
Di Perusahaan Future Company...
"Tuan, Ini laporan yang anda minta." Ucap Shana yang berbicara formal jika sedang bekerja. Karena ia harus tetap profesional sebagai Sekretaris agar tidak memancing kecurigaan orang banyak mengenai hubungannya dengan sang atasan.
"Hmm... Letakkan saja di meja. Nanti akan ku periksa." Ucapnya tanpa melihat pada siapa ia bicara.
Adnan mengangkat kepalanya ketika merasa sekertarisnya tidak beranjak dari tempatnya.
"Kenapa masih di sini? Kembali ke ruangan mu!" Hardik Adnan.
"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?"
"Jangan bahas sekarang. Kita sedang bekerja. Aku juga sedang banyak pekerjaan."
"Tck... Kau benar-benar tidak ingin menjelaskan sesuatu?!"
"Tidak ada yang perlu ku jelaskan. Kembalilah ke ruangan mu sebelum ada orang lain yang melihat!!"
Shana menatap tajam Adnan, sebelum dirinya keluar dari ruangan kekasihnya.
Di Mansion Andra...
Airin mengunjungi mansion kakak iparnya untuk bertemu dengan Kakaknya Kirana.
"Airin, Kakak tadi masak banyak." Ucap Kiran.
"Hmm... Nanti aku akan makan."
"Kakak akan mengantarkan makan siang untuk Suami ku. Kau tidak ingin mengantarkan makan siang juga untuk suami mu?"
"Tidak. Dia mungkin sudah makan dengan kliennya." Ini bukan yang dimaksudkan mengenai klien, melainkan selingkuhan.
"Kau ini istri macam apa? Meskipun kalina sempat bertengkar tapi tidak baik terus marah dalam waktu lama. Datang kemari pagi-pagi hanya untuk bersantai dan bermain ponsel. Cepat siapkan makan siang untuk suamimu!!"
Airin berdecak tetap menolak perintah kakaknya.
"Kau siapkan untuk suami mu, atau Kakak laporkan pada Kak Dario, bahwa kau tidak mengurus suamimu dengan baik."
"Iya.. Iya.. Akan ku siapkan dan aku antarkan ke perusahaannya."
Kirana tersenyum menang, tangannya terulur mengusap kepala adiknya.
"Istri yang baik. Oh.. baiklah, Kakak berangkat lebih dulu saja. Anggap saja rumah ini milik mu."
"Hmm..."
Airin bergegas menyiapkan bekal untuk suaminya.
Tak lama kemudian, Saat ini Airin sudah berada di perusahaan suaminya. Dengan sebuah paper bag di tangannya, langkahnya sangat santai menuju ruangan suaminya. Sesekali membalas senyuman sapaan dari pegawai suaminya. Setelah menaiki lift, Airin berjalan menuju ruangan Adnan.
Ceklek!
Airin menatap datar sepasang kekasih yang buru-buru melepaskan tautan mereka. Sepertinya mereka agak terkejut karena ada orang yang tiba-tiba masuk ruangan. Airin tidak peduli. Airin masuk dan mendekati meja kerja Adnan, meletakkan paper bag yang dibawanya dengan kasar di atas meja.
"Kak Kirana memintaku untuk mengantarkan makan siang untukmu. Jika tidak ingin memakannya, buang saja." Ketus Airin rautnya datar tanpa ekspresi. Ia segera berlalu dari ruangan Adnan.
Adnan menatap intens kepergian Airin tanpa mengetahui jika kekasihnya juga menatap Airin tajam.
"Selalu saja setiap kali aku datang melihat pemandangan seperti itu! Apakah tidak ada adegan yang lebih hot lagi selain itu, hah?! Cih menyebalkan!" Mengomel Airin di dalam lift menuju lantai bawah.
...***...
Airin berada di supermarket. Berbelanja untuk keperluan dapur. Di saat sampai ke produk berikutnya yang ingin ia beli, Airin kesulitan mengambilnya, karena letaknya di rak tertinggi.
"Kenapa tinggi sekali?!" Kakinya menjinjit, tangannya mencoba meraih produk yang akan diambil. Tapi berulang kali gagal.
"Minta tolong jika tidak bisa mengambilnya. Jika tiba-tiba raknya tumbang, bisa mencelakai mu."
