NEVER

NEVER
Noah




Sandra tidak pernah menyangka Alkana datang di saat yang tepat. Saat ia membutuhkan seseorang, Alkana ada disisinya, memberinya kekuatan. Dan tidak ada hal lain lagi yang lebih membahagiakan dari itu.


Sementara di sisi lain Alkana hanya bisa bertekat untuk melarikan diri dari ayahnya. Lagian mustahil Albert akan mengizinkan, Alkana juga tidak bisa diam terlalu lama. Ia tau Sandra membutuhkannya, dan kabur dari Albert adalah jalan satu-satunya. Cara halus sudah Alkana coba dan tidak bisa membuat Albert mengerti maka cara seperti ini siapa tau dapat membuka mata ayahnya.


Jika Albert marah Alkana tidak perduli, lagipula bagi Alkana keputusannya benar. Ia datang untuk Sandra juga bayinya dan itu kebahagian Alkana saat ini. Alkana merasa senang berada di sini, disisi wanitanya.


"Al, makasih ya" Sandra tersenyum dengan bibir pucatnya. Berbeda dengan kondisinya yang lemah, Sandra masih mempunyai banyak kekuatan jika untuk tersenyum. Untuk seseorang yang ia cintai, untuk lelaki yang ia rindukan dan untuk satu-satunya orang yang selalu ia tunggu kehadirannya siang dan malam.


"Ini masih jam sembilan pagi, dan kamu udah bilang makasih Lima kali" Alkana menjawab seraya tersenyum, tangannya bertaut dengan jemari Sandra.


Sandra mengangguk, setiap detik sekalipun Sandra ingin selalu mengucapkan itu. Sandra sangat bersyukur Alkana kembali menemuinya, Sandra fikir ia akan malalui hari menakutkan ini sendirian namun nyatanya lelaki itu datang.


Untungnya Alkana sangat ingat saat Sandra berkata kapan tanggal persalinan dan itu yang membuatnya tiba tepat waktu. Ia sengaja ingin menemani Sandra, ia khawatir bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dan Alkana akan tenang kalau ia memastikan sendiri keadaannya.


"Aku nggak tau lagi gimana jadinya kalau kamu nggak datang Al...." Sandra melirik anaknya yang berada dalam box bayi samping brankar, ada rasa lega yang luar biasa ketika bayinya lahir dengan sempurna.


"Aku memang pergi Ra, tapi bukan berarti aku nggak bisa pulang."


Sandra mengangguk, siapa sangka kalimat itu mampu membuatnya merasa lebih tenang.


"Seperti kamu yang udah jaga anak kita, aku juga berusaha buat jadi ayah yang baik buat dia dan harusnya aku yang berterimakasih sama kamu. Karena kamu udah selalu sabar nunggu aku selama ini."


Bibir Sandra tertarik keatas semakin lebar terlebih saat Alkana mencium punggung tangannya penuh kasih sayang, menyalurlan rasa hangat hingga merasuk dalam dada.


"Aku bangga punya kamu, Ra. Makasih ya sudah melahirkan anakku."


Sandra hanya bisa tersenyum sambil memandangi Alkana yang kini meletakan telapak tangannya pada wajah. Membiarkan kedua tangannya menyentuh pipinya.


Sandra senang bisa melewati momen ini, dimana hanya ada dia dan Alkana. Mereka saling bercengkrama, saling memuji dan saling melengkapi. Dia berharap tidak akan menemukan lagi kata perpisahan untuk yang selanjutnya.


*****


     Hema menatap bayi dalam gendongan putrinya berbinar, bayi laki-laki yang baru saja selesai disusui itu tampak beberapa kali menggeliat.


"Noah... mau ikut kakek?" Hema berkata, tangannya mengelus pipi mungil bayi itu. "Anak siapa sih? lucunya..."


Si bayi berkedip, sementara Sandra, Alkana dan Amira hanya tersenyum. Senang melihat sang kakek gemas, tidak sabar ingin mengajaknya bermain.


"Kamu tau Sandra, sejak awal Hema tau kamu hamil setiap malam dia selalu nanya nama yang bagus untuk anak kamu. Mulai dari dia nyontek nama-nama artis, pesepak bola, sampai browsing di internet. Tante sampai pusing ngeladeni ayahmu.


Sandra terkekeh, "Masak sih tan?"


"Iya... dan nemu nama Noah itu pas lihat konsernya Ariel di you tube. Terus dia cari arti dari nama itu, katanya bagus."


"Papa nggak kreatif," kata Sandra. Hema langsung mendelik.


"Dari pada tantemu, ayah lebih kreatif" Hema tak mau kalah. "Masak dia mau kasih nama anak kamu Calvin Klein, atau Bonia dia pikir barang apa, kenapa nggak sekalian aja dia kasih nama Chanel?"


Semua yang ada di sana tergelak, tidak menyangka bahwa Hema dan Amira memiliki selera humor yang lumayan.


"Nggak Sandra, ayahmu bohong." Amira yang berdiri di samping brankar menyela, "Tante cuma lagi ngarang nama kepanjangan dari Calvin tapi ayahmu malah merekomendasikan Calvin Klein, ayahmu yang payah."


