My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 53 : Seorang Malaikat Kecil



Akkhhh...


Airin langsung terduduk di lantai dalam sekejap akibat rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba terasa ngilu.


Airin terus mengerang kesakitan, sambil memegang perutnya yang terasa sakit, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya.


"Aaakkhh... Perutku!" Teriak Airin meringis kesakitan dan terus merosot ke bawah.


"Airin ada apa?" Adnan sontak datang yang mendengar teriakan dari dalam kamar Airin untuk menghampirinya.


"Perutku sakit, sepertinya akan melahirkan. Akkhh..." Ucap Airin.


"Me-melahirkan?! Ayo, Kita harus segera ke rumah sakit." Adnan itu panik mendengar istrinya akan melahirkan.


"T-tu-tuan... Sss-sa..kit sekali, Hiks..."


"Tenang sayang. Kita ke rumah sakit sekarang."


Adnan perlahan mengangkat tubuh Airin dan menggendongnya keluar kamar. Airin terus merintih, mengeluarkan keringat dingin dengan tangan mengusap lembut perutnya yang besar dan sedikit meremas dressnya karena saking tidak tahannya.


"Tuan... Hiks..."


"Bertahan sayang, Kau harus kuat.. Demi anak kita."


Airin mengangguk. Keduanya tangannya melingkar pada leher suaminya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Adnan untuk menahan rasa sakit pada perut dan juga tubuhnya.


Adnan masuk ke dalam mobil, mereka duduk di jok belakang, Ia mendudukkan tubuh Airin dan Adnan duduk di sampingnya. Mobil melaju meninggalkan kediaman Adnan. Adnan merangkul pundak Airin, Ia tidak peduli walau Airin berusaha berontak, hingga akhirnya ia tidak berontak lagi karena tubuhnya seakan tidak ada tenaga. Adnan menarik Airin dalam pelukannya dan mengelus perutnya yang kian terasa kencang menegang.


Mobil Adnan melaju cepat membelah jalanan. Adnan memakai sopirnya untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Karena kondisi sedang tidak memungkinkan jika ia sendiri yang menyetir, Adnan lebih baik menemani istrinya di jok belakang dan selalu berjaga di dekat istrinya.


Adnan sudah menghubungi saudara dan yang lainnya, kini mereka juga sedang perjalanan menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit. Adnan melihat sudah ada Kenzo yang menunggunya di lobby, Dengan brankar dan beberapa perawat di sampingnya. Adnan segera turun dengan masih menggendong Airin. Meletakkan Airin perlahan pada brankar kemudian perawat membawa brankar berserta Airin menuju Ruang bersalin.


"Kau temani istrimu. Dia pasti membutuhkan mu disisinya. Aku akan menunggu yang lain datang."


"Terima Kasih..." Setelah mengangguk dan mengucapkan terima kasih, Adnan segera berlari masuk menghampiri istrinya.


Di dalam Ruang bersalin sudah ada beberapa perawat dan dokter yang akan membantu persalinan Airin. Di samping Airin ada Adnan yang menggenggam kedua tangannya. Tidak sedikit pula mengecup wajah istrinya dengan kata penyemangat.


"Kau bisa sayang! Kau harus kuat. Kita akan segera melihat bayi kita. Aku akan menjadi ayah, dan kau adalah ibu yang paling hebat. Bertahan yaa, Aku mencintaimu dan anak kita."


"Tuan... Aku takut.."


Airin khawatir. Genggaman tangannya pada Adnan semakin kuat ketika dokter sudah memberi aba-aba di awal agar Airin bisa mengejan.


Selang beberapa menit, pihak dari keluarga Andra dan Dario telah sampai. Mereka menghampiri Kenzo yang duduk di ruang tunggu.


"Bagaimana dengan Airin?" Tanya Andra baru saja sampai.


"Airin masih di dalam. Adnan menemaninya." Jawab Kenzo.


"Semoga bayi dan ibunya baik-baik saja." Ucap Dario.


"Kita berdoa saja untuk keduanya. Semoga persalinannya lancar." Kata Kirana.


