My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 38 : Penyesalan



"Adnan!!" Shana terkejut dan menghentikan pergulatannya dengan pria lain.


Mereka sama-sama terkejut.


Adnan pergi keluar dari apartemen. Sebelumnya, setelah keduanya saling menatap, Shana segera menghentikan aktivitasnya dan meraih pakaian yang ada. Memakainya dengan terburu-buru dan kemudian mengejar Adnan yang sudah pergi menjauh dari kamarnya.


Untungnya Adnan masih berada di koridor yang hendak menekan tombol lift, hingga Shana dapat mencegahnya pergi. Sedangkan pria yang sedang bermain dengan Shana, Ia masih melanjutkan orgasmenya sendiri, Tidak ingin ikut campur hubungan kekasih dengan kekasih gelapnya itu.


"Adnan... Dengarkan aku dulu. Aku akan jelaskan!" Ujar Shana meraih tangan Adnan.


"Jangan sentuh Aku!!" Bentak Adnan menghempaskan dengan kasar tangan Shana yang meraih lengannya.


"Tolong, dengarkan aku!"


"Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun. Apa yang ku lihat sudah menjelaskan segalanya. Mulai detik ini, Aku dan kau tidak ada hubungan lagi. Kita Selesai!!!" Hardik Adnan marah.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu. Kau sudah janji akan menikahi ku." Kata Shana yang urat malunya sudah putus.


"Aku tidak sudi menikahi wanita yang sudah digagahi laki-laki lain!!" Cerca Adnan bertubi-tubi.


"ITU SEMUA KARENA MU!! Jika kau segera menceraikan istrimu, dan menikahi ku. Aku tidak akan seperti ini. Aku lelah menunggumu yang terus menggantung ku tidak ada kepastian. Kau selalu berjanji, tapi tidak kau tepati. Itulah yang membuatku bermain di belakangmu." Bentak Shana melawan.


"Itu bukan alasan kau harus melakukan ini. Jika kau benar-benar mencintaiku, kau akan menunggu ku dan tetap di samping ku. Apa yang ku lihat tadi sudah menjelaskan jika kau benar-benar tidak mencintai ku." Kata Adnan.


Lalu, Kembali berkata...


"Urus saja laki-laki mu!! Jangan pernah kau tampakkan wajahmu dihadapan ku lagi. Aku sudah muak melihat wajah mu!! Selamat bersenang-senang dengannya!" Adnan mengucapkan salam perpisahan.


Adnan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak mempedulikan kendaraan lain yang mengumpati dirinya karena ugal-ugalan. Mobilnya terus melaju kencang tanpa tujuan. Hingga Adnan menghentikan mobilnya di atas bukit yang sepi. Tidak ada seorangpun di sana, hanya Adnan seorang diri. Ia segera turun dari mobil dan berjalan gontai mendekati pinggiran pagar pembatas, yang di mana di bawah bukit terdapat jurang yang curam dan dalam.


AAAAAAAAAAAAHH....


Di sana, Adnan berteriak sejadi-jadinya meluapkan kehancuran, amarah yang tertahan dan kepahitan yang sedang ia alami hanya karena kebodohannya sendiri.


...***...


Di sisi lain...


Di Rumah Daniel...


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Tanya Daniel pada Airin sedang memegang sesuatu.


"Aku yakin, Tuan Daniel. Ini adalah keinginan Tuan Adnan sejak lama." Jawab Airin.


"Kapan kau akan kesana?"


"Lusa aku akan kesana.


"Beritahu aku jika ingin kesana. Aku akan mengantarmu."


"Terima kasih, Tuan."


"Lanjutkan menontonnya. Aku akan ke perusahaan sebentar. Jika perlu sesuatu, katakan saja pada Jasmine atau Zemin." Ujar Daniel mengingatkan.


"Hmm... Hati-hati, Tuan."


Daniel tersenyum, lalu pergi.


"Daniel pergi kemana?" Tanya Zemin yang menghampiri Airin dan bertanya.


"Tuan Daniel akan berangkat ke perusahaan. Lalu, kau ingin pergi kemana?"


"Aku akan berkunjung sebentar ke perusahaan cabang. Kau ingin ikut? Di rumah tidak ada orang. Jasmine juga pergi." Kata Zemin menawarkan pertanyaan.


"Tidak. Aku di rumah saja. Nanti malah mengganggu pekerjaan mu, Zemin." Jawab Airin menolak.


"Kau yakin ingin sendirian di rumah? Tidak ingin ikut dengan ku?" Tanya Zemin memastikan.


Airin menggeleng.


"Kau benar-benar yakin. Padahal Jasmine pun akan menyusul juga kesana." Tawar Zemin yang tidak bisa menerima penolakan Airin.


Airin diam nampak berpikir.


"Bagaimana? Ingin ikut?"


Airin mengangguk cepat membuat Zemin gemas melihatnya.


"Ayo siap-siap! Aku tunggu di sini."


"Baiklah. Kau tunggu di sini." Airin berlari menuju kamarnya.


Di Cabang Perusahaan Zemin...


Waktu berjalan dengan cepat. Airin memperhatikan Zemin yang sedang berjalan ke arahnya. Zemin baru saja menyelesaikan pekerjaan, dan meninggalkan Airin di ruangannya.


