
Berita yang sudah tersebar luas mengejutkan masyarakat dengan kecelakaan yang menimpa Adnan merupakan CEO ternama itu.
Peristiwa kecelakaan yang terjadi pada Adnan menggemparkan seketika masyarakat setelah korban berhasil teridentifikasi dan menyebar luas di media hingga menjadi trending topik dan pembicaraan hangat di jejaring sosial media.
Adnan berhasil dikeluarkan dari mobil rusak yang terjebak di dalamnya. Ia terkapar begitu lemah.
(Ilustrasi)
Adnan dikabarkan tidak sadarkan diri dengan luka-luka yang cukup serius di sekujur tubuhnya dan kini ia sedang dilarikan ke rumah sakit.
Kabar ini sudah terdengar ke telinga Keluarga terutama Airin yang sangat syok dengan kabar buruk ini. Semua anggota keluarga berbondong-bondong menuju rumah sakit tempat Adnan ditangani dengan perasaan semuanya kacau!
Beberapa alat medis sudah terpasang di sekitar tubuh Adnan yang terluka parah. Monitor jantung ICU yang berfungsi untuk memantau kondisi fisiologis pasien secara teratur untuk memastikan stabilitasnya
menunjukkan bahwa pacu detaknya begitu lemah yang berada di bawah rentang normal. Semaksimal mungkin para tenaga medis sedang berkutat dengan alat medis dan cara penyelematan lain tidak ada kata bingung dan lelah demi menyelamatkan pasiennya yang bisa saja bila tidak ditangani dengan baik akan meregang nyawa.
Sepanjang perjalanan Airin tidak hentinya meraung tangis yang menyakitkan.
"Kak!!"
Keduanya menoleh bersamaan, mendapati dua orang berlari kecil ke arahnya.
"Hiks... B-bagaimana keadaan suami ku?" Tanya Airin dengan wajah yang sudah penuh air mata bertanya pada Kirana dan Andra yang sudah lebih dulu sampai.
"Sstt.. Kau tenang dulu. Jangan terguncang seperti ini. Kasihan bayi mu..." Kata Kirana yang sebenarnya sama sedihnya dan khawatir.
"Tapi Suami ku. Hikss..."
"Dia di dalam sedang ditangani Dokter. Kita harus yakin dia akan baik-baik saja."
"Tapi di berita, Mobil Suami ku hancur tidak berbentuk lagi..." Pikir Airin yang tidak karuan melihat mobil suaminya yang kecelakaan tersiarkan di berita begitu parah.
"Stttt, tenanglah... Adnan itu sangat kuat. Kita yakin dia juga bisa menahannya." Andra membawa Airin ke dekapannya.
Meskipun orang sekitar terus meyakinkan dirinya, Airin tidak bisa berpikir jernih. Ia terus menangis sampai membasahi dada bidang kemeja Andra.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Daniel berikutnya.
"Semalam kurang lebih pukul sepuluh malam, Rissa menghubungi ku, Dia mengatakan Adnan pergi dari Mansion. Katanya hanya ingin menenangkan diri. Tapi keadaanya sedang tidak baik-baik saja, Rissa khawatir jika akan terjadi sesuatu, Jadi aku mengatakan padanya akan mengikutinya. Tapi sebelum aku menemukannya, Kenzo menelepon, Dia mendapat kabar jika Adnan kecelakaan dan sudah dilarikan ke rumah sakit. Awalnya aku tidak begitu percaya, tapi ketika melihat berita kecelakaan yang sudah disiarkan begitu ramai, Jadi aku menghubungi Kirana dan langsung kemari bersama Kenzo." Pungkas Andra menjelaskan dan ditambah tangisan Airin semakin pecah histeris.
"Lalu, Apa kata Dokter?" Tanya Daniel kemudian.
"Dokter baru mengatakan, benturan keras dan juga kerusakan mobil yang parah membuat kepala dan tubuhnya terluka sangat memperihatinkan, dan itu membuatnya koma. Sangat minim kemungkinan untuknya sadar dan pulih. Kecuali, adanya mukjizat dan semangatnya untuk tetap hidup." Jawab Kenzo demikian.
