
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam, tapi sejak Tiga jam yang lalu Sandra masih duduk termenung di kursinya, ditemani segelas Hot cappuccino dan sepiring kentang goreng yang belum sempat ia sentuh sama sekali.
Entah sudah berapa kali pelanggan cafe keluar masuk secara bergantian bahkan orang yang duduk di depan Sandra sudah berganti Lima kali tapi ia masih setia duduk di sana.
Sandra juga tidak perduli dengan para pelayan yang sejak tadi menatap aneh kearahnya, mungkin karena ia masih menggunakan seragam sekolah atau karena ia nampak lusuh. Entahlah, yang jelas ia tidak memusingkan itu.
Cafe yang ia datangi berada tidak jauh dari rumah, Sandra sengaja datang ketempat itu untuk menenangkan diri dan ia berharap tidak ada yang bisa menemukannya.
Kilas kejadian beberapa jam yang lalu terus membayang, semuanya terus berperang di benaknya. Sampai ia bingung bagian mana yang harus ia dahulukan.
Mengenai Hema, sejujurnya Sandra khawatir dengan kondisi ayahnya. Ia juga sudah lama tidak mengunjunginya. Seandainya Sandra tau dari awal jika ayahnya sakit ia tidak mungkin sedalam itu membenci ayahnya.
'Apa benar tidak ada orang yang bener-benar jahat di dunia ini???' Sandra menghela nafas, sedang sorot matanya menatap kosong pada cangkir Cappuccino di depannya.
Sandra mengingat lagi ucapan kakaknya beberapa saat lalu, "Amira juga yang selama ini bantu kakak kasih uang tambahan buat biaya sekolah kamu."
'Apa tujuan Amira sebenarnya? apa dia menyesal karena telah memisahkan aku dan ayah, atau dia hanya berpura-pura?'
Perang di benaknya terus berlanjut, Sandra tidak tau dimana titik terang yang sebenarnya, benarkah Amira benar-benar baik atau di balik semua itu ia menyimpan rencana besar.
Sandra bukan orang yang mudah terpengaruh apa lagi dengan pelakor seperti Amira. Sungguh sebenarnya ia butuh seseorang yang bisa membantunya memecahkan masalah ini, tapi siapa?
Sandra menyibakkan rambutnya kebelakang lalu memijat pelipisnya. Kepalanya terasa berat, saat saat seperti ini membuatnya teringat dengan Mona ibu kandungnya. Sandra ingin menangis tapi air matanya tak mampu lagi terurai, semua telah membeku sama keras dengan batu di dikepalanya.
"Sandra!"
Sandra terperanjat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ia lalu mendongak, dan di detik itu juga Sandra memutar bola matanya.
"Kenapa?" tanyanya dingin.
Sepertinya ia salah memilih tempat. Sandra yang seharusnya dalam persembunyian malah duduk di teras cafe, tentu saja Reza dengan mudah menemukannya.
"Rena nyari kamu" ucap lelaki itu yang tak lain kakak iparnya.
"Gue nggak mau pulang."
"Rena pingsan, sekarang dia lagi dirumah sakit, kamu pulang ya?" pinta Reza seraya berjongkok di depan adiknya.
Sandra diam. Ia tidak mau kalah dengan rayuan Reza yang konyol.
"Pika juga nangis dari tadi, dia bilang kamu udah janji mau nemenin dia main. Dia masih nungguin kamu" Reza berkata dengan nada memohon membuat Sandra tidak tega. Apalagi tadi ia memang sempat berjanji pada Pika, Sandra jadi merasa bersalah pada keponakannya.
"Gue butuh koper" ucap Sandra menepis semua yang berkecamuk di otaknya.
"Aku bisa kasih koper kamu asalkan kamu mau nemuin Rena di rumah sakit."
"Nggak bisa sekarang?" Sandra menatap Reza malas.
Reza menyentuh punggung tangan adiknya yang berada di atas lutut, "Rena pasti punya alasan kenapa dia nggak jujur sama kamu. Aku tau semuanya."
Lelaki yang masih berseragam olahraga itu menatap adiknya sendu. "Rena juga baru tau kalau ayah sakit meskipun Amira selama ini bantu keluarga kita, dan seharusnya sekarang Amira masih merahasiakan penyakit ayah tapi dia tidak tega. Amira nggak seburuk yang kamu kira selama ini."
"Jadi maksut lo dia baik" Sandra langsung nyolot. "Orang baik nggak mungkin ngerebut suami orang Za!!!"
