
5 Hari Kemudian...
Terhitung sudah 5 hari Airin tinggal di rumah Daniel, dan selama itu pula, Airin tidak pernah sekalipun keluar dari rumah Daniel, walau hanya sekedar berbelanja ataupun bertemu sanak saudara, karena segala kebutuhan Airin sudah dipersiapkan oleh Daniel.
Daniel tidak pernah melarang Airin untuk pergi kemanapun. Hanya saja Airin masih terlalu nyaman dengan rumah Daniel, bahkan lebih nyaman daripada rumahnya sendiri atau rumah suaminya. Hampir tiap hari Kirana datang ke rumah Daniel. Kirana, Andra, Daniel dan Kenzo bersepakat untuk tidak memberitahu masalah Adnan dan Airin pada Dario dan Della terkecuali Jovita dan Bila, mereka sudah tahu dari Airin sendiri, mereka juga setiap hari datang ke rumah Daniel untuk bertemu Airin.
Tapi sudah saatnya dengan dorongan para anggota keluarga, Hari ini Airin harus terpaksa kembali ke Mansion Adnan. Ia diantarkan Daniel sampai pintu gerbang. Daniel menolak masuk karena dia akan ada meeting dengan Kenzo.
Airin memasuki mansionnya yang terlihat sangat sepi. Pantas saja, Adnan dan kekasihnya itu pasti sedang berada di Perusahaan.
"Nyonya Airin!!" Hampiri Rissa yang selalu menunggu kedatangan majikannya.
"Rissa, bagaimana kabarmu?" Airin lebih dulu memeluk Rissa.
"Saya baik, Nyonya. Syukurlah Nyonya Airin sudah kembali. Saya sempat khawatir setelah tahu Kejadian Nyonya dan Tuan Adnan."
"Kau tahu dari mana tentang itu?"
"Emm.. I-itu... Sa-saya tidak sengaja mendengarnya saat Tuan Adnan dan wanita itu berbicara."
Airin hanya mengangguk-angguk tidak masalah.
"Nyonya sudah makan? Saya siapkan makanan, ya?!"
"Tidak perlu aku sudah makan. Apa selama aku tidak ada di rumah, suamiku dan wanita itu bersenang??"
"Setelah Nyonya Airin tidak pulang malam itu, Esoknya Tuan Adnan pulang dari bekerja dengan wajah yang lebam-lebam seperti
sudah dipukuli."
"Lebam!! Kenapa bisa?! Si-siapa yang memukulinya?"
"Saya tidak berani bertanya, Nyonya. Dan setelah kejadian itu, Tuan Adnan sering uring-uringan tanpa sebab. Dan mengenai kekasih Tuan, wanita itu sudah kembali ke apartemennya kemarin lusa."
Airin hanya mengangguk paham dan bertanya lebih banyak hal lagi mengenai apa saja yang dilakukan Adnan selama ia tidak di rumah Daniel.
...***...
Di sisi lain...
Daniel dan Kenzo telah selesai meeting. Di sana pun terdapat Adnan yang melakukan meeting bertiga mengenai kerja sama antar perusahaan keluarga.
"Kenzo, Jika begitu aku pamit." Ucap Daniel bangkit dari duduknya.
"Kenapa terburu, Daniel? Kita bisa mengopi terlebih dulu sekaligus berbincang."
"Salah satu klien mu ada di sini. Lebih baik aku pergi." Daniel menatap tajam pada Adnan di seberangnya. Begitu pula Adnan yang menatapnya datar. Yang paling memuakkan adalah Shana pun ada bersama Adnan di sana.
"Agh... Baiklah." Jawab Kenzo tidak terlalu mengerti kenapa sikap sepupunya itu dingin pada Adnan.
"Sepertinya kita tunda lain waktu saja. Tidak seru juga jika tidak lengkap." Kata Kenzo pada Adnan.
"Tidak masalah, Tuan. Kita atur jadwal di lain waktu. Jika begitu, kami juga permisi. Ayo Tuan Adnan!!" Balas Shana yang menjawab.
"Hati-hati..." Ucap Kenzo yang belum mengetahui perselingkuhan mereka.
Mereka berpamitan masing-masing dan pergi.
Adnan bergegas pergi lebih dulu meninggalkan yang lainnya bersama sana.
Dalam perjalanan, Shana masih sempat-sempatnya menanyakan sesuatu pada Adnan.