"Sial!!!" Geram Daniel memukul dinding dengan kepalan tangannya. Pandangan beralih pada Airin yang berada di dekapan Andra. Wanita itu pasti mendengar semua ucapan Kenzo, membuatnya kembali menangis histeris dalam dekapan.
"Aku ingin melihatnya, Kak? Hikss.." Pinta Airin dengan tangisnya.
"Tidak untuk sekarang. Dokter sedang menanganinya. Tidak perlu khawatir kita percayakan semuanya pada Tuhan dan tim medis yang sedang berusaha." Ujar Andra memberi pengertian.
Airin mengangguk mengiyakan. Sekarang mereka hanya menunggu waktu untuk Dokter keluar dari ruangan ICU.
Setelah menunggu lama Dokter keluar, Akhirnya salah satunya keluar juga.
"Dokter... Suami saya?!" Tanya Airin yang lebih dulu mengetahui dan bergegas menghampiri untuk bertanya.
"Saya mohon maaf, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tuan Adnan kehilangan terlalu banyak darah. Beliau dalam keadaan sangat kritis. Dia koma! Kemungkinan selamat hanya 30% Jika beliau mampu melewati masa kritisnya. Kami akan berusaha untuk menyelamatkannya." Jawab Dokter itu menjelaskan.
Tubuh Airin seketika merosot terduduk di lantai, tangisnya histeris. Daniel mencoba menenangkannya dengan di rengkuhnya tubuh mungil itu.
...***...
Pukul 03.00 dini Hari...
"Airin! Ayo kita pulang! Kau harus istirahat. Dari semalam kau tidak tidur." Ajak Daniel.
"Tidak Tuan.. Aku ingin tetap di sini. Bagaimana mungkin aku bisa pulang dan tidur nyenyak jika suamiku saja tidak jelas memperjuangkan hidup antara matinya." Jawab Airin demikian dengan tatapan kosong dan mata yang lelah tidak tidur itu.
"Di sini ada Kak Andra, Kak Kirana dan juga Kenzo. Mereka yang akan menjaga suami mu. Rissa dan Kak Dario pun menuju perjalanan kemari. Kau tidak perlu khawatir. Nanti kita kembali lagi setelah kau istirahat. Mereka akan mengabari kita jika Adnan sudah dipindahkan ke ruang rawat." Bujuk Daniel.
Airin terdiam menatap Ruang ICU tempat suaminya berada.
"Daniel benar, Kau juga harus menjaga kondisi mu. Pulang lah dengan Daniel! Jika Adnan dipindahkan ke ruang rawat, Aku akan meminta kamar yang besar dengan double ranjang agar kau bisa menemani suami mu di sini kapanpun yang kau inginkan." Bujuk Kirana juga mencoba memberi pengertian.
"Tentu saja." Jawab Kirana tersenyum dan mengusap lembut pucuk rambut adiknya.
"Kak Andra, Kak Kirana, Kenzo... Kami pamit!"
"Hmm.. Hati-hati menyetirnya, Daniel!!" Ucap Kenzo memperingatkan.
"Istirahatlah yang cukup, Kalian. Hati-hati!" Ucap Andra demikian.
"Aku titip Airin padamu. Tidak akan lama nanti pagi kami akan memberi kabar." Ucap Kirana.
Setelah berpamitan, Daniel dan Airin pergi.
...***...
2 Minggu Kemudian...
Sudah 2 minggu sejak Adnan di pindahkan ke ruang rawat. Akhirnya kondisinya bisa melewati masa kritis meskipun harus mengalami masa koma dan hingga kini belum sadarkan diri.
Sejak itu pula Airin tinggal di rumah sakit, di kamar rawat suaminya. Andra dan juga Dario sengaja meminta kamar yang lebih besar, serta tambahan ranjang. Dario juga meminta Dokter kandungan khusus untuk adiknya. Jadi, Mereka tidak akan khawatir akan kondisi kandungan Airin. Serta Rissa yang ditugaskan khusus menjaga Airin dan Adnan selama di rumah sakit.