"Dan perebut suami orang itu selama ini udah ngerawat ayah kamu, yang sekarang nggak bisa apa-apa!" balas Reza.
Entah sejak kapan ada genagan air di pelupuk mata gadis itu, berbicara dengan Reza membuat dadanya sesak dan matanya perih.
"Dia sudah menjalani karmanya, bahkan Amira juga kehilangan putranya dan menurut kakak Amira nggak mau kehilangan ayah kamu. Hidup Amira lebih menderita dari pada kamu Sandra, jadi apa salahnya...."
"Gue nggak bisa Za!" potongnya.
"Aku nggak minta kamu maafin dia. Aku cuma minta kamu terima kebaikan dia selama ini dan maafin kakak kamu."
Sandra tersenyum menyungging, permintaan Reza adalah hal yang tidak ingin ia lakukan. Hidup bergantung dengan wanita itu? Oh No itu terdengar memalukan.
"Gue nggak bisa ngelakuin apapun. Sorry...." Sandra beranjak dari kursi dan meraih ranselnya. Keberadaan Reza hanya mengganggu ia harus segera menghindar.
Reza berdiri lalu menahan pergelangan adiknya. "Ok, aku nggak akan paksa kamu."
Sandra terhenti seketika, ia mendengar sedikit ketenangan. Meskipun di balik semua itu ia masih tidak mengerti mengapa sikap Reza berubah menjadi sangat pengertian.
Sandra harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
"Bawa kopermu, tapi aku harus tau dimana kamu tinggal."
Sandra akhirnya mengangguk, tidak punya pilihan lain.
***
Alkana meneguk Wine keduanya tanpa memperdulikan Ratu yang sejak tadi bergelantungan di lehernya. Ia risih tapi tidak bisa mengusir wanita itu. Alkana sudah beberapa kali ia memakinya tapi Ratu tetap saja mendekatinya.
Suara musik Dance menggema memenuhi sudut ruang, di tambah cahaya lampu gemerlap dan puluhan orang memenuhi dancefloor. Asap rokok mengepul dan barisan manusia di samping meja bar adalah pemandanga yang tak Alkana lihat beberapa hari yang lalu.
Kini Alkana kembali lagi pada aktifitasnya, tidak untuk bekerja melaikan untuk melepas penat. Terutama penat karena memikirkan gadis yang sejak tadi tak kunjung memberinya kabar.
Seusai ciuman panas tadi siang Alkana berpesan agar Sandra menelpon atau mengirimnya pesan, tapi sampai saat ini tidak ada satupun yang Sandra lakukan. Alkana khawatir dengan keadaannya, belum lagi tadi Sandra pulang bersama Reza membuatnya terus berfikir apakah terjadi sesuatu atau tidak. Tapi jika tidak, apa susahnya untuk sekedar mengirim pesan?
Alkana benar-benar tidak pandai dalam menunggu, hanya karena masalah sesepele itu ia malah datang ketempat hiburan. Seharusnya ia tinggal menelpon saja, tapi nyatanya Alkana masih mengedepankan gengsinya.
"Kayaknya gue tau kenapa lo dari tadi murung" tebak gadis berpakaian bikini di depannya.
Alkana meletakan gelasnya lalu menatap Ratu dengan alis berpaut, "kenapa?" tanya Alkana setelah diam beberapa saat.
"Lo udah putus sama pacar lo itu kan?"
Alkana tersenyum miring. "Sok tau!" ketusnya.
Namun Ratu tak percaya, ia lalu berkata lagi. "Kalau belum putus terus cowok itu siapa?" Ratu seraya menunjuk sepasang sejoli yang berjarak Tiga meter darinya.
Alkana menoleh mengikuti arah telunjuk gadis itu.
Alkana mengerjab, memastikan apa yang ia lihat. Matanya masih jernih dan ia tak mungkin salah lihat, Alkana juga sedang tidak mabuk tapi siapa lelaki yang ada di samping kekasihnya.
"Sandra?" bisiknya lirih.
Lelaki bernetra biru itu sangat yakin itu Sandra. Ia sangat hafal dengan lekuk tubuh dan perawakan gadisnya.
Malam ini gadis itu nampak sexy dengan gaun berwarna merah, menampilkan paha mulus yang hampir seluruhnya terekspose tanpa sensor. Punggung putihnya juga tak tertutup dengan sempurna hanya beberapa helai tali yang ada di sana sisanya terpajang jelas memperlihatkan punggung indah yang menggiurkan, belum lagi rambut gadis itu di ikat sanggul membuat leher jenjangnya terlihat begitu menggoda.
