My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 28 : Paparazi



Terhitung sudah Dua minggu Shana menginap di mansion Adnan dan Airin.


Malam hari, Airin segera mendekati meja makan yang terlihat masih kosong.


"Selamat malam, Rissa..."


"Malam Nyonya . Mari duduk, saya sudah siapkan makanan kesukaan, Nyonya Airin."


Airin menduduki kursi setelah Rissa menyiapkan piring di depannya.


Tidak lama, Adnan dan Shana menuruni tangga bersama menuju meja makan yang sudah ada Airin di sana. Airin yang melihat keduanya mulai duduk di kursi masing-masing pun menghentikan makannya.


Airin menggebrak meja makan menggunakan tangan yang masih memegang sendoknya itu sangat keras.


"Rissa, Aku sudah selesai. Aku akan kembali ke kamar." Ujar Airin ia bangkit dari duduknya.


"Tapi, Nyonya Airin baru makan dua suap. Dan sekarang sudah ingin menyudahinya?!"


"Aku kenyang. Aku sudah tidak nafsu makan. Emm, buatkan aku jus mangga saja dan antarkan ke kamar ku." Pinta Airin.


"Baiklah Nyonya, akan saya buatkan. Nanti saya antar ke kamar."


Airin tersenyum tipis. Tanpa melihat orang lain, Airin segera bergegas pergi dari sana meninggalkan meja makan.


Adnan menatap kepergian Airin yang sama sekali tidak meliriknya sedari tadi, Hingga suara Shana menyadarkannya.


"Sayang, Kau ingin apa? Akan aku ambilkan." Ujar Shana menyadarkan lamunan Adnan.


"Apa saja. Apapun yang kau berikan aku akan memakannya." Lirih Adnan menjawab.


Mereka pun mulai makan malam hanya berdua di meja makan yang tersedia banyak menu makanan itu.


Di sisi lain...


Terdapat Kenzo dan Daniel yang sedang berbincang sudah lama. Kedua sepupu itu memang memiliki kedekatan yang harmonis dibandingkan dengan kakak-kakaknya, sehingga cukup sering berkumpul berdua. Kemudian, karena masih ada keperluan lain, Kenzo mengakhiri perbincangannya dan memutuskan untuk pergi ke tempat lain.


"Baiklah, Aku harus pergi." Ujar Kenzo sembari melihat jam tangannya.


"Kau pergi ke perusahaan??" Tanya Daniel.


"Tidak. Aku ada janji di tempat lain."


"Pulang?!" Tanya Daniel terus memastikan.


Kenzo menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Daniel menatap dalam Kenzo dari atas ke bawah.


"Kenapa menatapku seperti itu? Tatapan mu menjijikkan, Daniel. Aku bukan gay, wanita masih sangat menggoda!" Ketus Kenzo memutar matanya malas.


Daniel terkekeh.


"Kau tidak sedang ada janji dengan kekasihmu, kan, Ken?" Kata Daniel menggoda.


"Jangan mengada-ada. Sejak kapan aku memiliki kekasih?! Sudahlah, makin lama bicaramu semakin sembarangan. Aku pergi dulu. Kau juga jangan pulang terlalu larut."


"Hmm.. Hati-hati, Ken..."


Dan Kenzo pun beranjak pergi.


Sesaat setelah kepergian Kenzo. Seseorang menghampiri meja Daniel yang masih ada di sana. Sepertinya orang itu sudah lama mengintai pergerakan Kenzo untuk segera pergi agar ia bisa menghampiri Daniel.


"Tuan..."


"Duduk!!" Titah Daniel.


Tanpa menatap, Daniel tetap menunduk memainkan gelas minumannya karena ia sudah menyadari siapa yang datang. Tak lama, ia pun mengangkat kepala menatap lawan.


"Kau membawa apa?" Tanya Daniel kemudian.


"Saya ingin melapor...."


Orang tersebut mulai memberitahukan laporannya pada Daniel. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari lawan bicaranya, Daniel cukup kesal!


"Tetap awasi mereka dan beri tahu aku seperti biasa!! Jangan ada yang terlewat sedikitpun." Titah Daniel.


