My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 34 : Pelukan dari Sang Mantan



Keesokan harinya. Di hari libur ini, Airin sudah tidak ada di Mansion semenjak pagi. Dia ada janji untuk bertemu dengan Kirana. Tentunya tanpa meminta izin terlebih dulu pada Adnan. Sedangkan Adnan, sedang bersantai di Mansion.


Pada siang hari...


Tok! tok! tok!


Rissa segera membuka pintunya.


"Oh, Nyonya!"


"Kenapa pintunya di kunci?" Tanya Airin yang sudah pulang.


"Saya tidak menguncinya. Sejak Nyonya Airin pergi tadi pagi, saya di belakang. Emm, mungkin Tuan."


"Baiklah, tidak apa. Aku ke kamar dahulu, ya."


"Baik, Nyonya."


Airin menghentikan langkahnya di tengah anak tangga. Telinganya samar-samar mendengar suara di taman samping ruang tengah. Kakinya tidak jadi pergi ke kamar, memilih melangkah mendekati suara berasal.


"Sedang apa kau di sini?"


Shana menoleh, mendapati Airin sudah bersedekap dada di hadapannya.


"Aku? Ya, Jelas untuk menemui kekasihku. Untuk apalagi?!"


"Apa kau wanita tidak berotak ingin menggoda pria beristri?! Apa di luar sana kau kehabisan pria sehingga kau merendahkan dirimu berhubungan dengan suami orang?!" Hardik Airin. Sudah dari lama ia ingin mengatakan keluh kesah itu pada wanita pelakor yang kini ada dihadapannya.


"Seharusnya kata-kata itu pantas untuk dirimu. Apa kau tidak malu merebut pria yang jelas-jelas tidak pernah mencintaimu. Karena Adnan hanya mencintaiku seorang dalam hatinya." Cerca Shana melawan.


"Ternyata kalian sama-sama tidak tahu diri. Nikmati saja kesenangan kalian, sebelum kalian benar-benar hancur suatu saat ini. Kau perlu ingat! Tupai yang pandai melompat, dia bisa terjatuh juga!" Airin berbalik badan dan akan pergi, tapi langkahnya tertahan ketika tiba-tiba Shana menarik rambut belakangnya.


"Apa yang kau katakan? Kau mengancam ku? Tidak semudah itu Airin Sifabella. Sebelum aku hancur, aku akan menghancurmu lebih dulu."


"Lepas!! Apa yang kau lakukan dengan menarik rambut ku!!" Meronta Airin kesakitan akibat jambakannya.


"Kenapa? Sakit? Dasar lemah! Pantangnya saja kau seperti melawan, itu hanya kebohongan hanya agar kau terlihat kuat dariku! Dan lihat sekarang, karena kau penuh kebohongan, Adnan sendiri sampai berpaling darimu."


Shana meraih kerah baju Airin, membuat Airin berbalik menghadapnya.


"Bukan karena aku lemah Adnan berpaling dariku. Tapi karena dia salah memilih wanita sepertimu. Kau tidak benar-benar mencintai suami mu, atau perlu ku rebut juga kekasihmu seperti kau merebut suamiku agar kau merasakan apa yang aku rasakan. Aku tahu, kau juga pasti bermain belakang dengan pria lain di luaran sana selain dengan suami ku!"


"Apa yang kau tahu mengenai ku! Dasar omong kosong!!"


Plak!!


Tamparan Shana berikan di pipi Airin. Yang membuat wanita cantik itu terpaksa memalingkan wajahnya ke kiri.


Bukannya takut. Airin malah tertawa.


"Kenapa? Kau takut? Takut aku merebut kekasih mu di luar sana atau takut Tuan Adnan tahu?"


"Sialan kau. Jangan macam-macam kau dengan ku!! Oh, Apa kau mencari pembelaan? Semenjak mantan kekasihmu kembali, bukankah kalian mulai dekat. Kau menuduhku dan Adnan untuk menutupi perselingkuhan kalian dengan pria dari Tiongkok itu, hah??" Lontar Shana membalikkan fakta.


"Aku tidak pernah selingkuh. Dan aku tidak serendah dirimu. Tinggal tunggu saja, bangkai akan tercium kapan saja. Nikmati permainanmu, sebelum hidupmu yang akan hancur."


"Brengsek kau!!"


