My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 11 : Tiket Liburan



Ding dong..


Ding dong..


Ding dong..


Rissa setengah berlari membuka pintu.


"Oh... Tuan Andra. Silakan Masuk!!" Ujar Rissa setelah membuka pintu utama tersebut yang menampilkan dua pria yakni, Andra dan Dario.


"Adnan ada di rumah?" Tanya Andra.


"Emmm... Tuan b-..." Ucapnya bingung dan terpotong akibat kedatangan Airin.


"Kakak!!" Sapa Airin yang melihat kedatangan Kakak kandung dan Iparnya.


Airin berlari kecil menuruni tangga menghampiri mereka.


Sesampainya di hadapan sang kakak, Airin segera menghambur dalam pelukan, memeluknya kelewat erat meskipun kemarin mereka baru bertemu tapi rasanya ia selalu rindu. Adik bungsunya itu akan tetap seperti anak kecil dan manja pada kakaknya. Lagipula ini adalah pertama kalinya Dario datang ke rumahnya selama Airin menikah.


"Ada apa kakak kemari?" Tanya Airin.


"Kau tidak senang Kakak kemari?" Bertanya demikian Dario.


"Tidak. Bukan begitu... Aku malah sangat senang."


"Tidak ingin memelukku juga? Hhe..." Bercanda Andra yang merupakan kakak ipar sekaligus suami dari Kakak perempuannya itu.


"Kak Andra..."


Andra menangkap tubuh mungil Airin yang menghambur ke pelukannya. Tersenyum hangat dan mengusap lembut rambut adik iparnya.


"Kak Kirana tidak ikut, ya."


"Tidak. Dia ada di rumah karena tidak tahu kami akan kesini, mungkin jika ia tahu, maka pasti kakak mu itu yang paling semangat." Balas Andra


"Di mana suami mu? Aku dan Kakak mu ingin bertemu dengannya."


"Emm... Suamiku.. dia..." Kebingungan Airin harus menjawab apa karena Adnan belum pulang sama sekali.


"Kenapa mencari ku?" Suara bass seseorang yang berdiri di depan pintu utama selepas baru pulang bekerja.


Adnan datang dengan angkuhnya. Lengan kemeja terlipat sampai siku, tangan kanan membawa tas kerjanya dan jasnya tersampir di lengan kiri.


Airin segera menghampiri suaminya, mengambil alih tas dan jas kerjanya. Begitu juga Adnan, mulai melakukan sandiwaranya dengan memberikan pelukan dan kecupan singkat di kening istrinya. Aksi keduanya tidak luput dari pandangan kedua pria di sana.


"Ada apa sampai kalian datang kemari?" Tanyanya lagi.


"Ada yang ingin kami bicarakan." Jawab Andra.


"Hemm... Kita bicara di ruang kerja saja." Ajak Adnan.


"Kalian pergi lebih dulu saja, Aku akan menyusul." Ujar Airin.


Keduanya mengangguk dan berjalan terlebih dulu.


"Ikut dengan ku sekarang!!" Kecam Adnan sedikit membentak.


"Huh?!" Airin kebingungan.


Andra merangkul bahu Airin dan mengajaknya pergi.


Di ruang kerja Adnan....


"Cepat! Sekarang katakan apa keperluan kalian?!" Titah Adnan tidak ingin berbasa-basi lagi.


"Kami ada sesuatu untuk kalian." Ucap Darion. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.


Adnan mengambil sesuatu yang disodorkan kakak iparnya untuknya.


"Kak, Apa ini??" Tanya Airin lebih dulu.


"Terima Kasih untuk hadiahnya, Kak. Tapi, maaf... aku-..."


"Apa karena Adnan?!" Tegur Andra karena mengira sikap Adnan yang tidak peduli membuat Airin takut.


Airin pun menatap ke arah Adnan dengan tatapan yang terlihat sedikit mengancam.


"Bukan, bukan karena Tuan Adnan, Aku juga harus menyiapkan untuk wisuda ku minggu depan. Lagipula suami ku juga dia sibuk."


"Kau tidak perlu khawatir. Kalian bisa berangkat setelah acara wisuda mu selesai, dan mengenai pekerjaan aku yang akan mengurusnya. Dia tidak akan bisa menolak."


"Tidak. Lebih baik jangan pergi saja." Tolak Airin bersikeras.


"Tidak. Kami sudah mempersiapkan liburan kalian jauh-jauh hari. Kau fokuslah untuk acara wisuda mu sekarang. Jangan lupa mengabari ku, aku dan istriku akan datang ke acara wisuda mu." Ujar Andra.


"Kakak juga akan datang nanti. Kau tidak perlu memikirkannya sekarang, kalian memiliki waktu untuk memikirkan liburan ini, Adnan juga pasti akan setuju. Benar kan, Adnan?" Tanya Darion yang dihiraukan oleh Adnan.


"Baik Kak. Aku pasti akan mengabari kalian nanti." Lirih Airin.


...***...


Daniel yang baru saja tiba mendaratkan bokongnya kasar pada sofa.


"Dari mana saja kau?" Tanya temannya.


"Ada sedikit urusan."


"Mengenai?!" Tanyanya sembari sibuk memainkan billiard.


"Pria bajingan yang suka bermain di belakang pasangannya." Ketusnya penuh penekanan.


"Sejak kapan kau jadi suka ikut campur percintaan orang lain?"


"Sejak aku kembali kemari dan bertemu dengannya."


"Lalu, kau apakan pria bajingan itu? Apa dia sekarat di UGD? Atau malah koma?"


"Dia masih segar bugar. Akan ku pastikan dia akan menyesal suatu hari nanti." Ambisinya.


"Dengan cara?! Kau akan merebut kekasihnya?"


"Aku tidak merebut kekasihnya." Ucap Daniel di lanjutkan kalimatnya di dalam hati.


"Tapi aku merebut istrinya!!"


...***...


Mansion Andra...


Andra dan Darion yang datang ke mansion mereka telah pulang. Tinggal penghuni rumah asli yang saat ini masih memperdebatkan tujuan tamu tadi.


"Kenapa kau tidak menolaknya? Kau sengaja mengiyakan agar bisa berdua denganku?" Ujar Adnan yang selalu mencari celah untuk memaki istrinya.


"Dia ini tuli atau bagaimana? Bukankah tadi dia ada bersamaku dan mendengar semuanya." Kesal Airin dalam hatinya.


"Aku sudah menolaknya. Kau sendiri mendengarnya tadi, bukan. Tapi Kak Andra tetap memaksakan."


"Kita tidak akan pergi liburan ataupun honeymoon."


"Tapi Kak Andra sudah menyiapkan semuanya untuk kita."


"Kau sendiri mengatakan jika aku sibuk. Maka pertahankan jawaban itu."


"Tapi aku tidak bisa menolak permintaan Kak Andra."


"Jangan membantah!! Kau hanya perlu mengatakan tidak bisa dan menolaknya."


Adnan meninggalkan istrinya tanpa menunggu jawaban lain. Ia melangkah cepat menuju kamarnya.