My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 16 : Perasaan Yang Tersimpan



Brug...!


Tidak sengaja kakinya tersandung, membuat barang belanjaan yang dibawanya terlempar ke tanah. Mengalihkan atensi pasangan lelaki dan perempuan di depan yang spontan menoleh padanya.


"Maaf, Aku tidak sengaja. Kaki ku tersandung." Segera mengambil kembali tote bag yang terjatuh yang semuanya kebetulan barang-barang dari toko branded DIOR!


Kebetulan sekali dan sekalian mereka ada di prancis pusatnya barang-barang branded terutama Dior, adalah sebuah produsen barang mewah asal Prancis yang dikendalikan dan dipimpin oleh pebisnis asal Prancis. Sehingga tak khayal Shana sangat kalap memanfaatkan waktu karena kapan lagi ia bisa membeli barang mewah.


"Sayang... Barang ku bisa rusak." Bisiknya setengah merengek disamping Adnan. matanya tidak lepas dari tote bag yang dibawa Airin.


"Bawa dengan benar!! Jika ku lihat ada yang rusak, kau harus menggantinya empat kali lipat." Kata Adnan menghardik.


"Tapi ini berat." Kata Airin.


"Bukan urusanku!" Kata Adnan tidak peduli.


Lanjut merangkul bahu Shana, dan mengajaknya pergi. Meninggalkan Airin yang masih terdiam di tempatnya.


"Kenapa harus aku yang membawa belanjaan Selingkuhan mu? Kenapa bukan kau yang kekasihnya?! Aku istrimu yang lebih berhak, bukan dia yang pelakor?! Harusnya dia sadar diri dan malu. Itupun jika dia memiliki harga diri sebagai wanita." Pekik Airin berbicara pelan tapi masih bisa di dengar Adnan.


Adnan menghentikan langkahnya. Menjadi pusat perhatian karena perkataan Airin, Adnan melangkah mendekati istrinya. Menarik kasar semua tote bag dari tangan Airin, dan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Airin.


"Kau sadar dengan ucapan mu? Maka tunggulah hukuman dariku!! Semakin hari kau semakin berani saja." Ketus Adnan.


Airin terdiam menatap kepergian Adnan yang kembali menghampiri Shana. Meninggalkannya ditengah kerumunan dengan perasaan sesak. Ternyata suaminya lebih mementingkan selingkuhan dari pada istri pertamanya.


Ini sudah larut malam. Tapi Airin tidak juga menemukan jalan kembali pulang ke hotel. Gadis itu kesasar setelah kejadian Adnan meninggalkannya sendirian di mall tadi, Airin pergi begitu saja tanpa sepengetahuan dan izin dari suaminya. Hatinya terlanjur kesal dan sesak. Sekeluarnya dari mall, Airin sudah menaiki 1 kali bus dan 2 kali taksi.


Taksi pertama mengantarkan Airin di sebuah taman di pusat kota, niatnya untuk menenangkan dirinya sejenak. Setelah tenang, Airin menaiki bus, ingin merasakan transportasi umum di sore hari, dan kebetulan fasilitas dari bus membuat Airin nyaman. Sehingga Airin harus tertidur sampai tujuan bus itu berakhir dibangunkan oleh sopir dan memberitahu Airin karena bus akan pulang ke pangkalan, dan tidak bisa mengantarkannya kembali ke tempat dituju.


Dengan terpaksa Airin turun, dan mencari taksi untuk kembali ke hotel. Dan sialnya, taksi yang di dapat tidak bisa mengantarkannya karena tempat Airin berada sekarang dengan hotel tempatnya menginap sangatlah jauh, butuh sampai 4 jam perjalanan. Bodohnya dia kenapa sampai bisa ketiduran di bus dan dengan berat hati sopir taksi mengantar Airin sampai seperempat perjalanan dan menyuruh Airin untuk menaiki bus atau kereta untuk sampai ketempat tujuan.


Sudah terhitung 1 jam Airin menunggu di halte, tapi tidak ada bus yang akan menuju ke tempat tujuannya. Kebanyakan bus yang datang akan mengantar penumpang ke dalam kota saja sedangkan tujuan Airin sudah berada di luar kota.


"Aku harus apa? Bahkan aku tidak tahu daerah sini. Penginapan juga sepertinya jauh dari sini. Apa aku harus menghubungi, Tuan? Apa dia ingin menjemput ku kemari? Tidak, tidak. Bahkan terakhir kali dia meninggalkanku." Kata Airin. Kesalnya sendiri, menoleh ke kanan kiri untuk mencari tumpangan.


