My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 18 : Bertukar Pasangan



Daniel menerima panggilan masuk melalui telepon genggamnya. Dalam panggilan itu seseorang meminta yang saat ini sedang di Perancis untuk segera pulang.


Sambungan telepon telah dimatikan membuat Daniel menghela napas beratnya.


"Hahh,,, Aku harus segera berkemas. Padahal ada banyak waktu yang ingin ku habiskan bersama Airin di sini. Rencana tidak sesuai dengan ekspektasi, Orang itu tidak mendukung ku dalam hal ini. Jika seperti ini untuk apa aku datang jauh-jauh ke Perancis." Gerutu Daniel.


Ketika Daniel mulai berkemas, memasukan barang-barangnya dalam koper. Pergerakannya terhenti ketika menemukan selembar foto bersama Airin yang di ambil saat jalan-jalan kemarin bersama Airin. Dia mengambilnya dan menatapnya dengan tersenyum.


Selembar kertas foto yang terdapat dua bagian foto yang berbeda. Foto bagian pertama, di saat di mana Airin yang tertawa bahagia dan ia memotretnya sengaja memfoto diam-diam. Dan foto kedua, foto dirinya bersama Airin yang berlatar membelakangi pantai. Kali ini sangat berkesan baginya, dan menjadi kenangan terindah yang tidak akan terlupakan.


"Aku tidak menyangka kita bisa sedekat ini. Semoga ini awal baik untuk kita berdua ke depannya. Aku tidak akan melepaskan mu!" Gumamnya dengan senyuman yang masih memancar di bibirnya. setelahnya, kembali meletakkan lembaran foto itu dalam dompetnya.


Kembali membereskan barang-barangnya, tidak lupa dompet yang kali ini sangat berharga dan bernilai tinggi dari apapun yang ia miliki dan akan selalu dibawanya kemana pun.


Sementara di hotel tempat Airin menginap. Airin sedang menikmati harinya di bathtub. Setelah kepergian Adnan dua jam lalu yang Airin yakini bahwa suaminya itu pasti sedang berjalan-jalan dengan kekasihnya, Airin ingin menyegarkan tubuhnya dengan berendam, yang langsung di suguhkan keindahan kota Paris dari atas. Bagaimana tidak indah, jika luasnya kota ini bisa di nikmati secara langsung dari lantai 42.


BRAK!!


Airin berjengkit terkejut ketika pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba dengan kasar. Airin refleks menyilangkan kedua tangan menutupi bagian atas tubuhnya begitu tahu siapa yang mendobrak paksa membuka pintu.


"A-apa yang kau lakukan?!!" Pekik Airin terkejut.


"Mandi!!" Jawab Adnan dingin.


Tanpa segan Adnan melepas satu persatu pakaian bagian atas. Airin meneguk ludahnya setengah panik ketika terpampang jelas tubuh sixpack Adnan, meski hanya bagian punggung yang terlihat karena posisi Adnan yang berdiri membelakanginya.


"YA!! YA!! Kenapa kau lepas pakaianmu di sini?!! Kau kan bisa menungguku selesai terlebih dahulu."


"Kita pulang pukul 03.00 dini hari besok. Mempersingkat waktu, kita harus segera berkemas. Aku akan mandi dengan shower, kau bisa lanjutkan mandi mu. Tetap di tempatmu sampai aku selesai, kecuali jika ingin melihat tubuh telanjang ku kembali."


Memasuki ruangan kaca yang terisi shower. Dan Airin masih berdiam diri berendam di bathub dengan waspada takut jika Adnan yang ternyata diam-diam mengintip.


"Pulang pukul 03.00? Kenapa mendadak sekali?" Ketus Airin.


Adnan sempat ingin menoleh.


"Ja-jangan mengintip!! Atau aku akan teriak." Panik Airin saat Adnan melirik.


"Tck,,, Untuk apa juga kau menutupi tubuhmu itu? Jika kau ingin, kita bisa melakukannya di sini sambil mandi bersama."


Perkataan Adnan membuat pipi Airin memerah.


Mengetahui jalan pikir Airin, dan paham saat melihat wajahnya yang memerah tidak menjawab. Adnan mulai membersihkan tubuhnya kembali tanpa sehelai kain di tubuhnya. Menghiraukan Airin yang masih misuh-misuh mengumpat waspada dengan jantung berdebar.


"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berada di negara orang. Di negaraku sendiri aku sangat sibuk, aku tidak ingin berlama-lama karena akan mempengaruhi pekerjaan ku." Ucap Adnan sambil mengusap memakai sabun pada tubuhnya.


"Baiklah. Padahal aku tidak sempat membelikan oleh-oleh untuk kakak-kakak ku dan teman ku."


"Shana dan aku sudah membelinya untuk mereka. Kau jangan pikir aku tidak peduli pada mereka. Ingin membelikan oleh-oleh, uang saja kau tidak ada." Ejek Adnan.


"Dasar! Apa gunanya batasan kaca jika masih transparan. Aish, pria sialan, tidak sabaran." Umpat Airin berbicara kecil. Namun, tetap saja bisa terdengar oleh Adnan. Dan dia tersenyum menyungging mendengar Airin mendumal.


...***...


