
Lanjutan...
"Pak Andreas, Mari aku juga ingin menggendong cucu ku." Ucap Bu Jihan ingin mengambil alih gendongan Ardan.
Pak Andreas pun memberikan Ardan dengan penuh kehati-hatian dan diterima dengan pelan-pelan oleh Bu Jihan.
"Ututu... Lucunya Adnan Junior ini. Kau ini persis sekali seperti ayah mu saat kecil. Airin, kau ibu yang sangat hebat dan telaten. Ardan begitu gemuk dan sehat. Lihat saja, jemari tangannya saja gemuk seperti ini." Ujar Bu Jihan memuji menantunya yang sudah berhasil menjadi ibu yang memperhatikan kondisi fisik anaknya.
"Benar. Saat menggendongnya tadi, aku cukup merasa berat. Keponakan ku gemuk sekali sampai menyaingi Bibinya yang kurus ini." Timpal Della.
Semua orang di sana saling berbincang ria penuh canda dan tawa.
"Keluarga kita akan banyak dihuni oleh kehadiran anggota keluarga baru dan kelahiran anak-anak. Mereka akan menemani masa tua kita ini. Tidak hanya dari Airin, Kirana juga sebentar lagi akan melahirkan anaknya. Tapi tidak sabar menunggu cucu kedua kami setelah Ardan ini. Mereka pasti akan menjadi saudara sepupu yang menyenangkan." Ujar Pak Atmadja baru mengeluarkan suaranya setelah lelah ikut tertawa bersama anak dan menantunya.
"Kalian sudah memikirkan ke arah yang lebih jauh. Padahal diantara kalian yang sebentar lagi akan menanti kelahiran anaknya, Aku, Kak Dario dan Della saja belum menikah. Bagaimana mungkin kami hanya melihat para keponakan kami yang terus berdatangan memenuhi Mansion ini? Bisa-bisa saat aku menikah dan memiliki anak, tidak ada tempat untuk mereka tidur karena semua kamar sudah diisi oleh anak kalian." Ujar Kenzo.
"Benar. Kalian sudah membuat orang lain iri saja dengan kebahagiaan keluarga masing-masing." Timpal Dario berikutnya.
"Siapa yang menyuruh mu belum menikah hingga saat ini, Kenzo. Segeralah mencari pasangan. Jodoh tidak akan datang begitu saja dihadapan mu, kau tidak hanya berdiam diri saja menunggu surat dari merpati itu datang terkecuali kau sendiri yang berusaha." Ucap Adnan.
"Benar Kak Ken, Kak Dario, Cepatlah menikah! Hingga kapan kalian akan tidur sendirian di kamar. Jika memiliki istri, akan ada kehangatan yang memeluk kalian di balik selimut akibat dinginnya angin malam. Terutama Kak Dario, Kakak sudah cukup umur untuk menikah, Kakak juga sudah cukup fisik dan juga mental serta finansial. Kenapa terus saja sibuk bekerja bukan mencari pendamping hidup?" Lontar Airin ikut menjawab.
"Mungkin Dario ingin disebut bujang lapuk oleh semua orang. Lihatlah adikmu, bahkan dia sudah akan memiliki tiga orang anak di usianya." Ujar Bu Riana menasihati anak pertamanya itu.
"Andra dan Adnan ini sangat hebat. Tidak seperti kalian yang sibuk mencari kenyamanan dalam kesendirian. Kapan menikah nya?" Tanya Pak Andreas kemudian.
"Itu bukan hebat. Tapi namanya menyiksa! Khususnya Adnan yang baru memiliki Ardan di usianya yang baru satu bulan dan malah membuat Airin tak lama mengandung kembali." Protes Kenzo.
"Bukan menyiksa, Itu namanya produktif." Jawab Pak Atmadja sembari diikuti tawaran dari semua orang yang mencoba membantu jawaban putra ketiganya.
"Adnan, Setelah aku menikah nanti, Bagikan kiat-kiat apa yang kau berikan pada Airin hingga sekarang bisa mengandung anak kedua dalam jarak yang dekat. Nanti aku akan langsung berguru padamu." Ucap Dario malah sebaliknya.
