My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 44 : Menjemput Istriku



"Airin!!" Panggil Daniel dengan menyentuh bahunya.


"B-bagaimana jika Tuan Adnan tahu aku hamil?! Dia tidak akan ingin menceraikan ku. Bagaimana jika S-..."


Ucapan Airin terhenti ketika tangan Daniel mencengkeram lembut kedua bahunya.


"Hei, Tenang! Jangan dipikirkan. Kau tidak boleh banyak pikiran. Ingat! Ada kehidupan lain dalam dirimu." Kata Daniel mencoba memberi pengertian.


"Ta-tapi aku takut jika dia tahu."


"Kita akan sembunyikan ini sampai kau benar-benar siap memberitahunya. Jangan takut, banyak yang menyayangi mu dan akan melindungi mu."


Airin mengangguk lesu, lalu menundukkan kepala menatap perutnya yang masih rata dan mengelusnya pelan.


Akhirnya Airin keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju dapur.


"Kak Airin, makan dulu, ya?! Kau belum makan sejak tadi, bahkan makan siang pun kau muntahkan." Kata Jasmine yang ada di dapur juga.


Airin mengangguk, lalu Jasmine mengambil piring dan menyajikan makanan dari meja yang sudah di siapkan bibi tadi sebelum Dokter datang.


"Jasmine, Kau temani Airin. Aku akan bicara dengan Zemin." Ucap Daniel yang menuruni anak tangga menuju arah luar.


"Iya Kakak..." Jawab Jasmine berteriak.


...***...


Esok Hari...


Airin mengalami morning sickness yang membuatnya mual dan muntah.


Huek.. Hoek.. Hoek..


Secara telaten, Daniel membantu memijat pelan tengkuk Airin agar terasa lebih nyaman.


"Kita ke rumah sakit, ya?! Wajah mu pucat, Airin..." Ujar Daniel.


"Tidak Tuan. Hal ini wajar untuk wanita hamil. Nanti akan lebih baik. Hanya perlu istirahat sebentar."


"Kak Airin, minum dulu teh hangatnya. Ini akan terasa lebih baik kata Bibi" Airin mengambil gelas dari tangan Jasmine dan meminumnya perlahan dengan Jasmine membantu Airin memegang gelasnya.


Daniel menuntun Airin ke arah ranjang.


"Istirahatlah!!"


"Kak, Kau tidak bekerja? Kau sudah terlambat." Ucap Jasmine bertanya.


"Tidak. Aku akan menemani Airin."


"Aku tidak apa, Tuan. Ada Jasmine di sini. Pergilah!!" Ujar Airin dengan suara lemas.


"Benar kau tidak apa?"


Airin mengangguk.


"Baiklah. Jika terjadi apa-apa, segera hubungi aku. Mengerti!!"


"Mengerti!"


Daniel mengusap lembut kepala Airin, lalu pergi.


...***...


Di sisi lain sedang terjadi keributan...


"AKU TAHU KALIAN SENGAJA MENYEMBUNYIKAN Airin DARIKU. KATAKAN DI MANA Airin?!! DIA MASIH ISTRIKU. AKU yang BERHAK ATAS DIA. BUKAN KALIAN!!"


"Sudah ku katakan, Aku tidak tahu. Kenapa kau tidak mencarinya di tempat lain?! Aku kesini bukan ingin bertengkar, Adnan." Jawab Kenzo.


"AKU TAHU KAU SEKONGKOL DENGAN Daniel MEMBAWA Airin PERGI. JANGAN PERNAH IKUT CAMPUR, KENZO. INI RUMAH TANGGAKU."


"Kau memang munafik, Adnan. Di saat dia tulus padamu, Kau sudah menyakitinya, menghancurkannya, demi wanita lain. Dan sekarang, lihat!! Di saat kau dikhianati kekasihmu dan istrimu sudah lelah dengan semuanya. Dia ingin pergi darimu, kau malah menghalanginya. Karma itu nyata!" Cerca Kenzo menguatkan rahangnya untuk marah.


Lalu, kembali berkata...


"Nikmati saja hasil yang kau tuai. Bukankah ini yang kau harapkan?! Kau bahkan tidak pernah mencintai istrimu. Padahal niat kami baik untuk mendekatkan mu dan menikahi seorang wanita yang asal-usulnya jelas. Kurang apa ayah dan ibu padamu, jika mereka sampai tahu, mereka adalah orang yang paling kecewa karena kau tidak menghargai pemberiannya. Aku akan membantu Dario, Kakak Airin mengurus surat cerai mu dengan Airin."