Di bagian dadanya tertutup, tapi baju itu nampak pas di tubuhnya seolah memang di ciptakan untuknya dan hanya melihat saja membuat setiap orang bisa menebak seberapa besar benda lunak yang bersembunyi di dadanya.
Sial, apa yang di gunakan gadis itu. Sungguh pakainya memancing hasrat kaum laki-laki. Jika itu Alkana, jangankan melihat lekuk tubuhnya melihat sorot matanya saja sudah membuatnya mabuk. Sandra benar-benar berniat menyiksanya kali ini.
Alkana meremas gelas di tangannya, matanya menajam tertuju pada gadisnya. Alkana bersumpah tidak akan rela jika orang asing yang berada di samping Sandra menyentuh miliknya.
Sandra tidak tau apa hubungan Alkana dengan wanita penggoda itu. Jika dari yang terlihat sepertinya lebih dari sekedar teman. Wanita itu seolah mempunyai kuasa penuh atas tubuh Alkana berbeda jauh dengan dirinya.
Awalnya Sandra berharap Alkana dapat membantu meringankan masalahnya, mengingat hanya ia satu-satunya orang yang bisa ia percaya. Tapi setelah melihat semua ini Sandra sadar, Alkana bukan orang yang tepat. Bahkan sepertinya ia harus berpikir dua kali untuk melabuhkan hatinya pada lelaki itu.
Helaan nafas panjang gadis itu membuat lelaki di sampingnya menoleh. Lelaki yang sudah sepuluh menit menemaninya duduk di sana itu belum sekalipun mengeluarkan suaranya, berbeda dengan beberapa lelaki yang sempat mendatanginya dan secara terang-terangan memuji kecantikannya, menggoda bahkan mengajaknya memesan kamar. Sandra tidak tau apa yang diinginkan lelaki itu, meski dari yang terlihat lelaki itu juga terpesona dengan tubuhnya.
Sandra bisa menebak, umumnya lelaki yang mendekatinya adalah lelaki hidung belang yang kelaminnya bekerja lebih cepat dari pada otaknya. Hanya saja Pria di sampingnya pandai menahan diri.
"Gue Calvin" ucap lelaki itu pada ahirnya seraya mengulurkan tangan.
Sandra menoleh, menatap pemilik suara matang di sampingnya. Hanya mendengar suaranya membuat Sandra merasa kagum.
"Sandra."
Gadis itu menjawab seraya menarik pandangannya, tanpa memperdulikan uluran tangan yang masih menganggur.
Lelaki tampan seusia kakak iparnya itu mangangguk, ada rasa kecewa ketika gadis cantik di sampingnya menolak uluran tangannya.
Jangan bertanya bagaimana raut wajah lelaki itu, luar biasa tampan. Alisnya hitam pekat, bulu matanya lentik, hidungnya mancung bak tebing dan bibirnya sexy. Di tambah lagi jambang tipis yang memenuhi dagunya membuat wajahnya semakin sexy tak jauh beda seperti milik Zayn Malik.
Jika di lihat dari penampilannya lelaki itu seperti pegawai kantoran, Sandra bisa menebak dari kemeja putih yang segaja di gulung sampai siku, dan sepan dasar yang ia gunakan, Sandra yakin harganya mahal. Belum lagi arlojinya yang melingkar gagah di pergelangan menyempurnakan penampilannya.
"Sepertinya lo butuh teman?" lelaki itu berkata dengan hati-hati takut membuat gadis di sampingnya tidak nyaman.
Angkuh adalah penilaian pertama dari lelaki itu untuk Sandra. Tapi ia tidak keberatan, mengingat gadis itu memang mempunyai banyak hal di tubuhnya yang layak di sombongkan.
Sandra mengangguk seraya tersenyum singkat.
"Teman yang bisa mendengarkan ceritamu" lanjut Calvin dan kali ini sukses membuat Sandra menoleh.
Sejak tadi Calvin diam karena menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Dilihat dari sorot matanya Sandra nampak memiliki beban hidup yang berat.
"Apa, ceritain. Gue lebih seneng lihat gadis cantik ngomong dari pada lihat gadis cantik murung."
Sandra tertawa kecil, ia tidak tau Calvin sedang menghibur atau merayunya.
"Lo bener" jawab Sandra membenarkan.
"Jadi apa?"
Disinilah mengapa Sandra selalu datang ke tempat hiburan. Ia merasa senang bisa bertemu siapa saja dan bercerita dengan orang asing tanpa memperdulikan apa penilaian orang lain. Lagipula belum tentu keesokan harinya ia bertemu dengan orang itu lagi.