"Baik Tuan, Jika begitu saya permisi." Orang itu berdiri dari duduknya. Setengah membungkuk memberi hormat pada Daniel, pria itu pun melenggang pergi.


Daniel kembali meminum minumannya. Sebelah tangannya merogoh saku celana mengambil ponsel. Ia mengetikkan suatu pesan, lalu menghubungi seseorang melalui telepon.


...***...


Keesokan Harinya di hari minggu...


Hari libur ini semua penghuni mansion Adnan tidak ada kegiatan apapun, jadi mereka memiliki waktu satu libur yang terbebas dari pekerjaan di perusahaan. Airin sedang menonton televisi di ruang tengah, Shana sedang di kamar tamunya, Dan meski begitu Adnan di ruang kerjanya.


Shana menuruni tangga, menghampiri Airin yang sedang menonton televisi. Tanpa diminta ia langsung duduk di sofa samping Airin.


Nyonya Airin, Aku haus. Tolong buatkan aku jus mangga! Aku ingin sekali minum yang segar." Ucapnya lancang.


Airin pun terkejut saat mengetahui kedatangan Shana yang tiba-tiba ada di sampingnya.


"Aku bukan pembantu mu." Ketus Airin. Ia kembali fokus pada layar televisi.


"Tapi kau Nyonya rumah. Jadi, Nyonya rumah harus melayani tamunya, bukan?!"


"Siapa yang meminta mu datang sebagai tamu dan menginap. Bukankah Tuan rumah yang membawa mu kemari. Minta saja dia untuk melayani mu." Ketus Airin melawan.


Shana sangat kesal. Ia ingin membalas ucapan Airin tapi terpotong karena kedatangan Adnan dari arah ruang kerja dan sekarang berada di dapur.


"Airin!! Aku lapar. Kenapa di meja tidak ada makanan? Kau belum memasak? Sudah tahu hari ini libur dan semua orang ada di rumah, kenapa kau tidak segera memasak yang banyak." Teriak dan mengomel Adnan dari dapur.


"Aku memasak..." Jawab Airin mendatangi dapur.


"Lalu, mana makanannya jika kau memasak?" Tanya Adnan.


"Sudah habis. Aku memasak hanya untukku saja dan Rissa, Jika kau ingin makan, masak saja sendiri!" Ketus Airin berani.


"Apa?! Kenapa kau malah menyuruhku memasak? Itu sudah tugasmu sebagai istri memasakkan suaminya. Kau memang istri tidak becus!!" Hardik Adnan.


Airin beralih menatap Adnan tajam.


"Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kau menganggap ku istri?! Dan sejak kapan kau ingin memakan masakanku, hum?! Apa kau sedang mabuk?" Hardik Airin tidak ingin kalah dan terlihat lemah saat ditindas begitu saja.


"Apa sekarang kau mulai membantah perintah ku?" Gertak Adnan yang terus memakai istrinya.


"Selama ini aku tidak pernah membantah apapun perintah mu. Tapi sekarang aku sadar apapun perintahmu, bukanlah urusan dan tanggung jawabku, Tuan Adnan."


"Apa begini cara istri yang baik melayani suaminya?! Memasakkan suami saja tidak ingin. Pantas saja Adnan tidak pernah menyukai mu. Apalagi menganggap mu sebagai istri. Kau se-..." Timpal Shana ikut campur.


Airin mendekati Shana. Mendekatkan wajahnya di samping telinga Shana, dan mulai membisikan sesuatu di sana.


"Jagalah calon suami mu dengan baik. Sebelum wanita lain datang dan merebutnya darimu seperti kau yang merebut suami dariku!!" Kecamnya berbisik. Setelahnya, Airin melenggang meninggalkan keduanya.


Shana hanya tertegun, ia tidak mampu lagi untuk berkutik.


Satu jam kemudian.


Pandangan Adnan yang sedang berada di ruang utama beralih pada Airin yang menuruni tangga dengan pakaian rapi dan tas selempangnya. Saat ini Adnan dan Shana sedang duduk bersama menunggu datangnya pesanan makanan yang mereka pesan online.


"Ingin kemana kau?"


"Keluar..." Jawab dingin Airin.