Della mengangguk. Kedua tangannya tidak henti merapatkan doa untuk adik dan calon keponakannya. Kirana yang tahu kecemasan adiknya, mendekat dan merangkul bahu Della memberi ketenangan. Kirana sendiri juga cemas, tapi dirinya berusaha tenang karena tidak ingin suaminya juga mengkhawatirkan dirinya yang juga sedang hamil tua setelah pernikahannya empat tahun lalu dan kini mengandung baru menginjak 3 Bulan.


1 jam telah berlalu. Nyatanya belum ada tanda-tanda atau suara bayi dari dalam ruangan.


"Kenapa lama sekali, Apa Airin baik-baik saja? Apa bayinya bermasalah?" Khawatir Kirana.


"Sayang, Tenangkan dirimu. Kau juga sedang hamil, Jangan memikirkan terlalu berat. Airin dan bayinya akan baik-baik saja. Ada Adnan di dalam yang menemaninya, kita tunggu saja sebentar lagi. Duduklah! Jangan berdiri terus, Kau bisa pegal!" Ucap Andra menenangkan istrinya.


Andra menuntun istrinya untuk duduk.


"Tapi ini lama sekali..."


"Iya... Hanya sebentar lagi.."


Andra berusaha menenangkan istrinya dengan mengusap lembut perut lumayan membuncit Kirana, agar bayi dalam kandungan pun ikut tenang.


"Kakak, Kau juga Duduklah!! Sedari tadi kau mondar-mandir." Kata Della memberitahukan Dario.


"Aku cemas Della... Aku takut terjadi sesuatu pada adik dan calon keponakan ku. Ini sudah satu jam lebih, Tapi belum ada tanda-tanda tangisan bayi."


"Kita berdoa saja agar persalinan ini di lancarkan. Bayi dan ibunya sehat dan baik-baik saja."


Dario mengangguk. Lalu, kembali duduk di samping adiknya. Tidak beda jauh dengan keempatnya, Ken juga khawatir sedari tadi dirinya bertukar pesan dengan Daniel di Paris dan Zemin di China yang terus menanyakan keadaan Airin dan bayinya setelah mendengar persalinan.


Ooekk... Oek...


Ketika mendengar suara tangisan Bayi, Bersamaan mereka mendekati jendela kaca. Di dalam ruangan yang awalnya tertutup tirai, kini tirai itu terbuka.


Suara bayi yang memenuhi ruangan membuat kelimanya menoleh pada pintu ruangan. Mereka berdiri terbuka. Menampilkan seorang perawat menggendong bayi yang masih kotor yang akan dibersihkan dan Adnan yang terlihat menangis memeluk Airin. Kelimanya tersenyum bahagia dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


...***...


Airin dan bayinya sudah kembali pulang ke Mansion.


Ceklek!!


Adnan memasuki kamarnya, terlihat istrinya yang sedang memberikan Asi pada bayi kecilnya.


"Apa dia sudah tidur?" Tanya Adnan menutup pintu dan berbicara pelan agar tidak membangunkan anaknya yang baru lahir dan menangis.


"Dia baru saja tertidur."


Adnan mengambil duduk pada sisi ranjang di samping Airin. Tangannya merangkul punggung Airin dari belakang sedangkan tangan sebelah, digunakan memeluk bagian depan yang mana juga memeluk bayi kecil dalam gedongan Airin.


Adnan mengecup sekilas anaknya, Lalu beralih mengecup wajah Airin berulang kali sembari menggumamkan kata Terima kasih. Airin terkekeh ketika merasakan wajahnya yang basah karena kecupan suaminya.


"Sudah! Kau bisa membangunkannya..." Ujar Airin menghentikan aktivitas Adnan yang sedang mengecupnya.


"Dia sudah tertidur pulas. Dia tidak akan terganggu."


"Apa kau sudah memikirkan nama untuk anak kita?" Tanya Airin.


"Tentu Saja. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari." Jawab Adnan.


"Benarkah?! Siapa?" Tanya Airin antusias.


"Ardan Haidar Atmadja. Bagaimana menurut mu?"


Ya. Bayi dan mereka dikaruniai anak berjenis kelamin laki-laki. Mereka berdua tidak memikirkan pusing anak pertama mereka harus terlahir anak laki-laki atau perempuan. Semua sama saja dan nikmat karunia tuhan yang diberikan pada mereka.


