NEVER

NEVER
Salah Paham



      GADIS cantik yang sempat menghilang beberapa hari kini sudah menampakan dirinya di kantin sekolah. Dengan penampilan sexy dan selalu membuat kaum adam menegang. Apalagi jika melihat kancing baju teratasnya yang selalu terbuka, seakan memberi lowongan pada siapa saja yang ingin melihatnya.


Hari ini wajah gadis yang di kenal bad girl itu nampak berseri-seri berbeda dari biasanya. Kedua tanganya menopang dagu, bibirnya merekah di setiap detiknya dan tatapan matanya menerawang jauh, ia sedang berkhayal.


"Lo kesambet apa Ra Senyam senyum nggak jelas?" tanya Audi yang lama kelamaan merasa aneh dengan sikap temannya.


"Kayaknya dia ketempelan setan rumah deh" Jawab Kanaya sekenanya karena Sandra masih belum berpijak di bumi.


"Makin hari makin gesrek aja otak lo" Audi lalu menyeruput minumannya.


Tak lama berselang Satria datang dan tanpa basa basi langsung duduk di hadapan Sandra yang membuat gadis berambut pirang itu seketika tersadar dari lamunan.


"Hai Ra?" sapa Satria dengan tingkat percaya diri di atas rata-rata.


"Kenapa lo?" Sandra melirik lelaki sok ganteng di depanya.


"Gimana keadaan lo? udah baikan?"


"Udah."


Satria tersenyum, "Syukurlah" katanya.


"Oh iya Ra gue punya sesuatu buat lo" Satria kemudian memberikan dua batang coklat yang sedaritadi ia simpan di belakang punggungnya.


Audi dan kanaya yang berada di sisi kiri dan kanan Sandra lalu beradu pandang. Sedangkan gadis yang di beri Cokelat hanya menatap ketua osisnya sambil melongo.


"Buat gue?"


"Iya, diterima ya" Satria meraih tangan Sandra lalu meletakan Cokelat itu di telapak tanganya dengan senyuman yang masih sama, sok manis.


"Semoga cepat sembuh" ucap Satria lalu bergeming dari duduknya dan melangkah pergi.


Sandra masih bengong menatap punggung Satria yang semakin menjauh.


"Kesambet kali ya tu orang" katanya.


"Iya, sama aja kayak lo?" sambar Kanaya.


"Gue kenapa?"


"Lo dari tadi kenapa senyam-senyum nggak jelas?"


"Oh itu..." Sandra tersenyum lalu menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.


"Tuh kan kumat lagi?"


Sandra menunduk lalu meraih gelas dan mengaduk minumannya. Rasanya Sandra malu jika harus menceritakan bagaimana tadi Alkana menggendongnya. Sandra serasa melayang-layang di udara, senang bukan main ketika Alkana mulai menunjukan rasa perdulinya.


"Ra kenapa sih?" desak Audi penasaran.


Sandra bergumam, "Nggak jadi deh."


"Ya elah di tungguin juga, malah nggak jadi" omel Audi. Sandra hanya nyengir tak berdosa.


Sebelum Audi kembali berkutat pada makanannya matanya tak sengaja menatap kearah sudut kantin dan melihat Riska bersama dayang-dayangnya.


Bukan hanya itu Riska juga nampak tertangkap basah oleh Audi saat sedang menatap kearah Sandra dengan tatapan sengit.


"Eh Ra lo tau nggak kalau si Riska ngajak balikan sama Satria?"


Sandra menoleh, "Masak? udah kayak nggak laku aja sampe stuck sama satu cowok."


"Dan yang lebih waw Ra si Satria nggak mau?" Kanaya menimpali.


"Ya kali Satria mau jilat ludahnya sendiri."


"Dan yang lebih heboh lagi..."


"Ada lagi?" potong Sandra.


"iya, dan lo tau apa?"


"Apa?"


"Satria nolak Riska gara-gara lo?" Lanjut Audi.


"Gue?" Sandra menunjuk dirinya dengan kening mengerut, sedang kedua temannya mengangguk.


"Kok bisa gue?"


"Ya karena si Satria suka sama lo. Pake pura-pura nggak tau lagi."


Sandra menghela nafas, "Oke Gue akui. Mereka putus emang gara gara gue yang pernah godain Satria, tapi kalau sekarang gue nggak tau apa apa suer deh" Sandra mengacungkan tanganya membentuk huruf V, meyakinkan.


Audi memijat pelipis tak percaya dengan ucapan Sandra.


