My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 21 : Segera Menceraikannya



Keesokan hari sesuai janjinya, Adnan datang sebatas untuk mengantarkan Airin ke bandara.


Airin menuruni mobil dengan sedikit kesusahan mengambil kopernya dari bagasi. Dengan sigap Adnan mendekat membantu dan mengambil koper dari tangan Airin.


"Terima kasih..." Ucap Airin tersenyum hangat pada suaminya itu meskipun cuek.


Airin pun segera menghampiri Kirana dan Daniel yang sedari tadi menunggu kedatangannya.


"Kau sudah datang. Ayo kita segera berangkat." Ujar Kirana.


"Tunggu. Kita pamit dulu pada Adnan. Kemana dia? Ucap Daniel.


"Emm,, mungkin sudah pergi ke perusahaan." Jawab Airin sedih.


"Mungkin?! Kau tidak tahu jika suamimu pergi?" Pekik Kirana.


Airin menggeleng dengan menunduk.


"Saat menurunkan koper ku, aku pikir dia mengikuti ku dari belakang, tapi ternyata sepertinya dia langsung melanjutkan perjalanannya kembali." Jawab Airin ia mencoba tersenyum.


"Kak, ayo berangkat. Kak Della pasti sudah menunggu kita di dalam."


Daniel membalas tersenyum dan mengacak lembut pucuk kepala Airin dihadapan Kirana sekali pun. Kirana tidak berpikir jauh, mungkin itu adalah bentuk orang sekitar menyayangi Airin.


"Ayo. Della juga sudah mengirim pesan tidak sabar untuk segera berangkat." Kata Karina.


Airin mengangguk. Ia mengikuti langkah Daniel yang membawakan kopernya.


Kini Kirana, Daniel dan Airin sudah sampai di landasan pesawat, tidak butuh waktu bagi mereka untuk mengikuti segala proses keberangkatan di bandara. Mereka menemui Della yang berada dalam pesawat pribadi Daniel. Sengaja Daniel menggunakan pesawat pribadinya yang tersimpan di bandara karena untuk keselamatan para wanita. Selain itu, mereka tidak akan mengantri menunggu lama dan langsung sampai tepat di tujuan. Selain untuk keselamatan, pastinya juga untuk kenyamanan dan privasi mereka.


Sebenarnya Airin cukup sedih kali ini. Ia pergi meninggalkan suaminya sendirian, ia pikir dirinya sudah memberikan kesempatan waktu yang leluasa pada Adnan yang pastinya akan semakin menghabiskan waktu banyak bersama selingkuhan itu.


...***...


Di tempat lain, Jovita dan Bila sedang melakukan sarapannya di sebuah restaurant. Ditinggalkan salah satu temannya membuat mereka jenuh sekali dan membuat mereka terpaksa menghabiskan waktu berdua di luar.


Awalnya tidak ada masalah di sekitar restoran itu. Tapi Bila membidik satu keanehan dari apa yang ia lihat tidak jauh di depannya.


"Jov, bukankah itu suaminya Airin?!" Tunjuk Bila mencoba bertanya untuk memastikan.


Jovita mengikuti arah pandang Bila.


Jovita sendiri sampai mengerutkan dahi dan mencondongkan badannya agar bisa melihatnya sedikit jelas.


"Kau benar. Itu Adnan, suaminya Airin. Dengan siapa dia?" Ucap Jovita.


Yang di lihat Bila dan Jovita posisi Adnan yang duduk membelakangi keduanya.


"Mungkin rekan kerjanya. Apa di-..."


"OH TIDAAKK!!"


Ucapan Bila terpotong karena pekikan Jovita. Bila mengalihkan pandangan mengikuti pandangan Jovita. Matanya melebar ikut terkejut dan mulut membuka lebar.


Tersangka melakukan ciuman bibir.



(Hanya Visual)


Brengsek!!


Jovita berdiri dari duduknya ingin melangkah tapi tertahan oleh Bila.


"Kau ingin kemana?" Tahan Bila.


"Aku harus memberi pelajaran pria bajingan itu. Bisa-bisanya dia bermain dibelakang Airin." Emosi Jovita yang sudah membuncah ke darah dagingnya.