"Tenang saja Kakak, nanti aku akan mengajarimu begitu banyak bagaimana caranya membahagiakan istri." Jawab Adnan dengan tawanya.
"Benar. Itu memang benar. Kalian harus banyak berguru dengan Adnan. Dan juga Andra, kau bisa meniru adik mu itu. Setelah istrimu melahirkan anak pertama nanti, kau langsung terobos kembali saja dan semuanya akan Gol pada waktunya." Ucap Pak Atmadja yang selalu nyambung jika membahas perbincangan tentang hal seperti ini. Dia adalah orang yang paling semangat dalam memotivasi anak muda untuk lebih produktif.
"Aku tidak ikut campur dalam masalah ini. Karena aku hanya tinggal menunggu lamaran dari kekasih ku. Jadi, kalian tidak perlu bertanya kapan nikah padaku." Ucap Della demikian setelah memperhatikan perdebatan.
"Della, Kau juga belum menikah, ya. Cepatlah meminta kekasih mu itu agar segera menikahi mu." Ujar Pak Atmadja.
"Iya Paman. Tapi, untuk saat ini memang aku tidak ingin terlalu cepat menikah. Aku ingin memfokuskan diri pada karier ku terlebih dahulu." Jawab Della.
"Kau dengar itu Andreas?! Putri mu ini berbicara sangat dewasa sekali. Ia ingin terlihat mandiri sebagai wanita. Bagaimana jika kita menjodohkan pula Della dengan Kenzo. Dengan begitu lengkap sudah keluarga kita yang bersatu. Pinta saja Della untuk memutuskan hubungannya sekarang, lalu menikah dengan Kenzo. Selain Adnan dengan Airin, dan Andra dengan Kirana, Sebentar lagi akan terbit Kenzo dan Della. Unik bukan?" Ucap Pak Atmadja membuat semua terkejut. Tidak bedanya dengan Kenzo dan Della yang menggelengkan kepala.
"TIDAAKK!!"
Kompak Della dan Kenzo meneriaki penolakan.
"Lihat! Teriak saja mereka begitu kompak. Apalagi namanya jika ini bukan jodoh?" Goda Pak Atmadja.
"Jangan Atmadja. Kesalahan dengan menikahkan Airin dengan Adnan saja hampir mengacaukan segalanya. Jangan ada sistem perjodohan lagi setelah ini. Kita tidak boleh mengulang kesalahan yang kedua. Biarkan saja anak-anak mencari pendamping hidupnya sendiri, dan tugas kita hanya merestui lalu menikahkan mereka." Jawab Pak Andreas demikian.
Semua orang pun bernapas lega. Mereka pikir akan ada Season kedua dengan perjodohan Della dan Kenzo yang menikah sampai terjadi perselingkuhan kembali.
"Tapi aku yakin, Jika saja Della dan Kenzo mengalami nasib yang sama seperti kami, Di sini yang akan membuat perselingkuhan adalah Della dan yang akan mengalaminya adalah Kenzo. Toh terlihatnya diantara mereka berdua, Della adalah yang paling agresif. Bisa jadi setelah memutuskan kekasihnya, setelah ia menikah dengan Kenzo, dia akan menjalin hubungannya kembali. Sama seperti yang ku lakukan dulu... Tapi bedanya di sini Kenzo yang akan menjadi pria lemah karena sudah diselingkuhi." Ejek Adnan demikian dan membuat respon keduanya menatap tajam. Sedangkan yang lain, hanya tertawa bersama mendengar gurauan Adnan.
Airin pun mencubit pinggang suaminya agar berhenti mengejek Kakak Ipar dan juga Kakak Kandungnya.
"Awwsshh... Sakit!"
Adnan pun sampai terperanjat meringis dan menatap senyum terlihat gigi pada istrinya itu.
"Maaf-maaf.. Kasihan sekali suami ku. Mari Aku cium dulu." Airin mengecup pipi suaminya dengan gemas dihadapan keluarganya yang syok dan hanya menahan tawa.
Sifat garang, dingin, angkuh, dan tukang melarang menghilang dari sosok dirinya. Adnan yang sekarang bagaikan singa tanpa taring. Bahkan bisa di katakan seperti anak kucing yang lebih menyukai di manja-manja.
