My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 55 : Olahraga Pagi



Pagi itu matahari telah menampakkan sinarnya, Airin terbangun dari tidurnya setelah jam alarm berbunyi nyaring, Ia terbangun dari tidurnya dan membuka kelopak matanya, Airin terperanjat kejut tidak melihat keberadaan Ardan dan Adnan.


"Sudah pukul Tujuh. Aku bangun kesiangan. Di mana Tuan Adnan dan Ardan? Apa mereka sudah bangun lebih dulu."


Airin beranjak dari ranjang dan keluar kamar, Ia mencari keberadaan Adnan dan Ardan yang sudah tidak di sampingnya saat ia bangun. Ia membuka ruangan kerja Adnan tapi Airin tidak melihat sosok suami dan anaknya. Airin melewati ruangan meja makan tapi tidak juga menemukan keberadaan Ayah dan Anak itu. Adnan dan Ardan tidak ada ke tempat yang ia pikir akan ada di sana. Airin semakin panik.


"Rissa, Apa kau melihat suamiku dan Ardan?" Teriak Airin bertanya.


"Tuan Adnan dan Tuan muda sedang berada di taman belakang mansion, Nyonya. Tuan mengatakan sedang mengajak Tuan muda berjalan-jalan di pagi hari karena udara pagi sangat sejuk."


"Mereka hanya berdua?!" Tanya Airin demikian.


"Iya Nyonya, Memangnya selain mereka harus ada siapa lagi?" Ucap Rissa.


"Yasudah, Aku ingin mandi terlebih dahulu. Katakan pada Tuan, Aku akan membawa sarapan menemuinya."


"Baik Nyonya..."


Airin kembali ke kamar dan masuk ke kamar mandi, Ia memulai untuk membersihkan diri.


25 Menit Kemudian, Airin keluar dari kamar mandi. Saat ia membuka pintu, Airin terkejut melihat Adnan yang sudah berada di dalam kamar.


"Tuan sedang apa? Bukankah aku meminta Rissa menyampaikan pesan bahwa aku akan menemuinya di taman belakang." Gumam Airin terlihat mewaspadai.


"Tuan Adnan!" Panggil Airin menghampiri Adnan yang terlihat sibuk.


Adnan sedang mengambil pakaian Ardan di dalam lemarinya, Ia terperanjat kejut mendengar suara Airin yang tiba-tiba memanggilnya. Adnan menoleh ke samping, Ia melihat Airin baru selesai mandi berbalut bathrobe putih yang memperlihatkan paha mulusnya dan juga sedikit belahan dada.


Mata Adnan tidak berkedip melihat tubuh putih mulus Airin yang hanya memakai balutan bathrobe. Airin yang melihat mata liar suaminya, menyilangkan kedua tangannya di dada. Seakan menahan terkaman harimau, Adnan menelan salivanya berkali-kali. Tanpa sadar ia berjalan mendekat.


"Tuan?? Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Airin ketakutan. Ia sampai mundur beberapa langkah untuk menjauh.


Adnan tidak menjawab. Ia terus memajukan langkahnya, Airin semakin mundur dan sudah mentok di depan pintu kamar mandi.


"Tuan, Ku mohon jangan mendekat." Serunya dengan suara tercekat.


Adnan sudah berdiri tepat dihadapan Airin, napasnya terdengar berat. Airin terperanjat terkejut ia sudah tidak bisa memundurkan langkahnya lagi. Adnan memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Airin.


"Sayang, Bisakah hari ini kita melakukannya untuk memberikan Ardan seorang adik?" Ucap Adnan tersenyum menggoda.


Mata Airin membulat sempurna. Ia menelan salivanya berkali-kali detak jantungnya semakin kencang, suaranya seakan terputus ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena tercekat.


"Tuan.. Ak... ak.."


"Apakah kau belum mempercayai ku sepenuhnya? Jika kau belum mempercayai ku, Aku tidak akan memaksa mu?"


"Bu.. bukan begitu, Tuan. Aku sudah mempercayaimu dan juga sangat mencintai mu."


