
Daniel terbangun. Hal pertama yang dilihatnya adalah gadis kecil yang masih tertidur di dekapannya. Wajah polosnya sangat menggemaskan.
Cantik!
Tak sadar, dirinya tersenyum. Mengamati lamat-lamat di setiap inci wajah Airin.
Unghh...
Menyadari lenguhan Airin, mungkin sebentar lagi gadis ini akan bangun, Daniel kembali memejamkan mata untuk pura-pura tidur.
Airin membuka mata. Hidung mungil mancungnya tepat pada dada bidang seseorang, ia mengangkat kepala, maniknya menatap wajah tampan Daniel yang masih tertidur. Sangat lama Airin menatapnya.
Hnnggg...
Lenguhan Daniel menyadarkan Airin, mengedipkan mata berulang kali mengira Daniel akan terbangun karena takut kepergok sedang menatapnya, Airin buru-buru menutup mata untuk kembali tidur berpura-pura.
Dan benar, Daniel membuka mata setelah Airin menutup matanya. Daniel tersenyum dalam diam melihat tingkah Airin yang pura-pura tertidur, tangannya terangkat menyentuh kening Airin, demamnya sudah turun. Kemungkinan besok Airin sudah lebih baik. Setelahnya, Daniel semakin mempererat pelukannya dan kembali memejamkan mata. Dan keduanya kembali tertidur. Apakah tindakannya kali ini boleh dilakukan? Memeluk begitu erat istri orang dan terbaring di ranjang yang sama?
...***...
Pukul 9 malam. Adnan baru saja sampai di Mansion.
"Dari mana baru pulang?!"
Suara tiba-tiba yang di dengar di ruang utama, membuat Adnan menoleh dan setengah terkejut.
"Kakak!! Kau di sini? Sejak kapan? Apa sudah lama?" Pekik Adnan refleks terperanjat.
"Lumayan. Sejak tadi. Kau dari mana?" Tanya Andra yang mendatangi mansion adiknya itu setelah melihat kelakuan adiknya yang selingkuh pagi tadi.
"Dari perusahaan." Jawabnya santai. lalu mengambil posisi duduk di sofa seberang kakaknya.
Andra tidak mengatakan apapun lagi. Ia hanya tersenyum kecut baru mengetahui adiknya ini cukup lihai dalam berbohong. Andra menatap datar adiknya yang mulai sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Bagaimana kabar istrimu?" Tanya Andra demikian.
"Dia baik. Kakak kan tahu, dia diajak pergi ke Tiongkok bersama kakak ipar, mungkin sekarang mereka sedang bersenang-senang." Jawab Adnan.
"Mungkin?!! Apa kau tidak pernah menghubungi istrimu selama dia pergi sampai kau menjawab mungkin?!" Ketus Andra memancing jawaban Andra yang ingin sekali ia dengar alasannya itu.
"Dia baru saja menelepon ku tadi sore."
Adnan menjawab, tapi sejak awal pandangannya tidak teralihkan dari ponsel. Membuat Andra sangat geram.
"Istrimu itu tidak ada terjadi sesuatu, ya. Kau pernah terlintas tidak, jika Airin sedang sakit?" Tanya Andra selalu memancing pertanyaan jebakan.
"Mana mungkin seseorang yang datang ke Negara seseorang sakit. Mereka pasti akan bersenang-senang." Jawab Adnan. Ia pikir kakaknya itu bodoh.
Andra tahu adiknya berbohong karena Daniel yang menjaga Airin selalu memberi kabar pada kedua pria itu dan juga istrinya. Dan baru saja sejam lalu Daniel meneleponnya, memberi kabar, jika Airin sudah lebih baik. Dan dari siang hingga menjelang petang Airin tertidur pulas.
"Kau benar-benar sudah menghubungi istrimu?"
"Hmm..." Jawabnya sebatas berdehem.
"Lalu, Kau darimana baru pulang?"
"Tck, Sudah ku katakan. Aku dari perusahaan? Memang kemana lagi selain aku bekerja seharian di sana." Kesal Adnan sampai membentak.
"Sampai semalam ini?" Ujar Andra terus menerus menginterogasi.
Adnan diam sejenak.
"Klien tiba-tiba menemui ku mendadak ketika ku ingin pulang setelah pertemuan ku dengan Tuan Maxim."
"Klien?! Siapa? Asisten mu mengatakan sore tadi tidak ada tamu yang datang. Bahkan dia pulang paling terakhir." Ucap Andra yang bersekongkol dengan Reynand Asisten pribadi Adnan.
Adnan kembali terdiam.
Andra berdiri dari duduknya dan menatap Adnan. Ia menarik kerah Adnan begitu kuat dan meraih handphonenya Adnan dengan kasar, lalu melemparnya dari ketinggian yang cukup keras.
"Aku tahu apa yang kau lakukan! Sebaiknya jangan mencari masalah, Sebelum ku tarik kembali semua saham mu, meskipun kau orang yang berpengaruh dalam memimpin perusahaan!!" Kecam Andra begitu sangat tajam dan penuh penekanan. Matanya sampai memelototi hingga bola matanya ingin terlihat keluar.