"Sabar sayang. Kak Andra masih marah padaku mengenai Airin waktu itu. Aku harus membuatnya percaya lagi padaku sampai seluruh saham pindah atas namaku."
"Sampai kapan? Aku sudah tidak tahan seperti ini, Aku seperti selingkuhan mu." Ucap Shana kesal. Bukankah ia memang selingkuhannya. Wanita yang menjadi orang ketiga diantara hubungan suami istri ataupun kekasih disebut selingkuhan. Lalu, kenapa harus merasa risih.
"Sampai seluruh saham perusahaan menjadi namaku, Aku akan segera menceraikan wanita itu."
"Kapan? Ayah ibuku sudah memaksaku untuk menyuruhmu segera menikahi ku."
"Kita bahas lagi nanti, ya. Aku lelah. Nanti aku yang akan mengatakannya dengan orang tuamu. Aku pasti akan menikahi mu, sayang."
"Apa kau menyukainya? Atau kau sudah mencintai wanita itu?"
"Apa yang kau katakan?! Jangan asal bicara sembarangan. Aku mencintaimu dan hanya mencintaimu.
"Jika begitu, ceraikan dia dalam waktu 2 minggu dan nikahi aku segera!" Gertak Shana malah semakin menjadi.
"Itu tidak mungkin, Sayang. Bagaimana aku bisa membuat saham perusahaan sepenuhnya atas namaku dalam waktu dua minggu, Jika Kak Andra saja sekarang masih mendiami ku."
"Tentu saja dalam waktu seminggu kau bisa membuat kakakmu percaya padamu lagi dan menyerahkan seluruh aset perusahaan atas namamu. Lalu, seminggu berikutnya, kau bisa mengurus surat cerai dengan istrimu. Lalu, kita menikah. Tidak terlalu sulit, kan?"
"Tidak semudah itu, Shana!"
"Jika kau tidak ingin melakukannya, biarkan aku yang bicara dengan kakakmu. Jika kau tidak pernah mencintai istrimu. Kau hanya mencintaiku dan kita akan segera menikah. Aku akan meyakinkan kakakmu untuk melepas perjodohan mu dengan dia." Rencana Shana tidak menimbang-nimbang.
"Jangan gila!! Kau malah akan membuat semua menjadi runyam."
"Aku tidak peduli. Jika dalam dua minggu kau tidak menceraikan istrimu. Aku yang akan bertindak."
"Jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku atau yang dapat merugikan kita dan keluargaku."
"Itu tergantung dirimu!"
"Tolong jangan bicara sembarangan." Khawatir Adnan jadi gundah. Ia sampai tidak fokus menyetir mobilnya karena terus berdebat dengan Shana.
"Aku sangat lelah. Jika kau tidak mencintainya, seharusnya kau segera bertindak ceraikan dia!!"
"Sudah ku katakan jangan bahas ini sekarang!!" Tekan Adnan sedikit berteriak. Shana hanya menatap Adnan tajam dengan napas memburu. Adnan kemudian menghentikan mobilnya dengan rem mendadak.
"Sekarang keluar dari mobil ku!!" Titah Adnan mengusir Shana. Ia menurunkannya di jalan raya.
"APAA? Kau berani menurunkan ku di tengah jalan seperti wanita itu?!"
"Dinginkan pikiranmu dulu. Aku tidak bisa mengantarkan mu!"
"Owh, Aku tahu. Kau ingin menemui wanita itu dan berduaan dengannya?!"
"Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Jadi, cukup untuk hari ini. Aku sungguh lelah, aku ingin beristirahat." Kata Adnan.
"Aku hanya meminta mu untuk cepat menceraikannya, Adnan!"
"Pulang sendiri dan beristirahatlah. Aku juga akan pulang." Titah Adnan begitu lelah melayani keegoisan Shana.
"Pulang untuk tidur dengannya?!"
"SHANAA!!! CUKUP!"
Dengan rahang mengeras dan wajah memerah, Adnan berteriak begitu saja di dalam mobil sampai bergeming.
Shana sendiri sampai tertegun. Ia tersentak dan mengumpulkan amarahnya dalam hati, namun tidak ia keluarkan dan memilih keluar dari mobil sebelum Adnan semakin marah. Saat di luar, ia membanting pintu mobil cukup keras.