Shana kembali menampar Airin dan mencekiknya. Amarahnya tidak terkendali. Airin berusaha melepaskan tangan Shana dari lehernya. Tangannya meraih rambut Shana dan menjambaknya. Tiba-tiba Shana melepaskan tangannya dari leher Airin dan menjatuhkan sendiri tubuhnya ke belakang, hingga tidak sengaja kepala Shana membentur batu di taman itu. Tubuh Shana terjatuh dengan darah di belakang kepalanya. Airin tentu saja terkejut akan hal itu. Airin segera menghampiri Shana untuk menolongnya.


"SHANAA!!"


Airin menoleh. Tangannya urung meraih Shana. Melihat Adnan mendekat dengan berlari dan tatapan tajam padanya.


Adnan dan Airin kini berada di rumah sakit. Keduanya sama-sama cemas menunggu dokter keluar dari ruangan.


"Pulanglah! Tidak ada gunanya kau di sini."


"Tidak. Aku akan tetap di sini. Setelah apa yang kau lakukan padanya?! Apa kau ingin memastikan dia selamat atau tidak?"


"Sudah ku katakan, aku tidak melakukannya!"


"Pencuri mana ingin mengakui kesalahannya. Apa dia tidak waras sampai harus melukai dirinya sendiri?!"


"Tanyakan saja pada kekasih tercintamu sendiri. Apa dia waras atau tidak. Yang jelas, aku tidak pernah melukainya."


Adnan mendekat, mencengkram erat rahang Airin.


"Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkanmu, Airin! Aku akan membuat hidupmu hancur."


"Aku tidak takut. Suatu saat kau akan tahu siapa yang benar dan salah."


Tidak sadar, air mata Airin menetes saat menatap manik Adnan yang menatapnya tajam penuh kebencian.


Adnan menarik paksa lengan Airin, membawanya keluar dari rumah sakit. Sesampainya di lobby, Adnan menarik keras tangan Airin membuat tubuh Airin terpelanting hampir jatuh ke belakang.


"Pergi!! Aku tidak ingin melihatmu di sini."


Airin menatap kepergian suaminya yang kembali memasuki rumah sakit. Tangannya terulur mengusap air mata di pipinya, kemudian melangkah pergi menjauhi area rumah sakit.


"Airin!"


Airin menoleh ke sumber suara. Saat ini, Airin sedang berjalan di koridor sekitar rumah sakit.


"Zemin?! Sedang apa kau ada di sini?"


"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau di sini? Kau sedang sakit? Apa suami mu melukai mu?"


"Apa maksud mu? Suamiku tid-..."


"Jangan berbohong, Airin!! Aku sudah tahu semuanya. Daniel teman mu itu, menceritakan semua padaku. Apa sekarang pria itu mengkasarimu lagi?"


Zemin menatap lekat mata Airin yang sembab.


Melihat Airin menunduk dan terisak pelan, Zemin langsung menarik Airin dalam dekapannya.


"Hiks... Zemin. Aku sangat lelah!"


"Sssttt... Jangan bicara seperti itu. Kau gadis yang kuat, kau sudah lalui semuanya sendirian. Dan sekarang kau tidak sendiri. Ada aku dan orang-orang yang menyayangi mu. Kami akan selalu ada untukmu. Namun jika kau lelah, berhentilah tandanya, itu bukan tempatmu, kau akan temukan tempat yang layak untuk kau singgahi."


Airin mengangguk. Zemin terkekeh ketika Airin semakin mengeratkan pelukannya.


"Erat sekali... Benar-benar sedih atau memang kau merindukan pelukan mantan kekasih mu ini, hum?!!" Goda Zemin dengan tawanya.


Airin melonggarkan pelukannya ketika sadar Zemin terkekeh menggodanya. Tapi Zemin kembali menarik Airin dalam pelukannya, bahkan lebih erat dari pelukan Airin tadi. Ia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Airin.


"Biarkan seperti ini sebentar. Karena aku yang merindukanmu." Kata Zemin.


Airin mendengus sebentar. Namun, tangannya terangkat mengusap lembut rambut Zemin.


Zemin melonggarkan pelukannya. Matanya menatap dalam manik mata Airin. Begitu pula dengan Airin yang juga menatapnya.


"Masih tetap cantik, bahkan sangat cantik." Lirihnya, namun masih dapat didengar oleh Airin.


Awwsshh...


Zemin terpekik ketika Airin tiba-tiba mencubit perutnya. Zemin membalas mencubit hidung Airin. Dan keduanya tertawa bersama. Lalu Zemin kembali memeluk Airin, dan Airin membalasnya.


Maaf, aku wanita bersuami. Tapi, aku munafik meraih uluran tangan pria yang membuatku nyaman.