"Dengan siapa?" Tanya Adnan terus bertanya karena sangat ingin tahu kemana istrinya itu pergi.


"Calon Kekasih!!" Brutal Airin menjawab dan seketika Adnan terkena mental.


"Aku tidak mengizinkan mu pergi!!" Gertak Adnan melarang.


"Aku tidak perlu izin darimu." Airin terus melangkahkan kakinya yang tidak peduli dengan larangan Adnan.


Adnan pun berjalan dekat semakin menghampiri Airin, ia menghalangi jalannya yang langsung menarik dan mencekal tangannya, membuat Airin tidak bisa melanjutkan langkahnya.


"Jika kau tetap akan pergi, Kau akan tahu akibatnya!!" Kecam Adnan dengan mata elang nya.


"Dan apa kau melihat wajah ku ini peduli?!" Savage Airin menjawab. Ia pun segera menghempaskan cengkeraman tangan suaminya sangat kuat hingga berhasil terlepas meskipun menanggalkan bekas merah.


"Berhenti, Airin!! Kembali ke kamar mu!! Airin! Airin!! Yak Airinn!!!..." Teriaknya terus memanggil keras tapi dihiraukan karena Airin sudah bosan dengan ancaman Adnan yang tidak ada apa-apanya.


Adnan terus menatap kesal dan beberapa kali mengusap wajahnya kasar frustasi melihat istrinya itu sudah jauh menghilang di telan pintu.


"Adnan, Airin tetap pergi." Kata Shana. Yang membuat semakin Adnan seperti kehilangan akal. Tapi kenapa, bukankah seharusnya tidak masalah?!


...***...


Airin berhak pergi kemanapun yang ia inginkan. Suaminya saja selalu pergi dengan sang kekasih tanpa memikirkan perasaannya.


"Jovita... Bila?!" Panggil Airin ketika sampai dan langsung menyapa.


"Uh!! Airin. Aku kira kau tidak akan datang." Kata Jovita menyambut kedatangan temannya.


"Maaf, sudah membuat kalian lama menunggu. Tadi sempat ada drama." Jawab Airin.


"Apa karna pria itu tidak mengizinkan mu?" Tanya Jovita enggan menyebut nama Adnan karena ia sudah tahu tentang perselingkuhan Adnan.


"Awalnya iya, tapi aku tidak peduli." Jawab Airin.


Airin mendudukkan dirinya di kursi samping Jovita dan mulai memainkan ponselnya.


"Memangnya kau mengatakan akan kemana?" Tanya Bila.


"Kencan dengan calon kekasih." Jawab Airin yang Jovita dan Bila terbahak mendengarnya.


"Bodoh! Pantas saja dia tidak mengizinkan mu keluar. Istrinya saja mengatakan akan berkencan dengan pria lain. Sudah dipastikan suami mu itu cemburu." Terkekeh Bila yang belum mengetahui jika sebenarnya hubungan mereka tidak baik-baik saja dan Adnan sendiri selingkuh. Maka dari itu, Bila pikir itu bentuk dari keharmonisan mereka.


Jovita yang mendengarnya pun hanya tersenyum kecut sama seperti Airin.


"Aku tidak peduli." Ucap Airin demikian.


"Waahh... Apa itu tandanya kau sudah mulai menjadi istri pembangkang?!! Hati-hati, Airin. Karma itu pedas!" Kata Bila mewanti-wanti.


"Aku sudah sangat muak. Selama ini aku diam karena aku pikir, aku sudah berusaha menjadi istri yang baik dan sabar. Tapi sekarang, tidak. Kita lihat saja, sampai kapan dia memperlakukanku sebagai istrinya seperti ini!!"


Kata Airin yang dimengerti oleh Jovita, tapi sebaliknya Bila malah kebingungan.


"Maksudnya??" Tertegun Bila bertanya.


"Bila, Kau tidak tahu jika Adnan selama ini SELINGKUH!!" Ungkap Airin memberitahukan aib suaminya.


"APAAAA!!!" Teriak Bila keras sekali sampai ia terperanjat dari duduknya. Semua orang yang ada di restoran pun sampai sontak menatap ke arah Bila.


"Ssstt... Jangan keras-keras! Ayo duduk kembali." Titah Jovita menenangkan Bila yang masih syok.


