
Pukul 20.00 malam.
Airin baru saja tiba di Mansion Andra.
"Malam Semuaa.. Maaf, aku terlambat." Kata Airin menghampiri semua yang sudah berkumpul dan terlihat Adnan di sana.
"Baru saja dibicarakan. Si cantik sudah datang." Ucap Andra menyambut kedatangan adik iparnya.
Airin tersenyum malu, setelah mendapat pelukan dari kakak iparnya.
"Ayo kemari!! Jangan dengarkan dia." Goda Kirana dan ikut memeluk Airin erat, lalu menuntun Airin untuk duduk di samping Adnan yang kedua jadi terlihat bersitegang.
"Kenapa kau tidak berangkat bersama, Adnan? Apa dia tidak memberitahumu jika kami mengundang kalian makan malam?" Tanya Kirana.
"Bukan begitu, Kak. Tadi aku sedang di luar dan mampir ke rumah Tuan Daniel. Jadi, aku meminta suamiku untuk berangkat lebih dulu." Ucap Airin sedikit mengarang untuk memanasi Adnan.
"Apa dia tidak berniat menjemput mu?" Tanya Andra melirik Adnan.
"Suamiku tadi menawarkan, tapi aku tidak ingin. Jarak rumah Tuan Daniel dan Kak Andra berlawanan, aku kasihan jika suamiku harus menjemput ku. Lagipula aku membawa mobil."
Airin beralih menatap Adnan dengan tersenyum, mendekatkan sebelah telapak tangannya di atas punggung tangan Adnan bersandiwara agar kedua kakaknya melihat hubungan romantis mereka.
"Apa Tuan tadi kesulitan memilih baju? Maafkan aku tidak bisa menyiapkan pakaian untukmu." Manis Airin berucap. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali mencakar wajah pria so baik itu.
Adnan membalas genggaman tangan Airin dan tersenyum.
"Tidak apa. Aku sudah mengatasinya dengan baik dan aku memilih pakaianku sendiri." Jawabnya penuh kelembutan. Saat itu juga, Airin ingin sekali segera memudarkan seengumanya.
"Tidak buruk, pilihan mu sangat tepat, warna kita senada."
Tanpa sadar, sebelah tangan Adnan mengusap lembut rambut panjang Airin.
"Mesra-mesranya di lanjut nanti saja di rumah. Sekarang ayo kita makan, Aku menyiapkan makanan kesukaan kalian semua." Ajak Kirana.
Semua mulai menikmati makan malam ini. Semua gerak-gerik Adnan dan Airin tidak luput dari perhatian Andra yang sedari tadi berkutat dengan pikirannya sendiri.
Tidak terasa waktu sudah malam. Adnan dan Airin berpamitan pulang.
"Jika begitu, kami pulang dulu." Kata Adnan.
"Terima kasih, Kak, Untuk makan malamnya. Lain kali giliran kalian yang makan malam di rumah kami." Ucap Airin berikutnya.
"Pasti Airin. Lain kali kita makan malam di rumah kalian. Adnan, sebaiknya Airin ikut mobil mu saja. Ini sudah larut, tidak baik jika Airin menyetir sendiri." Kata Andra perintah.
"Benar Adnan. Biarkan mobil Airin tinggal di sini, besok akan diantarkan supir kami." Kata Kirana berpendapat sama.
"Aku juga berpikir begitu. Jika begitu aku titip mobil Airin."
"Baiklah, kak, kami pamit ya.. Sekali lagi terima kasih makan malamnya."
"Sama-sama, sayang. Kalian hati-hati ya di jalan?! Adnan, jangan mengebut!!" Peringatan Kirana mewanti-wanti.
"Jika sudah sampai rumah, beri kami kabar." Titah Andra juga.
Andra dan Airin mengangguk. Setelahnya, keduanya mulai pergi dari Mansion Andra.
Keduanya kini berada di mobil dalam keadaan hening. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Hingga suara dering ponsel Adnan memecahkan suasana. Adnan pun segera mengangkatnya.
