
Di rooftop sekolah, Haris duduk dikursi panjang dengan pandangan menyapu disekelilingnya. Bangunan tinggi dan hamparan langit yang luas cukup memanjakan matanya, di tambah lagi suasana siang yang tak terlalu terik membuat Haris betah berlama-lama disana.
Sudah sekitar satu minggu ia sering menghabiskan waktu istirahatnya di rooftop, bukan tanpa alasan karena sejujurnya ia sedang merindukan seseorang, Sandra.
Haris sadar Sandra sudah melupakannya, bahkan mungkin memang tidak pernah mengingatnya sama sekali, apa lagi dari yang ia lihat sekarang Sandra sangat dekat dengan Alkana dan ia yakin tidak ada tempat lagi untuknya.
Sebenarnya Haris sangat senang saat Sandra menyuruhnya untuk mengerjakan PR, meskipun itu merepotkan setidaknya ia masih bisa sering-sering melihat gadis itu tidak seperti sekarang yang sangat jarang.
Pernah, Haris tak sengaja bertemu itupun hanya sekilas dan gadis itu sedang bersama Alkana yang membuatnya harus sadar diri sesadar-sadarnya.
Mungkin ia bodoh karena meskipun di permainkan tapi tetap mencintai gadis itu, tapi itulah dia. Haris tulus mencintai Sandra, dan ia menerima segala kekurangan gadis itu. Perlakuan Sandra selama ini baginya adalah sifat asli yang tidak bisa ia ubah tapi Haris tetap menyukainya karena menurutnya itulah Sandra yang sebenarnya.
Sandra mungkin memang bukan gadis yang baik, tapi dia tidak munafik dengan pura-pura bersikap baik pada seseorang. Sandra keras kepala, susah di atur dan semaunya, akan sulit memahami dimana sisi baik gadis itu jika bukan orang yang benar-benar mengenalnya, dan Haris menyukai semua kekurangan yang dimiliki gadis itu.
Kurang lebih sepuluh menit Haris berdiam diri disana tiba-tiba telinganya menangkap suara derap kaki yang berjalan mendekat, Haris lalu menoleh.
Haris terkejut melihat seseorang yang muncul dari balik pintu, ia fikir itu anak laki-laki yang biasa nongkrong di tempat itu tapi bukan, orang itu Sandra. Gadis yang beberapa hari ini ia rindukan dalam diam.
"Lo ngapain disini?" Sandra menyapa dengan nada tak bersemangat, wajahnya juga nampak di tekuk dan masam belum lagi matanya sembab seperti habis menangis.
"Cari angin," jawab Haris seraya bergeser dan otomatis membuat Sandra duduk di sampingnya, "Kalau kamu ngapain?"
"Biasa," Sandra mengeluarkan bungkus rokok dan korek api dari saku almamaternya.
"Kamu... masih ngerokok?" Haris bertanya hati-hati takut Sandra tersinggung.
"Sebenarnya udah lama nggak, dan hari ini gue lagi pengen."
Sandra mengeluarkan satu batang dari bungkusnya mengapit rokok itu di sela jari lalu mengarahkan ke bibirnya seraya menyalakan korek, tapi belum sempat apinya menyala Haris merebut rokok itu.
"Lo apa apaan sih, balikin nggak!" Sandra nyolot, ia tidak tau sejak kapan Haris berani menganggu kesenangannya.
Haris tau, apa yang ia lakukan pasti membuat Sandra marah tapi ia tidak perduli. Lagipula tidak ada salahnya sekali-kali mengusik gadis itu, ini juga untuk kebaikannya.
"Kamu bilang udah lama nggak ngerokok, harusnya sekarang nggak usah," Haris berkata sambil menyembunyikan rokok rampasannya.
"Gue kan udah bilang, gue lagi pengen!"
"Rokok itu bahaya Ra, apalagi kamu cewek."
Sandra berdecak sebal, "Rese deh lo" Sandra akhirnya mengambil satu batang lagi, jika energinya sedang banyak ia pasti sudah menyembur lelaki itu, tapi tadi ia habis menangis yang membuatnya kehilangan banyak tenaga.
Dan sial, lagi lagi Haris merebut rokoknya bahkan bungkus yang baru saja ia letakan di kursi juga di rampas paksa.
"Haris!!!" Sandra melotot dengan tingkat kekesalan mencapai ubun-ubun, Haris berhasil membuat amarahnya meledak.
"Ra, kamu bisa baca ini kan?" Haris menunjuk bungkus rokok yang tertera tulisan.
Merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.
Sandra langsung lemas seketika, ia baru ingat dengan apa yang ada dalam perutnya. Hampir saja ia menyakiti anaknya, ia benar-benar ceroboh.
Tangan yang tadinya memegang korek api kini ia biarkan benda itu jatuh, Sandra sadar ini tidak benar.