Disana tidak ada yang perduli dengan siapa dia dan bagaimana latar belakangnya. Tempat itu benar-benar membuat Sandra merasa bebas berekspresi.
Sandra tidak menampik jika disana tempat banyak orang menggunakan Narkoba, Alkohol bahkan penganut sex bebas. Tapi sebenarnya itu tergantung dengan pengendalian diri, dan tidak semua orang menganut jalan yang sesat.
"Jadi cerita nggak?" ucapan Calvin membuat Sandra tersadar.
Sandra mengangguk, tapi sebelum bersuara ia meneguk minumannya terlebih dahulu.
"Gue kecewa karena selama ini orang yang gue benci ternyata berpengaruh besar di hidup gue. Itu menjijikan."
Calvin mendekatkan kursinya, lalu duduk dengan meniadakan jarak di antara mereka sampai lengan keduanya saling menempel.
"Apa itu mantan?" terka lelaki itu. "Atau, ini masalah keluarga?"
Sandra diam, sedang sorot mata tertuju pada Calvin.
"Ok, nggak perlu lo jawab. Gue ngerti kok" sambung Calvin, nampaknya ia sadar jika pertanyaannya terlalu lancang.
"Kalau gue jadi lo. Gue pasti lebih milih nggak tau apa-apa, karena terkadang kebenaran itu juga bisa membuat kita merasa sakit. Iya nggak?"
Sandra manggut-manggut, dengan sudut bibir melengkung ke atas. Ia tidak salah memilih teman bercerita rupanya.
"Tapi sayangnya kita nggak bisa milih, dan ironisnya kita juga harus siap dengan apapun yang terjadi" Calvin menarik dagu gadis itu seolah memaksa agar menatap matanya.
"Jadi menurut lo, gue harus gimana?" tanya Sandra kemudian.
"Lo tau Matahari?"
Sandra mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Dia bersinar saat siang hari, dan pergi ketika malam bersambut. Jadilah seperti dia yang tau bagaimana cara menempatkan diri."
Calvin mulai berani mengusap bibir merah gadis itu, dan Sandra masih terpaku menatapnya.
"Membenci nggak seutuhnya salah meskipun seburuk buruknya seseorang bisa memberi kita pelajaran. Tapi, bencilah sesuai dengan porsinya karena tidak ada manusia yang benar-benar sempurna di dunia ini."
Sandra tersenyum kalimat itu terdengar lebih menengangkan.
"Thanks ya Vin" katanya diiringi senyuman yang masih sama.
Calvin senang melihat gadis cantik itu sudah bisa tersenyum.
"Iya" sahutnya sambil menurunkan tangannya.
Sandra beralih menatap gelasnya yang berisi setengah lalu meneguknya, namun urung karena Calvin malah meraih tengkuk lehernya membuat Sandra terpaksa menoleh.
Calvin tidak tahan menahan hasratnya yang sejak tadi tertahan, ia ingin segera menuntaskan keinginannya dengan gadis itu.
Terlambat satu detik mungkin bibir sexy itu sudah mendarat di bibir Sandra tapi dengan gesit Alkana menarik lengan kekasihnya sampai membuat Sandra nyaris tersungkur jatuh dari kursi.
"Apa-apaan sih lo!" protes Sandra kesal.
"Lo yang apa-apaan, ngapain lo disini!" tanya Alkana dengan raut wajah memerah, baru kali ini Sandra melihat Alkana semarah itu.
"Bukan urusan lo!" Sandra menepis lengan Alkana lalu kembali duduk di samping Calvin.
"Sorry Vin, ada orang asing" ucap Sandra.
Calvin mengangguk mengerti sambil melirik Alkana yang masih mematung di belakangnya.
Sandra tau apa yang di lakukan Calvin padanya dan ia bersyukur karena Alkana datang tepat waktu tapi itu tidak akan membuatnya beralih pada Alkana. Lagi pula perduli apa Alkana padanya, Alkana hanya bersikap baik jika ia mau setelah itu ia di campakkan. 'Dia pikir Sandra tidak bisa???'
"Gimana kalau misalnya kita pesan kamar, di sini kurang nyaman?" kalimat yang sempat tertahan dari mulut Calvin kini meluncur bebas.
"Boleh" jawab Sandra tanpa pertimbangan.
Pupil Alkana melebar sempurna, 'apa ia tidak salah dengar?'
***