My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 17 : Sensasi yang Berbanding Terbalik



Sinar mentari samar-samar menembus tirai jendela membuat gadis cantik terganggu dari tidurnya.


Airin terbangun, berusaha menyamarkan pandangan karena silau mentari. Hidungnya mencium Harum wangi masakan. Ahh,,, itu membuatnya lapar. Dengan bergegas Airin bangkit dan menuju kamar mandi membersihkan diri.


20 menit kemudian, Airin menuruni tangga, berjalan menuju dapur dan mendapati Daniel berkutat dengan beberapa alat masaknya.


"Tuan, Ternyata kau bisa memasak? Sejak kapan?" Kata Airin takjub.


"Eoh. Sejak kapan kau di sini? Dan bajumu tidak ganti?" Menelisik pakaian Airin dari atas ke bawah.


"Ck. Jangan memandangku seperti itu. Tuan kan tahu aku tidak membawa baju ganti. Rencana bertemu denganmu dan akan terjadi peristiwa ini saja tidak menyangka."


Tanpa bicara, Daniel pergi menuju kamarnya. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan membawa paper bag dan menyerahkannya pada Airin.


Airin terlihat linglung.


"Pakailah! Ganti pakaianmu! Kau tidak mungkin memakai pakaian kemarin, bukan."


"Dari mana Tuan dapat pakaian perempuan? Apa ini milik kekasih Tuan yang berasal dari Perancis? Ah, aku tidak ingin, aku tidak enak hati harus memakai barang kekasih, Tuan. Tidak apa aku memakai pakaianku saja, lagipula ini juga masih bersih dan wangi."


"Ganti pakaianmu... Atau ku gantikan di sini!!" Kata Daniel membuat Airin melotot.


Dengan terpaksa Airin berlari kecil ke kamar mandi setelah mengambil pakaian dari tangan Daniel dengan sarkas dan mengganti pakaiannya.


Di sisi lain~


"Sayang... Bangun!! Kita sarapan. Aku sudah memesan sarapan untuk kita." Ujar Shana menggoyangkan tubuh Adnan agar bangun.


"Aku akan mandi dulu." Adnan masih memejamkan matanya sambil bergumam.


Shana pergi menyiapkan pakaian untuk Adnan pakai.


Adnan menghampiri Shana ketika selesai membersihkan diri.


"Kau memasak?!!" Tanya Adnan yang lupa karena tadi setengah sadar.


"Aku memesannya..."


Adnan mengangguk mengiyakan. Mengambil tempat duduk untuk menikmati sarapan yang telah disediakan.


"Sayang, Kau tidak mencari istrimu yang hilang?"


"Malas." Jawab Adnan dengan malas juga.


"Apa kau tidak khawatir? Padahal dia belum kembali semalaman. Jika terjadi sesuatu padanya bagaimana?"


"Aku bahkan tidak peduli." Ketusnya.


Shana tersenyum menatap Adnan yang melahap makanannya dengan lahap dan semangat.


"Aku sudah selesai. Aku akan kembali ke kamarku. Nanti sore kita jalan-jalan." Kata Adnan selesai makan.


"Baiklah, Apa perlu ku temani?"


"Tidak sayang. Kau istirahatlah. Jika ingin sesuatu, hubungi aku!"


Shana mengangguk.


Adnan keluar dari kamar Shana setelah mengecup pipi istrinya.


Pantai Etretat, Prancis.



Keindahan pantai Etretat telah banyak mengundang para turis yang ingin menjadikan tempat ini sebagai objek wisata mereka. Di bagian barat pantai Etretat terdapat sebuah tebing kapur putih yang menjulang tinggi sehingga menyuguhkan pemandangan alam yang spektakuler. Selain itu, pantai ini juga memiliki hamparan pasir berwarna putih dengan tekstur yang lembut.


Pantai Etretat berada di wilayah Normandia yang membutuhkan waktu perjalanan selama dua jam dari ibukota Paris. Tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan saat akhir pekan.


"Apa kau suka tempatnya?" Tanya Daniel


Airin mengangguk antusias. Senyum cantiknya terus mengembang.


"Kau harus mencoba ke tengah. Ayo!" Daniel menuntun Airin membawanya ke tengah pantai.


Airin sedikit berjengit ketika Daniel tiba-tiba menarik lembut tangannya.


"Tidak ingin, Aku tidak bisa berenang, Tuan. Jangan ke tengah, itu akan bahaya ditambah ombaknya besar."


"Jangan takut. Ada aku."