Haris yang melihat perubahan drastis dari gadis itu kini menatapnya tidak mengerti. "Ra, kamu nggak papakan? aku nggak bermaksut kok buat larang kamu, aku cuma nggak mau kamu...."
"Aku ngerti kok, thanks ya udah ngingetin," potong Sandra dengan nada lemah.
Cowok berkacamata itu mengangguk, ia pikir Sandra akan mengamuk, ternyata ia malah berterimakasih.
"Serius kamu nggak papa?"
Sandra mengangguk, namun entah karena apa matanya berair.
"Ra, kamu... nangis?"
Sandra diam dengan air mata mengalir deras, perlahan ia bergerak merapatkan jaraknya lalu menyandarkan kepalanya dipundak lelaki itu.
Haris menegang, tubuhnya terasa kaku. Sentuhan Sandra selalu bereaksi besar di untuknya, atau mungkin karena tidak ada orang lain yang pernah menyentuhnya selain gadis itu.
Dan sungguh ia tidak keberatan untuk meminjamkan pundaknya untuk gadis itu meski ia tidak tau apa yang di inginkan, tetapi melihat Sandra menangis seperti ini membuatnya merasa bahwa Sandra pasti sedang berada dalam masalah.
Dalam hening, Haris menebak-nebak apa yang terjadi sebab gadis berambut pirang itu tak kunjung bersuara. Jika benar Alkana penyebabnya Haris berharap keduanya segera berkahir agar ia memiliki peluang, dan menemukan jalan untuk kembali.
Terkadang pikiran licik memang selalu muncul ketika ada kesempatan tanpa melihat situasi dan itulah hal yang terjadi pada Haris saat ini.
"Kamu lagi ada masalah ya?" Haris bertanya saat Sandra terlihat jauh lebih tenang.
Sandra mengangguk pelan, sangat-sangat pelan mungkin jika Sandra tidak sedang bersandar di tubuhnya Haris tidak tau jika gadis itu mengangguk.
"Yang sabar ya...." Haris memberanikan diri mengusap pundaknya membuat Sandra merasa jauh lebih baik, meskipun itu tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya.
Biasanya Sandra menghabiskan waktu istirahat bersama Alkana tapi hari ini ia sengaja menghindar dan ia tidak perduli jika Alkana mencarinya.
Kanaya sudah memberitahu tentang kejadian semalam, dan Sandra sangat kecewa pada lelaki itu.
Alkana berbohong, Alkana ingkar janji dan Alkana mengkhianatinya dengan mencium perempuan itu, sungguh sedikitpun ia tak pernah menduga sebelumnya. Sandra fikir selama ini Alkana tulus mencintainya tapi kenyataannya ia sama saja seperti laki-laki lain, brengsek. Dan sepertinya pendapatnya mengenai tidak ada lelaki baik di dunia ini itu memang benar, Alkana yang menjadi bukti.
Tapi tunggu, bagaimana dengan lelaki di sampingnya?
"Seandainya aja perasaan bisa atur," Sandra berkata lirih, sementara tatapannya menerawang jauh, "pasti gue lebih milih jatuh cinta sama lo daripada Alkana."
Haris yang mendengar itu memiringkan kepalanya. Dari sana ia mengerti bahwa benar, Sandra sedang ada masalah dengan Alkana.
Haris menatap matanya dalam, "Aku nggak pernah keberatan di repotin sama kamu Ra, malah Aku seneng. Karena... setelah kamu nggak ada, aku ngerasa kehilangan...."
Sandra tersenyum sekilas lalu menunduk. Sandra tak sanggup melihat dalamnya tatapan Haris yang sama dalam seperti cintanya. Dan itu tak sebanding dengan perasaannya, Sandra merasa sangat jahat padanya.
"Harusnya lo bisa ngelupain gue Ris."
"Bukannya kamu tau kalau perasaan nggak bisa di atur, itu juga yang terjadi sama aku Ra."
Sandra mengangguk mengerti, "Kadang gue penasaran, sebenarnya terbuat dari apa hati lo?"
"Aku juga nggak tau, yang jelas apa yang selama ini Aku lakuin buat kamu... Aku iklas."
"Gue beruntung bisa ketemu orang kayak lo Ris, thanks ya?" Sandra kini menatap matanya.
"Harusnya aku yang terimakasih."
"Kenapa?"
"Karna kamu orang pertama yang mau nerima aku jadi pacar kamu."
"Lo emang yang terbaik Ris," Sandra tersenyum, "Dan karena lo gue percaya bahwa masih ada cowok Baik di dunia ini... dan orang itu lo."
"Aku...." Haris menunjuk dirinya dengan kening mengernyit.
Sandra mengangguk membenarkan dan di detik selanjutnya Haris merasa jantungnya hampir terlepas, gadis itu memeluknya.
"Iya, lo satu-satunya cowok paling baik di dunia," Sandra tersenyum seraya mengeratkan dekapannya.
"Di... di-dunia???"
