
"SURAT CERAAII!!..."
Adnan tercekat, matanya menatap tajam mata Airin.
"A-apa Daniel yang memintamu untuk melakukan ini?"
Adnan mengambil map itu dan membacanya sekilas, kemudian tanpa ampun Adnan merobek map itu menjadi beberapa bagian disaksikan oleh Airin. Tentu saja kertas yang ada di dalam map ikut tersobek. Dan menghamburkannya di hadapan Airin. Airin yang melihatnya melebarkan matanya terkejut.
"Apa yang kau lakukan?!! Kenapa kau merobeknya?" Pekik Airin.
"Tidak akan ada perceraian. Rumah tangga kita akan tetap utuh!"
"Apa kau sedang mabuk?! Bukankah ini yang kau inginkan sejak dulu? Bercerai denganku. Dan kau bisa bebas menikahi kekasihmu. Apa yang perlu dipertahankan dari pernikahan semacam ini??"
"Bagaimanapun juga, kita tidak akan berpisah."
"KAU EGOIS, ADNAN MILLER!!!" Hardik Airin.
"Aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga ini."
"Rumah tangga mana yang kau maksud? Denganku?! Bahkan rumah tangga ini sudah hancur sebelum dimulai. Jika kau ingin mempertahankan, bangunlah rumah tangga dengan kekasihmu. Aku hanya menuruti apa yang kau inginkan."
"Kau tidak akan bisa melakukannya. Rumah tangga ini akan tetap utuh. Kau, Aku dan Anak-anak kita nanti!"
Airin tertawa mengejek, sedetik kemudian tawa itu berganti tatapan tajam pada Adnan.
"DALAM MIMPIMU!!"
Adnan mencengkeram erat bahu Airin.
"Kita, tidak akan berpisah. Aku akan melakukan apapun demi mempertahankan rumah tangga ini."
"Lakukan saja sesukamu. Aku tidak takut dengan ancaman mu karena kau selalu omong-kosong. Aku akan kembali mengurus perceraian kita, aku tidak sudi memiliki suami brengsek sepertimu. Lebih baik kau urus kekasihmu. Jangan mempersulit keadaan. Bukankah ini yang kau inginkan?! Bercerai denganku dan menikahi ke-... Hmmpttt!!"
Mata Airin melebar sempurna ketika tiba-tiba bibir Adnan membungkam bibirnya.
Airin terus mendorong kedua bahu Adnan, dan selalu gagal karena tubuh dan kekuatan Adnan lebih besar darinya. Airin otomatis membuka mulutnya karena Adnan menggigit bibir bawahnya sedangkan Adnan semakin memperdalam ciumannya untuk ******* dan bermain lidah di dalamnya. Tenaganya masih cukup kuat untuk Airin yang terus memberontak.
"Hmmptt... Lep-pashh.."
Bukannya melepaskan, Adnan semakin memperdalam ciumannya. Dan Airin tidak pernah berhenti mendorong tubuh Adnan untuk terlepas.
Ciuman itu terlepas, Airin menghela napas lega dan mengambil oksigen banyak-banyak. Tapi, kemudian Adnan mengangkat tubuhnya layaknya karung beras.
"Lepas!! Turunkan aku!! Lepas brengsekkk!!" Airin terus meronta-ronta. Jika saja Adnan tidak kuat, mungkin Airin akan terjatuh.
Adnan membawa Airin memasuki kamarnya. Setelahnya, Adnan membanting pelan tubuh Airin di atas ranjang hingga Airin terjerembap. Airin segera bangkit dan berlari keluar kamar, tapi sebelum itu Adnan lebih dulu menangkap tubuhnya dan kembali melemparnya di ranjang. Adnan segera menutup rapat pintu kamar dan menguncinya dari dalam, lalu membuang kunci ke sembarang tempat.
"A-apa yang kau lakukan?!! Jangan macam-macam!! Atau aku teriak!!"
Seolah tuli, Adnan tetap melanjutkan aktivitasnya. Melepas pakaian bagian atas, hingga membuat dadanya telanjang yang memperlihatkan tubuh gagah dan roti sobeknya.
"Aku hanya meminta hak ku sebagai suami."
Airin tentu paham apa maksud Adnan, dirinya mencoba menghindar ketika Adnan mendekat akan menyentuhnya. Namun sia-sia, karena bagaimanpun tenaga Adnan lebih besar darinya.
Airin terus memberontak. Adnan benar-benar tidak menyerah. Hingga Airin tanpa sadar, kain pada tubuhnya yang menutupi bagian-bagian penting sudah terlepas, begitupula dengan Adnan. Dan berakhir mereka melakukannya malam ini...
...***...
Pagi Hari...
Sayup-sayup suara tangisan terdengar memenuhi seisi ruangan kamar bersamaan dengan hembusan angin pagi sepoi-sepoi yang masuk melalui celah jendela dan menyibakkan tirainya.
Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks...
