
Pukul 23.00 Wib.
Adnan baru saja memasuki Mansion nya. Siang tadi Shana memaksa untuk pulang, dirinya tidak betah terlalu lama di rumah sakit. Karena luka Shana tidak serius, jadi dokter mengizinkannya. Adnan mengantar Shana pulang ke apartemennya. Sehingga, ia rela untuk cuti bekerja hari ini di perusahaannya demi mementingkan kesembuhan Rissa. Dan menemaninya hingga larut.
"Rissa!!" Panggil Adnan ketika baru saja sampai.
Rissa yang terpanggil, berlari kecil menghampiri Adnan. Rissa memang belum tertidur sebelum semua penghuni Mansion sudah pulang. Dan memilih berjaga untuk membuka pintu.
"Iya Tuan. Tuan Adnan membutuhkan sesuatu?
"Daniel sudah pulang?"
"Tuan Daniel masih di dalam kamar Nyonya Airin, Tuan. Beliau sepanjang hari yang menjaga Nyonya." Jawab Rissa demikian.
"Dalam kamar?! Berdua?!" Tegun Adnan terpekik.
Rissa mengangguk.
"Nyonya sedang sakit. Jadi, Tuan Daniel menemaninya."
Kemudian, Adnan pergi begitu saja menaiki anak tangga dengan raut wajah tidak peduli lagi. Ia cukup kesal dengan pernyataan dari Rissa mendengar Daniel yang lebih perhatian darinya. Tapi apa pedulinya, ia semakin bodo amat Daniel ingin melakukan apapun dengan istrinya itu. Meskipun ada sedikit rasa marah, ia sebaiknya pergi ke kamar untuk beristirahat.
...***...
Pagi itu, matahari bersinar cerah. Angin berkesiur menarikan dedaunan sebagaimana mestinya. Suasana pagi tetap dingin seperti seharusnya. Dan setiap bangun untuk mulai menjalankan aktivitasnya.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa Rissa pada Adnan yang sudah rapi.
"Hmm..."
Matanya memerhatikan gerak gerik Rissa.
"Kau sedang apa?"
"Saya sedang bersih-bersih, Tuan." Jawab Rissa tetap menjawab meskipun seharusnya Adnan melihat jika Rissa sedang melakukan apa.
"Apa kau sudah memasak?"
"Sarapan untuk Tuan sudah siap di meja."
"Untukku?! Untuk Airin?"
"Oh, Sarapan untuk Nyonya Airin sudah disiapkan Tuan Daniel. Tadi Tuan Daniel memasak sendiri untuk sarapannya Nyonya. Jadi, saya diminta menyiapkan sarapan untuk Tuan Adnan saja." Jawab Rissa jujur karena ingin memanasi Tuannya dan melihat bagaimana reaksi pria angkuh itu.
Tidak menjawab. Adnan kembali menaiki anak tangga.
Brak!!
Pintu ditendang keras dari arah luar di kamar Airin.
"Apa kau tidak ingin pergi?" Bentak setelahnya menggema diseisi ruangan tersebut.
"Kau sudah menginap sekamar dengan wanita bersuami!" Bentaknya lagi.
Airin menoleh mendengar pintu yang dibuka kasar, menampilkan suaminya dengan raut wajah tidak biasa. Sedangkan Daniel, hanya melirik malas pria di depannya.
"Jika aku pergi, apa kau bisa menjaganya seperti menjaga selingkuhan mu itu? Biar ku jawab. Pasti tidak. Bahkan kau tidak pernah mempedulikan istrimu sendiri."
Adnan diam menatap Daniel tajam.
"Lebih baik kau yang pergi. Kau bahkan tidak ada gunanya di sini. Apalagi sebagai suami, tidak berguna sama sekali." Ketus Daniel lagi.
"Jangan mencampuri rumah tanggaku. Dia tanggung jawabku, bukan tanggung jawabmu. Dia istriku, bukan istrimu. Lebih baik kau pergi, sebelum habis kesabaranku." Kecam Adnan.
