
Sepasang tangan kekar melingkar di perutnya, dan dagu sang suami bertumpu pada pundak kecilnya. Sesekali kecupan singkat dilayangkan pada pipi dan pundak sebelah kiri. Pelukan erat dan hangat didapatnya malam ini.
"Kenapa masih di luar? Di sini dingin, Kau bisa masuk angin." Ucap Adnan bertanya.
"Udaranya sejuk. Aku suka. Tuan, baru selesai mandi?" Balas Airin menggenggam tangan suaminya yang memeluk perutnya.
"Heemm..." Adnan mengangguk semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Airin.
Airin melepas perlahan tangan Adnan yang melingkar di perutnya, lalu menarik lembut lengan suami, mengajaknya masuk ke dalam kamar. Ia menuntun Adnan untuk duduk pada pinggiran ranjang, Airin mengambil handuk yang masih melingkar pada leher suaminya dan mengusap pelan rambut suaminya yang masih basah.
"Jangan dibiasakan membiarkan rambut basah. Airnya bisa menetes pada lantai, Jika kau terpeleset, kau bisa terjatuh."
"Tidak akan jatuh karena ada istriku yang mengeringkan rambut basahku."
"Tck... Aku serius, Tuan. Jangan ketergantungan dengan orang lain. Jika aku tidak ada di sampingmu bagaimana, huh?! Kau harus bisa merawat dirimu sendiri."
Adnan merengkuh pinggang Airin mendekatinya, memeluk pinggang ramping istrinya dan menenggelamkan wajahnya pada perut Airin.
"Kau akan tetap terus di sampingku. Kau tidak akan kemana-mana. Mulai detik ini, di manapun kau berada, di situ harus ada aku, begitupun sebaliknya. Aku tidak akan membiarkan mu jauh dariku walau hanya sedetik atau sejengkal saja."
Airin tertawa dengan ucapan suaminya.
"Jangan berlebihan.. Kau bukan bayangan ku yang disetiap aku berada di manapun kau selalu ada." Ujar Airin yang gagal romantis.
"San mulai sekarang, aku akan menjadi bayangan mu."
Adnan melepas dekapannya. Berganti menarik pinggang Airin untuk duduk di pangkuannya. Sebelah tangannya terangkat menyingkirkan anak rambut Airin yang beberapa menutupi sebagian wajah.
"Jangan pernah lagi berbicara jika kau tidak ada di sampingku. Karena aku tidak bisa jauh darimu."
"Meski aku ke toilet?" Lontar pertanyaan Airin mengundang gelak tawa.
"Tentu saja." Adnan tersenyum menanggapi ketika Airin tertawa keras.
Tatapan Adnan melembut menatap istrinya.
"Sayang, Terima kasih, Kau sudah memberikan ku kesempatan memperbaiki semuanya. Aku tahu, ucapan Terima kasih tidak akan cukup untuk menebus semua kesalahan ku padamu. Aku akan melakukan apapun untuk menebusnya. Asal kau tidak pergi lagi dariku."
"Tidak perlu mengingatnya kembali. Aku sudah memaafkamu jauh sebelum kau meminta maaf. Aku tidak pernah marah padamu, Aku hanya kecewa. Tapi sekarang aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Kau ingin kita memulainya dari awal, bukan?! Ayo, kita buka lembaran baru dan memulai hidup bahagia dengan keluarga kecil kita." Ucap Airin tulus.
"Tentu Sayang... Aku mencintai mu. Sangat!"
"Aku juga sangat mencintai mu!" Balas Airin.
Adnan menarik lembut rahang Airin, Mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir manisnya pada bibir mungil istrinya. Ia berpagutan dan ********** lembut. Merasa dapat balasan, Adnan semakin memperdalam ciuman bibir mereka. Airin melingkarkan kedua tangannya pada leher Adnan, ketika Adnan mulai mengangkat tubuhnya dan membaringkannya pada ranjang.
Sekian lama, pagutan panas itu terlepas. Keduanya terengah mengatur napas. Adnan menatap dalam dan sayu pada istrinya.
"Sayang.. Aku ingin mengunjungi junior kita. Bolehkah?" Adnan mengungkap suatu keinginan yang tidak terduga di masa kehamilan istrinya.
Airin mengangguk pelan.
"Tapi pelan-pelan, ya.. Jangan sampai menyakitinya." Jawab Airin demikian.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan."
Airin mengangguk dan tersenyum meyakinkan suaminya.
Dan mereka.........
...***...
Mansion Adnan...
4 Bulan Kemudian...
Kandungan Airin sudah menginjak 9 bulan dan kehamilannya menjadi lebih sensitif. Ia kerap kali ingin menjauh dari suaminya karena penciumannya menjadi sensitif setiap Adnan berada di dekatnya.
"STOP!! Jangan mendekat lebih dari 5 meter. Menjauh!!"
"Sayang.. Aku juga ingin makan. Ayolah.. Aku lapar."
"Nanti saja, Jika aku sudah selesai."
Adnan menghela napas panjang. Berjalan lesu, Kembali menuju ruang tengah. Sudah 3 hari ini istrinya tidak ingin didekati olehnya. Terkadang istrinya sendiri yang menghampirinya meminta peluk dan menangis, meminta maaf karena suasana hatinya mudah berubah. Adnan sendiri memakluminya, meski dirinya yang sering menjadi korban.