"Airin, Kau tidak sedang bercanda?? Adnan suami mu itu Selingkuh?!" Tanya Bila pelan.


"Benar. Aku sendiri sudah menceritakannya pada Airin dan aku sangat terkejut jika bahkan Airin sudah tahu sejak lama. Aku pikir dia belum mengetahui perselingkuhan suaminya dengan begitu aku berniat memberitahunya. Kau harus tahu Bila! Dulu, aku melihat mereka sedang jalan bersama di restoran dan sikap Adnan romantis sampai mencium kening wanita itu. Sungguh! Aku berani bersumpah karena aku melihat dengan mata di kepalaku sendiri." Ungkap Jovita juga.


"Benar yang dikatakan Jovita. Jika bukan dia yang mendorong ku untuk lebih kuat, maka aku tidak akan bisa melawan makhluk itu. Sudah lama dan memang tidak ada yang tahu sejak awal, tapi aku berusaha merahasiakannya dari semua orang dan memendam rasa sakit sendirian." Kata Airin menunduk dan tidak sadar mengeluarkan air matanya.


"Dasar pria brengsek! Berani sekali dia bermain di belakang mu. Sahabat ku jadi harus menahan sakit. Kenapa tidak bercerita pada kami sejak awal?" Ucap Bila sangat merasakan kesedihan Airin dan ia juga ikut menangis.


"Airin, kami selalu ada untukmu. Selalu beri beritahu kami saja jika ada masalah." Ujar Jovita juga.


"Jovita, Bila, Terima Kasih. Tapi tolong jangan beritahu masalah ini pada Kak Dario dan Kak Andra ataupun pada yang lainnya, ya. Aku tidak ingin mereka khawatir." Pinta Airin masih.


Jovita dan Bila mengangguk dan memeluk sahabatnya itu erat.


Beberapa hari lalu setelah kepulangan Airin dari Shanghai, Jovita melakukan pertemuan untuk memberitahu perselingkuhan Adnan pada Airin. Jovita memaksa Airin untuk bercerita. Tapi Airin menolak untuk mengumumkan perselingkuhannya pada semua orang karena ia tidak ingin mencari masalah. Tapi hari ini ia sengaja memberitahu pada yang lain secara perlahan.


Ponsel Airin berdering. Airin segera mengangkat panggilan ketika dibacanya nama si penelepon adalah "Kak Andra", Dan tidak lama Airin menutup panggilan.


"Kenapa?" Tanya Jovita.


"Kak Andra mengundang ku dan pria itu makan malam di rumahnya. Nanti aku akan menyusul. Sekarang, ayo kita pulang. Aku juga merindukan Kak Kirana." Ucap Airin dan seketika membuat pertemuan mereka bubar untuk pulang.


...***...


Di sisi lain...


Shana sedang merengek pada Adnan untuk meminta sesuatu yang bisa dikabulkan kekasihnya.


"Sayang, aku ingin melihat apartemen ku. Sudah sampai progres mana tahap renovasinya. Bolehkan jika aku kesana?" Rengek Shana yang rupanya Adnan membangunkan Apartemen untuk kekasih gelapnya itu.


"Aku akan mengantar mu. Sekalian aku akan ke rumah Kak Andra, karena ia mengundang ku datang ke rumahnya." Kata Andra.


"Tidak sayang, Aku akan membawa mobil sendiri. Kau juga tidak perlu repot-repot menjemput ku. Jika aku diantar, bagaimana nanti aku bisa pulang. Lagipula tidak tahu juga kau akan sampai pukul berapa di rumah kakak mu." Kata Shana sembari menyenderkan kepala di bahu Adnan.


"Baiklah. Tapi tetap, kita berangkat bersama. Aku akan mengawalmu dari belakang."


"Baiklah, Tidak masalah. Terima Kasih..." Setujunya dengan mengecup sekilas pipi Adnan.


Tidak jauh dari mereka. Seseorang mengamati keduanya. Dan...


Cekrek!!!


Suara kamera paparazi yang memotret keduanya tepat saat Shana mengecup pipi Adnan dengan hasil gambar yang sempurna sesuai yang diharapkan.