My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 22 : Mantan dari China



Ceklek!!


Menampilkan seorang gadis yang tiba-tiba membuka pintu Ruang CEO Dario tanpa tahu ada seseorang di dalamnya.


Jovita terkejut dan langsung menundukkan badan memberi hormat saat melihat orang yang ia benci setelah hari kemarin ada di ruangan tersebut.


"Maafkan aku, Aku tidak tahu jika sedang ada tamu. Aku akan keluar." Ucap Jovita bergegas menutup pintu, namun bertahan.


"Tidak apa, Jovita. Di sini saja! Kami hanya berbincang santai." Ujar Dario.


Jovita pun kembali dan mengambil duduk di kursi single sebelah Dario.


"Kak Dario kapan datang? Bukannya pergi ke Jepang, ya, dan beberapa hari lagi harusnya pulang?" Tanya Jovita membuka pembicaraan.


"Aku datang sejam yang lalu. Ternyata pekerjaan sudah selesai lebih cepat. Tadi juga Adnan yang menjemput ku di bandara dan tidak sengaja bertemu juga dengan Andra, jadi mereka sekalian mampir kemari. Kau kenapa tidak ikut Airin dan yang lain?! Bila juga tidak ikut sama seperti mu?" Tanya Dario.


Penglihatan Jovita terganggu dengan kehadiran Adnan, ia sesekali mencuri pandang melirik Adnan yang sejak tadi sibuk memainkan ponsel nya. Lalu, kembali fokus pada pertanyaan Dario.


"Tidak. Aku lebih memilih menjaga butik Kak Della saja. Lagipula kupikir Kak Dario akan kembali lusa, jadi setiap hari aku selalu luangkan waktu untuk kemari bersama Bila. Tapi sekarang Tuan sudah kembali, jadi aku akan fokus ke butiknya Kak Della." Jawab Jovita.


"Agh, Permisi... Sepertinya aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus ku selesaikan?" Pungkas Adnan berdiri dan berpamitan di sela perbincangan Jovita dengan Dario.


"Sesuatu apa? Hari ini tidak ada hal penting di perusahaan mu." Ketus Andra yang selalu mengetahui setiap agenda Adnan.


"Ada janji dengan klien mendadak di luar perusahaan. Aku harus pergi kakak, sekretaris ku menunggu di bawah. Meskipun kau selalu mendapatkan laporan mengenai agenda ku setiap harinya, waktu akan berubah tidak selamanya berjalan sesuai agenda." Jawab Adnan dingin.


"Hmm... Baiklah ..." Jawab Andra tidak ingin berdebat. Ia menatap Adnan dan menjawabnya dengan ragu.


"Kakak Ipar, Aku pergi dulu. Terima kasih jamuannya." Pamit Adnan pada Dario.


"Hmm.. Terima kasih sudah memberiku tumpangan, Adnan. Berhati-hatilah." Balas Dario.


Jovita menatap tajam Adnan hingga menghilang di balik pintu.


...***...


Shanghai, China.


"Airin, Kakak dan Della akan berangkat lebih dulu. Nanti kau menyusul dengan Daniel, ya?" Pinta Kirana.


"Lho. Kita tidak berangkat bersama?" Protes Della.


"Baiklah. Aku akan menyusul dengan Tuan Daniel." Jawab Airin tidak masalah.


"Yasudah... Kakak berangkat. Hati-hati di rumah. Jangan menyusahkan Daniel."


Della dan Kirana keluar dari kamar Airin. Lalu, pergi dengan sopir.


Airin berjalan mendekati pintu kamar Daniel.


Tok! tok! tok!!


"Tuan, Tuan Daniel!! Apa Tuan tidur? Tuan! Airin masuk, ya?! Boleh, kan?" Karena tidak ada sahutan dari dalam. Airin membuka pintunya yang tidak terkunci. Pintu terbuka dan Airin memasuki kamar Daniel.


"YA AMPUN!!"


Dengan cepat Airin menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Ada apa? Ternyata saat masuk mata Airin telah ternodai dengan Daniel yang tidak memakai baju dan sedang telanjang dada.


"Tu-tuan sedang apa??" Pekik Airin.


"Airin, kapan kau masuk? Aku baru selesai mandi. Kenapa mata di tutup? Kau bisa menabrak benda di sekitar kamar ini." Ujar Daniel yang belum menyadari bahwa dirinya belum mengenakan bajunya.


"P-pakai lebih dulu baju, Tuan." Titah Airin gugup.


Bukannya langsung segera memakai pakaian begitu sadar tidak memakai baju, Daniel malah terkekeh melihat kegugupan gadis di depannya. Bahkan wajah Airin yang sedikit tidak tertutup tangan terlihat memerah.


"Tadinya aku juga ingin mengambil baju, Tapi kau terlebih dulu membuka pintu."


"Maaf.. Tadi aku mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Aku pikir terjadi sesuatu yang bahaya. Jika begitu aku akan keluar." Ujar Airin.


Airin berdehem. Daniel segera membuka lemari, mengambil kaos dan memakainya saat itu juga.


"Sudah selesai. Kau sudah bisa membuka matamu!"


Airin menghela napas lega ketika membuka mata. Daniel terkekeh melihat tingkah Airin, begitupun Airin tersenyum lebar menahan malu.


"Ada apa sampai kau ke kamar ku, hum?"


"Hanya memberi tahu, Baru saja Kak Kirana dan Kak Della berangkat lebih dulu dengan supir. Nanti kita menyusul ke acaranya."


