NEVER

NEVER
Stay Here



       SANDRA menganga melihat apa yang ada di depan matanya. Ia tidak tau apa yang membawanya kemari, tapi melihat Alkana dan Jery membuatnya curiga dan ahirnya memilih untuk menyelinap masuk ke bagasi mobil. Ya, diam-diam Sandra mengikuti Alkana.


Sandra masih mengintip apa yang terjadi meskipun keringatnya mengucur deras. Pengap, panas dan sesak membuatnya merasa tidak nyaman, tapi apalah daya rasa penasaran mengalahkan semuanya.


Seandainya Sandra bisa bertanya pada Alkana dimana ia sekarang pasti ia lakukan tapi tidak mungkin sebab sama saja ia menjerumuskan dirinya dalam jurang.


Selain tidak tau apa tujuan Alkana datang kemari Sandra juga tidak tau dimana ia berada. Sebuah lorong sempit jauh dari pemukiman, tempatnya juga nampak kumuh. Sepertinya tempat itu tidak dapat di jangkau oleh petugas kebersihan atau sengaja di biarkan, entahlah.


Yang jelas jika di lihat dari sekeliling tempat itu, banyak bekas botol minuman keras di tambah lagi tembok pembatas jalan yang dipenuhi coretan pilox. Di ujung lorong jalan itu juga nampak sebuah gedung tua, dengan cat yang sudah memudar namun di sisi lain gedung itu bernasip sama, penuh coretan dari dari tangan-tangan kotor.


'Mungkinkah tempat itu adalah sarang preman?'


Sandra menepis pertanyaan yang berkecamuk didadanya, kali ini ia harus lebih fokos pada Alkana. Hanya itu yang harus ia lakukan.


Sandra mengitip dengan waspada, ada rasa takut yang luar biasa ketika melihat Alkana dan temannya di kepung oleh Lima orang berwajah sangar.


Jarak gadis itu dengan Alkana tidak terlalu jauh hanya sekitar sepuluh meter, dan Sandra yakin Alkana serta orang orang itu tidak melihatnya karena suasana sore semakin gelap sedangkan lampu penerangan disana sedikit redup membuatnya merasa aman. Namun seaman apapun Sandra tidak bisa memungkiri bahwa ada hawa seram dan suram yang terlihat disana.


"Berani lo nipu gue, HAH!!!" Preman botak itu melotot dengan tatapan sangar tertuju pada Alkana.


"Sumpah bang, dan itu alasan kita kasih harga mahal buat abang" lelaki berseragam SMA itu meyakinkan.


Preman berambut kriting dan gondrong itu maju lalu membisikkan sesuatu pada ketuanya.


Alkana dan Jery beradu pandang, tidak tau apa yang mereka bicarakan. Namun sebelum lelaki kriting itu menyingkir Alkana mendengar ucapan terahirnya.


"Habisi dia!"


Kalimat singkat itu mampu membuatnya menegang.


Menghadapi Preman bukanlah hal yang mudah, tapi percayalah resiko terburuk sekalipun akan Alkana terima. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, kan?


Lelaki yang biasa di panggil Botak itu menyeringai. kumis tebal dan berewok yang hampir menutupi sebagian wajahnya membuat tatapan licik dari matanya semakin mencekam. Belum lagi ketika tangan kekar penuh tato itu bergerak meraih senjata api di saku belakangnya membuat aura seram pada dirinya semakin sempurna.


"Kalau dia bisa ketangkap polisi itu artinya lo dalam bahaya" ucap Preman itu seraya mengusap senjata di tangannya.


"Dan kalau lo berdua nyusul, menurut lo apa yang harus gue lakuin?"


Alkana menoleh menatap Jery dengan tatapan terkejut. Dari hawanya Alkana sudah bisa mencium bahwa mereka berniat menghabisinya demi keselamatan dirinya serta komplotannya. 'Astaga, mengapa Alkana sampai melupakan hal sepenting itu?'


Alkana fikir ide dari Jery adalah yang terbaik tapi kenyataannya ia malah seperti sedang menggali kuburnya sendiri. Sial!


Preman botak itu melirik salah satu temannya lalu menggerakkan dagu seakan sebuah perintah, dengan sigap preman gondrong itu langsung bergerak mendekati Jery sambil mengacungkan senjata tajam pada lehernya. Begitu juga dengan Botak yang bergegas mengalungkan satu tangannya pada Alkana, sedang tangan lainnya mengacungkan senjata api pada pelipis Alkana.