"Kau tunggulah di sana! Aku kesana sekarang." Ucapnya pada seseorang pada telepon. Setelah itu, Adnan segera menutup panggilan teleponnya. Raut wajahnya nampak panik.
"Kau turun di sini! Pulanglah dengan taksi!!" Titah Adnan tanpa menoleh pada Airin.
"APA!!! Kau serius?!! Ini jalanan sepi dan juga gelap. Kau menurunkan aku di sini?! Aku tidak ingin!!" Gertak Airin tidak acuh.
"Aku tidak ada waktu untuk berdebat. Aku terburu-buru. Cepat turun!!" Paksa Adnan membentak.
"Aku tidak ingin. Aku bisa ikut denganmu. Sekali tidak ya tidak!! Jika akan seperti ini, lebih baik aku tadi membawa mobil ku sendiri." Kesalnya.
"Kau ingin turun sendiri atau aku yang akan memaksamu turun?!! Kau bisa cari taksi untuk pulang."
"Kau gila Adnan!! Ini pasti karena selingkuhan mu itu, kan?! Aku tetap tidak ingin turun. Aku istrimu, biar dia yang mencari taksi lain."
"Turun!!! Atau aku paksa." Bentak Adnan melotot dan sudah hilang kesabarannya.
"Tidak..."
Adnan dengan terburu turun dari mobil, memutari mobil tepat di pintu penumpang letak Airin duduk. Adnan membuka kasar pintunya dan menarik paksa tangan Airin.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!! Aku tidak ingin. Kumohon, jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Aku takut gelap. Hiks,, Lepaskan!! Kau bisa antarkan aku dan pulang lebih dulu dan kau bisa kembali untuk menjemput wanita itu. Aku mohon jangan biarkan aku sendiri!" Meronta Airin menolak keluar dari dalam mobil.
Setelah mengeluarkan Airin dari mobilnya, Adnan kembali ke kursi kemudi. Melajukan mobilnya perlahan, karena Airin terus mengetuk jendela meminta dibukakan pintu.
"Tuan, Tolong bukan pintunya!! Jangan tinggalkan aku di sini. Tuan! Tuan Adnan !! Hiks.." Airin terus mengejar Adnan sembari mengetuk terus pintu mobil.
Melihat Airin mulai lengah, Adnan segera menancap gas lebih kencang. Meninggalkan Airin sendirian di tempat sepi dan setengah gelap dalam keadaan menangis.
Airin menatap kepergian mobil Adnan hingga menjauh tidak terlihat.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari kendaraan yang bisa di tumpanginya. Air matanya tidak henti mengalir. Ia meraih ponsel dalam tas, berniat menelepon Jovita. Tapi sialnya, ponselnya tertinggal di dalam mobil suaminya bersama di dalam tasnya. Lengkap sudah kesialan malam ini!
Di sisi lain...
Daniel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada ketenangan di raut wajahnya. Menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan, menuruni mobil dengan tergesa-gesa dan menghampiri objek yang menjadi tujuannya.
Daniel menghampiri gadis yang terduduk di pinggir trotoar, menunduk lemas, dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri.
"Airin!..." Panggilnya.
Airin Mengangkat kepala. Wajahnya sudah basah dengan air mata dan agak pucat. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, Airin langsung berdiri dan berlari memeluk Daniel erat.
"Hiks... Tuan Daniel, Aku takut!!" Tangisnya semakin deras di dada bidang Daniel.
"Aku sudah ada di sini. Jangan takut lagi, hem?!" Ucap Daniel menenangkan hati Airin.
"Ayo, Ku antar pulang!"
Airin menggeleng.
"Kau tidak ingin pulang?" Kejut Daniel sontak mempertanyakan.
Airin kembali menggeleng. Daniel mengusap lembut rambut dan punggung Airin untuk menenangkan.
"D-dia meninggalkan ku. Hiks... Aku takut kegelapan, dan ini tempat sepi. Dia jahat! Hiks... A-aku membencinya."
"Pria bajingan!" Umpat Daniel dalam hati. Mengeratkan dekapan ditubuh Airin yang terasa dingin karena angin malam.