Daniel mengangguk mengerti.


"Yasudah. bersiaplah! Nanti ku panggil jika kita akan berangkat."


"Tuan Daniel ingin makan terlebih dahulu? Aku bisa memasakkan untuk Tuan."


"Kau tidak perlu lelah memasak. Aku akan memesan makanan untuk kita."


"Hmm, baiklah. Jika begitu aku ke kamar dulu."


Airin pun keluar dari kamar Daniel menuju kamarnya.


Tak lama kemudian. Daniel keluar dari kamarnya bermaksud akan memanggil Airin di kamarnya, tapi baru saja 2 langkah, pintu kamar Airin terbuka dan keluarlah bidadari titisan surga.


"Airin, Baru saja aku akan ke kamarmu. Tapi kau sudah keluar lebih dulu." Kata Daniel tersenyum.


"Oh, Tuan, Aku sudah siap. Kita berangkat sekarang?"


"Ayo Kita berangkat. Kak Kirana sepertinya sudah menyiapkan mobil untuk kita yang sudah terparkir di depan." Ucap Daniel dan keduanya mulai pergi.


Airin dan Daniel telah sampai lokasi. Di sana Kirana dan Della sudah menunggu mereka berdua. Setelah memperkenalkan Airin dan Daniel pada rekannya Della dan Kirana menggunakan bahasa Inggris, meskipun bahasa Mandarin adalah yang digunakan negara mereka tapi posisinya karena Kirana dan Della sendiri yang tidak bisa berbahasa Mandarin.


"Airin?!" Ucap seseorang yang baru saja memperkenalkan dan ia bisa berbahasa Indonesia, seolah mengenal Airin.


"Ehh, Tao!!" Seru Airin juga mengenali pria yang baru menyapanya itu.


"Kau benar Airin, ya. Kau masih mengingat ku? Sudah lama tidak bertemu dengan mu. Kau juga di sini?!" Ujar Pria itu terlihat akrab sekali. Paras yang tampan, tinggi, kulit putih, dan wajah asia dari negara China.


"Benar. Kita sudah lama tidak bertemu. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu di sini. Aku diajak Kakakku untuk ikut dengan mereka."


"Senang juga bertemu dengan mu di sini. Aku memang terikat kerja sama dengan Tuan Zixuan di sini dan beliau mengajakku untuk menghadiri acaranya."


"Tao, Kenalkan ini Kak Della dan ini Kak Kirana mungkin kau masih ingat mereka. Dan ini sepupu suamiku, Tuan Daniel. Dan kalian semua, Ini Tao kakak tingkatku saat SMA sampai kuliah." Airin saling memperkenalkan mereka .


"Senang bertemu dengan mu kembali." Ucap Kirana tersenyum dan masih mengingat kakak tingkat Airin semasa sekolah yang pernah mengincar adiknya, namun sayang sekali Airin sudah menikah.


"Aku harus memanggil mu apa ya sekarang? Karena terlihatnya sekarang kau sudah menjadi pemimpin besar. Kapan kau sampai di China? Apa ada urusan bisnis juga di sini?" Tanya Airin sangat senang bertemu kawan lamanya itu.


"Panggil namaku saja. Aku memang tinggal di sini dalam beberapa tahun ke belakang dan orang tuaku pindah kemari karena ayah ku berasal dari negara ini sedangkan ibuku dari Indonesia. Jadi, sudah lama tinggal di tanah air, saat selesai sarjana kami terpaksa tinggal di China mengikuti ayah ku yang mayoritas pekerjaannya ada di sini. Setelah aku mengantarmu ke hotel waktu itu, malamnya aku pergi ke China. Ayah segera membutuhkan ku di sini." Pungkas Tao yang berketurunan darah Tiongkok itu dan memiliki nama China Zemin Tao.


"Oh.. Jadi, itulah mengapa sebabnya kau menghilang begitu saja tanpa kabar." Ujar Airin mengingat masa lalu.


"Emm.. Sepertinya aku harus pergi karena Tuan Zixuan sudah memanggil. Airin, senang bertemu kembali denganmu. Dan senang berkenalan dengan kalian. Aku permisi dan nikmatilah acara Tuan Zixuan ini, kalian merupakan tamu undangannya juga, kan." Setelah berpamitan Tao pergi.


"Airin, Bukankah itu Tao mantan mu itu, ya?" Kata Della.


"Apa?!! Mana ada, kalian ini masih saja membahas masa lalu." Ucap Airin jadi tersipu malu.


"Iya Della, Dia mantan kekasih Airin. Aku masih ingat bagaimana Tao begitu membujukku untuk mengungkapkan perasaannya pada Airin. Mereka pernah menjalin hubungan selama 2 tahun, tapi sayangnya harus kandas karena ternyata Tao harus berpindah negara."


"Pantas saja.. Airin ternyata dulu pintar sekali mencari kekasih. Dia sangat tampan, jika saja aku bisa memutuskan kekasih ku sekarang, Apakah dia akan marah, ya." Ujar Della yang sudah memiliki kekasih itu, namun ketika melihat Zemin ia ingin memutuskannya.


"Tampan juga aku. Bahkan lebih tampan." Timpal Daniel yang sedari tadi kepanasan dan menatap tidak suka pada Zemin jika ternyata dia mantan terdahulu Airin.


Airin tertawa melihat raut wajah Daniel. Dan mereka berakhir membicarakan Zemin Tao yang berujung membandingkan Daniel dan suami Airin.