NEVER

NEVER
Never Left




  ALKANA sudah menduga sebelumnya, bahkan dari awal ketika Johan berkata Sandra ada di dalam. Sekalipun ia tidak percaya Alkana tetap menurut. Namun percuma menyesali pilihannya sebab ada hal lain yang jauh lebih penting yaitu keluar dari tempat itu.


Alkana melihat api yang bergerak cepat, sebelum asapnya mengganggu penglihatan Alkana berlari menuju pintu belakang.


Di sisi lain Nichol yang sudah terlepas dari ikatannya buru-buru melepas ikatan Jery, sementara Sandra masih terkulai lemah di jok mobil.


Para preman itu tengah asik tertawa melihat si jago merah yang melalap rumah tua berserta isinya, entah apa yang lucu. Selera humor para preman itu memang payah.


"Gue mau lumpuhin mereka. Lo bawa Sandra pergi dari sini?" Nichol berkata sambil melepas ikatan Sandra. "Habis itu lo telpon polisi."


"Terus lo gimana?" tanya Jery, tak ingin memikirkan diri sendiri.


"Nggak usah mikirin gue, yang penting lo usahain biar polisi bisa datang secepatnya. Ngerti?"


"Ok, gue ngerti."


Nichol turun dari mobil, tanpa membuang waktu ia langsung menghantam kepalan tangan pada preman yang tengah berdiri di depan pintu. Lelaki itu terkapar, Nichol mengambil kuncinya.


"Nih," Nichol melempar kunci mobil itu pada Jery, "Buruan cabut."


Jery meloncat berpindah pada kursi kemudi lalu menyalahkan mesin mobil.


"Woi mau kabur kemana lo!" salah satu preman berteriak mengakhiri tawa Johan dan teman-temannya.


"Dia mau buang air," Nichol menjawab sekenanya sambil melihat mobil yang dikemudikan Jery berlalu.


Johan menggerakkan gigi, "Hajar dia!" titah Johan pada anak buahnya, dan seketika membuat Nichol berkesiap memasang kuda-kuda.


Malam itu terjadilah pertempuran paling bersejarah dalam hidup Nichol, Satu lawan Lima belas. Terdengar mustahil jika ia menjadi pemenang, sebab ia bukanlah Petter Parker yang memiliki kekuatan super Nichol manusia biasa dan kenyataannya Nichol memang kalah.


Sudah Sepuluh menit berlalu tapi baru Tiga orang yang berhasil ia lumpuhkan, sisanya masih berdiri dengan angkuhnya sebagai penonton. Jika terus seperti ini Nichol biasa mati sia-sia.


Lawannya kali ini tidak bisa di remehkan, orang-orang yang sekarang ia hadapi memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni Nichol sampai kualahan dibuatnya.


Brakkk...


"Aakkk..."


Satu lagi lawan yang sudah jatuh ke tanah. Lelaki yang sempat ia puntir tangannya lalu ia hujam dengan tinju berkali-kali itu akhirnya tergeletak di tanah, padahal tadi Nichol sempat khawatir lelaki itu membawa benda tajam.


Di tengah pertengkaran yang mungkin bisa merenggang nyawa Nichol mendengar salah satu anak buah Johan berteriak.


"Bos Alkana kabur!"


Walaupun tidak percaya, Nichol bersyukur Alkana bisa keluar dari rumah itu.


"Kejar dia!!!"


Johan yang sejak tadi hanya memerintah memekik panik. Sebagian preman itu langsung memisahkan diri dan mengejar Alkana yang tengah berlari menuju pemukiman.


Musuh di hadapan Nichol tinggal tersisa Dua, Satu membawa kayu balok satu lagi membawa pisau dan Nichol paling was was dengan benda itu, salah perhitungan benda tajam itu bisa melukai tubuhnya.


Bugh


Bugh


Bugh


Begitu preman pemegang pisau itu lemah dengan sigap Nichol langsung merebut senjatanya. Untungnya orang itu tidak terlalu mahir bela diri sehingga Nichol bisa mendapatkan pisau itu dengan mudah.