"Tanggung jawab seperti apa yang kau bicarakan, Adnan?! Apa kau sudah melaksanakan tanggung jawabmu sebagai suami? Sudah?! Aku rasa belum. Apakah tanggung jawabmu itu dengan menyakiti istrimu sendiri. Itu yang kau maksud tanggung jawab? Lebih baik kau perbaiki dulu dirimu sebagai seorang suami, baru bicarakan tanggung jawab yang sebenarnya. Rawat saja kekasih tersayangmu yang tidak tahu diri itu. Airin, biarkan aku yang merawatnya!!" Ucap Daniel penuh penekanan dan tersenyum kemenangan.
"Kau-..." Adnan melayangkan kepalan tangannya, hendak memukul Daniel. Tapi tertahan karena seruan Airin.
"Sudah cukup!!!! Lebih baik kau keluar dari kamarku, Tuan Adnan!!" Teriak Airin mengambil tindakan.
"Ini Mansion ku. Kau mengusirku di Mansion ku sendiri?"
"Baik. Jika begitu biarkan aku yang keluar. Ayo Tuan Daniel!" Airin bangkit dari ranjangnya. Ia menarik tangan Daniel dan pergi melewati Adnan, tapi Adnan lebih dulu menghalangi jalannya.
"Kau menentang suamimu hanya demi pria lain?"
"Suami mana yang kau maksud, Tuan Adnan? Suami hanya status, nyatanya aku tidak benar-benar memiliki suami. Sesuai permintaan mu, Jangan ikut campur urusan masing-masing. Jangan karena aku menempati rumah ini, itu artinya aku ingin tinggal di sini bersama mu. Sekalipun kau mengusir ku, Kau tidak bisa berharap aku akan kemalangan tersiksa di jalanan. Kakak ku adalah orang mampu, kami pun masih bisa membeli semua apartemen yang ada di dunia ini, jika kami menginginkannya." Ketus Airin.
Airin mendekatkan kepalanya pada Adnan. Tepat beberapa centi hidung mereka hampir menempel.
"Aku akan mengurus perceraian kita. Sesuai keinginanmu dan kekasihmu, Tuan Adnan yang terhormat."
Keduanya saling menatap lekat. Airin lebih dulu memutuskan pandangan, dan kembali menarik tangan Daniel, keluar dari kamar.
Adnan tidak mengejar. Ia sedang dirundung keputusan apakah harus mempertahankan Airin atau tidak.
"Tuan Daniel, bisa antarkan aku ke rumah Kak Dario saja? Aku akan tinggal di sana dan sepertinya kembali ke rumah ku sendiri yang setiap harinya dipenuhi kasih sayang."
"Apa kakakmu tahu tentang ini?"
"Aku belum siap memberitahunya. Aku takut jika Kak Dario akan marah."
"Kau kan tidak berbuat salah. Jika Kak Dario tahu maka dia juga pasti akan marah. Itu jauh lebih baik. Suamimu itu sudah sangat keterlaluan."
"Bagaimanapun, Tuan Adnan masih suamiku. Dan aku tidak ingin membuat Kak Dario merasa bersalah menjodohkanku dengannya. Yang pasti untuk saat ini aku belum bisa memberitahunya."
"Lalu, bagaimana jika Kak Dario menanyakan kenapa kau tinggal di sana sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bukannya dia akan curiga dengan keadaan rumah tanggamu?!"
"Aku juga tidak tahu. Tapi selain kesana, aku harus kemana?!" Gundah Airin kebingungan.
"Jovita dan Bila pasti akan membantumu di sana. Atau kau ingin ku antarkan ke tempat Kak Kirana?" Tanya Daniel.
"Jovita dan Bila sedang ke New Zealand, Tuan. Bila menemani Jovita mengambil berkas-berkasnya di sana. Jika Kak Kirana, Tidak Tuan, Itu akan membuat Kak Kirana repot. Aku juga tidak enak dengan Kak Andra. Hubungan ku dengan adiknya sedang tidak baik-baik saja, mana mungkin aku bisa menginap Mansion kakak iparku."
"Jika begitu ikutlah dengan ku. Tinggal di rumah ku sementara waktu." Usul Daniel.
"Terima kasih, Tuan Daniel. Kau sudah banyak membantu ku. Aku tidak bisa tinggal di tempat mu. Aku tidak ingin jika ada yang tahu aku tinggal di aana, pasti akan ada kesalahpahaman jika kita tinggal berdua."