Haris tidak bisa menyembunyikan kegugupannya di depan gadis itu, ia senang ketika gadis yang paling ia cintai memeluknya sangat senang. Bahkan saking senangnya ia takut jika Sandra bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar tak karuan.
"Iya... di dunia gue."
Senyuman di bibir lelaki itu merekah sempurna. Ini pertama kalinya ia mendengar Sandra berkata tulus padanya Haris sampai tidak tau harus mengibaratkan dengan apa kebahagiaannya.
Kalimat yang baru saja diucapkan gadis itu membuat kepercayaan diri Haris meninggi. Kini Haris membalas pelukan gadis itu lalu mengusap rambutnya.
Haris baru tau jika memeluk seseorang bisa sangat menyenangkan, belum lagi aroma parfum gadis itu sangat feminim membuatnya betah berlama-lama. Begitu juga sebaliknya, Sandra merasa nyaman, ia merasa terlindungi ketika berada dalam dekapan lelaki itu.
Sandra tau mungkin Haris memang tidak bisa bela diri seperti Alkana, tapi setidaknya Haris selalu bisa menjaga perasaannya dan membuatnya aman walau ia yang harus mengorbankan nyawanya. Sandra bersumpah demi jiwa dan raga ia tidak akan menyakiti lelaki itu lagi.
Haris lelaki yang baik dan tidak pantas di sia-siakan. Kadang ia merasa ini tidak adil, mengapa baru sekarang ia menyadarinya?
Tak lama berselang keduanya mendengar langkah kaki yang berderap tergesa-gesa, dan belum sempat Sandra melepas pelukannya sebuah panggilan mengejutkan keduanya.
"SANDRA!!!" Alkana memanggilnya dengan sorot mata bak Elang, nafasnya juga terengah-engah seperti habis lari maraton, "GUE CARIIN DARI TADI TERNYATA DISINI. BERDUAAN LAGI, NGAPAIN!!!"
Haris sudah beringsut mundur, ia juga tidak berani mengangkat kepalanya sangat berbeda dengan Sandra yang masih bersikap tenang. Bahkan gadis itu pura-pura tidak mendengar Alkana.
Sandra meraih korek api yang tadi terjatuh lalu menyimpannya dalam jas almamater, setelah itu ia beranjak dari kursi.
"Ayo Ris...." Sandra mengibaskan rambutnya lalu mengamit lengan Haris dan berjalan melewati Alkana.
"SANDRA...!!!"
Alkana tak bisa lagi berbicara pelan sekarang, apalagi saat melihat Sandra berpelukan dengan lelaki lain.
Sandra sudah berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Haris tapi ia mengingkarinya, dan bukan hanya itu sejak istirahat pertama Alkana sudah mencarinya sampai ia memeriksa keseluruhan sudut sekolah tapi tidak menemukannya. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi seolah sengaja menghindar, dan Alkana tidak tau dimana letak kesalahannya.
"Ra, Aku duluan aja ya," Pamit Haris, "Kamu selesaikan dulu masalahnya...."
"Yaudah deh...." Sandra akhirnya terpaksa membiarkan lelaki itu pergi.
"HARUS BERAPA KALI GUE BILANG," Alkana membalik badan menatap sangar kearah pacarnya, "GUE NGGAK SUKA LO DEKAT-DEKAT SAMA COWOK CUPU ITU!!!"
"Namanya HA-RIS!" balas gadis itu yang sukses membuat mata Alkana menyipit.
Ini pertama kalinya Sandra membenarkan nama lelaki itu, padahal sebelumnya Sandra juga menyebut Haris seperti itu.
"Di kasih apa lo sama dia, apa lo balikan?!"
Sebenarnya Sandra malas meladeni Alkana yang seakan maha benar, ia merasa seperti membuang-buang waktu.
"Bukan urusan lo," Sandra lalu beranjak pergi, tapi Alkana tak membiarkannya. Alkana menahan pergelangan gadis itu lalu menghempaskan tubuhnya pada pintu kayu di belakangnya sampai punggung Sandra terasa sakit. Tidak hanya itu Alkana juga mengunci pergerakan gadis itu dengan keduanya tangannya.
"Salah gue apa?!" tanya Alkana dengan mata tajam bak pisau, suaranya juga terdengar kasar seolah menunjukkan kemarahannya, "Tadi pagi kita baik-baik aja, tapi tiba-tiba lo ngilang, lo sengaja menghindar dari gue?"
Sandra diam, meskipun jarak wajahnya sangat dekat dengan Alkana sebisa mungkin ia mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap lelaki itu. Cukup, Sandra sudah muak.
"JAWAB RA JAWAB!!!" bentak Alkana tepat di wajahnya. "APA SALAH GUE SAMA LO?!!!" lelaki itu benar-benar murka.
PLAKKK...
Alkana seketika lemas.
Tamparan itu jawaban yang tepat.
***