Bila mengingat masa lalu, Rasanya Airin masih tidak percaya bisa menikah dengan Adnan sampai memiliki Ardan sekarang. Dulu dia begitu putus asa. Menunggu-nunggu cintanya di balas agar Adnan bisa meninggalkan perselingkuhannya. Mengharap belas kasih Adnan agar menerima perjodohan mereka.
Rasanya dia masih seperti bermimpi, semua yang di harapkannya telah menjadi kenyataan. Adnan sangat mencintainya. Laki-laki itu membalas cintanya, dan mereka berkumpul sebagai keluarga yang bahagia.
"Aku sangat mencintaimu sayang. Aku tidak akan bosan mengatakan kalimat ini. Jika tidak cinta, untuk apa Aku memilihmu sebagai Ratu Hatiku? Selama Aku masih hidup, Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya pada kalian. Kalian adalah hartaku yang paling berharga. Aku mencintai kalian semua." Adnan mengecup Airin yang juga membalas kecupannya.
Kecupan-kecupan kecil itu lambat laun berubah menjadi semakin dalam. Mereka saling ******* bibir masing-masing. Tangan Adnan mulai bergerilya. Menelusup ke dalam baju Airin dan menangkup dada hangatnya. Ketika tengah asyik bercumbu, tiba-tiba mereka tersadar akan satu hal.
Airin mendorong tubuh Adnan. Dengan begitu sepasang mata dari anggota keluarganya yang menatap kikuk keduanya. Semua mata itu menatap ke arah mereka. Sontak membuat malu pasangan suami istri tersebut. Kenapa bisa mereka bertindak kompulsif di depan semua keluarga dan tidak melihat situasi kondisi yang bukan di dalam kamar mereka.
*
*
*
Bicara mengenai jodoh kadang memang agak sensitif untuk sebagian orang. Pasalnya kisah percintaan yang dialami setiap orang berbeda-beda. Ada yang memiliki cerita perjalanan cinta yang mulus ada pula yang kurang beruntung dan tidak sesuai dengan rencana. Apalagi ditambah dengan pengalaman tidak menyenangkan mengenai pertanyaan 'Kapan Nikah?'.
Banyak orang berharap untuk segera dipertemukan dengan jodohnya. Akan tetapi, kadang kala hingga usia matang tidak kunjung mendapatkan jodoh. Ya, banyak pepatah yang mengatakan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Namun demikian, bukan berarti kita hanya bisa berdiam diri menunggu jodoh datang. Ada banyak hal yang bisa orang lain bahkan sekitar lakukan agar menyegerakan cepat menikah, misalnya dengan berusaha sendiri menemukan cinta sejatinya, lebih membuka diri dan ada pula perjodohan yang diyakini orang tua ataupun keluarga.
Perjodohan adalah momok yang masih dilakukan oleh orang tua untuk membuat anaknya bahagia. Sejak zaman Siti Nurbaya sampai sekarang masih saja ada cerita tentang menjodohkan anaknya dengan pilihan yang menurut orang tua terbaik.
Namun, banyak dari kita yang menerima perjodohan hanya karena takut Durhaka dan mereka hidup dalam pernikahan yang penuh keterpaksaan. Terpaksa itu bukan datang dari hati melainkan emosi, dan emosi itu sakit!
Sebuah penolakan yang terjadi karena tidak ada rasa harus saling memiliki kerap terjadi dalam setiap perjodohan. Mereka lebih cenderung enggan menerima satu sama lain dan yang tersisa hanya siksaan batin akibat tidak ingin hidup bersama dengan jodoh yang dipilihkan.
Pernikahan sendiri terbagi menjadi dua, ada yang menikah karena cinta tapi tidak langgeng. Ada juga pernikahan yang langgeng karena perjodohan. Sebaliknya, banyak pula pernikahan yang gagal karena cinta pada awalnya, lantas tidak lagi mencintai satu sama lain pada akhirnya.
Perjodohan hanya pemuasan egoisme segelintir orang. Sudah bagus jika mereka bersatu dan menerima satu sama lain, Namun bagaimana jika tidak?
Perjodohan seperti Airin dan Adnan sudah tidak laku lagi di zaman sekarang. Ini zamannya Siti Nurhaliza, bukan Siti Nurbaya.
...My Wedding Story : End~...