerah dengan pertanyaan itu, ia takut salah bicara.
"Lo tau sesuatu kan?" Sandra menatap Jery dengan keingin tahuan tak terbendung.
Merasa terpojok ahirnya Jery mengalah, ia lalu bangkit dari kursi "Gue tau semuanya, tapi gue nggak bisa cerita sama lo. Yang jelas siapa pun dia kita nggak berhak menghakimi hidupnya karena kita nggak pernah tau gimana rasanya ada di posisi dia."
"Maksud lo?"
Sandra hanya bertanya tentang apa niat Alkana menjadikannya pacar tapi mengapa Jery malah membahas mengenai kehidupan Alkana, aneh.
"Kalau lo mau tau siapa dia buat lo pamerin ke semua orang lebih baik lo nggak usah tau maksud gue" setelah mengatakan itu Jery melangkah pergi.
Berahir dengan teka-teki, Sandra membenci itu. Beberapa hari yang lalu Sandra juga mendengar Alkana berkata "Berhenti atau menyesal" kalimat itu terdengar seperti sebuah peringatan sama halnya dengan yang barusan ia dengar dari Jery.
Lantas siapa sebenarnya lelaki itu? Apa kehidupannya terlalu gelap sampai membuatnya sangat tertutup? Apakah dia pembunuhan bayaran? buronan, atau narapidana? Pertanyaan pertanyaan itu terlintas begitu saja dalam benaknya membuat Sandra semakin penasaran dengan apa yang di sembunyikan oleh Alkana.
***
Ruangan remang-remang di penuhi lampu disko dengan alunan musik dance yang menggema itu menjadi tempat pilhan Alkana untuk melepas penat. Ia duduk di salah satu kursi bar dengan satu tangan memegang gelas dan tangan satunya memainkan ponsel seperti kebiasaannya.
Tak lama kemudian datang seorang wanita penghibur dan langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Alkana. Namun tatapan Alkana masih terpaku pada layar ponselnya, ia tidak mungkin mengabaikan pesan dari Jery yang tengah menceritakan tentang Sandra.
"Lo harus lebih hati-hati lagi" tulis Jery di sebuah chat.
"Dia nanya apa aja?" balas Alkana.
Wanita penghibur itu mengeratkan lengannya seakan memaksa Alkana menatap kedalam matanya, "Temen temen gue nggak ada yang datang. Lo maukan nemenin gue?" bisik wanita itu manja.
Alkana menganguk, kemudian tangan yang semula memegang gelas kini ia letakan pada pinggang wanita itu tanda bahwa ia menerima tawarannya. Wanita itu tersenyum girang lalu turut melirik kearah layar ponsel Alkana.
Karena jaraknya terlalu dekat, Alkana menghirup aroma wangi dari wanita itu. Parfume aroma Vanilla yang khas dan tidak terlalu menyengat, sungguh itu mengusik indra penciumannya membuat birahinya memuncak begitu saja. Belum lagi kulit wanita itu nampak putih dan mulus ibarat makanan lezat yang menggugah selera, ingin sekali rasanya Alkana menghabisi wanita itu tapi ia hanya bisa menahannya.
Lama Alkana terpaku pada ponselnya menunggu pesan dari Jery tapi temannya itu tak jua mengirim balasan. Merasa tidak di perdulikan wanita penghibur itu lalu berkata.
"Apa aku kurang cantik?" tanyanya dengan nada sensual, Alkana masih terdiam namun ia mengeratkan lengannya pada pinggang wanita itu seolah memintanya bersabar.
Cup.
Alkana seakan tersengat aliran listrik saat bibir mungil itu mendarat di pipinya tanpa permisi. Alkana memang sering membiarkan para wanita penghibur mendekatinya tapi tidak dengan menciumnya tanpa izin, bagaimanapun yang di lakukan wanita itu melebihi batas.
Pandangannya lalu teralih pada wanita berpakaian seksi di depannya dan alangkah terkejutnya Alkana saat mengetahui wanita itu adalah Sandra, pacarnya sendiri.
Sandra terkekeh geli melihat ekspresi Alkana yang syok dengan kedatangannya.
"Kaget ya?" Sandra tersenyum penuh kemenangan, berhasil mempermainkan lelaki itu.
"Lo ngapain di sini?" tanya Alkana yang kemudian menatap ke sekeliling tempat itu, ia fikir wanita itu salah satu dari wanita yang sering menggodanya ternyata bukan. "Lepas..." Alkana menepis lengan yang bertengger manis di lehernya.
Sandra menggeleng seraya mengeratkan pegangannya, "Gue tadi di godain sama om om. Gue takut" nada bicaranya berubah manja.
Alkana menghela nafasnya kasar, "Gimana nggak di godain sama om om pakaian lo aja nggak beda jauh sama bitches"
Sandra cembetut, "Terserah yang penting lo temenin gue."
"Lepas gak?" Alkana tampak risih dengan lengan itu, bukan karena malu atau jual mahal tapi detak jantungnya tidak berkerja dengan benar saat tubuhnya bersentuhan dengan gadis itu.
"Kenapa, biasanya lo diam aja kalau cewek cewek murahan itu deketin lo?"