Serentak Jery dan Alkana mengangkat kedua tangannya. Ia tau hal itu tidak akan membatu tapi setidaknya para preman itu mengetahui jika Alkana dan Jery tidak akan melawan.


"Ampun bang" Jery berujar sambil melirik pada benda tajam di lehernya. Bahkan ia tidak sanggup membayangkan bagaimana rasanya jika benda tajam itu mengiris tubuhnya.


Suasana semakin mencekam saat Tiga preman ceking yang berdiri di depannya tertawa penuh kemenangan.


"Kita nggak punya pilihan lain, dan pengampunan lo nggak ada gunanya."


"Hahaha...." Tawa mereka kembali pecah seolah meremehkan. Seakan merenggut nyawa seseorang adalah hal yang sepele. Berbeda dengan Sandra yang semakin lama ketakutannya semakin menjadi. Belum lagi saat preman botak itu bersiap menarik peletuk pada pistolnya membuat Sandra tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.


Keringat dinginnya terus mengucur, bibirnya pucat dan tubuhnya gemetar hebat. Selain takut jika terjadi sesuatu pada Alkana ia juga takut preman itu mengetahui keberadaannya. Sungguh Sandra tidak bisa membayangkan jika hidupnya harus berahir seperti ini.


DARRR!!!


Timah panas itu melesat dengan sempurna, tepat mengenai sasaran. Hanya dalam hitungan detik cairan berwarna merah mengalir bersamaan dengan tubuh Alkana yang terhuyung.


"ALLL!!!" Sandra menjerit dan seketika bangkit dari tidurnya.


Nafasnya tersengal, detak jantungnya memburu dan keringatnya mengalir deras. Mimpi itu benar-benar membuatnya ketakutan.


"Untung cuma mimpi" ucapnya lemas sambil menghela nafas menormalkan detak jantungnya.


Setelah beberapa saat, deru nafas dan detak jantungnya berangsur normal. Sandra turun dari ranjang lalu berjalan menuju saklar lampu.


Klik...


Hanya dalam satu kali tekan cahaya terang memenuhi sudut kamarnya.


Mungkin Sandra mimpi buruk karena terlalu lelah dan sering memikirkan Alkana tanpa menyadari bahwa langit sudah menggelap. 'Ya, mungkin memang begitu' pikirnya.


Setengah jam kemudian, Sandra sudah selesai membersihkan dirinya dan saat ini ia sedang memasak di dapur.


Ditunggu dan di tunggu namun Alkana tak jua kembali padahal seingatnya tadi Alkana pergi sepulang sekolah, ia juga belum sempat mengganti seragammnya. Tapi kemana perginya lelaki itu dan haruskah sampai larut malam?


Dengan susah payah, ahirnya Sandra menyelesaikan masakannya. Sudah biasa jika ia harus berteman dengan panasnya kompor, cipratan minyak bahkan sengatan panci atau kuali panas yang tak sengaja ia sentuh. Apapun itu Sandra senang melakukannya, demi misinya untuk menaklukan Alkana.


Dua jam telah berlalu. Dan Sandra hanya mampu berjalan mondar mandir di meja makan, sambil sesekali melirik nasi dan lauk


pauk yang sudah dingin. Nomor Alkana tidak bisa di hubungi dan sialnya Sandra tidak mempunyai nomor Jery yang membuatnya tidak tau harus berbuat apa.


"Lo dimana sih Al?" Sandra bertanya pada ponsel yang ia tempelkan pada daun telinga sedang tangan lainnya menggigit jari.


Sandra sangat khawatir, memikirkan dimana lelaki itu. Belum lagi ketika bayang-bayang tentang mimpi buruknya terlintas, itu semakin membuatnya tersiksa. Sebisa mungkin Sandra menepis bayangan itu, ia harus yakin bahwa Alkana baik-baik saja dan akan segera kembali.


Sandra terus menunggu kedatangan Alkana hingga tanpa sadar ia tertidur di meja makan.


"Astaga!" Sandra terkejut saat mendengar ponselnya berdering. Ia buru-buru mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Halo Al, lo dimana sekarang?" tanyanya dengan nada cemas.


"Al, siapa?" suara dari seberang sana terdengar bingung.


Sandra melirik lagi kelayar ponselnya, baru menyadari jika sang penelpon bukan Alkana.


"Bukan siapa-siapa, ada apa?"