Kelewat pegal, berakhir Airin jalan kaki menyusuri pinggiran jalan hingga melewati jembatan. Terhenti sejenak menikmati dinginnya udara air laut.


"Airin!!" Panggil seseorang.


Menoleh ketika namanya terpanggil dan sentuhan lembut di bahunya.


"Jadi, benar kau Airin!" Sebutnya.


"T-tu-tuan Daniel??" Airin terkejut melihat Daniel ada di kanada


Ya. Seseorang yang memanggil Airin adalah Daniel. Entah bagaimana dia bisa ada di Kanada, bahkan bertemu dengan Airin.


"Sedang apa kau di sini? Bukankah kau dengan kakak ada di bora-bora." Tanya Daniel


"Tuan sendiri sedang apa di sini? Kenapa tuan bisa ada di sini?"


"Aku memang di sini."


"Huh?!!" Pekik Airin tidak mengerti.


Daniel tersenyum tipis dan menggaruk alisnya.


"Aku datang ke sini untuk mengurus pekerjaan ku." Jawab Daniel tidak meyakinkan.


"Aku tersesat. Tadi aku ketiduran di bus hingga sampai sini. Dan butuh waktu 4 jam perjalanan untuk sampai hotel tempatku menginap. Masalahnya sejak tadi aku belum menemukan angkutan umum untuk ke sana."


"Kau tidak tahu jika di sini memang sedikit susah mendapatkan angkutan umum di jam seperti ini, terakhir operasional di sini jam 11 malam. Jadi, wajar sangat jarang angkutan umum untuk ke dalam kota." Jelas Daniel.


"Ikutlah denganku ke hotel tempatku menginap. Tempatnya tidak jauh dari sini, Aku akan mengantarkan mu besok."


"Huh!!" Tanya Airin celingukan.


Di sisi lain~


"Ke mana gadis itu?! kenapa belum kembali juga jam segini?! Nomornya juga tidak aktif. apakah aku harus mencarinya di luar sana? Memberi kabar pun tidak." Ujar Adnan yang menjadi risau.


"Aish, bodoh. Bagaimana jika dia ternyata di culik? Ke mana aku harus mencari dia di tempat orang seperti ini."


Berbagai pendapat masuk ke dalam pikiran pria itu yang mengkhawatirkan istrinya belum kunjung pulang.


Tok! tok! tok!


Mendengar ketukan pintu, Adnan melangkah cepat untuk membukanya.


"Sayang. Ada apa kau kemari?" Tanya Adnan.


"Apa istri mu itu sudah kembali?" Tanya Shana.


Adnan menggeleng. Menarik tubuh Shana dan memeluknya.


"Jika begitu, bisakah kau temani aku tidur di kamarku?"


"Baiklah. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur."


Shana mengangguk senang kemudian Adnan memeluk bahu Shana dan membawanya ke kamar gadis itu.


Kembali ke Daniel dan Airin.


"Jadi, Tuan Daniel menginap di sini?" Basa-basi Airin.


"Iya. Aku menginap di sini." Jawab Daniel sambil tersenyum.


"Aku sudah memesan kamar untukmu disebelah kiri, disebelah kanan itu kamarku. Istirahatlah, besok aku akan mengantarkan mu kembali ke hotel tempat kakak menginap."


"Terima Kasih banyak, Tuan Daniel. Kau sudah membantuku, aku akan membalas kebaikanmu nanti."


"Jangan bicara seperti itu, kita bukan orang lain dan kita tidak hanya satu hari. Jadi, jangan canggung. Untung saja aku memiliki urusan di sini, jika kau di sini dan tidak ada orang yang di kenal, Kau bisa saja akan di bawa pergi oleh orang jahat di sini."


Airin tersenyum manis membalasnya.


"Jika begitu, Aku ke kamar duluan, Tuan."


"Hem... Istirahatlah dengan nyaman. Semoga tidurmu nyenyak. Jika perlu apa-apa, kamarku ada disamping kamarmu."


"Hmm... Good Night." Pamit Airin.


"Night too, Airin..." Senyum bahagia Daniel.


"Perasaanku masih sama. Sejak pertama kita bertemu, dan melihat mu menjadi istri orang. Dan sampai sekarang, masih di sini untukmu, Airin. Aku datang jauh-jauh hanya untuk menjagamu agar tetap aman." Batin Daniel menatap kepergian Airin.


Sudut bibirnya terangkat untuk tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum malu, hanya karena memperhatikan gadis di depannya.