"Terus menurut lo demi apa Satria mau kasih lo Cokelat? Belum lagi tadi, dia rela ninggalin jam olahraga cuma buat gendong lo yang pingsan ke UKS terus nungguin lo sampe ngelewatin jam istirahat" Kanaya mengambil alih.


"Apa lo bilang, Satria gendong gue ke UKS? Lo kata siapa?" Sandra langsung nyolot.


"Bimo, pacar gue. Dia lihat dengan mata kepalanya masih nggak percaya?"


"Nggak mungkin."


"Nggak mungkin gimana? Apa lo lupa waktu lo sadar tadi ada Satria di UKS?"


"Gue inget, tapi tadi waktu gue pingsan Alkana ada di depan gue. Terus dia kemana?" Sandra menatap Kanaya lalu beralih pada Audi meminta penjelasan.


Bukannya menjawab kedua temannya malah penepuk jidat.


"Gue nanya serius," Sandra meregek.


"Lo kayaknya lupa sesuatu deh Ra" kata Kanaya.


"Apa?"


"Alkana kan nggak punya hati. Ya jelaslah waktu lo pingsan lo di tinggal, Cowok kayak dia mana punya rasa peduli".


Sandra langsung lemas, tidak menyangka jika Alkana meninggalkanya. Sekejam itukah? sampai ia tega di biarkan terkapar di tengah lapangan, terkena paparan sinar matahari.


"Lo ngarep banget Alkana yang nolongin lo?" tanya Audi dengan nada di buat seolah prihatin.


Sandra tertunduk diam dengan jemari kanan mengepal.


"Ra, udahlah biarin aja. Lagian banyak kali yang mau sama lo."


Entah mengapa suasana kantin yang semula gaduh kini terasa sunyi membuat situasi semakin mencekam.


"Kalau nenurut gue..." Kanaya memperbaiki posisi duduknya menghadap Sandra.


"Mendingan Satria deh Ra dari pada Alkana. Emang sih kalau masalah tampang Alkana jauh lebih ganteng tapi sikap dingin dan acuhnya itu nggak bisa di toleransi, percuma juga kan punya cowok nggak ada gunanya. Mending sama Satria bisa di manfaatin."


"Iya gue tau. Gue cuma nggak habis pikir aja" Sandra tersenyum kecut lalu menyesap minumannya. Sebisa mungkin ia harus bersikap normal meski hatinya sedang terpukul, Sandra tidak mau terlihat lemah.


"Oh iya Ra, tapi kok lo bisa di hukum bareng sama dia?" Audi menatap temannya penuh selidik.


"Gue tadi berangkat bareng, terus telat."


"Lo berangkat bareng sama Alkana?"


"Emm..." Sandra diam beberapa saat bingung harus memulai ceritanya dari mana.


"Bukan, bukan gitu. Gue bisa berangkat sama dia karena gue kebetulan tinggal di rumahnya, selama kakak gue liburan."


"Hah???" Audi dan Kanaya langsung Syok.


"Demi apa lo mau tinggal di rumahnya cuma gegara lo ditinggal kak Rena. Modus kan lo?" tuduh Audi.


"Ya soalnya gue nggak mungkin tinggal serumah sama Reza doang, kan kalian tau assisten rumah gue nggak pernah nginep. Ya gue takut aja."


"Oh terus lo milihnya langsung Alkana gitu, kayaknya lo lupa kalau punya temen cewek. Sengaja milih dia kan?" Hardik temannya.


"Jadi gue harus numpang di rumah kalian gitu, bisa habis gue di godain sama kakak kakak lo yang genitnya nggak ketulungan."


Audi dan Kanaya lalu nyengir, "Oh iya ya."


"Jadi, kalau tinggal di rumah Alkana nggak ada yang godain gitu?" Kanaya penasaran.


"Nyokap sama bokapnya nggak dirumah, jadi siapa yang godain. Kalau Alkana jarang ngajak gue ngomong jadi gue jadi... " Kalimatnya tercekat entah karena apa. "Jadi gue... aman" lanjutnya.


Saat mengucapkan kata 'aman' bibirnya serasa berkhianat. Sedang kenyataanya tinggal di rumah Alkana sama dengan menyerahkan diri pada bahaya.


"Terus di bolehin aja gitu?"


Sandra mengangguk yakin. "Iya di bolehin kok."


Kedua temannya manggut-manggut, namun sesaat kemudia Kanaya berkata lagi.


"Hati-hati lo Ra, lo pernah denger kan istilah diam-diam menghanyutkan?"


"Iya pernah."


"Nah itu, di balik sikap dinginnya kita nggak pernah tau kalau dia menyimpan bahaya."


"Masak sih Nay???" Sandra seolah tak percaya, dan jauh di lubuk hatinya ia membenarkan.