"Jadi lo mau gue samain sama mereka?"
Sandra melepas lengannya, "Gue lebih terhormat daripada mereka."
Sandra menarik kursi lalu duduk di dekat Alkana sampai tidak ada jarak di antara mereka, "Lo udah biasa ya main sama cewek cewek di sini?"
"Lo nggak bisa ya kalau nggak nempel-nempel gue?" sinis Alkana.
"Lo nggak bisa ya kalau gue nanya langsung di jawab nggak usah balik nanya?"
"Bukan urusan lo!"
Sandra mendengus sebal, jika bukan karena ia penasaran tingkat Dewa pasti ia tidak sudi meladeni lelaki sinis dengan mulut pedas seperti Alkana.
"Tapi kayaknya lo udah pengalaman" lanjutnya belum menyerah.
"Nggak usah sok tau!"
"Gue nggak sok tau" Sandra mulai lagi merangul cowok itu, "gue lihat dari cara lo perlakuin gue tadi."
"Turunin nggak" pinta Alkana seraya menatapnya tajam.
"Kenapa, lo takut karena cewek cewek itu liatin lo terus?" Sandra melirik kearah ujung ruangan yang di penuhi oleh sekumpulan wanita penghibur. Diantara mereka ada beberapa orang yang secara terang-terangan menatap kearahnya dengan tatapan tidak suka.
Alkana memutar pandangannya pada sekumpulan wanita itu lalu ia beralih pada Sandra, "mau lo apa sebenarnya?"
Sandra tersenyum penuh arti "Mau gue, banyak?"
"Kalau lo cuma mau main main sama gue, gue nggak ada waktu."
"Harusnya gue yang ngomong gitu sama lo?"
Alkana menatap gadis itu tidak mengerti.
"Apa tujuan lo pacaran sama gue? lo nggak punya perasaan apa-apa sama guekan?" Sandra menatap lelaki itu penuh selidik.
Alkana diam seolah tidak mempunyai jawaban untuk pertnyaan itu.
"Yang mau mainin gue itu lo, bukan gue?" tuduh Sandra.
Drrrt... drrrt...
Suara ponsel itu seolah mampu menjadi penolong bagi Alkana.
"Al jawab dulu..." Sandra menarik lengan Alkana yang tampak akan bergeming.
"Nyokap gue telfon" Alkana menunjukkan layar ponselnya dengan nama yang tertulis Mama. "Jadi gue harus mentingin lo dari pada nyokap gue?"
Sandra ahirnya melepas pergelangan lelaki itu, "Oh."
Alkana berjalan menuju pintu keluar dengan ponsel di telinga, "Alkana masih punya ibu?"
***
Semenjak menerima telfon Alkana menghilang entah kemana, Sandra sudah mencarinya ke sekeliling tempat itu bahkan ia memeriksanya di toilet tapi Sandra tetap tidak menemukannya. Sepertinya lelaki itu sengaja menghindar.
Setelah selesai memenuhi panggilan alamnya Sandra keluar dari toilet dengan langkah gontai, ia tidak bersemangat malam ini. Satu satunya orang yang ia kenal malah menghilang mungkin ia lebih baik pulang mengingat malam sudah mulai larut, lagipula percuma Sandra berada di tempat ini tapi tidak melakukan apa pun.
Ia ingin minum seperti biasanya tapi takut mabuk dan tidak ada yang mengurusnya, jika ingin menari di dance floor ia tidak bisa bebas karena harus selalu waspada jika ada yang menggodanya.
"susah emang kalau lagi nggak sama temen" gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba entah dari mana asalnya Sandra melihat Alkana melangkah kearah berlawanan. Sandra tersenyum melihat cowok itu lalu berhenti di depannya.
"Kenapa?" Alkana menatap malas gadis liar di depannya.
Sandra menggeleng lalu mengecup sekilas bibir mungil lelaki itu. Setelah membuat Alkana terkejut setangah mati Sandra melangkah pergi.
Namun Alkana tidak membiarkannya. Alkana menarik lengan Sandra dan menghempaskan tubuhnya pada tembok. Tidak keras tapi sukses membuat Sandra terperanjat. Kedua langan lelaki itu bersandar pada tembok mengunci pergerakan gadis lancang yang berani menciumnya.
"Lo ma-mau ngapain?" Sandra gugup saat melihat Alkana menatapnya tajam bak seekor Elang yang siap menerkam mangsanya.
Beberapa detik kemudian, Alkana mendaratkan kecupanya pada bibir gadis itu. Dan tidak berlangsung sebentar Alkana membalas ciuman gadis itu dalam kecupan panjang.
Sandra memukul pundak Alkana berharap lepas, atau setidaknya mendapat pasukan oksigen. Ia kehabisan nafas dan tidak bisa mengimbangi ******* lelaki itu yang semakin lama semakin menggila. Tidak hanya itu Alkana juga tidak perduli dengan orang-orang yang melintasinya seakan telah terbiasa melakukan hal itu di tempat umum.
Satu hal yang terlintas di benak Sandra tentang lelaki itu, "Alkana mesum."
***