Indonesia~


Welcome Home!


Waktu berlibur begitu sangat singkat untuk dirasakan bersantai menikmati keindahan negara lain yang dijadikan sebagai tempat berlibur.


Pada hari ini Adnan, Airin dan Shana sudah tiba di Indonesia setelah mengunjungi negara Perancis.


"Hey Adnan!!" Teriak panggil seseorang.


Mereka bertiga spontan menoleh. Airin terkejut melihat siapa yang setengah berlari menghampiri mereka dengan semangat.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Adnan pura-pura tidak tahu, padahal ia tahu jika Daniel kemarin berada di Perancis bahkan dia melihat Daniel mengantarkan Airin pulang ke hotel.


"Aku baru kembali dari Perancis juga, Ada urusan bisnis di sana. Kemarin aku bertemu dengan kakak ipar saat dia tersesat. Aku tidak tahu jika kalian berlibur ke Perancis juga. Jika tahu kalian akan pulang hari ini, kita bisa pulang bersama-sama." Jelas Daniel.


"Apa kau yakin mengurus bisnis mu? Atas dasar apa kau datang ke Perancis?" Interogasi Adnan.


"Benar. Aku datang karena mendapatkan klien dari negara itu. Dia mengatakan akan segera mengunjungi Indonesia untuk menjalin kerjasama." Ujar Daniel entah benar atau tidak, jelas yang kita tahu dia datang ke Perancis seolah membututi Airin.


Adnan mengangguk mengiyakan. Kemudian pandangannya beralih pada Airin.


"Kau pulanglah bersama Daniel! Aku memiliki keperluan lain bersama Shana masalah pekerjaan." Bicara Adnan pada Airin.


Daniel hanya tersenyum smirk mengakui kehebatan akting sepupunya itu. Adnan pikir Daniel ini tidak tahu kebusukannya, sehingga Adnan hanya berpikir Shana ada di sana karena untuk menjemput kepulangannya dan segera mulai bekerja.


"Adnan, jangan gila. Kalian baru saja sampai, dan kau langsung ingin melanjutkan keperluan lain?! Sampai meninggalkan Airin? Kenapa kau tidak membawanya saja bersama kalian? Dengan begitu nanti kalian bisa pulang bersama. Kau tidak kasihan dengan Airin?!!" Ujar Daniel. Padahal ia bersenang hati untuk menerima Airin pulang dengannya.


"Kenapa jadi kau yang marah? Istriku saja tidak keberatan. Bahkan dia senang bisa pulang bersamamu, lya kan istriku?"


"I-iya, tidak apa, aku akan pulang dengan Tuan Daniel saja jika Tuan memiliki keperluan." Jawab Airin memaksa tersenyum. Meski dirinya tahu, suaminya tidak benar-benar memiliki keperluan di Perusahaan.


Kecurigaan Adnan pun semakin meningkat, Ia sudah membuat jebakan dan berhasil membuat mangsanya masuk.


"Baiklah. Jika begitu kami pergi. Ayo kakak ipar!!" Kata Daniel.


"Tuan, Aku duluan." Ujar Airin terdengar sumbang.


"Hemm... Kalian hati-hati." Jawab Adnan dingin.


Menatap kepergian istri dan sepupunya yang semakin menjauh. Lantas dirinya ikut pergi mengambil arah lain bersama Shana.


Adnan setengah berlari menghampiri mobil terparkir yang sudah menunggunya.


Dalam perjalanan menghampiri mobil, Adnan dan Shana berbincang.


"Apa kau yakin memberikan wanita itu dengan sepupu mu?" Tanya Shana.


"Aku bukan memberikannya. Aku hanya ingin tahu sejauh mana sepasang kekasih gelap itu melangkah." Adnan seperti jeruk makan jeruk. Ia bisa menyebut orang lain kekasih gelap, Padahal ia sendiri yang menggambarkan kata itu.


"Kau yakin istrimu akan langsung pulang?"


"Apa maksudmu, Sayang?"


"Bagaimana jika dia tidak langsung pulang, dan malah berkesempatan keluar dengan pria lain?"


"Aku bahkan tidak peduli. Sudah, jangan memikirkan dia. Ingin kemana kita sekarang?"


"Kau ini tidak ada habisnya mengajak ku jalan. Emm kita makan ditempat favorit kita saja. Kebetulan kita belum memakan apapun sejak keberangkatan kita untuk pulang, sudah lama juga kita tidak ke sana."


"Ide bagus. Ayo!"


Adnan menggandeng tangan Shana memasuki mobil yang dipesannya, memberi tahu tempat tujuan pada supir dan mobil melaju.


Di sisi lain~


"Airin, kita mampir makan dulu, ya. Aku yakin belum ada makanan yang masuk ke perutmu." Bicara Daniel sambil melajukan mobil pada Airin yang akan diantar pulang.


"Tidak perlu, Tuan. Kita langsung pulang saja. aku juga tidak lapar." Ujar Airin terlihat murung.


"Aku tidak suka penolakan, Airin. Kau harus jaga kesehatan dan makan teratur. Jika kau sakit ku yakin tidak akan ada yang mempedulikan mu di rumah itu."


"Baiklah Tuan, Aku menurut saja." Jawab Airin