
"Kita berangkat lusa."
"Huh!!" Kepalanya mendongak menatap Adnan. Terkejut dengan tiba-tiba suaminya datang dan berkata yang tidak di mengertinya.
"Kau menginginkan kita liburan, bukan? Lusa kita berangkat ke Maldives. Siapkan barang-barang ku yang akan di bawa!"
"Bukannya kau tidak ingin kita pergi?! Aku sudah mengatakannya pada Kak Andra."
"Aku sudah mengambil tiket liburan kita darinya. Jadi, jangan banyak tanya."
Senyum Airin pun merekah. Ia mengangguk paham.
"Lalu, Apa Tuan ingin ku siapkan makan malam sekarang?" Tanya Airin demikian.
"Aku makan di luar."
"Kau ingin pergi lagi. Kemana?"
Airin mengikuti langkah suaminya dari belakang.
"Pergi dengan siapa? Kak Ken? Kak Andra? Tuan Dan-..."
"Kekasih ku!" Lontarnya sejenak berbalik dan Airin menghentikan langkahnya. Hatinya tiba-tiba nyeri. Dirinya diam mematung, memandangi punggung suaminya yang semakin jauh semakin menghilang ditelan pintu. Baru saja ia dibuat senang karena keputusan Adnan menyetujui liburan mereka, tapi di mana pun ia berada selalu mengunjungi wanita selingkuhannya.
...***...
Besoknya di kediaman Andra.
"Waah... benarkah?! Boleh aku ikut? Aku jadi ingin sekali kesana. Aww... sshh..." Ujar Kenzo.
Setelah mendapatkan lemparan sebuah kaca mainan kecil terlempar mengenai dahi Kenzo yang dilakukan Andra dan membuatnya meringis. Untung tidak pecah.
"Mereka honeymoon, bodoh. Bukan liburan!" Ketus Andra.
"Airin, apa benar Adnan mengajak mu honeymoon?" Tanya Kirana.
"Iya kakak, Kak Andra dan Kak Dario sendiri yang memberikan kami tiket liburan ke Maldives. Aku akan memanfaatnya waktu liburan ini dengan sebaik mungkin, mengingat suamiku rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengajakku berlibur." Jawab Airin.
"Hmm... perkembangan yang bagus. Nikmati liburan mu itu, sayang." Ucap Kirana sambil mengusap lembut kepala adik bungsunya. Di balas senyum manis dari Airin, kemudian memeluknya.
"Akan ku bawakan banyak oleh-oleh untuk kalian." Ujar Airin.
"Tak perlu sayang, Kau nikmati saja liburan mu bersama suamimu itu." Jawab Kirana.
"Tak apa Kakak. Suamiku sendiri tidak akan keberatan mengantarku membeli oleh-oleh untuk kalian."
"Baiklah. Jika tidak sempat, tidak perlu ya.. Ini tentang honeymoon kalian, bukan tentang oleh-oleh."
"Iya, Kakak..."
"Kau yakin Adnan akan berangkat? Mengingat sebelum dia menolak keras untuk honeymoon." Imbuh Dario menyela perbincangan mereka.
"Dia sendiri yang meminta tiket itu padaku. Katanya untuk menebus kesalahannya karena tidak menghadiri hari kelulusan istrinya karena sebenarnya saat itu dia ada meeting penting yang mendadak." Ujar Andra menjelaskan dan semua orang percaya. Berbeda dengan Airin, ia merasa bahwa Adnan memang tidak ingin menghadiri kelulusannya kemarin.
"Semoga saja mereka benar-benar bisa bersenang-senang. Aku jadi khawatir." Ujar Kirana entah apa yang membuatnya cemas.
"Ada apa? Atau kau juga ingin pergi honeymoon seperti mereka? Kau ingin kemana?" Tanya Andra memainkan alis menggoda istrinya.
"Bahkan setiap bulan kau mengajakku honeymoon. Kau memangnya tidak lelah?" Ucap Karina melemparkan tatapan tajam pda suaminya...