"Ingin tambah?" Tanya Daniel yang malah sering berada di dekat Airin dan membuat Adnan cemburu. Airin kerap kali meminta Daniel datang ke Mansion suaminya.
Daniel mengambilkan Capcay yang berada di dekatnya.
"Airin, Kau tidak kasihan? Suamimu juga lapar, Tadi pagi kau juga tidak menemaninya sarapan.." Kata Daniel sembari menyuapi Airin.
Airin terdiam, Kunyahannya pun terhenti. Ia nampak berpikir. Kemudian, kembali melanjutkan kunyahannya.
Sesaat kemudian, Airin menghampiri Adnan di taman belakang Mansion. Adnan sedang menikmati kopinya sambil fokus pada ponsel dan ia tidak menyadari jika istrinya sedang berjalan mendekat. Airin mengambil posisi duduk di samping Adnan. Adnan yang baru menyadari, segera berdiri berniat menjauhi istrinya tapi lengannya lebih dulu ditahan Airin.
"Kenapa pergi?!" Tanya Airin sedikit menyentak.
"Sayang, Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Jika di dekatku bukankah beberapa hari ini kau tidak ingin di dekatku."
Airin menunduk sedih, kembali mendongak dan menarik lengan Adnan untuk duduk kembali di sampingnya. Airin melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Adnan dan menyandarkan kepala pada dada bidang suaminya.
Hiks..
Adnan terkejut mendengar Airin yang terisak. Ia sedikit merenggangkan pelukan untuk melihat istrinya, Tapi Airin semakin mempererat pelukannya.
"Sayang, Kenapa menangis? Hey.. Ada yang sakit?"
Airin tidak menjawab.
"Kenapa? Apa bayi kita menyusahkanmu di dalam?"
Airin menggeleng. Dirinya masih terisak dalam pelukan.
"Ma-maaf... Aku melarang mu mendekati ku. Jangan pernah meninggalkan ku dan anak kita. Hiks.."
Adnan tersenyum tipis. Mengeratkan pelukannya dan beberapa kali mengecup kepala istrinya.
"Kau ini bicara apa?!! Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku menyayangi anak kita dan aku mencintaimu. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan mu. Dan kita tidak akan pernah berpisah, walau hanya sedetik pun."
Airin mendongakkan kepalanya menatap Adnan. Matanya terlihat sembap dan basah. Adnan pun mengusap air matanya.
"Kau berjanji??..."
Adnan mengangguk mengecup kedua mata basah Airin, Lalu turun mencium lembut bibir mungil yang menjadi favoritnya.
"Ayo makan! Tuan belum makan sejak tadi. Aku temani, yaa..."
"Memangnya tidak apa?"
"Tidak apa... Ayo!!!" Airin menarik lembut tangan Adnan, mengajaknya memasuki Mansion.
Di dalam...
"Oh... Kalian di sini rupanya.. Tadi aku mencari-cari kalian..." Ucap Daniel akhirnya menemukan Adnan dan Airin.
"Kau akan pergi?" Tanya Adnan.
"Iya, Adnan. Aku akan ke Paris. Menjemput calon kekasih..." Jawab Daniel sambil tersenyum-senyum terlihat giginya.
"Cih... Budak Cinta!" Umpat Adnan berdecih. Lalu, tertawa di akhir kalimat.
"Ciee... Akhirnya Tuan memiliki pendamping juga. Benar bukan, saat kita berlibur ke Paris dulu, Aku menginap di hotelnya dan di sana terdapat pakaian wanita. Pasti itu adalah milik kekasihnya dan Tuan Daniel tetap tidak mengaku." Kata Airin menggoda.
"Aku serius. Saat itu aku membelinya dan mana mungkin memberikan pakaian bekas untuk mu." Debat Daniel dengan Airin.
"Sudahlah.. Tidak perlu mengelak lagi Daniel. Tentunya kita para kaum Adam akan selalu kalah jika harus berdebat dengan kaum hawa. Firasat mereka tidak pernah salah." Kata Adnan dengan tertawa kecil.
"Hati-hati, Tuan Daniel! Beri kami kabar jika kau sudah sampai Paris." Ucap Airin.
"Pasti Airin. Aku akan mengabari kalian jika sudah sampai. Aku harap saat sudah pulang, aku langsung bertemu dengan keponakan ku."
"Jangan lupa perkenalkan pada kami. Aku ingin tahu wanita mana yang dengan mudah mengambil hatimu." Kata Adnan.
Daniel mengulum senyum karena malu.
"Akan ku kenalkan nanti jika kami sudah resmi."
"Tuan, Ajak datang kemari, ya.. Siapa tahu kami cocok dan bisa berteman." Ucap Airin.
"Jangan khawatir. Aku akan mengajaknya kemari dan memperkenalkan pada kalian. Jika begitu aku pergi. Baik-baik kalian, Jangan sering bertengkar." Pesan Daniel pada mereka.
Setelah mendapat jawaban dari sepasang suami istri. Daniel pun pergi.