"Lagi pula setiap di tanya tantemu selalu bingung, dan cuma punya rekomen satu nama itupun nggak punya kepanjangan. Ayahkan jadi kesal..."


Melihat kedua orang tua yang biasanya tenang kini asik berdebat, menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi Sandra. Begitu juga dengan Alkana, ia tidak pernah melihat pasutri berdebat sebelumnya. Ayahnya, Albert dan Caroline selalu sibuk dengan urusannya. Ia juga jarang dirumah, mungkin pernah tapi dia tidak pernah mendengar. Rumahnya kedap suara.


Alkana duduk pada tepian brankar, membuat Sandra sedikit menggeser kakinya. Telinganya masih dipenuhi dengan suara Hema dan istrinya namun tatapannya beralih pada wanita yang paling ia cintai yang tengah menggendong anak kesayangannya.


Disini Alkana sadar, mengapa Sandra begitu kuat untuk bertahan meskipun dia jauh disana.


Sandra memiliki keluarga, yang selalu ada setiap waktu, menjadi tempat bagi wanitanya untuk bersandar, menangis sekaligus bangkit dengan sisa kekuatannya dan  Alkana beruntung untuk itu.


Kadang dia berfikir, jika dari awal mereka menemukan keluarga dan hidup saling berbahagia mungkin mereka tidak akan di pertemukan dengan cara seperti ini. Mereka akan bertemu di saat mereka sama-sama telah memiliki gelar dari universitas, atau mungkin sudah memiliki perkerjaan setelah itu baru mereka menikah.


Seperti itulah impian kisah cinta Alkana dulu, sebelum orang tuanya cerai dan sebelum Fany meninggalkannya. Semua berubah begitu saja terlebih setelah Alkana mengenal suramnya tempat hiburan dan betapa gelap dunianya bagai di malam hari.


Namun sesetelah kehadiran Sandra, hingga sampai saat ini, Alkana menemukan kembali keinginan hidupnya. Walau sudah berbeda dengan harapanya dulu, setidaknya ia sudah menemukan seseorang yang bisa menerimanya tanpa pernah memperdulikan seberapa buruk ia dimasa lalu.


Kini yang perlu Alkana lakukan hanya menjalankan perannya sebagai seorang ayah juga suami yang baik untuk Sandra.


"Jadi ayahmu sudah tau kalau Dua minggu lagi kamu mau nikah?"


Hema tiba-tiba bertanya, Alkana sampai terkejut, baru sadar kalau sejak tadi ia melamun.


"Be-belum Om," Alkana menjawab takut-takut. Ia belum memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran itu pada Albert.


Satu alis Hema terangkat, "Kenapa? kamu bilang nggak mau nikah bawah tangan, kan. Jadi setidaknya ayahmu harus tau kalau kamu mau menikah."


"Iya Om, nanti pasti Alkana kabarin ayah secepatnya."


"Ya, harus... kalau bisa jangan sampai ayahmu tidak datang. Dia juga harus hadir dan menjadi saksi pernikahanmu."


Saksi? ralat Alkana dalam hati, seandainya ia bisa berkata jujur kalau ia melarikan diri dan belum mendapat restu pasti ia lakukan tapi tidak mungkin. Alkana sungkan menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Hema, Alkana takut Hema marah. Apalagi Alkana tau Hema sudah menerimanya dan senang dengan keberadaannya jadi dia tidak tega kalau membuat Hema kecewa.


"Ayah," Sandra mendongak menatap ayahnya yang menjulang tinggi. Hema yang sudah tidak lagi menggunakan kursi roda itu menunduk, melihat putrinya sejenak kemudian beralih lagi pada Alkana.


"Sandra nggak papa kok Yah, yang pentingkan Al ada di sini. Nanti lama-lama ayahnya pasti ngerestuin kok...." Sandra mencoba mengerti, ia kasihan melihat Alkana yang beberapa hari ini selalu di desak ayahnya.


"Sampai kapan!" Hema sedikit mengeraskan nada bicaranya lalu menghela nafas, gusar.


Satu tangan Sandra terulur, mengusap pundak lelaki yang tengah menundukan kepala.


"Om sudah sabar selama ini, kurang bagaimana lagi? apa perlu Om menuntut ayah kamu?" seloroh Hema, pandangannya persis menusuk kedalam mata Alkana.


"Ayah!" Sandra memotong, pelupuknya sudah dipenuhi genangan air.


"Nggak ada cara lain, Sandra. Kamu harus segera menikah. Alkana harus tanggung jawab, kalau restu dari ayahnya menjadi penghalang itu sama saja dia tidak mau menikah sama kamu. Emangnya kamu mau punya anak tapi nggak punya suami?"


Ruangan yang semula tenang penuh canda tawa seketiks berubah gersang. Alkana bagai terhempas di padang pasir, panas dan menyesakkan.