Airin sedang duduk di sebelah pinggir ranjang Adnan. Ia mengambil tangan kanan Adnan yang terbebas dari alat infus, sedangkan sebelah tangan kiri terpasang infus. Ia mengarahkan pada perutnya.
"Tuan, Apa kau tidak lelah tidur terus-menerus sepanjang hari? Apa kau tidak ingin mengusap perut ku? Apa kau tidak rindu dengan bayi kita? Lihatlah! Sepertinya bayi kita rindu pada ayahnya ini. Usianya kini sudah 3 bulan. Cepatlah bangun! Aku ingin di temani olehmu setiap kali pergi ke dokter kandungan. Aku bosan harus di temani Tuan Daniel, Atau Kak Ken. Aku sudah memaafkan mu. Jadi, cepatlah bangun, ya!" Ujar Airin berbicara dengan Adnan yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
Ceklek!
Airin menoleh ketika pintu terbuka. Setelah tahu siapa yang membuka pintu, Airin kembali menatap suaminya.
"Airin, Saatnya kau memeriksa kandungan mu." Kata Dario kakaknya yang datang.
"Apa Kakak yang akan mengantar?"
"Ehemm ... Seperti biasanya!" Jawab Dario.
Airin menunduk setengah wajah masam.
Dario mendekati ranjang Adnan dan berdiri di hadapan Airin .
"Kenapa? Kau berharap siapa yang akan mengantar mu? Yang lain sedang sibuk, Jadi aku yang akan tetap mengantar mu."
"Apakah harus pergi? Aku bosan, Kak."
"Tidak ada alasan. Semua demi kebaikan mu dan janin mu. Ayo!"
Airin berjalan lebih dulu dengan menghentikan kakinya. Meninggalkan Dario di belakangnya yang tersenyum gemas. Dario sempat memperhatikan Adnan sejenak sebelum dirinya pergi menyusul Airin.
Di Ruangan Dokter Kandungan...
"Keadaan Nona Airin dan calon bayinya baik-baik saja. Mereka sehat, tapi kondisi calon bayi sedikit lemah, mungkin karena Nona Airin jarang meminum vitaminnya. Saya sarankan agar rutin meminum vitamin, ya, Nona. Dijaga pola makan dan istirahat yang cukup."
"Tidak ada gejala yang serius kan, Dok? Teman saya ini memang sulit sekali diminta makan dan istirahat."
"Tidak ada Tuan, semua sehat. Dan semoga ibu dan bayinya tetap selalu sehat. Saya akan menambahkan vitamin untuk Nona Airin." Ujar Dokter tersebut.
"Terima kasih, Dok." Jawab Airin.
Setelah dari ruang Dokter kandungan, Kini keduanya sedang mengantri untuk menebus obat Airin. Dario berdiri bersandar pada dinding dengan bersedekap dada. Sedangkan Airin duduk di kursi tunggu.
"Jangan menatap ku seperti itu!! Kau seperti mafia yang sangat kejam dan jahat."
"Jika kau tidak ingin menurut dan menjaga kesehatanmu lagi, Aku akan meminta mu pulang, tidak ada lagi menunggu suamimu sampai menginap di sini."
"Kau jahat sungguhan, Kakak!!"
"Aku tidak peduli. Kesehatan dan bayi mu lebih penting daripada suami mu. Kau tidak mendengar ucapan dokter tadi padamu, ya?!"
"Siap!! Kakak ku sayang.. Aku akan menurut. Tapi tolong, jangan pulangkan aku. Kasihanilah anakku yang ingin selalu di dekat ayahnya." Drama Airin di mulai. Membuat Dario terbahak, dan mengacak kasar rambut Airin.
"Aku akan menuruti semua permintaan mu, asal kau menurut."
Tangan Airin terangkat tegak memberi hormat.
Setelah mendapatkan obat, Keduanya pergi untuk kembali ke ruangan Adnan. Di perjalanan, Dario terus menggoda Airin hingga membuatnya kesal. Karena jarangnya mereka bertemu, sekali bertemu Dario akan habiskan waktu untuk adik perempuannya. Meski Airin terasa kesal, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya sangat senang karena kasih sayang sang kakak padanya tidak pernah berkurang.