
Di tengah malam Airin keluar dari kamarnya menuju dapur. Seluruh ruangan gelap, hanya samar-samar penerangan dari lampu taman yang menembus jendela kaca. Jadi, itu memudahkan langkah Airin untuk tidak menabrak benda disekitar. Langkahnya menuju dapur, tenggorokannya sangat kering. Tanpa menyalakan lampunya, Airin mengambil air dingin dalam kulkas dan menuangnya dalam gelas.
Blam!!
Uhukk!
Lampu dapur tiba-tiba menyala, mengejutkan Airin yang sedang minum sampai tersedak.
"Maaf, maaf, maafkan aku... Aku mengejutkan mu. Kau tidak apa-apa, kan?" Tanya seseorang terdengar terkejut juga dan rupanya di dapur tersebut bukan hanya ada Airin.
"Aku tidak.. Uhukk.. Apa-apa.. Uhukk, uhuk.." Ucap Airin masih tersedak dan belum melihat siapa yang sedang ada bersamanya. Begitu pula dengan seseorang yang belum melihat wajah wanita yang terhalangi rambut terurainya itu.
"Sekali lagi maafkan aku." Orang itu membantu menepuk-nepuk pelan punggung Airin.
"Ada apa ini?! Astaga, Kau kenapa? Hey, Kau apakan dia?" Khawatir Daniel yang terbangun karena mendengar keributan dari dapur.
"Aku ingin mengambil minum. Saat aku nyalakan lampunya, mungkin dia terkejut dan tersedak. Aku juga tidak tahu jika ada orang." Jawab orang tersebut.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Tuan.."
"Minumlah sedikit untuk meredakan batuknya." Ujar Daniel.
Sedangkan seseorang sedang memiringkan kepalanya penasaran untuk melihat siapa wanita yang ada di rumah Daniel sedang membelakanginya itu. Ia pikir itu adalah adik Daniel, tapi firasatnya mengatakan bukan.
Airin menurut meminum airnya tadi yang tersisa.
"Sudah lebih baik?" Tanya Daniel.
"Sudah, Tuan..."
"Zemin, Kau ini sudah mengejutkan Airin!" Ucap Daniel berikutnya.
"Airin??" Pekiknya..
"Apaa?? Zemin?" Lirih Airin tertegun. Airin pun mendongakkan kepalanya dan menoleh ke pria yang ada di sampingnya. Keduanya sama-sama terkejut ketika mengenali kedua wajah itu.
Zemin!
Airin!
"K-kau kenapa bisa ada di sini??" Pekik Airin sontak tercekat.
"Lalu, Kau juga mengapa bisa ada di sini?" Lontar Zemin pun menanyakan keberadaan Airin.
Daniel hanya tertawa kecil dan mencoba menjelaskan keterkejutan dan kebingungan mereka.
"Iya Zemin, Untuk sementara Airin akan tinggal di rumah ku karena hubungannya dengan Adnan sedang tidak baik-baik saja. Dan Airin, mantan kekasih mu ini ternyata orang yang tidak berada. Karena kami sekarang menjadi teman dekat, selama dia ada di Indonesia, dia akan tinggal di rumah ku."
"Hey, Jangan merusak harga diri seseorang, ya. Kau sendiri yang menawari ku untuk sebaiknya tinggal di rumah mu daripada menyewa apartemen. Jika kau tidak memaksa, aku masih mampu menyewa apartemen elite." Lontar Zemin membela dirinya.
"Tapi, Kau menerima tawaran ku, Kan?! Daripada selama kau ada di sini mengeluarkan banyak biaya, lebih baik hidup gratis dengan ku. Tenang saja, aku tidak akan meminta imbalan sewa darimu."