"Jangan bertindak bodoh. Bisa saja apa yang kau lakukan membahayakan Airin. Kita tidak tahu Airin di perlakukan seperti apa oleh suaminya yang pura-pura baik di depan atau kekerasan dalam rumah tangga."


Jovita mengambil napas panjang, Lalu kembali duduk di tempatnya menatap sendu makanan di depannya karena masih tidak terima jika temannya diselingkuhi oleh suaminya sendiri.


"Lalu, bagaimana? Apa kita akan diam saja? Apa Airin tahu jika suaminya seperti ini?!" Tanya Jovita.


"Aku tidak tahu. Untuk sementara waktu kita pura-pura tidak tahu saja perilaku bejat Adnan. Jika Airin tidak tahu, biarkan dia tahu sendiri nantinya. Ini masalah rumah tangga mereka. Kita hanya perlu melindungi dan mendukung Airin." Jawab Bila.


"Baiklah. Kurasa kau benar. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika pria itu menyakiti Airin lebih dalam lagi." Ujar Jovita.


Mereka kembali menatap Adnan dengan tajam dan penuh kebencian yang masih bersenda gurau dengan selingkuhannya itu.


...***...


Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk sampai di Shanghai, China. Akhirnya mereka bertiga telah mendarat dengan selamat di Negera tersebut.


Bergegas mereka datang ke penginapan sebagai tempat tinggal sementara selama 4 hari.


"Ini rumah siapa?" Tanya Airin.


"Kami menyewanya untuk kita menginap. Ayo, kita masuk! Kalian pasti lelah." Ujar Daniel.


Mereka pun masuk setelah mengucap terima kasih pada Daniel.


"Biar aku saja yang membawa barang-barangnya. Kalian masuklah dulu!" Titah Daniel.


GUBRAK!!!


Akh.. Ssshh...


"Ya Ampun!" Pekik Airin terkejut dan menaiki tangga rumah itu untuk berniat melihat kondisi sekitar, namun malah terjatuh.


Daniel yang sudah sampai di ambang pintu dan dengan beberapa barang, segera mempercepat langkahnya masuk ke dalam.


"Ada apa?" Seru Daniel.


"Kaki ku terpeleset, heels ku tidak sengaja tersangkut karpet." Ujar Airin masih terduduk.


"Mari Kakak bantu. Lain kali hati-hati, ya!! Kau membuat kakak jantungan tahu Tidak?!!" Khawatir Kirana berbeda dengan Della yang tidak henti menertawakan adiknya itu.


Akh!!


Belum sepenuhnya berdiri, nyeri di pergelangan kakinya membuatnya hampir terjatuh kembali. Untung dengan sigap Daniel menangkap kedua bahu Airin dari belakang.


"Sepertinya kakinya terkilir. Daniel, bisa tolong kau bawa Airin ke kamar? Kamarnya di sebelah kiri tangga pintu pertama, lalu di sampingnya itu kamarmu. Aku akan panggilkan Dokter." Titah Kirana.


Setelah mengangguk, Daniel segera mengangkat tubuh Airin dan dibawanya menaiki tangga menuju kamar yang ditunjuk Kirana membiarkan semua barang-barang di ambil alih oleh penjaga di sana.


...***...


Kembali ke perselingkuhan Adnan dan Shana yang tidak akan ada habisnya.


"Sayang, kau ingin liburan?" Tanya Adnan sambil menggenggam tangan Shana.


"Tidak aku sedang tidak ingin. Dia minggu yang lalu pun kita sudah berlibur." Jawab Shana lesu.


"Ingin berbelanja?" Tanya Adnan berusaha membangkitkan gairah kekasihnya itu yang terlihat murung kali ini.


"Aku sedang malas."


"Ingin wisata kuliner?"


"Aku tidak nafsu makan."


"Kenapa? Bukannya salah satu Brand ternama baru mengeluarkan produk terbaru. Kau ingin membelinya?"


"Aku tidak ingin."


"Lalu, Kau ingin apa, hum?" Tanya Adnan lemah lembut sembari mengusap lembut rambut panjang kekasihnya.


"Aku ingin segera kau ceraikan istrimu dan menikahi ku secepatnya. Toh, orang tua mu dan orang tuanya yang menginginkan pernikahan ini tidak ada di sini, bukan. Mereka sibuk tidak pulang tinggal di luar negeri." Gertak Shana membuat Adnan tertegun.