Di sela pertikaian, Nichol sesekali melirik Alkana. Ternyata lelaki itu malah lebih memilih untuk menyerang preman itu meski dari yang Nichol lihat Alkana kesulitan. Tubuhnya memang utuh tanpa luka bakar sedikitpun tapi lengannya nampak sobek dan mengucur darah, luka itu yang membuat Alkana kesakitan saat menyerang musuh musuhnya.


Tiba-tiba entah dari mana asalnya Nichol mendengar suara tembakan menggema di udara, dan di susul dengan kemunculan polisi dengan senjata api mengacung pada Preman preman itu.


Nichol terkejut melihat itu, ia yakin itu bukan polisi yang datang atas permintaan Jery. Terlalu cepat, lagipula Jery pergi baru beberapa menit lalu. Dan jumlah polisi itu tidak sedikit puluhan, lelaki bertubuh tegap nan berseragam lengkap itu sampai bisa mengelilinginya serta Alkana. Ini di luar dugaan, Alkana tidak sebodoh yang ia kira.


"Angkat tangan, tempat ini sudah kami kepung!" ucap salah satu polisi yang berdiri tidak jauh dari Alkana.


Preman itu menurut, mengangkat tangan sembari meletakkan senjatanya sembarang. Namun disisi lain Johan masih berani bergerak dan mengarahkan benda tajam yang ia bawa dileher Alkana.


Tiga orang polisi langsung menatapnya waspada, penjahat memang gemar melibatkan keselamatan orang lain untuk kepentingannya sendiri.


"Lo mundur atau gue bunuh dia," ancam Johan pada posisi yang berjarak satu meter dengannya.


Polisi itu menurut, namun senjatanya masih mengacung pada Johan.


Disela ketegangan itu, Nichol memisahkan diri. Tubuhnya lemas, ia kehilangan banyak tenaga hingga baru beberapa langkah ia sudah jatuh tersungkur di tanah.


Nichol kemudian bantu oleh seorang polisi untuk bangkit, lalu membawanya jauh dari orang-orang itu.


"Tunggu disini," kata orang itu, seusai menempatkan Nichol di bawah pohon rindang dan menyuruhnya duduk tanpa alas.


Nichol mengangguk dan membiarkan polisi itu bergabung lagi dengan kawanannya.


Tak lama kemudian datang beberapa mobil polisi untuk membawa Preman preman itu beserta komplotannya dan sebelum kesadaran Nichol menghilang, ia melihat Alkana menyerang Johan hingga terjadi pertikaikan singkat. Semuanya berahir saat Johan menghunuskan pisaunya pada perut Alkana dan disusul suara tembakan yang mungkin tertuju pada Johan, setelah itu Nichol tidak mengingat apa apa lagi.


*****


Sandra perlahan membuka mata menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Tubuhnya masih terasa lemas, namun ia berusaha bangkit dari brankar.


"Kamu sudah sadar nak?" suara itu terdengar cemas.


"Ini dimana tante?" Sandra melihat sekitarnya bingung, seingatnya ia tidak memiliki kamar sempit seperti ini.


"Di rumah sakit sayang, kamu istirahat dulu ya jangan banyak gerak."


Sandra mengangguk kemudian kembali berbaring sambil memegangi kepalanya, rasa peningnya kembali menyerang.


"Kata dokter kamu cuma kecapean, nanti juga udah boleh pulang," Fany membelai rambut panjang milik Sandra kemudian tersenyum namun di setiap sorot matanya Sandra melihat ada luka yang menganga.


"Jery lagi beli makanan, nanti habis makan tante antar kamu pulang ya?" Fany berkata lemah lembut seperti biasa, tapi entah mengapa suaranya terdengar rapuh. Ada kehancuran yang ia tutupi di balik senyuman hangatnya.


"Alkana kenapa tante?" tanya Sandra sejurus kemudian. Ia merasa tidak tenang melihat Fany seperti itu.


Fany tersenyum kemudian menelan dongkolan besar di tenggorokan.


"Alkana..." Fany diam beberapa saat membuat Sandra menunggu dengan menahan nafas, Sandra tidak siap mendengar kabar yang sepertinya buruk.


