My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 54 : Kemesraan Pasutri



1 Bulan Kemudian...


Pagi mulai memancarkan sinar cahayanya dengan cerah dan masuk ke dalam celah jendela kamar. Airin sudah terbangun sejak subuh tadi, Ia menatap wajah Ardan dan Adnan yang tidur saling berhadapan. Satu tangan Adnan memeluk tubuh Ardan yang mulai berisi, garis wajah sangat mirip membuat Airin tersenyum melihat dua pria itu membuat hati Airin menghangat. Ayah dan anak ini sangat menggemaskan.


Airin ingin membangunkan Adnan, tapi rasanya kasihan karena semalam Adnan berjaga membantunya menidurkan Ardan yang terbangun larut malam. Berkali-kali Adnan terbangun, karena Ardan yang rewel, hingga subuh tadi Adnan baru bisa tertidur pulas bersama Ardan.


"Suamiku!" Panggil Airin pelan agar tidak membangunkan Ardan, mengelus lembut punggung tangan Adnan.


Adnan terbangun dengan terkejut, Pandangan matanya masih gelap, Ia mengucek-ngucek matanya agar rasa kantuknya berkurang. Dia memaksakan diri untuk bangun dan mengangkat tubuhnya dari tidur hingga terduduk di ranjang.


"Sssttttttt..." Airin menaruh satu jari di bibirnya agar Adnan tidak membangunkan Ardan yang sedang tertidur.


"Maaf Tuan, Aku terpaksa membangunkan mu, Kau harus bekerja, bukan? Ini sudah pukul 06.15 Pagi."


"Ahh... Iya. Aku harus ke lokasi pagi ini. Terima Kasih sudah membangunkan ku."


"Aku juga berterima kasih kau sudah membantu menjaga Ardan semalaman, pasti tidur mu terganggu."


"Jangan berterima kasih padaku, Ardan juga anak kandung ku, menjaga Ardan adalah kewajiban ku sebagai seorang ayah."


"Yasudah.. Kau mandi saja dulu, Aku yang akan menjaga Ardan, Nanti aku yang membuatkan kopi untuk mu."


Adnan tersenyum manis


"Terima kasih Sayang. Kau ingin membuatkan kopi untukku. Aku mandi dulu baru sarapan di meja makan bersama mu." Ucap Adnan mengelus lembut kepala Airin dan Iangsung beranjak dari ranjang keluar dari kamar.


Airin sedang berada di dapur, ia mengambil gelas lalu masukan satu sendok kopi hitam dan dua sendok teh gula, menuangkan air panas ke dalam kopi dan menyeduhnya. Rissa yang berada di dalam dapur menatap heran, tidak biasanya Airin membuat kopi, apalagi untuk Adnan. Meskipun ia sering memasak untuk Adnan, tapi membuat minuman kesukaan suaminya ia tidak pernah selama menikah.


"Nyonya membuat kopi untuk siapa?!"


"Untuk Adnan, Rissa." Jawabnya tersenyum tipis.


"Biarkan Saya saja yang memuat kopi untuk Tuan." Jawab Rissa yang selama ini membuat kopi untuk Adnan.


"Tidak apa-apa Rissa, Aku yang membuatkan. Semalam suamiku sudah ingin menjaga Ardan yang rewel terus. Sebagai tanda terima kasihnya aku membuatkan kopi untuknya." Ucap Airin sambil mengaduk kopi yang ada di depannya, selesai diaduk ia membawa kopi itu ke ruangan meja makan.


Airin menaruh kopi itu di atas meja makan, sudah tersedia berbagai makanan untuk sarapan pagi di atas meja, Adnan sudah keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan, Ia menarik satu kursi dan duduk di samping Airin sudah lebih dulu duduk.


"Ingin aku ambilkan sandwich nya?" Tawar Airin yang terlihat cerah pagi hari itu.


Adnan mengangguk sambil tersenyum melihat wajah Airin yang terlihat cerah, Adnan menyeruput kopi panas di sampingnya.


"Hmmm..." Adnan mencium aroma kopi yang sangat harum.


"Apa kopi ini buatan mu?" Tanya Adnan tersenyum manis.


"Iya. Aku yang membuatkannya. Kenapa? Apa kopi buatan ku tidak enak?"


"Tentu saja enak. Apalagi kau yang membuatnya, terasa lebih nikmat aku meminumnya."


Airin tersipu malu, "Wah terima kasih pujiannya."


...***...