"A-apa maksud Kakak?" Tanya Adnan sangat terkejut.
"Pikirkan baik-baik sebelum bertindak. Aku pergi." Andra menghempaskan tubuh adiknya dari yang terduduk di sofa sampai tersungkur di lantai.
Andra pergi begitu saja melewati Adnan. Tidak melirik Adnan yang menatapnya bingung.
...***...
"Kau sudah bangun?" Sambut Daniel bertanya.
Airin menoleh pada pria yang berdiri di samping pintu yang terbuka.
Daniel berjalan mendekati ranjang.
"Apa sudah lebih baik? Masih pusing?" Tanya Daniel begitu lemah lembut. Tangannya tergerak memeriksa kening Airin.
"Aku sudah tidak apa-apa, Tuan. Sepertinya aku sudah sehat. Terima kasih sudah merawat ku selamat sakit, dan maaf jika terlalu banyak merepotkan mu, Tuan Daniel..."
Daniel tersenyum dan mengacak pelan rambut Airin.
"Mandilah! Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah itu, kita makan bersama. Aku akan menunggu di bawah."
"Baiklah..."
Setelahnya, Daniel pergi keluar kamar dan Airin mulai melakukan aktivitasnya membersihkan diri.
Tak lama, mereka ada di ruang makan.
"Tuan, kapan kita akan menyusul Kak Kirana dan Kak Della ke Beijing? Pasti mereka menunggu kita." Tanya Airin di sela makan mereka.
"Kita tidak akan kesana, Airin. Kita akan langsung pulang." Jawab Daniel.
Airin menatap Daniel bingung.
"Kenapa? Karena kakak ku dan Kak Andra pagi ini akan menjemput mereka ke Beijing? Lalu, bagaimana dengan kita?!"
"Setelah kau benar-benar sembuh, kita akan kembali ke Indonesia."
"Tapi aku sudah sembuh. Apa kita akan kembali sekarang juga?"
"Tidak, kita akan kembali lusa!" Ucap Daniel penuh penekanan.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin Airin tanyakan dalam benaknya. Kenapa harus lusa karena mereka bisa pulang sekarang?!
Pukul 13.45 Waktu di Tiongkok.
Airin sangat bosan seharian di rumah. Sejak tadi dirinya mondar-mandir mencari kesibukan. Entah menonton televisi, namun siaran tayangannya sesuai negara setempat yang pasti Drama China, membersihkan kamar, bermain dengan kolam ikan, mencuci piring bersih, mencuci pakaiannya dan Daniel, membaca koran pun dilakukannya agar fisiknya bergerak.
"Tadi mengatakan akan pergi sebentar. Tapi sudah pergi selama tiga jam belum kembali." Murung Airin kesepian di sana karena menunggu Daniel pulang setelah pergi keluar.
"Aku pulang..." Seru Daniel dari arah pintu.
Mendengar suara seseorang, membuat Airin kembali semringah menoleh ke sumber suara. Daniel datang dengan beberapa tote bag di tangannya.
"Pasti kau lapar, bukan? Aku membawakan makanan kesukaanmu."
Daniel semakin tersenyum lebar ketika senyum Airin semakin mengembang.
Keduanya sudah berada di meja makan.
"Tuan, bisakah kita kembali ke Indonesia nanti sore?!" Pinta Airin dengan wajah memelas.
"Kau ingin kembali nanti sore? Kenapa terburu? Rindu suami mu?" Tanya Daniel demikian. Padahal ia yang masih ingin memiliki banyak waktu bersama Airin.
Canda Daniel menggoda Airin, dan mendapat jawaban gelengan dari si gadis.
"Bukan begitu, tadi Kak Kirana menelepon, katanya mereka sudah pulang dan mereka pikir kita sudah pulang lebih dulu dari mereka." Ujar Airin menunduk karena sedih.
"Jadi, Kau ingin kembali juga?"
Airin mengangguk.
'Tidak untuk sore ini. Kau baru saja sembuh kita pulang besok, ya!" Bersikeras Daniel seolah melarang dan mengulur waktu untuk lebih lama.
"Tapi aku sudah benar-benar sembuh, Kak. Lihat! Aku sudah sehat." Airin berusaha meyakinkan pria di depannya dengan memutarkan badan agar pria itu bisa menelisik.
"Tuan Daniel, Kita pulang sore ini, ya?! Ya.. ya.. ya..." Airin sangat memelas untuk meminta cepat dipulangkan. Seperti anak kecil yang meminta dibelikan Kinder Joy oleh ibunya.
Daniel menghela napas panjang berusaha sabar.
"Baiklah. Kita pulang sore ini. Setelah ini kita kemas barang-barang." Akhirnya Daniel luluh dan terpaksa mengubur mimpinya untuk tetap menunggu waktu lebih lama bersama Airin.
Airin bertepuk tangan, bersorak gembira. Membuat Daniel yang melihatnya ikut tertawa karena gemas.