"Kita tidak hanya berdua, Airin. Ada saudari ku di sana. Saudara perempuan ku juga bisa menemanimu di sana. Karena kuliahnya sedang libur, dia baru saja pulang dari Firlandia dua hari yang lalu. Jadi, kau tidak akan kesepian. Tinggal lah di sana, paling tidak sampai Jovita dan Bila kembali."
Airin terdiam untuk berpikir sejenak.
"Emm, Baiklah jika begitu, aku ingin."
Daniel tersenyum. Tidak sadar tangannya terulur mengusak pelan kepala Airin, membuat Airin diam membeku atas perilaku Daniel yang tiba-tiba. Masih setengah sadar dengan apa yang dilakukannya barusan, Daniel kembali fokus menyetir.
Sesampainya di Rumah Daniel...
"Ayo! Masuk saja tidak perlu sungkan." Kata Daniel.
Airin mengangguk. Dan mengekori Daniel memasuki Mansion.
"KAKAKKK!!"
Gadis cantik berlari menuruni tangga dan menghampiri Daniel dan Airin.
"Tck... Jangan berteriak. Kau akan mengejutkan tamu."
"Hehee, Maaf Kakak..." Gadis itu tersenyum lebar menatap Airin dan dibalas Airin tersenyum juga.
"Lagipula kakak kemana saja semalam tidak pulang. Aku menunggumu tahu... Aku baru datang, tapi sudah ditinggal besoknya."
"Aku ada keperluan. Airin, perkenalkan dia adik ku yang ku ceritakan, namanya Jasmine."
"Hallo Kak Airin. Aku Jasmine. Kau sangat cantik sekali." Pujinya ramah.
"Terima kasih, Jasmine. Kau juga cantik." Balas Airin dengan senyuman manisnya.
"Kau tidak ingat, ya. Paman dan bibi kita dengan orang tua Airin ini bersahabat. Dan ayah ibu kita pun cukup mengenal mereka. Bahkan saat kecil kita pernah bermain dengan Airin." Ujar Daniel mengingat masa lalu.
"Oh benarkah? Tapi kenapa aku tidak ingat, ya?" Jasmine tidak menyangka ternyata ia pernah bertemu Airin di masa kecil.
"Wajar saja karena kau dulu masih terlalu kecil. Dan kita harus terpisah dengan keluarga di sini karena ayah mengajak kita tinggal di Amerika."
"Hha... Sangat menarik sekali. Tapi, Apa sekarang kau kekasih Kak Daniel? Karena Kakak ku tidak pernah membawa wanita kemari. Waah.. Kakak, Kau pintar sekali mencari kekasih. Kak Airin sangat cantik."
"Bukan Jasmine... Aku dan Kak Daniel-..." Ucapan Airin terpotong.
"Jasmine, bawa Airin ke kamarnya!! Kamarnya di sebelah kamar mu karena di sana sudah ada beberapa pakaian perempuan milik mu. Kau pinjamkan saja dulu, nanti aku akan membelikan pakaian baru untuk kalian."
"Kenapa tidak sekamar dengan mu saja? Dia kan kekasih mu yang akan menjadi kakak ipar ku."
"Tidak ada fasilitas untukmu selama di sini."
"Iich... Iya, Iya. Aku hanya bercanda. Ayo Kakak!!" Rangkul Jasmine membawa Airin masuk.
Jasmine menggandeng tangan Airin. Mereka mulai pergi menaiki anak tangga.
Kemudian, Daniel mengikuti keduanya menaiki anak tangga. Setelah berada di samping Airin, tangan Daniel terangkat mengacak gemas rambut Jasmine adiknya.
"Kakak... Iiichh... Singkirkan tanganmu. Jadi, berantakan tahu." Kesal Jasmine merapikan rambutnya. Daniel tertawa, lalu tangannya mengusap lembut kepala Airin.
"Aku akan pergi setelah mandi. Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan pada Jasmine." Kata Daniel.
"Terima kasih, Kakak. Sudah sana pergi!! Aku yang akan menjaga Kak Airin." Jahil Jasmine yang menjawab.
Daniel berdecak. Dan kembali mengacak rambut Jasmine hingga benar-benar berantakan. Lalu, berlari pergi menghiraukan teriakan kesal Jasmine.