"Itu benar, Airin. Jadi, Sebenarnya aku memang tinggal di sini bersama Daniel. Tapi sungguh, bukan aku yang meminta bantuan darinya. Kau masih ingat saat di restoran itu? Dia menawariku tempat tinggal dan dia sendiri memaksa, aku pun terpaksa menerima tawarannya. Karena selain klien, dia sudah menjadi teman ku. Walaupun sepertinya kami akan bersaing di sini setelah kau datang..." Ujar Zemin menjelaskan.
Daniel yang mengerti maksud di kalimat akhir, menyikut pinggang Zemin hingga meringis.
"Hha... Aku tidak pernah memikirkan jika pertemuan di China akan membuat kalian berteman seperti sekarang. Tidak masalah, aku senang kalian membentuk hubungan baru. Bukankah teman harus membantu. Lagipula Tuan Daniel sangat baik dan rumahnya sangat besar, Aku jadi merasa malu karena harus menumpang."
"Tidak perlu malu. Zemin saja yang sudah lama tinggal di sini, tidak mengenal tahu malu lagi." Sindir Daniel mengejek.
Semua pun tertawa. Zemin tidak mengambil hati karena ia tahu Daniel sedang bercanda.
"Di rumah ini kau memiliki dua beban dan bertambah dengan adik mu menjadi tiga. Setidaknya Airin akan aman di sini karena jauh dari suaminya." Kata Zemin.
"Benar. Adnan memang sungguh keterlaluan. Nanti aku akan ceritakan bagaimana kronologinya padamu." Jawab Daniel.
Lalu, kembali bertanya...
"Lalu Airin, Sedang apa kau tengah malam di dapur gelap-gelapan? Kau membutuhkan sesuatu? Kenapa tidak mengatakan padaku?" Tanya Daniel.
"Aku hanya ingin mengambil air minum saja. Maaf jika mengganggu tidur mu."
"Tidak apa. Aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu padamu."
"Oh iya Airin, sekali lagi maafkan aku karena tadi mengejutkan mu. Aku benar-benar tidak tahu jika ada kau di rumah Daniel."
"Tidak apa-apa, Zemin." Jawab Airin tersenyum manis.
Jasmine tiba-tiba datang dan berdiri di samping Zemin.
"Aku haus Jasmine, Jadi aku mengambil air minum. Apa kau terbangun karena keributan ini?"
"Tidak, Aku memang belum tidur. Aku tidak bisa tidur..."
"Emm... Sebenarnya aku juga tidak bisa tidur." Jawab Airin demikian.
"Jika begitu kita berbincang-bincang, yuk! Aku ingin mengenal Kak Airin lebih dekat lagi."
Airin mengangguk. Jasmine menggandeng lengan Airin dan diajaknya ke ruang keluarga. Daniel dan Zemin mengikuti keduanya dari belakang.
"Jadi, benar kau kekasih Kak Daniel?" Tanya Jasmine menanyakan kepenasarananya.
"Bukan. Kau sudah salah paham." Jawab Airin menepis.
"Lalu?!"
"Airin adalah istri sepupu kita, Adnan!" Ucap Daniel dari belakang.
APA!!
Teriak Jasmine terkejut. Semua orang juga terkejut mendengar teriakan Jasmine yang begitu syok, tapi mereka masih bisa mengontrol ekspresinya.
"Istri Kak Adnan? Kakak! Jadi, kau membawa lari istri orang? Bagaimana jika Kak Adnan mencari Kak Airin? Kakak tahu sendiri kan dari sejak kecil dia itu menyebalkan. Kakak. Aish, kau membuat masalah saja dengannya."
Benar yang dikatakan Jasmine. Seingatnya saat teman kecil dahulu, Adnan memang cukup menyebalkan bagi Airin. Ia kerap kali mendorong Adnan untuk melawan ketika ada yang berbuat jahil padanya, tapi dia selalu diam dan enggan mengeluarkan suara sepatah katapun. Tapi sekalinya bicara, dia membuat orang lain sakit hati.
"Tck... Jangan asal bicara. Atau aku akan benar-benar mencabut uang jajan mu di sini. Dengarkan dulu." Kata Daniel.