"Ini! Ambil lah!" Ucapnya menyodorkan barang tersebut.
Airin masih terdiam menatap Zemin, Pria yang menolongnya. Zemin melambaikan tangannya di depan wajah Airin. Kemudian Zemin, tersenyum ketika Airin tersadar dan mengerjapkan matanya lucu.
"Ini ambil! Kenapa malah melamun?"
"Uh... I-iya. Terima kasih, Zemin."
Zemin terkekeh ketika Airin mengambilnya dengan cepat.
"Kau sendiri?" Tanya Zemin kemudian.
"Iya aku sendiri. Kau juga mencari sesuatu?"
"Aghh, Iya. Aku sampai lupa. Aku ingin membeli minuman tadi, Tidak sengaja melihatmu jadi aku menghampiri mu yang sedang kesulitan meraih barang ini. Masih ada lagi yang perlu diambil?"
"Aku sudah selesai..."
"Hmm... Kau tunggu di kasir, aku akan mengambil minuman dulu."
Airin mengangguk, lalu pergi lebih dulu ke kasir.
Setelah dari kasir, keduanya keluar dari supermarket bersamaan.
"Zemin, aku jadi malu. Terima kasih sudah membayar semua barang belanjaan ku, lain kali akan ku ganti."
"Jangan dipikirkan. Tidak perlu diganti. Setelah ini, Kau ingin kemana?
"Sepertinya aku langsung pulang saja. Sudah tidak ada tujuan ingin pergi kemana."
"Bagaimana jika kita mampir makan sebentar. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku ingin berbincang banyak denganmu sebelum pulang ke China."
"Kapan kau akan kembali ke sana?" Tanya Airin demikian.
"Belum ada rencana. Jadwal ku di sini masih padat, karena aku ingin lebih dulu menyelesaikan semua pekerjaan ku di sini hingga tuntas daripada harus pulang pergi antara Indonesia dan China menghadiri para undangan pertemuan kerja sama klien ku di sini." Kata Zemin.
"Emm... Baiklah. Ayo kita pergi makan bersama."
Zemin tersenyum. Lalu, mengambil alih belanjaan Airin dan berjalan ke mobil untuk dimasukkan ke bagasi mobilnya dan diikuti Airin di sampingnya.
...***...
Pukul 22.00 Wib.
Airin baru saja sampai mansion, dengan diantar Zemin sampai depan gerbang mansion.
"Dari mana saja baru pulang?"
Kedatangan Airin langsung di sambut dengan pertanyaan Adnan yang sedari tadi menunggu kepulangan istrinya yang tak kunjung datang hingga larut malam.
"Jalan-jalan!" Jawab Airin dingin dan singkat.
"Dengan mantan kekasih mu?" Ucap Adnan karena ia tahu jika Zemin adalah mantan kekasih istrinya sejak menempuh pendidikan.
"He...Hemm..."
Tanpa menatap Adnan, Airin terus berjalan melewatinya, tapi langkahnya terhenti ketika Adnan mencekal lengannya.
"Pantaskah wanita bersuami pergi dengan pria lain. Apalagi mantan kekasihnya?!"
"Suami?! Sejak kapan kau menyebut dirimu suami? Bukankah aku orang lain bagimu?!" Jawab Airin terhenti dan menjawab dengan nada cukup tinggi.
"Bagaimanapun juga aku suamimu yang sah. Kau ingin dipandang murahan dengan berjalan dengan pria lain?!" Geram Adnan, semakin mengeratkan cekalannya.
"Lalu, Bagaimana denganmu? Bermesraan dengan wanita lain di depan istrimu. Bercumbu dengan wanita lain di hadapan istrimu. Mengajak kekasihmu tinggal bersama dengan rumah yang kau tempati dengan istrimu. Bukankah itu artinya kau lebih murahan daripada aku?" Tekan Airin menyebutkan satu persatu keburukan suaminya.
Adnan terdiam. Baru ingin membuka mulut, Airin lebih dulu menghempas tangan Adnan dari lengannya.
"Harusnya kau atur hidupmu dulu, baru mengatur hidupku! Aku tidak akan menentang mu, Jika kau tidak lebih dulu berulah, Tuan Adnan Miller!" Kecam Airin. Ia pergi begitu saja, meninggalkan Adnan yang menatapnya dengan rahang mengeras.