"Perceraian itu tidak akan ada. Tidak akan pernah."


"Kau sudah kalah. Penceraian ini akan tetap ada!"


"Kau-... Arggh!!!


...***...


5 Hari Berlalu...


"Oh, Nona Airin kenapa kemari? Nona perlu sesuatu? Biar saya siapkan." Kata pelayan di rumah Daniel.


"Tidak Bi, Saya hanya ingin mengambil air minum saja. Saya haus. Air di kamar sudah habis."


Bibi membantu mengambilkan air dalam gelas dan memberikannya pada Airin.


"Terima kasih..."


"Sama-sama, Nona..."


Lalu, Bibi kembali mengambil air dalam botol untuk dibawa ke kamar Airin.


"Seharusnya Nona Airin memanggil saya, Saya bisa mengambilkannya. Anda tidak perlu repot-repot kemari, Saya takut terjadi sesuatu pada Nona."


"Saya tidak apa-apa, Bi. Jangan khawatir! Lagipula saya tidak akan kenapa-kenapa."


"Baiklah. Nona kembali saja ke kamar. Ini minumnya saya yang akan antar ke kamar Nona."


"Terima kasih, Bi..."


Airin pergi dari dapur setelah menghabiskan minum dalam gelas.


"Airin!! Kau sedang apa di dapur?" Tanya seseorang melihat Airin berada di dapur.


"Lho! Zemin, Kau sudah pulang? Aku hanya ingin minum." Jawab Airin.


"Aku hanya mengambil berkas yang tertinggal. Kenapa tidak memanggil Bibi?! Ingat Airin, Kau sedang hamil, Jangan banyak aktivitas dan kelelahan."


"Aku tidak apa-apa, Zemin..."


Ding.. dong..


Suara bel rumah.


"Biar Saya yang membukanya, Tuan, Nona." Bibi setengah berlari ke arah pintu untuk membukanya.


"Daniel!!" Teriaknya langsung menyelonong masuk.


Airin hanya menatap Bibi dan pintu. Siapa yang bertamu siang-siang begini?!


"Di mana Daniel?" Tanyanya pada Bibi.


"Tuan Daniel sedang berada di perusahaan, Tuan." Jawab Bibi dengan menunduk hormat


"Kau kenal dan tahu di mana Ai-..." Ucapannya terhenti ketika maniknya menatap dua orang yang berdiri tidak jauh di hadapannya.


Pandangan mereka bertemu. Airin bahkan mematung di tempatnya.


Zemin yang tersadar lebih dulu, mengerti akan kecemasan Airin saat wanita itu melangkah mundur. Zemin seketika tergerak berdiri dihadapan Airin, membawa wanita itu berlindung di belakang punggungnya.


"Tuan Adnan, Ada apa kemari? Daniel sedang di kantornya, Kau bisa kesana jika itu penting."


"Aku ingin menjemput istriku..." Jawab Adnan dengan langkah cepat menghampiri keduanya.


"TETAP DI TEMPAT MU, Tuan!! Jangan mendekat!!" Teriaknya Zemin memasang badan untuk Airin ketika Adnan baru melangkah ingin mendekatinya.


"Jangan ikut campur, Tuan Zemin. Airin, Ayo pulang!! Aku minta maaf. Aku sudah lama mencarimu."


Airin menggeleng. Pegangan pada jas belakang Zemin semakin mengerat dan tubuhnya bergetar hebat. Zemin melirik Airin dari balik bahunya.


"Dia tidak ingin, Tuan. Lebih baik kau pulang. Biarkan istrimu tenang sementara waktu." Ucap Zemin.


Adnan menggeleng. Kembali melangkah, tapi terhenti ketika Airin kelabakan dan merapatkan tubuhnya pada punggung Zemin.


Zemin mengusap lembut punggung tangan Airin yang berada di pinggangnya. Tangan wanita itu sangat dingin.


"Tuan Adnan, Kau membuatnya takut. Pulanglah! Biarkan istrimu tenang dulu. Kau bisa kembali lagi lain hari."


"Tidak. Aku akan membawa-..."


"Dengarkan aku, atau Airin akan semakin membencimu, Tuan Adnan!!" Teriak Zemin sudah kesal karena Adnan terus membangkang.


Adnan menatap sendu istrinya dibalik punggung Zemin, Kemudian menghela napas panjang.


"Baiklah. Aku akan pergi. Aku akan kembali lagi nanti. Tolong jaga dia!" Adnan pergi meninggalkan Rumah Daniel.