"Tapi, Mengapa kau selalu menolak ajakan suamimu sendiri?" Adnan tetap menatap liar tubuh Airin dari atas sampai bawah, hasratnya sudah tidak kuat untuk menahan hawa nafsunya lagi.


"Ak.. Aku belum siap, Tuan. Apalagi Ardan masih kecil dan masih banyak perhatian yang perlu diberikan dari kita sebagai orang tuanya."


Tanpa banyak bicara, Adnan langsung mencium bibir Airin. ********** terus menerus. Airin sudah tidak bisa menolaknya lagi, Ia mengikuti sentuhan dan permainan Adnan. Sesekali Adnan menghentikan ciumannya untuk membiarkan Airin menghirup udara, Dan Adnan meneruskan kembali lumatannya. Tanpa sadar bathrobe Airin sudah terlepas jatuh ke lantai. Entah sejak kapan pria itu mengalihkan kesadarannya sampai menggerayangi tubuhnya untuk melepas bathrobe yang menutupi tubuh mulusnya itu.


Adnan yang menyadari itu dengan cepat tangannya menyentuh gundukan gunung kembar milik Airin, terdengar suara ******* halus dari bibir Airin, merasa tidak ada perlawanan dari istrinya, Adnan mengangkat tubuh polos istrinya dan menidurkannya di atas ranjang.


Saat di atas ranjang, Airin baru tersadar.


"Tuan... Bagaimana dengan Ardan?" Tanya Airin tiba-tiba teringat akan anaknya. Adnan menghentikan kegiatannya, menatap lembut wajah istrinya dan tersenyum.


"Tidak perlu khawatir. Ardan sedang bersama Rissa sedang memberi Ardan makan dan Aku memintanya memandikan sekalian. Ardan tidak akan rewel karena dia mendukung pekerjaan Ayahnya kali ini. Ia juga tidak sabar untuk mendapatkan seorang teman bermain. Sudah! Sekarang kau nikmati saja permainan suami mu ini." Pinta Adnan sambil meneruskan pekerjaannya yang tertunda, keringat sudah keluar dari pori-pori kulitnya.


"Tunggu! Tapi kau harus berangkat bekerja." Lagi-lagi Airin mengacaukan segalanya.


"Apa yang akan terjadi jika Perusahaan tidak dipimpin satu hari oleh ku?! Aku adalah direktur di sana, banyak orang yang bekerja untuk ku."


Adnan tidak peduli dan hendak melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


"Tuan... Pintunya sudah dikunci belum?" Kata Airin lagi khawatir.


Bukannya membuat Adnan berhenti, Airin malah membuat Adnan tambah bersemangat karena seolah Airin mengingatkan.


Adnan hampir melupakan itu, ia menghentikan kembali kegiatannya, dengan cepat ia beranjak dari ranjang dan membuka laci, Adnan mengambil remote kontrol dan mengunci otomatis pintu kamar itu. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, Adnan membuang semua pakaian yang melekat di tubuh kekarnya, Ia meneruskan aktivitasnya yang tertunda.


Kini tidak ada lagi gangguan pada keduanya. Airin malah semakin terhimpit dan pasrah saja pagi hari ini. Airin merasakan kehangatan tiap sentuhan Adnan di setiap lekuk tubuhnya. Baru kali ini ia merasakan kenikmatan dan kepuasan serta kebahagian yang telah lama terpendam.


Di bawah selimut dengan sprei putih itu, Untaian kata-kata indah dan mesra keluar dari bibir Adnan telah membangunkan hasrat dan gairah Airin. Napas keduanya terengah-engah. Terciptalah permainan yang hangat dan menggairahkan, hingga akhirnya mereka berdua mencapai klimaksnya. Terdengar erangan dan ******* keduanya saat akan pelepasan. Mereka berdua mampu menyelesaikan bersama, dan aktivitas pun terhenti.


Adnan menatap lekat wajah Airin yang terengah-engah karena lelah, tubuh keduanya bermandikan keringat. Ia mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


"Terima kasih sayang..." Adnan mencium kening Airin dan menjatuhkan tubuhnya di samping Airin.