Airin semakin memberontak ketika Daniel semakin membawanya ke tengah. Tapi semakin tertawa ketika ombak menerjang tubuhnya. Dengan merengek karena takut, Airin meringsutkan tubuhnya menempel pada Daniel. Dan ketika ombak kembali, Airin segera melompat ke dalam pelukan Daniel. Daniel pun tidak bisa menahan tawanya ketika Airin memeluk lehernya kelewat erat dengan kaki melingkar di pinggangnya, seolah sedang menggendong. Keduanya saling tertawa di tengah laut dan ombak yang terus menerjang mereka.


"Ayo kita pulang! Ombaknya semakin besar, Aku takut kita terbawa sampai tengah laut dan Aku hilang tenggelam." Rengek Airin yang ketakutan.


"Hhhh,,, Baiklah, Baiklah. Kita ganti dulu pakaian kita setelah itu, aku akan mengantarmu ke hotel kakak." Ujar Daniel yang senang bisa berlibur dengan Airin.


...***...


"Tuan, Terima Kasih sudah mengantarku sampai sini. Terima Kasih juga untuk hari ini dan maafkan aku jika sudah merepotkan mu." Ujar Airin di lobby hotel tempatnya menginap dengan Adnan.


"Hemm... Aku senang bisa bertemu dengan mu di Kanada. Masuklah! Pasti suamimu sedang menunggumu."


"Baiklah, Aku masuk dulu. Tuan, Hati-hati pulangnya."


Daniel mengangguk dengan tersenyum. Lalu, menatap kepergian Airin yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya.


Ceklekk...!


"Ku kira dia akan mencari ku. Tapi dia ternyata sibuk bersantai. Jika seperti ini aku tak akan pernah kembali." Gumam Airin menoleh. setelah menutup kembali pintu, berjalan perlahan mendekati suaminya


"Tuan, A-aku..."


"Aku tak butuh penjelasan darimu." Cetus Adnan yang langsung menyambar


"Aku tidak peduli siapa pria itu. Bagaimana kalian bertemu, Bagaimana dia bisa mengantarmu, Bagaimana dia bisa ada di sini? Bahkan apa kalian sudah tidur bersama semalam. Aku tak peduli!" Langsung hardik Adnan.


"Tuan! Apa yang kau bicarakan?! Kau salah paham. Aku dengan Tuan Daniel tidak melakukan apa yang kau tuduhkan. Semalam aku tersesat sampai ke luar kota, dan tidak ada angkutan umum untuk kembali ke dalam kota ini. Aku dengannya tidak sengaja bertemu, Aku juga tidak tahu kenapa tuan Daniel bisa ada di sini, Tapi dia berkata karena dia memiliki urusan pekerjaan di Kanada. Dan dia janji akan mengantarkan ku kembali kemari, jadi aku menginap di rumahnya karena sudah terlalu malam."


"Kau pikir aku percaya? Siapa yang tahu apa yang kalian lakukan di hotel itu, hum?! Bisa saja kalian saling berjanjian, kau menyuruhnya untuk datang ke sini. Ternyata kau munafik di balik wajah lugu mu. Entah berapa pria yang sudah masuk dalam jebakanmu. Dan entah berapa pria yang sudah mengagahi mu. Berapa tarif mu dalam semalam? Aku bi..."


Plakk...!


Saat sibuk memaki, kepala Adnan dipaksa tertoleh ke samping, ketika tamparan keras dari Airin mendarat sempurna di pipi putihnya.


"Pantaskah kau bicara seperti itu pada istrimu sendiri? Apa kau tidak tahu diri dan seketika lupa tidak berkaca pada dirimu sendiri.Kau mengusirku demi wanita selingkuhan mu saat di mall. Dan aku tersesat, aku tidak pulang semalaman, Apa kau mencari ku? Mengkhawatirkan ku?! Dan ketika aku bisa pulang, kau menuduhku dengan hal keji yang tidak ku lakukan." Kecam Airin.


"Akh...!"


Adnan mencengkeram keras rahang Airin.


"Berani sekali kau menamparku?!! Rupanya kau juga ingin diperlakukan dengan kasar seperti ini, hum?!! Semakin hari perilaku mu semakin berani saja."


"Lep-lepas, Tuan! I-ini sakit."


"Sakit?" Adnan menambah cengkeraman nya lebih kuat bukan melonggarkannya.


Akhh..


Lalu, Adnan menambah jambakan pada rambut belakang Airin.


"Apa kurang sakit? Ingin yang lebih sakit dari ini?"


Airin menggeleng cepat dengan air mata yang keluar dari ujung matanya.


Adnan melempar tubuh Airin hingga tersungkur di ranjang.


"Kali ini kau lolos. Lain kali aku bisa lebih kasar dari ini jika keberanian mu saat ini tidak bisa dikendalikan." Kecam Adnan.


Adnan pergi begitu saja meninggalkan Airin yang sesegukan dengan sesak dihatinya.