
Pukul 20.00 Adnan memasuki mansion nya. Mendengar suara televisi yang menyala dan Adnan menghampiri ruang tengah.
Airin menoleh ketika seseorang mendekatinya. Menatapnya sekilas tangannya meraih remot televisi dan mematikannya. Lalu berdiri, pergi begitu saja melewati Adnan, tanpa menatapnya sama sekali.
Adnan terus memerhatikan gerak gerik Airin, sampai gadis itu memasuki kamar.
Blam!!
Ceklek!
Pintu yang sudah tertutup tiba-tiba membuat Airin yang sudah duduk di ranjang menoleh terkejut melihat suaminya sudah berada di dalam kamarnya. Tadi Adnan memang mengikuti Airin ketika gadis itu memasuki kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?! Keluar dari kamarku!!!"
Airin berdiri dari duduknya ketika Adnan melangkah mendekatinya.
"Tentu saja menemui istriku, Kenapa? Bukankah sudah kewajiban seorang istri melayani suami?!"
"A-apa maksudmu?! Keluar dari kamarku sebelum aku teriak!!"
"Berteriak lah. Bahkan tetangga tidak akan mendengarnya. Jika pun mendengar, pasti mereka tidak akan berani kemari. Mereka akan memaklumi karena kita suami istri."
"Jangan macam-macam. Pergi kau!! Dan sejak kapan kau mengakui bahwa kita suami istri, hah?!! Aku bahkan sudah tidak peduli dengan status itu Tuan Adnan!" Hardik Airin yang sudah ketakutan dan beberapa kali mendorong pria itu yang terlihat ingin memaksanya untuk menjauh.
Semakin dekat langkah Adnan, semakin mundur pula langkah Airin. Hingga punggung Airin terbentur pada dinding, kedua mata mereka tetap tidak saling lepas.
Cuph!
Hmmppt...
Kedua mata Airin membola ketika Adnan tiba-tiba mencium bibirnya. Kedua tangan Airin berusaha menahan kedua bahu Adnan, mencoba menjauhkan tubuhnya dari Adnan. Tapi semakin Airin menolak, semakin dalam ciuman Adnan di bibirnya.
Dengan cepat Adnan setengah melempar tubuh Airin hingga terjerembab dalam kasur dan menindihnya tanpa melepas tautan mereka. Airin terus memberontak melepas ciuman keduanya, sampai ia sudah memukuli punggung pria itu bahkan menjambaknya, tapi tangan Adnan segera mencekal tangan Airin, dan tangan sebelahnya mencoba menahan rahang Airin agar tidak goyah.
Plak!!
Adnan terpaksa melepas ciumannya ketika Airin menampar pipinya. Bukannya marah, Adnan malah tersenyum manis menatap Airin yang menangis di bawahnya.
"Manis. Ternyata bibir istriku sangat manis!
Tidak menjawab. Airin menatap mata elang suaminya dengan mata memerah. Membiarkan Adnan mengusap lembut air matanya yang keluar dari sudut matanya dan setelah itu menghindar.
"Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya."
Cuph!
Satu kecupan lagi Adnan daratkan untuk bibir manis istrinya. Tapi segera mungkin Airin menolehkan wajahnya, alhasil kecupan itu mengenai pipi basah Airin.
"Aku akan kembali ke kamar. Istirahatlah istriku. Jangan sampai sakit!" Kata Adnan setelahnya bangkit dari tubuh Airin.
Airin bahkan tidak menatap Adnan yang menghilang dari balik pintu kamarnya.
Sesampainya di luar kamar Airin, Adnan menutup pelan pintu kamar istrinya. Wajah yang tadi semringah di depan istrinya, kini kembali datar, melirik pintu kamar Airin yang tertutup dan melangkah pergi menuju kamarnya.
Sebelum memasuki kamarnya, Adnan menghampiri Rissa yang berada di dapur.
"Buatkan aku dua susu hangat, antar ke kamarku dan antarkan juga untuk Airin. Jika dia belum makan makan, siapkan makanan."
"Ba-baik Tuan, Akan saya siapkan dan antarkan segera."
Adnan pergi begitu saja meninggalkan Rissa yang masih menatap tidak percaya.
"Tuan kenapa, ya?! Tidak biasanya memikirkan makan Nyonya Airin. Kerasukan jin apa tadi pulang bekerja?! Atau kepalanya selepas terbentur meja, menjadi geser sedikit. Atau jangan-jangan tadi Tuan dan Nyo-..."
"Rissa... CEPAT!!!" Teriak Adnan menghentikan Rissa yang masih berbicara sendiri mempertanyakan sikap Adnan.
"I-IYA TUAN!!" Rissa segera tergesa-gesa membuatkan pesanan Adnan.
Setelah mengantar susu hangat ke kamar Adnan, Kini Rissa berada di depan kamar Airin.
Tok! tok! tok!
"Nyonya, ini saya. Rissa!!"
"Masuk!" Jawab dari dalam.
Rissa perlahan membuka pintu.
"Nyonya, Ini susu hangat untukmu."
"Tapi, Aku tidak memintanya, Rissa."
"Tapi, Tuan Adnan yang meminta saya membuatkan susu hangat untuk, Nyonya Airin. Dan Tuan mengatakan, Jika Nyonya Airin belum makan, saya harus menyiapkannya. Tapi tadi Nyonya sudah makan, kan, ya? Apa sekarang lapar lagi? Akan saya siapkan."
"Tuan Adnan yang meminta mu membuatkan ini untukku?"
Rissa mengangguk cepat dengan bibir yang terlipat lucu.
"Apa Tuan sudah sadar dan menyesali perbuatannya pada, Nyonya ?! Atau hanya pencitraan karena ada inginnya?! Semoga saja tidak. Oh, iya. Jadi, bagaimana? Nyonya ingin saya siapkan makan?"
"Tidak Rissa, Terima kasih. Aku masih kenyang. Lebih baik kau segera beristirahat."
"Nyonya yakin?"
Airin mengangguk.
"Baiklah, Nanti jika Nyonya perlu sesuatu, panggil saya saja, ya?!"
Airin kembali mengangguk.
"Jika begitu saya pergi dulu. Selamat malam Nyonya Airin, Semoga tidur yang nyenyak. Dan jangan lupa diminum susunya!"
"Terima kasih, Rissa."
Setelah kepergian Rissa. Airin termenung memikirkan ucapan Rissa. Apa benar Adnan, Aah... Airin menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran positif untuk Adnan. Mana mungkin pria itu akan berubah secepat ini.
Tidak ingin memikirkannya kembali, Airin segera mengunci pintu kamarnya untuk berjaga-jaga jika pria itu bisa saja menyelinap masuk. Ia kembali ke ranjang dan beristirahat.