"Sudah selesai?" Tanya Airin yang sedari tadi menunggu.


"Jasmine baru saja menelepon, dia tidak jadi kemari. Dia sedang di perusahaan Daniel. Katanya tadi ban mobilnya pecah, dan dia meminta Daniel menjemputnya. Jadi, Daniel membawanya ke perusahaannya. Tidak apa?"


Airin mengendikkan bahu menatap Zemin.


"Ingin bagaimana lagi."


Zemin tersenyum mengusap lembut kepala Airin. Airin menegang, terkejut dengan perilaku Zemin yang sering ia lakukan di masa kencan dahulu.


"Aku sudah selesai. Maaf sudah membuatmu menunggu. Kita pulang sekarang? Atau kau ingin jalan-jalan? Atau ingin ke tempat Daniel dan Jasmine?"


"Emm.. Kita makan dulu, ya? Aku lapar, setelah itu pulang."


"Baiklah Nona manis.. Kita makan, lalu pulang."


Airin tersenyum lebar. Mereka keluar dari perusahaan dengan jalan berdampingan.


...***...


Adnan melangkah cepat menyusuri koridor menuju ruang utama paling atas di nomor 38.


BRAK!!


Adnan membukanya dengan sangat kasar.


"Maaf Tuan, Saya sudah memberitahu bahwa anda sedang sibuk dan tidak menerima tamu. Tapi Tuan Adnan memaksa untuk masuk."


Petugas keamanan itu menunduk meminta maaf.


"Hmm, Kau bisa keluar." Titah Daniel yang mendapati kedatangan tamu kebesaran.


"Baik, Saya permisi." Petugas keamanan itu keluar dari ruangan Daniel. Menyisakan Adnan, Daniel dan Jasmine di dalamnya.


Jasmine sejak tadi duduk di sofa dengan memainkan ponselnya, dia juga terkejut secara tiba-tiba seseorang membuka kasar pintu ruangan kakaknya. Tentu tahu karena mereka kedatangan sang sepupu.


Adnan melangkah mendekati Daniel dengan mata elang ingin memangsa.


"Kau bawa kemana Airin? Kau sembunyikan istriku di mana, brengsek?!" Seru Adnan. Ia menarik kerah kemeja Daniel.


"Kenapa bertanya padaku? Kau hubungi saja dia, dia kan istrimu." Daniel menjawabnya santai ketika Adnan meraih kerahnya.


"Ponselnya tidak aktif. Kau bawa kemana dia?!" Gertak Adnan meminta jawaban.


"Aku tidak membawa dia kemana-mana. Cari saja di rumah kakaknya."


"Dia tidak ada di sana!"


Adnan semakin menggeram kesal karena Daniel tidak segera memberitahu keberadaan istrinya. Adnan lantas semakin mengeratkan cengkeramannya. Jasmine yang tadi diam, segera beranjak berdiri diantara keduanya.


"Kak Adnan, Lepaskan!! Kak Daniel tidak tahu di mana istrimu." Ujar Jasmine.


"Diam Jasmine. Kau tidak tahu apa-apa. Bajingan ini sudah membawa istriku pergi dari rumah."


"Bukan aku yang membawa istrimu. Istrimu sendiri yang mengajakku pergi dari mansion mu."


"Kau!!" Adnan semakin meremang.


STOP!!


Kepalan tangan Adnan yang sudah melayang hampir mengenai wajah Daniel terhenti akibat teriakan Jasmine.


"Aku tidak tahu masalah kalian apa. Jika kalian ada masalah, selesaikan secara baik-baik dengan kepala dingin. Dan kau Kak Adnan. Dia istrimu, kenapa kau malah menyalahkan Kak Daniel atas kepergiannya. Apa kau tidak bisa menjaga istrimu dengan baik?" Bicara Jasmine selanjutnya.


"Kau tidak tahu apa-apa, Jasmine."


"Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi jangan membuat keributan. Kalian bertengkar hanya karena wanita. Di sini banyak orang meskipun sepi, Apa kata karyawan di sini jika mereka kalian bertengkar."


"Aku akan mencarinya sendiri!!"


"Semoga berhasil, Kak Adnan!!" Ucap Jasmine tertawa-tawa kecil.


Daniel tersenyum smirk memperhatikan kepergian Adnan. Ia begitu bangga dengan kerja sama adiknya itu yang pintar bersandiwara seperti kakaknya.


"Tck, Kau benar-benar licik sekali." Ucap Daniel sambil mengacak-acak rambut adiknya.


"Biarkan saja. Aku kan banyak belajar dari kakak." Ucap Jasmine tersenyum terlihat gigi.


"Tapi, Bagaimana jika Kak Adnan datang ke rumah kakak?"


"Airin yang lebih tahu akan melakukan apa. Jangan khawatir, kau hanya perlu membantu menjaga Airin saja."


"Hmm... Aku tahu Kak Airin orang baik dan cantik juga. Aku menyukainya."


Tersenyum Daniel dan kini mengusap lembut kepala adiknya.


"Hubungi Zemin! Dia ada di mana? Apa dia masih bersama Airin. Aku malas mengambil ponselku." Titah Daniel pada Shana.