Seperti biasa Airin menjalankan tugasnya sebagai seorang Ibu, aktivitasnya sehari-hari menjaga Ardan, merawat di mulai dari memandikan dan makan serta mengajak nya bermain.


Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 Wib. Rissa yang senantiasa masih membantu sudah masuk ke dalam kamarnya. Aktivitas di Mansion sudah tidak ada lagi, seperti halnya Airin sudah berada dalam kamar bersama Ardan sesekali matanya menatap jam dinding sambil menanti kepulangan Adnan. Rasa kantuk terus menyerang matanya, tanpa terasa mata Airin terpejam.


Suara deru mobil Adnan sudah berada di depan teras Mansion, Adnan turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu, Ia mengambil kunci serep di dalam saku celananya. Setelah pintu terbuka ia berjalan masuk ke dalam kamar, di dalam kamar la membuka semua pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.


"Ahh.. Selesai!" Adnan menghela napas panjang, ada kepuasan dalam hatinya setelah selesai membuat masakan untuk seseorang.


"Semoga masakan buatanku ini akan membuat Airin semakin membuat Airin senang." Gumam Adnan tersenyum bangga.


Adnan berjalan keluar dari dapur, hidangannya ia taruh di atas meja makan, tidak lupa vas bunga mawar merah ia taruh di atas meja, ada sebuah kotak berbentuk kotak ia taruh di samping hidangan yang ia buat. Adnan berjalan ke arah kamar membuka pintu dengan perlahan, Ia melihat Airin dan Ardan sedang tertidur pulas.


Rasa iba tidak tega ingin membangunkan istrinya, Adnan membalikkan badannya berjalan ke arah pintu, tiba-tiba suara Airin memanggilnya.


"Tuan kau sudah pulang?" Airin bangun dengan wajah kantuknya.


Adnan membalikkan tubuhnya dan tersenyum manis padanya, berjalan menghampiri Airin.


"Apakah kau tidak lelah? Aku ingin memberikan sesuatu untukmu?!"


"Sesuatu apa, Tuan?" Tanya Airin menatap heran, tiba-tiba jantungnya berdebar-debar.


"Ayo ikut aku!" Adnan menarik tangan Airin keluar menuju meja makan.


Di depan meja makan Airin tercengang, ada sebuah piring yang ditutupi tudung saji kecil, sebuah kotak, dan tidak lupa bunga mawar kesukaannya berada di atas meja.


"Makanlah aku sendiri yang membuatkannya untukmu."


"Benarkah?" Airin menatap tidak percaya, Ia Iangsung menyendok nasi goreng itu dan menyantapnya.


"Bagaimana enak?"


"Cukup enak Tuan... Ternyata kau bisa memasak, ya?" Ucap Airin tersenyum manis.


"Hanya paham sedikit bagaimana memasak Nasi goreng. Hhe... Dan hadiah itu juga untukmu, buka lah!"


Airin menatap kado berbentuk kotak, Lalu menoleh pada Adnan. Adnan mengangguk pelan sambil tersenyum manis.


Dibukalah hadiah pemberian Adnan untuk Airin itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian yang indah berbentuk hati yang di atasnya terdapat mahkota.


"Indah sekali... Ada bentuk hari dan mahkotanya juga." Ucap Airin matanya berbinar.


"Di antara kalung lain, Itu adalah yang paling indah menurutku. Awalnya aku tidak yakin akan membelikan kalung ini untukmu karena takut kau tidak akan menyukainya. Tapi syukurlah kau suka kalung itu." Ujar Adnan.


"Kenapa aku tidak menyukai barang yang kau berikan untuk ku?! Kau sudah berusaha keras agar bisa memberikan kalung yang pastinya sangat mahal. Mana mungkin aku menyia-nyiakan begitu saja."


Airin dan Adnan sama-sama tersenyum lebar.


"Bentuk itu adalah simbol perasaanku terhadap mu. Mengartikan bahwa kau adalah Ratu Hatiku..." Ucap Adnan dan Airin terkekeh.


"Aku senang melihat mu tertawa dibandingkan menangis seperti dulu. Ingin ku pasangkan?"


Airin mengangguk.


Adnan pun bangkit dari duduknya dan mengambil alih kalung yang sedang dipegang Airin untuk dipasangkan hingga melingkar di leher Airin.


Dan Kalung itu sudah terpasang dengan indah di pemiliknya.


"Terima Kasih... Aku sangat mencintaimu!" Ujar Airin tersenyum.


"Aku juga sangat mencintaimu, Istriku!" Jawab Adnan. Ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir mungil istrinya hingga saling berpagutan.