
Lanjutan...
"Airin!..."
Datangnya Adnan yang tidak disangka membuat ketiganya menoleh, dan melunturkan senyuman Airin juga Zemin. Airin tidak merespon, ia menatap Adnan datar tanpa ingin bertanya apapun.
"Hey Adnan... Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana ada istri, di situ suami mengikuti. Ayo mari duduk!" Ucap Kenzo bangkit, merangkul Adnan untuk duduk bersama mereka.
"Zemin, Perkenalkan dia Adnan adikku, sekaligus suami Airin. Adnan, dia Zemin rekan ku." Ucap Kenzo mengenalkan satu sama lain.
Keduanya saling menatap. Hingga tangan Adnan terulur terlebih dulu.
"Adnan!"
"Zemin Tao!"
Zemin membalas uluran tangan Adnan dengan tersenyum tipis.
"Kau tahu, dia ini berasal dari China dan memiliki darah asli keturunan Tiongkok. Maka dari itu, mengapa namanya berbeda dari negara kita." Ucap Kenzo.
"Aku tidak peduli dia berasal dari negara mana dan tinggal di negara apa, keturunan darah biru ataupun Tiongkok, Dia memiliki silsilah dengan Kekaisaran Raja Dinasti Han. Tidak penting!" Ketus Adnan membuat sekitar tertegun kaku.
"Agh... Maafkan adikku ini, Zemin. Dia memang memiliki mulut titisan ratu cabai." Malu Kenzo senyumnya pun menjadi hilang dan meminta maaf.
Bukan hanya Kenzo, Airin sendiri sangat malu pada Zemin atas perlakuan suaminya yang membuat kesal.
"Hmm... Tidak masalah!" Jawab Zemin dengan senyum tipisnya.
"Adnan, Apa kau baru saja ada rapat di sini? Atau kau sedang mengajak Airin makan siang?" Tanya Kenzo kemudian.
Matanya melirik Zemin dan Airin bergantian.
"Hmm... Tidak sengaja aku melihat kalian, Jadi aku kemari." Jawab Adnan sembari melirik Airin yang sedari tadi menunduk mengaduk-aduk minumannya.
"Apa kalian sudah lama di sini?" Imbuh Adnan bertanya.
"Tidak. Aku baru datang dan melakukan pertemuan dengan Zemin di sini. Tapi, aku tidak tahu jika ada Airin juga." Jawab Kenzo dengan menunjuk Zemin dan Airin dengan dagunya.
"Aku juga baru datang beberapa menit sebelum Kenzo. Kebetulan aku melihat Airin sendirian, jadi aku hampiri dia." Jawab Zemin bergiliran.
"Airin, Jadi kau kemari sendirian?" Tanya Kenzo penuh penekanan karena cukup terkejut wanita itu datang dengan sendirinya tanpa ditemani siapapun.
"Iya, Kak Ken. Aku kemari sendiri. Sebenarnya, aku ada janji dengan seseorang. Tapi dia belum dat-..." Awalnya Airin akan menyelesaikan kalimat akhirnya. Ia melirik ragu pada ketiga pria di depannya yang telah menatapnya, sebelum orang yang di tunggu muncul dari pintu masuk.
"Aah, Itu dia!" Ucap Airin teralihkan ketika melihat orang itu sudah datang.
"Maaf, aku terlambat. Ada rapat mendadak yang harus ku hadiri." Ucap Daniel mengambil duduk bersama pria lainnya yang sedari tadi menatap dengan penuh tanda tanya dan tidak percaya.
"Tidak apa-apa, Tuan Daniel. Lalu, Apa pekerjaan lainnya juga sudah selesai?" Kata Airin dengan bicara manisnya dihadapan Adnan dan membuat satu pria itu kepanasan.
"Semua sudah aku selesaikan sebelum kemari." Jawab Daniel tersenyum.
Pandangan Daniel, lalu beralih pada ketiga pria lainnya.
"Ternyata kalian juga ada di sini? Tidak menyangka sekali. Hai, Tuan Zemin. Kita bertemu kembali." Kata Daniel menyapa Zemin yang baru ditemuinya saat beberapa hari lalu di China.
"Tck... Sok sibuk sekali kau anak muda." Ketus Kenzo sedikit memukul bahu Daniel.
"Hai juga, Tuan Daniel. Senang bertemu dengan mu lagi." Jawab Zemin tersenyum ramah.
"Kalian juga sudah saling mengenal, ya. Apakah saat di China kalian juga bertemu. Wahh... Andaikan saja kemarin aku ikut, pasti sangat menyenangkan." Ujar Kenzo.
"Seperti yang Kak Ken lihat! Kami sudah seperti teman lama, bukan." Jawab Airin dengan senangnya.
"Apa Tuan Zemin, Jangan terlalu formal. Panggil saja Daniel, sepertinya aku lebih tua darimu."
"Baiklah, Daniel. Aku memang paling muda di sini sepertinya, tapi hanya berbeda bulan dan seharusnya kita seumuran. Anda juga panggil nama saya. Masih terdengar anda memanggil saya dengan embel Tuan." Ucap Zemin yang meributkan panggilan nama bersama Daniel.
Keduanya terkekeh bersamaan.
"Tuan Daniel ingin pesan makan dulu?" Tanya Airin perhatian padahal saat suaminya datang, ia tidak menawarkan makanan.
"Tidak, Aku masih kenyang."
Sudah lama mereka berbincang membahas hal yang lain dan terlihat seru. Hanya Adnan yang tidak sedikitpun mengeluarkan suara, ia hanya terus menatap Airin yang begitu terlihat senang bisa tertawa dan bercanda bersama ketiga pria lainnya. Sungguh, Adnan terlihat merasa cemburu melihat Airin begitu bahagia bersama laki-laki lain.
Tak lama, mereka pun memutuskan untuk pulang dan Daniel menawari bagaimana Airin pulang.
"Bisa kita berangkat sekarang, Airin? Apa tidak sebaiknya kau dengan Adnan? Dia juga di sini ternyata." Ujar Daniel menawari Airin diantar pulang.
"Tuan Adnan sedang sibuk di perusahaan. Ini juga dia hanya mampir sebentar. Jadi, aku pulang dengan Tuan Daniel saja." Jawab Airin. Sekilas matanya melirik pada suaminya dan begitu puas menjawab ia memutar matanya malas.
"Baiklah, ayo!!" Daniel menatap Adnan. Dan tersirat senyum tipis mengejek.
"Adnan, Istrimu ku bawa dulu. Nanti ku pulangkan dengan selamat dan utuh semuanya. Kami pergi dulu." Ejek Daniel dan Airin kemudian berpamitan.
Adnan menatap datar kepergian keduanya. Lalu tak lama, dirinya juga berpamitan untuk kembali ke perusahaan pada Kenzo dan Zemin.