"Aku suka. Ardan. Airin dan Adnan. Benar? Huruf vokalnya adalah A sama seperti kita." Ucap Airin yang sudah bisa menebak arah jalan pikiran Adnan yang menggabungkan kedua nama mereka menjadi nama anaknya.


"Pintar sekali istriku!" Puji Adnan. Ia kembali memeluk dan menciumi istrinya.


"Apa kita akan menyebut keluarga kecil kita dengan menamai keluarga A. Namanya indah dan mirip sekali dengan Kak Andra. Hanya saja tinggal di susun perhurufnya."


"Apalagi nama yang harus aku berikan pada Putra kita? Nama itu yang sudah terlintas dari benaknya." Balas Adnan.


"Sangat indah. Aku menyukainya. Dan mulai sekarang kita akan memanggil putra kita dengan Ardan." Ujar Airin sembari terus tersenyum menatap putranya.


Adnan pun ikut tersenyum dan tidak henti memeluk istrinya.


"Tuan, Lihatlah kau membangunkannya."


Airin kembali menimang-nimang anaknya yang tadi terbangun karena guncangan sedikit dari Adnan.


"Apa sudah tidur kembali?"


"Sudah..."


"Mari... Biarkan ku pindahkan ke box bayi."


Airin menyerahkan putranya perlahan pada Adnan.


"Hati-hati..."


Adnan meletakkan perlahan pada box bayi.


"Pangeran Ayah tidur yang nyenyak, ya.. Tak apa kan tidur sendiri? Sekarang tinggal Ayah yang akan tidur dengan Ibu. Jangan rewel ya sayang.. Kau harus terbiasa seperti ini karena Ayah sedang mempersiapkan adik untuk mu!"


Dibisiknya ucapan itu di akhir kalimat. Setelah mengecup singkat putranya, Adnan kembali pada ranjang Airin.


"Ehh... Ingin apa??"


"Ingin menemani istriku tidur."


Adnan membaringkan tubuhnya di sisi Airin, membawa tubuh istrinya kedekapan dan memeluknya. Mengecup puas seluruh wajah istrinya. Merasa tidak ada respons, Adnan menatap istrinya yang mana Airin juga menatapnya dalam dengan tersenyum.


Keduanya saling menatap disertai senyuman manis. Jemari Adnan mengusap lembut pipi Airin.


"Terima kasih..." Ucap Airin.


"Seharusnya aku yang berterima kasih sayang. Terima kasih sudah menerima ku kembali. Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Terima kasih untuk hadiah besar ini, hadiah yang memang aku nantikan selama ini, Kau telah memberiku malaikat kecil yang sangat tampan. Aku rasa ucapan terima kasih saja tidak akan cukup untuk ku ucapkan atas rasa syukur yang tuhan berikan. Dan kata maaf tidak akan mampu menghapus semua dosa ku karena sudah menyakiti mu, tapi aku berjanji, mulai saat ini aku akan menjaga dan membuat kalian bahagia. Tidak akan ku biarkan air mata menetes kembali dari matamu. Aku berjanji, aku mencintaimu. Bahkan sangat!"


"Aku juga mencintai mu, Tuan. Tolong jangan tinggalkan aku."


"Tidak akan sayang. Aku tidak akan meninggalkan mu. Kita akan terus bersama. Aku, Kau, dan putra kita. Kita akan bersama, selamanya sampai melihat Adnan membawa seorang putri raja kehadapan kita hingga rambut kita tidak hitam lagi."


Keduanya saling memeluk dan mencium menyalurkan rasa cinta mereka tanpa peduli sekitar serasa dunia hanya milik berdua.


"Apa sekarang kita harus mulai melakukannya kembali untuk memberikan Adik kepada Ardan??" Lontar Adnan yang menggoda.


"Aaa... Jaangan! Luka ku belum kering. Tunggu saja Ardan cukup besar dan jangan terburu-buru seperti ini." Kata Airin merengek untuk menolak ajakan Adnan yang tidak habis dipikir.


Mereka berdua ribut di ranjang. Adnan terus saja menggoda istrinya yang tetap menolak.