"Sandra nggak mau ayah, tapi Sandra juga nggak mau kalau harus menempuh jalur hukum...." Sandra mendekap bayinya erat, dan membiarkan cairan bening jatuh membasahi pipinya.


Hema mengacak rambutnya frustasi. Sebagai seorang ayah ia ingin mengusahakan yang terbaik untuk putrinya, Hema memiliki rencana itu juga karena dia tidak tau lagi harus bagaimana. Tentu saja Hema tidak mau anaknya menderita terlalu lama.


Hening


Hema dan semua yang ada di ruangan itu kalut dalam pemikiran masing-masing.


Ditengah ketegangan mereka, datang seseorang yang memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu. Suara handle pintu yang menjerit membuat semuanya menoleh.


"Ada... apa ini?" Rena yang baru datang bertanya hati-hati. Bingung melihat ekspresi orang-orang yang ia lihat. Namun Rupanya Rena tidak sendirian dia bersama Fany.


"Oh semua lagi ngumpul disini?" sapa wanita itu, tidak sadar kalau semuanya sedang memasang wajah angker seperti ingin menelan seseorang.


Jika benar, maka Albertlah orangnya.


Sandra menyeka air matanya, kemudian berkata "Pika mana kak?" tanyanya pada Rena.


Sengaja Sandra segera mengalihkan pembicaraan, tidak mau Hema terus menerus menekan Alkana. Sandra tau Alkana sudah berusaha selama ini meski belum membuahkan hasil.


"Main sama ayahnya, nanti siang dia baru kesini."


Sandra menjawab dengan anggukan, kemudian ia melihat Fany melangkah mendekatinya.


Senyum ramah yang tadi merekah sempurna perlahan memudar. Apalagi setelah Fany melihat Hema menatap putranya intens, membuatnya merasa tidak nyaman.


"Ra, ada apa sebenarnya?" Fany sedikit berbisik.


"Nggak ada apa-apa ta...."


"Apa mantan suamimu pernah menelpon?" Hema memotong sebelum Sandra menyelesaikan kalimatnya.


"Maksudmu Albert?" ujar Fany.


"Iya, aku penasaran. Sebenarnya Alkana kesini untuk menikah apa sekedar menjenguk? sebagai sesama wanita harusnya kamu tau Fany gimana seandainya kalau kamu ada di posisi Sandra. Dia sudah cukup sabar selama ini, harus berapa lama lagi dia menunggu tanpa penjelasan?"


Fany membisu, bingung. Haruskah dia menjelaskan bagaimana sifat mantan suaminya? tapi... jangan! dia khawatir akan memperburuk keadaan.


"Fany, tolong usahakan. Kamu kan mantan istrinya, dulu pasti kamu bisa merayu dia, kan? jadi sekarang tolonglah, demi anakku. Bujuk dia supaya dia mengizinkan Alkana menikah dengan Sandra."


Merayu? Fany hampir tergelak mendengar itu, sebuah permintaan yang wajar bagi seorang ayah namun terdengar konyol untuk Fany. Yang benar saja Fany bisa merayu Albert. OMG, jangankan merayu kemarin saja Fany menangis sambil mengemis di depan mantan suaminya tapi ia hanya mendapat pengabaian. Sepertinya Fany harus sedikit lebih jujur mengenai sifat Albert, kalau lelaki yang satu itu bukanlah manusia berhati lunak.


"Maaf sebelumnya, tapi sebenarnya begini..." Fany mengambil tempat disisi Alkana agar lebih mudah menjelaskan, tanpa perlu membuat Hema curiga atau membuatnya merasa menutup nutupi sesuatu.


Dan setelah memantapkan posisinya menghadap Hema Fany mulai bergumam.


"Kemarin aku sudah mencoba, bahkan aku berlutut di depannya tapi Albert tidak mau mendengarku. Dia bukan lelaki yang mudah di bujuk, maaf...." Fany mengakhiri ucapannya sambil membungkuk, tanda sesal sekaligus merasa bersalah karena gagal membuat Albert mengerti.


Entah sudah berapa kali Hema menghela nafas, ia benar-benar pening, sekaligus tak habis pikir dengan isi kepala ayah Alkana. Bisa bisanya dia membiarkan putranya menghamili anak gadisnya tanpa memberi izin untuk bertanggung jawab.


'Ayah tak punya adab!' pekik Hema geram. Dadanya berkecamuk tidak karuan, sementara angannya berkeliaran memikirkan bagaimana nasip putri dan cucunya.


Cklekkk


Tiba-tiba daun pintu terbuka lebar. Mereka semua terbelalak, tapi bukan karena terkejut dengan suara handle pintunya melainkan terkejut karena mengetahui siapa yang membukannya.


Seorang lelaki berkemeja gelap nampak tergesa gesa membuka ruangan itu, dia juga tak kalah kaget begitu melihat banyak orang di sana.


"Siapa ya?" Hema bertanya pelan ia berfikir hanya orang asing yang salah masuk kamar.


Si arogan bertubuh tegap itu berdehem sebelum bersuara, "Aku ingin melihat cucuku?"



...Buat yang kangen sama A&S.......


...😘...