"Alkana masih di tangani sama dokter..." Fany berkata diiringi isak tangis, ia tidak bisa menahan kesedihannya.


"Di tangani?" ralatnya, "Emang Alkana kenapa tante?" Sandra menatap Fany yang tertunduk. Fany diam, masih tergugu di kursinya, dan Sandra tidak bisa mengartikan tangisan itu, dia semakin khawatir.


Sandra hampir melompat dari brankar, mencari keberadaan Alkana namun Fany menahan lengannya.


"Kamu disini saja, Sandra. Kamu masih lemas, kasihan anak kamu..." Fany berujar di sela tangisannya.


"Sandra harus lihat Alkana tante," setelah mengatakan itu Sandra bangkit lalu bergeming meninggalkan ruangannya.


"Sandra hati-hati!" suara Fany masih terdengar jelas di telinga Sandra, dan ia tersadar bahwa ada kehidupan lain di dalam perutnya yang harus ia jaga.


Sandra berjalan melewati koridor rumah sakit sambil melambatkan langkahnya, sesekali ia mengintip kedalam salah satu ruang ingin tahu siapa yang ada di dalam.


Setelah melangkah jauh dari kamarnya dan belum mengetahui dimana Alkana akhirnya Sandra memutuskan untuk bertanya pada resepsionis.


Baru saja Sandra akan merujuk kesana di perjalanan Sandra bertemu Rena dan Nichol, mereka nampaknya hendak menuju kekamarnya.


"Sandra?" Rena yang juga melihatnya berlari kecil mendekati adiknya, "Kamu sudah sadar? kakak khawatir sama kamu."


Rena menatap Sandra yang nampak pucat dengan cemas, sementara Sandra malah berbalik menatap Nichol. Wajahnya penuh luka lebam, sudah di obati memang, Sandra melihat beberapa plaster luka disana, tapi tetap saja ia butuh penjelasan mengenai apa yang terjadi.


"Alkana mana?" selorohnya.


Rena mengusap pundak adiknya, menenangkan sekaligus prihatin.


"Alkana mana!" Sandra menatap Nichol yang masih membisu, membuat Sandra merasa pertanyaannya bagaikan teka teki yang sulit. Sandra memukul dada Nichol berulang diiringi tangisan yang tiba-tiba pecah.


"Alkana mana, Alkana kenapa.... jawab Nick!" Sandra merengek, memukul dan menarik jaket Nichol berkali-kali berharap Nichol mempunyai jawaban atas rasa penasarannya.


Kesal melihat Nichol yang hanya diam dan terpaku, Sandra beralih pada kakaknya.


"Kak, Alkana nggak papa kan kak?" Sandra bertanya penuh harap, "Alkana pasti selamatkan. Bilang kak, iya kan!"


Nichol mengalihkan pandangannya, tidak tega melihat Sandra seperti itu.


"Kak ayo jawab. Alkana selamat, kan?" paksa Sandra, namun Rena menggeleng.


Sandra menganga, kemudian menutup mulutnya. Dia tidak percaya ini.


Rena mendekat lalu mendekap adiknya, "Kamu sabar ya?"


"Nggak," Sandra menggeleng cepat seraya melepaskan diri, "Nggak mungkin. Kak Rena pasti bohong tadi tante Fany bilang Alkana masih..."


"Ra..." Nichol mengambil alih, ia akan membeberkan tentang kebenaran mengenai keadaan Alkana.


Sandra beralih lagi pada Nichol, dan sebelum berkata Nichol menyentuh kedua pundaknya sembari menatap tajam nerta abu-abu yang hampir tenggelam karena air mata.


"Alkana emang selamat dari kebakaran itu, tapi sekarang dia lagi di UGD karena Johan..."


"Aku harus kesana," Sandra langsung bergegas menuju tempat yang tadi di sebutkan tanpa perlu mendengar kejadian yang sebenarnya.


Dalam benaknya, Alkana masih hidup dan akan tetap hidup. Lelaki itu pernah berkata untuk tidak meninggalkannya dan berjanji untuk bertanggungjawab jadi Alkana tidak boleh pergi sebelum dan sesudah ia menepati janjinya.



Sylvester Nicholas