Tanpa terasa butiran bening keluar dari sudut mata Airin, Ia merasakan kehangatan pada hatinya dan menerima Adnan sebagai suami seutuhnya.


"Sayang, Kenapa kau menangis?" Tanya Adnan mengangkat wajahnya dan menatap sinar bola mata Airin yang meredup, mengusap lembut air matanya.


"Apa kau menyesal?" Tanya Adnan lagi. Apakah itu pertanyaan bodoh? Ahh ia merutuki dirinya dalam hati.


"Maafkan aku sayang. Aku-..." Adnan merasa bersalah.


"Tidak Tuan, Aku tidak menyesal. Aku hanya terharu saja. Dulu untuk ketiga kalinya kau melakukan hal ini dalam kekasaran. Tapi sekarang tidak..." Airin tersenyum manis, mengalungkan kedua tangannya ke leher Adnan. Kini wajah keduanya saling bertatap, mereka tergelak bersama.


"Apakah Ingin mengulangnya kembali?" Goda Adnan dan terkekeh.


Airin menggeleng.


"Tidak. Aku ingin mandi..."


"Hmmzz.. Benar juga. Jika begitu kita mandi bersama."


"Tuan saja lebih dulu. Aku ingin menemui Ardan."


"Kau ingin menemui anak mu dalam keadaan berkeringat dan lengket seperti ini? Apa itu artinya kau ingin menunjukkan hasil kerja keras ayahnya pada Ardan?!" Goda Adnan.


"Tapi, Kau saja lebih dulu. Aku tahu jalan pikiran mu kemana." Ketus Airin.


"Aku ingin kau yang mandikan Aku!" Pinta Adnan manja.


"Tuan, Ini sudah pukul berapa? Bukankah kau harus masuk bekerja?" Tiba-tiba Airin teringat waktu yang sudah ia lewati bersama dengan Adnan itu cukup lama.


"Aku ini CEO nya, Tidak ada yang bisa mengatur ku untuk masuk kerja." Adnan menarik hidung mancung Airin karena gemas.


"Tapi, Tuan... Kau ini keras kepala sekali."


"Sudah jangan membantah. Kau istriku tidak boleh menolak suami. Ayo sekarang mandi bersama suami mu."


Adnan langsung bangun dan mengangkat tubuh Airin masuk ke dalam kamar mandi.


Dan sepertinya bukan hanya sekedar mandi...


Mungkin mereka akan melanjutkan beberapa ronde lagi di sana. Xixi◖⁠⚆⁠ᴥ⁠⚆⁠◗


Di sisi lain...


"Kenapa Tuan lama sekali, ya. Tadi, beliau mengatakan akan mengambil pakaian Tuan Muda. Untung saja aku belum sampai memandikan Tuan muda." Ujar Rissa ia menaiki anak tangga menuju kamar pasutri untuk memastikan Tuannya dengan menggendong Ardan yang terlihat tenang.


Saat sampai di depan pintu kamar, Rissa mencoba membuka pintu setelah mengetuk, namun tidak terdengar respons. Dan terbukti pintu kamar terkunci dari dalam saat ia mencoba membukanya. Hal yang mengejutkannya adalah, terdengar suara ******* dan erangan yang hingga terdengar sampai keluar. Rissa sudah mengerti apa yang sedang dilakukan kedua pasutri itu kenapa bisa berlama-lama di dalam kamar sampai mengunci pintu dan ia tertawa kecil tidak kuasa menahan tawanya.


"Tuan muda Ardan, Sekarang bersama Bibi Rissa sebentar, ya. Sepertinya Ayah dan Ibu Tuan muda sedang mempersiapkan hadiah untuk teman bermain. Kau sangat menggemaskan sekali dan juga pintar karena tidak menangis sekarang. Tenang saja, Tuan muda pasti akan senang mendengar hadiah yang diberikan orang tua Tuan muda nanti." Ucap Rissa kembali membawa Ardan ke lantai bawah dan meninggalkan kamar itu untuk tidak menggangu olahraga pagi serius kedua majikannya.