Pertanyaan yang tadinya terdengar khawatir kini berubah ketus.


"Rena besok pulang, jadi aku minta kamu pulang sebelum Rena datang. Atau kamu tanggung sendiri akibatnya" tutur suara itu yang tak lain adalah Reza.


"Lo mau ngadu?"


"Belum."


"Jadi rencana lo mau ngaduin gue. Lo nunggu apa?" tantangnya tanpa rasa takut.


"Aku belum tau siapa cowok itu. Dan kalau terbukti kamu tinggal dan berhubungan sama dia secepatnya Rena pasti akan tau."


"Lo ngancem gue!" Sandra menegakkan tubuhnya dengan tangal mengepal.


"Jadi bener lo ada apa-apa sama cowok itu?"


"Bukan urusan lo."


Sandra mendengar helaan nafas dari seberang sana.


"Sandra, aku cuma mau kamu pulang sekarang. ya?" pinta Reza lemah lembut.


Sandra diam, kalimat singkat itu membuatnya berfikir. Shit, sejak kapan Reza pandai merayunya.


"Sepulang sekolah gue langsung pulang."


"Rena sampai dirumah pagi, aku jemput kamu sekarang. Kamu dimana?"


"Nggak bisa!"


Tut... tut... tut...


Sandra memutuskan panggilannya. Reza pasti sudah gila, mana mungkin ia bisa pulang malam ini sedangkan Sandra belum tau dimana Alkana. Fix, berbicara dengan lelaki itu hanya akan membuatnya semakin pusing.


Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 tapi Sandra belum juga mendengar tanda tanda kepulangan Alkana.


Sandra bangkit dari kursi lalu bergeming menuju ruang tamu, di sela langkahnya Sandra mendengar ponselnya berdering lagi.


Keningnya berkerut berlapis melihat nomor baru di layar ponselnya. Tanpa ragu Sandra mengusap layar benda pipih di tangannya. Dengan hati berharap bahwa nomor itu membawa kabar baik dari Alkana.


"Halo...." Sapa Sandra pada sang penelpon.


"Halo Ra."


Langkah Sandra tercekat saat mendengar suara Jery dari balik ponselnya.


"Jer, lo dimana sekarang. Alkana mana, kenapa sampai sekarang belum pulang?"


"Nah itu dia masalahnya. Alkana tadi di keroyok preman dan sekarang kita lagi di rumah sakit."


"Rumah sakit mana, terus gimana keadaanya sekarang?" Kegelisahannya semakin menjadi jadi, sungguh Sandra tidak menyangka jika hal buruk itu benar-benar menimpa Alkana.


"Lo tenang ya, nggak usah mikir macem-macem. Nanti gue kabarin lagi?" ucap Jery yang tanpa basa basi langsung memutuskan panggilannya.


"Halo Jer, Jery!"


***


       Entah sudah berapa kali Sandra mencoba memejamkan matanya, namun selalu gagal. Ingatannya terus tertuju pada Alkana, Sandra tidak bisa terus diam seperti ini sementara keadaan Alkana entah bagaimana di luar sana.


Sandra membuka selimut yang membungkus tubuhnya lalu bangkit dari kasur, ia harus mencari Alkana.


Langkah kecilnya mengayun cepat kearah tangga, menuruni satu persatu yang mungkin bisa saja membuatnya terjatuh karena terlalu tergesa-gesa. Tapi apapun itu, tak lebih penting dari kegelisahannya.


Ckreakkk...


Sandra terbelalak melihat daun pintu rumah yang menjulang tinggi itu terbuka dan menampilkan sosok yang sejak tadi menyiksa batinnya.


"Al...." Sandra mempercepat kakinya dan saat kurang beberapa tangga lagi kakinya akan mendarat, langkahnya tersandung.


Sandra tersungkur di lantai. Alkana yang melihatnya terjatuh nampak khawatir, ia lalu dengan segera menutup pintu dan menghampiri gadisnya. Tapi siapa sangka Sandra segera bangkit dan berlari lagi.


"Al...."


Gadis itu menghambur dalam pelukan kekasihnya seakan tengah mengobati rasa sesak yang sejak tadi menyerangnya tanpa henti.


"Gue takut lo kenapa-kenapa, gue takut lo ninggalin gue" Sandra berucap di iringi cairan bening yang mengalir di pipinya. Ada rasa takut yang luar biasa ketika melihat kekasihnya terluka.