"Jika begitu jelaskan semuanya secara detail!!"
Daniel mulai menceritakan semuanya, berulang kali umpatan Jasmine lontarkan untuk Adnan dan Airin berusaha menenangkan Jasmine. Sedangkan Zemin, ia juga ikut kesal dan diam-diam mengepalkan tangannya sedari mendengar seluruh penjelasan Daniel. Airin hanya diam di samping Jasmine, sesekali menunduk mengingat apa yang dilakukan suaminya padanya. Mereka semua bergadang dan berbincang hingga menjelang pagi.
...***...
Di Mansion Adnan...
"Selamat pagi, Tuan." Sapa Rissa menyambut kedatangan Tuannya ke dapur.
"Hmm..."
"Sarapannya sudah siap. Apa Tuan ingin sarapan sekarang? Atau ingin minum kopi terlebih dulu?"
"Jam berapa Airin pulang semalam?" Bukan menjawab, melainkan Adnan melontarkan pertanyaan.
"Uh! Nyonya Airin pulang?? Saya tidak tahu kapan Nyonya Airin sudah pulang, Tuan. Saya pikir beliau tidak pulang karena semalam saya tidur larut, dan saya juga tidak melihat tanda-tanda kepulangannya." Jawab Rissa.
Adnan seketika meninggalkan Rissa di dapur melangkah cepat menuju kamar Airin untuk memastikan apakah ia pulang atau tidak?!
Ceklek!
Benar saja. Kamar Airin kosong, keadaan kamarnya masih sama seperti kemarin di tinggalkan. Adnan menatap sekeliling kamar dengan termenung. Kemudian, mendekati lemari pakaian, semua barang-barang Airin masih tertata di tempatnya. Kemungkinan gadis itu akan kembali pulang harapannya.
Adnan kembali menuruni anak tangga.
"Rissa!!" Panggil Adnan kembali.
Rissa berlari tergopoh menghampiri Adnan.
"I-iya Tuan. Tuan perlu sesuatu?"
"Aku akan pergi sebentar. Jika Airin pulang, hubungi aku. Dan halangi dia jika ingin pergi kembali sampai aku datang." Perintahnya.
"Baik Tuan." Jawab Rissa mengangguk.
Adnan menatap Rissa sebentar seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Lalu, pergi meninggalkan Mansion.
Rencananya, setelah kepergiannya tadi, Adnan akan pergi ke apartemen Shana untuk menjenguknya.
Adnan perlahan melangkah menyusuri koridor apartemen. Kepalanya berdenyut merasakan masalahnya dengan Airin. Dia membutuhkan tempat berbagi, tidak mungkin dirinya mendatangi kakaknya, karena kakaknya sendiri sudah marah padanya.
Setelah menekan pin, Adnan memasuki apartemen kekasihnya. Matanya menelusuri setiap ruangan, mencari Shana. Sepertinya kekasihnya memang tidak ada di tempat. Adnan berniat melangkah pergi, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara aneh. Suara itu berasal dari kamar utama, Adnan perlahan mendekati pintu kamar, mata Adnan sedikit mengintip pada pintu yang di biarkan tidak tertutup rapat.
Mata Adnan membulat lebar, tubuhnya tiba-tiba dingin menegang, darahnya terasa berhenti mengalir. Matanya memerah menahan amarah. Ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya yaitu kekasihnya bermain di belakangnya.
Saat ini kekasihnya itu sedang bergulat di atas ranjang dengan pria lain. Tubuhnya terus saja bergelinjang di atasnya dan mengeluarkan suara menjijikan di hadapannya! Di depan matanya! Tidak sadar, air mata Adnan menggenang di pelupuk mata.
Sampai mata keduanya bertemu. Saling menatap satu sama lain dengan keadaan Shana yang berantakan. Terlihat dari mata Adnan, Jika kekasihnya juga terkejut mengetahui dirinya ada di sana.