***


       


Jery menyalin tulisan pada Whaitbord karya Pak Adam sambil sesekali melirik teman sebangkunya. Hari ini Alkana nampak lebih tenang dari sebelumnya, tidak seperti kemarin saat tidak ada Sandra. Sepenuhnya Jery tau Alkana menyimpan perasaan untuk gadis itu tapi gengsinya lebih besar dari pada cintanya.


"Si Sandra udah sekolah ya?" tanya Jery di sela kegiatanya.


"Udah" jawab Alkana tanpa menoleh.


"Tadi lo bareng sama dia?"


Alkana menoleh lalu meletakan balpoin miliknya, "Gue mainin Sandra, salah. Gue baik-baikin Sandra, lo protes. Mau lo sebenernya apa Jer?"


Untungnya Pak Adam sudah keluar lima menit yang lalu, murid muridnya tinggal menulis PR sambil menunggu bel. Jadi tidak akan ada yang akan marah ketika mereka ribut dalam kelas.


"Al santai dong Al, gue kan cuma nanya sensi amat lo kayak cewek datang bulan."


Alkana mengalihkan pandangannya, baru sadar bahwa ia memang berlebihan.


"Tapi kalau lo belum mau cerita ya nggak papa. Gue kan cuma nanya."


Alkana menghela nafas, pada dasarnya ia tidak bisa jika tidak berkata jujur pada Jery.


"Dia tinggal di rumah gue, dan tadi gue berangkat bareng" kata Alkana dengan volume sangat rendah.


Jery sepontan menatap temanya "Lo tinggal serumah!!!" dan otomatis membuat teman-temanya menoleh.


"Gue tampol juga mulut lo" sinis Alkana.


"Ups" Jery membekap mulutnya lalu nyengir, "kelepasan."


Alkana melanjutkan kegiatanya.


"Dalam rangka apa dia nginep? Ingat Al, jangan keseringan entar jadi beneran" lirih Jery.


"Cuma seminggu, dia di rumah nggak ada temennya."


"Oh..." Jery menggut-manggut. "Kayaknya lo sama Sandra senasib deh Al."


"Maksud lo?"


Jery menutup bukunya lalu berputar menghadap Alkana seraya meletakan satu kakinya di lutut ala berada di warung kopi.


"Iya. Setau gue Sandra kan udah nggak punya nyokap cuma punya bokap doang tapi bokapnya ninggalin dia dan dia cuma tinggal sama kakaknya."


"Tau dari mana lo?"


"Eh di kasih tau nggak percaya. Nih ya gue jelasin, dulu waktu kelas sepuluh gue sekelas sama Sandra dan waktu pembagian raport bokapnya Sandra pernah datang kesekolah. Tapi setelah ibunya meninggal gue nggak pernah lagi lihat bokapnya."


"Bokapnya emang kemana?"


"Mana gue tau."


Alkana manggut-manggut.


"Dan menurut gue Sandra jadi bad girl kayak sekarang itu karena dia rapuh, bukan karena memang dia nakal. Ya nggak jauh beda sama lo, kalian berdua itu sama-sama broken home."


"Sok tau," sahut Alkana lalu mengemasi bukunya.


"Di kasih tau orang tua juga, nggak percayaan banget lo jadi orang."


Tepat saat Alkana selesai memberesi peralatannya bel pulang sekolah berbunyi. Alkana langsung bangkit dan melangkah keluar kelas.


"Al tungguin gue, gue belum selesai. Minjem buku lo!" pekik Jery namun Alkana terus berjalan.


"Kamfret tu anak" Jery buru-buru mengemasi bukunya lalu berlari mengejar Alkana.


"Woi tunggu!!!"


Jery melambai saat Alkana akan berbelok kearah parkiran. Namun ramainya orang orang yang melintas membuat Alkana tidak mendengar teriakannya.


"Ya udah lah" Jery beralih menuju kelas dan memilih meminjam buku pada teman yang lain.


Saat langkahnya terayun memasuki kelas Alkana tiba-tiba menarik ransel temannya.


"Jer cabut Jer" kata Alkana terburu buru.


"Cabut kemana?" Jery menatap Alkana bingung.


"Di gerbang ada botak, ayo cabut lewat belakang" Alkana seraya menarik tali ransel Jery dan membawanya berlari.


Jery menurut dengan ketidakmengertiannya.


"Bukannya si botak sumber duit ya. Ko malah lari?"


"Dulu iya duit sekarang kuburan."


Mendengar itu Jery langsung mempercepat langkahnya. Ia mengerti, sebaik baiknya seorang preman tetap tidak bisa di anggap baik.


***