"Gue baik-baik aja" ucap lelaki itu sambil menatap Sandra datar. Alkana juga nampak kaku dan tidak membalas pelukan gadisnya. Alkana bukannya ingin mengabaikan pacarnya, bukan. Ia hanya tidak mengerti apa yang membuat Sandra menangisinya.


"Baik-baik aja lo bilang?" Sandra mendongak memperlihatkan cairan bening dimatanya. "Kalau baik-baik aja nggak mungkin lo tadi kerumah sakit. Terus ini apa?" Tangan gadis itu terulur menyentuh lebam di sudut bibir Alkana.


"Sudah di obati" jawabnya tenang. Tapi belum cukup untuk menenangkan hati gadis didepannya.


"Lo nemuin preman itu lagi???"


Alkana diam, ia tau Sandra mengetahuinya dan anehnya pertanyaan sepele itu tidak mampu ia jawab.


"Nggak bisa ya lo berhenti dari kerjaan itu." Sandra berucap dengan air mata menggenang, seakan bisa tumpah kapan saja. "Al mereka berbahaya buat lo, masih banyak kok kerjaan lain yang lebih baik."


"Kenapa?" tanya Alkana, "Kenapa lo harus perduli sama gue?"


"Gue nggak bisa lihat lo kayak gini" Sandra mengarahkan jemarinya dan menyentuh memar pada tulang pipi. "Ini memang luka di tubuh lo, tapi gue bisa ngrasain gimana sakitnya. Dan gue mohon jangan nyakitin gue dengan cara seperti ini."


Alkana masih terpaku menatap dalam gadis itu. Pertama kalinya ia mendengar ada seorang wanita yang sangat mengkhawatirkan dirinya selain Fany.


"Janji sama gue tinggalin kerjaan lo dan jangan pernah nemuin preman itu lagi. hm?" Sandra menatap sayu berharap Alkana mengabulkan permohonannya.


Alkana menghela nafas. Ia tidak tau dari mana Sandra belajar merangkai kata sampai mampu membuatnya kalah hanya dalam sekali serangan. Semakin hari ia semakin mudah mengalah dengan gadis itu. Astaga, ada apa dengannya?


Perlahan Alkana mengangkat sudut bibirnya seiringan dengan tangannya yang bergerak mengusap cairan bening di pipi gadis itu.


"Iya, gue janji akan ninggalin kerjaan gue. Dan gue nggak akan nemuin mereka lagi."


"Janji?" tanya Sandra lagi dengan sorot mata semakin menajam, berusaha mencari kebohongan di balik tatapan Alkana.


"Iya gue Janji."


Sandra tersenyum lalu memeluk Alkana. Lengan kekar itu mulai naik dan mengusap rambut gadisnya.


Tidak ada yang salah dengan sebuah pelukan, mungkin sudah seharusnya Alkana mengakui jika Sandra satu-satunya gadis yang bisa membuatnya takluk.


.


.


.


.


"Udah nangisnya?" tanya Alkana setelah melihat Sandra mulai tenang.


Sandra mengangguk tanpa memberi sela pada dekapannya.


"Gue mau keatas" ucap Alkana yang seketika membuat Sandra memberi jarak pada tubuhnya.


"Makan dulu ya, gue udah masak?"


Alkana nampak berfikir, ia sungkan untuk menolak tapi bibirnya masih sakit untuk terbuka lebar.


"Emm gimana ya?"


Sandra menunduk kecewa, sebelumnya Alkana tak pernah menolak untuk memakan masakannya.


"Iya gue mau, tapi...." Alkana menarik dagu mungil gadis itu, "Obati dulu luka gue."


"Bukannya udah di obatin?" Sandra melirik pada pelipis yang sudah tertempel plaster luka.


"Belum sembuh."


"Jadi gue harus gimana ngobatinnya biar cepet sembuh?"


Alkana tersenyum sekilas lalu meraih kedua tangan gadis itu dan menangkupkan pada wajahnya.


"Ini lebih baik" katanya sambil terpejam merasakan sentuhan gadis itu diwajahnya.


Sandra merasa pipinya merona gara-gara Alkana. Bagaimana tidak, Alkana ingin ia mengobati lukanya hanya dengan tangannya. Sandra tidak yakin itu akan berhasil. Namun siapa sangka tingkah Alkana membuatnya tersipu.


"Ra?" panggil Alkana lirih yang seketika membuat gadis yang sedang terbang kebulan itu berpijak dibumi.


"Emm."


"Stay here, i need you...."


***