Suara isakan itu memenuhi ruang kamar. Hal itu tidak mengganggu seorang pria yang tertidur dengan selimut menutupi setengah tubuhnya.
Airin membulatkan matanya, badannya pun menegang ketika sebuah tangan meraih pinggangnya dan menggesernya mendekat, hingga punggung polos Airin menempel pada dada telanjang Adnan.
"Lepaskan!!" Berontaknya marah.
"Biarkan seperti ini." Adnan mengecup singkat bahu polos Airin. Tangan Airin berusaha menyingkirkan tangan Adnan dari pinggangnya.
"Lep-pas.. bajingan!! Hiks..."
"Tidak. Aku masih nyaman."
Posisi keduanya, Adnan masih memeluk Airin yang memunggunginya.
"Kau ingin kita bercerai, bukan?!" Bicara Adnan tepat di telinga Airin.
Airin hanya diam membiarkan Adnan kembali melanjutkan kalimatnya.
"Setelah kita melakukan hubungan ini, Jika kau tidak hamil, Aku akan menurutimu untuk berpisah. Tapi jika kau hamil, Jangan harap akan ada perceraian!!"
"Apapun hasilnya, kita akan tetap bercerai!" Hardik Airin menjawab.
Ucapan Airin dihiraukan dan Adnan tersenyum kemenangan. Ia tidak hentinya menciumi pipi, bahu dan tengkuk Airin dari belakang. Akhirnya ia bangga pada dirinya sendiri, sudah membuat Airin menjadi miliknya dengan seutuhnya.
Tak hanya sampai di sana, Adnan pun tidak mengenal lelah. Ia melanjutkan ronde ketiganya di pagi hari.
...***...
Di Rumah Daniel....
Daniel terus mondar mandir kesana kemari sambil memegangi ponselnya. Berulang kali menempelkan ponsel itu pada telinganya dan berulang kali pula dirinya mendengus karena tidak ada sautan. Seringkali menggumamkan nama Airin untuk segera mengangkat panggilannya. Karena sejak semalam, setelah mengantarnya pulang, gadis itu belum mengabarinya sama sekali, pesannya pun tidak dibuka, bahkan panggilan teleponnya tidak diangkat. Daniel khawatir jika sepupu gilanya itu akan mencelakainya lagi.
"Kenapa tidak kau datangi saja mansion Adnan? Lihat kondisinya secara langsung, apakah Airin baik-baik saja di sana." Usul Zemin sama khawatirnya.
"Airin tidak mengizinkan ku datang ke mansion untuk menemuinya sebelum dia yang meminta ku kesana. Dia ingin menyelesaikan masalah mereka berdua. Tapi, entah apa yang terjadi padanya sekarang?!"
"Hufft... Aku juga menjadi kepikiran. Bagaimana jika Tuan Adnan mengancamnya untuk tidak menghubungi mu." Kata Zemin yang ikut berpikir negatif.
Daniel diam. Ia menghentikan kegiatan pada ponselnya.
"Daniel!!"
Andra tiba-tiba memasuki Mansion, menghampiri Daniel dan Zemin di sana.
"Oh. Kak Andra!! Ada apa Kakak kemari?" Tanya Daniel cukup terkejut dengan kedatangan kakak sepupunya.
"Aku ingin menanyakan, apa kau membawa Airin pergi dari Mansion Adnan?!"
Daniel tentu terkejut mendengar Andra menanyakan hal itu. Pasalnya, tidak ada yang tahu ini selain orang-orang yang berada di Mansion Adnan dan rumah nya.
"Kakak, ma-maafkan aku. Tapi aku tidak-..."
"Aku sudah tahu semuanya, Daniel. Kau tidak perlu menjelaskan apapun. Adnan memang sudah keterlaluan dengan Airin. Aku juga tidak ingin menahan Airin jika keinginannya sudah bulat untuk menceraikannya."
"Kak Andra, Bagaimana kau-..."
"Rissa!! Rissa adalah orang yang ku kirimkan ke mansion Adnan melalui persetujuannya. Dia tidak menyadari jika Rissa adalah suruhan ku untuk memantau dua puluh empat jam mereka berdua. Dan dia juga yang menceritakannya semuanya padaku." Ungkap Andra menjelaskan.
Daniel tentu saja terkejut dengan nama yang disebut Andra. Ia tidak menyangka jika Rissa bukan hanya sekedar pembantu.
"Apa Rissa di mansion? Apa dia tahu apa yang terjadi di mansion sekarang? Airin tidak mengabari ku sejak semalam, Kak."
"Rissa izin cuti dari Mansion. Dia ke London untuk mengurus sesuatu. Dua hari lagi dia akan kembali."
Daniel menghela napas panjang tidak ada seorang yang dapat ditanyai mengenai kondisi Airin di mansion.
"Kau tenang saja. Aku sudah meletakkan orang kepercayaan memantau Mansion Adnan." Kata Andra yang sudah memikirkan tindakan sejak awal.