Semua orang pun tertawa melihat keharmonisan pasangan itu.
...***...
Tibalah keesokan harinya Adnan dan Airin akan pergi berbulan madu. Pagi hari sekali mereka sudah ada di bandara menyesuaikan jadwal keberangkatan mereka.
"Sebentar lagi..." Jawab Adnan hanya berdiam diri melihat sekitar entah apa yang membuatnya harus menunggu.
"Sebenarnya siapa yang kau tunggu?" Tanya Airin.
"Aahh... Itu dia!"
Airin menatap seseorang yang membuat suaminya rela berdiri dan menunggu lama.
"Untuk apa dia kemari? Apa dia ingin mengantar keberangkatan kami? Ayolah, kami hampir terlambat dan dia malah datang?!" Umpat Airin dalam hati, melihat kekasih dari suaminya berjalan sedikit tergesa ke arah mereka.
"Apa aku terlambat?! Maafkan aku. Tadi jalanan sangat macet karena ada kecelakaan, jadi arus jalan dialihkan."
"Tak apa sayang. Kita belum terlambat. Syukurlah kau bisa datang dengan segera." Adnan memeluk Shana kelewat mesra di depan istrinya sendiri.
"Baiklah. Ayo kita masuk, biar ku bawakan kopermu." Ucap Adnan mengambil alih koper milik kekasihnya itu.
"Terima Kasih..." Jawabnya tersenyum.
Sebelum keduanya melangkah, Airin mencekal lengan Adnan.
"Tuan... Kenapa dia di sini?" Tanya Airin dengan raut kebingungannya.
"Dia akan ikut bersama kita." Jawabnya tanpa berdosa.
"A-apa maksudmu?" Terkejutnya.
"Kenapa? Apa yang salah dia ikut kita liburan." Bentak Adnan.
"Tapi ini acara kita."
"Dan dia kekasih ku. Kau tidak berhak melarangnya pergi dengan ku." Bentaknya lagi.
"Tapi Tuan. Bagaimana bis-..."
"Kau ingin tetap berangkat atau pulang sekarang juga?!! Aku tidak memaksamu untuk ikut denganku." Hardiknya.
Airin menatap nanar suaminya yang menggandeng kekasihnya pergi. Kemudian menyusulnya dengan menyeret sendiri kopernya. Airin juga harus memikirnya jika dia kembali pulang ke rumah, dia akan mengecewakan semua orang. Jadi, ingin tidak ingin, dia harus pergi dengan suaminya dan kekasih suaminya.
Bahkan sudah duduk di dalam pesawat pun, Airin tetap terabaikan. Mereka memang duduk bertiga, posisi Airin duduk di dekat jendela, di sampingnya Adnan dan Shana. Adnan berada di tengah, tapi seluruh perhatian suaminya berada pada wanita lain di sampingnya.
Lihatlah sekarang, kepala wanita itu tertidur di bahu suaminya dan tangan keduanya saling menggenggam. Jika dilihat, mereka berdua yang terlihat seperti pasangan suami istri, dan Airin orang ketiganya atau bahkan seperti pembantunya.
...***...
Di suatu tempat...
"Bagaimana?"
"Mereka sudah berangkat, Tuan. Bertiga."
"Bertiga? Apa maksudmu?" Ia memutar tubuhnya berhadapan langsung dengan lawan bicaranya.
"Coba jelaskan!!"
"Maaf Tuan. Dia memang pergi dengan istrinya, tapi dia juga mengajak kekasihnya bersama mereka."
"Kau mengatakan dia akan pergi honeymoon dengan istrinya, kan?! Lalu, untuk apa dia mengajak jalangnya bersama mereka?"
"Itu yang sedang saya cari tahu, Tuan."
"Brengsek!!" Geramnya mengepalkan tangan.
"Adnan Miller! Kau akan menyesal!!" Pria itu memasukkan tangan pada kantong celana bahannya dan mengepal erat di dalamnya.