
Airin dan Zemin memasuki Rumah Daniel. Mereka bersamaan turun dari mobil, lalu pandangan mereka menatap pria yang berdiri di depan pintu. Airin yang lebih dulu menyadari dengan segera berbalik badan dan bersembunyi di balik mobil Zemin. Sedangkan Zemin, sudah terlebih dulu mendekati pria itu.
Semakin dekat, Zemin semakin dapat melihat jelas siapa pria itu, meski pria itu membelakanginya. Zemin menoleh ke sampingnya menatap Airin, tapi gadis itu tiba-tiba tidak ada di sampingnya. Matanya beredar, dan menemukan Airin yang sedang bersembunyi di balik mobil. Airin menatapnya sendu dan menggelengkan kepala. Seakan mengerti maksud Airin, Zemin tersenyum tipis dan mengangguk.
"Hey, Tuan Adnan!!" Sapa Zemin tidak ragu menghampiri Adnan.
Adnan menoleh dan sedikit terkejut.
"Oh, Tuan Zemin?! Kau di sini?"
"Iya Tuan. Saya masih banyak pekerjaan di sini. Pertemuan ku dengan Tuan Daniel menjadi teman yang sudah seperti keluarga. Aku menumpang di sini untuk menghemat pengeluaran. Aku tidak sekaya dirimu yang bisa menyewa apartemen dalam jarak waktu cukup lama." Kata Zemin merendah.
Adnan mengangguk mengerti.
"Kau sendiri, kenapa di sini? Ingin bertemu Daniel? Dia sedang di perusahaannya. Ada Jasmine juga yang merupakan adiknya, dia baru kembali dari Firlandia karena sedang libur kuliah."
"Aku ingin mencari istriku!!"
"Istrimu?! Kenapa kau mencarinya di sini?"
"Daniel membawanya. Aku ingin mengeceknya sendiri di dalam. Tolong, buka pintunya, Tuan Zemin!! Aku meminta bantuan dari mu."
Zemin mencuri pandang melirik ke arah Airin ketika Adnan tidak menatapnya untuk menanyakan bagaimana keputusan yang diambil. Airin mengangguk saja.
"Agh, Baiklah. Kau bisa mengeceknya di dalam."
Zemin membuka pintunya. Ketika pintu sudah terbuka, keduanya masuk ke dalam.
"Airin!!" Langsung teriak Adnan memanggil.
"Airin!! Keluarlah!! Aku tahu kau ada di sini. Ayo kita pulang!! Aku ingin bicara denganmu."
Adnan mencarinya di setiap sudut. Meneriaki nama Airin, tapi tidak ada sahutan apapun dari empunya.
"Tidak ada kan, Tuan Adnan? Aku juga tinggal di sini, sepanjang bangun tidur dan kembali pulang, Aku tidak melihat tanda-tanda Tuan Daniel menyembunyikan Airin di sini. Jika aku tahu Tuan Daniel membawa istrimu kemari, maka aku akan memberitahu mu. Membawa lari istri orang adalah perbuatan buruk, bukan." Kata Zemin serius. Padahal dalam hatinya ia ingin tertawa.
Napas Adnan tersengal. Manik tajamnya masih berputar mengelilingi sekitar rumah.
"Aku yakin, Daniel membawanya."
"Tanyakan saja pada Tuan Daniel. Yang pasti di sini tidak ada istrimu."
"Aku pergi dulu, Tuan Zemin. Maaf mengganggumu." Pamit Adnan menyerah. Adnan meninggalkan rumah Daniel.
Airin masih bersembunyi dan ia sangat aman. Adnan tidak berhasil menemukan istrinya. Mobilnya pun sudah menghilang dari rumah Daniel.
"Apa sudah pergi?!" Tanya Airin pelan dan mengejutkan Zemin yang masih memantau kepergian Adnan dari mobilnya yang semakin menjauh.
"Ya ampun!! Aishh.."
Zemin memijat keningnya karena terkejut, tiba-tiba Airin sudah ada dibelakangnya dan memunculkan kepalanya saja dibalik bahunya Zemin.
"Ma-maaf Zemin, Pasti aku mengejutkan mu. Hhe..."
"Hmm... Tidak apa..."
"Suami mu sudah pergi." Balas Zemin.
"Syukurlah dia tidak menemukan ku!" Kata Airin bernapas lega.
"Kau pasti lelah. Istirahatlah!" Perintah Zemin.
"Aku ke kamar dulu. Terima kasih sudah membantu ku."
"Tidak masalah!"
Airin membalas senyuman Zemin, kemudian pergi menuju kamarnya.
Setelah kepergian Airin, Zemin merebahkan tubuhnya di sofa, Kemudian memainkan ponselnya.
...***...
"Selamat Pagi, Kakak-kakak tampanku..." Sapa Jasmine yang baru menuruni tangga.
"Hmm..."
Jawab keduanya berdehem. Jasmine mengambil duduk di seberang Zemin.
"Kak Airin mana?"
"Masih di kamar. Sebentar lagi turun." Jawab Daniel.
"Kau ingin kemana? Pagi-pagi sekali sudah rapi." Tanya Zemin.
"Ingin pergi ke Mall bersama teman-teman ku. Kami akan menghabiskan waktu sebelum kembali ke Firlandia." Jawabnya Jasmine dan semua orang menengok ke sumber suara.
"Selamat Pagi Semua..." Seru Airin yang akhirnya turun.
"Hai Jasmine. Kau jadi pergi dengan teman-teman mu?"
"Tentu saja. Setelah ini aku akan berangkat. Kak Airin ingin menitip sesuatu?"
"Aku menitip salam saja pada teman-teman mu. Lain kali aku akan mampir kesana." Jawab Airin.
"Baiklah... Siap!!"
"Airin, Bagaimana dengan keputusan mu. Kau sendiri akan berangkat sekarang menemui Adnan?" Tanya Daniel.
"Yakin tidak yakin, bagaimanapun juga aku harus melakukannya. Aku tidak bisa rumah tangga ku seperti ini terus. Jika itu keinginan Tuan Adnan, dia pasti tidak akan menolak."
"Hmm.. Setelah sarapan. Aku akan mengantarmu."
Airin mengangguk. Dan mereka berempat melanjutkan sarapan paginya.
...***...
Pukul 18.00 Wib.
Daniel dan Airin telah sampai di depan Mansion Adnan setelah mengantarkan Airin mengurus sesuatu. Mereka harus sengaja terlambat karena tiba-tiba Daniel harus meeting mendadak dan membawa Airin ke perusahaannya untuk menunggu.
"Terima kasih, Tuan Daniel. Kau sudah menemani ku mengurus semuanya dan memberiku tumpangan di rumah mu."
"Aku yang minta maaf, Airin. Karena rapat yang mendadak, kau jadi terjebak di perusahaan ku dan keperluan mu terhambat."
"Tidak apa-apa. Tuan hati-hati di jalan. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih ku untuk Zemin dan Jasmine di sana."
"Akan ku sampaikan. Segera hubungi aku jika suami mu melukaimu lagi. Jujur, aku berat melepaskan mu untuk tinggal di mansion ini lagi."
"Hmm... Sampai jumpa, Tuan."
Airin menuruni mobil Daniel. Lalu, Daniel menjalankan mobilnya setelah Airin sudah memasuki Mansion.
Airin memasuki Mansion secara perlahan. Kondisi dalam Mansion sangat sepi, seperti tidak berpenghuni. Lalu, di mana Rissa?!
"Airin!!"
Airin menoleh perlahan, ketika suara yang sangat dikenalnya menyerukan namanya. Airin menatap Adnan dalam diam.
"Kau pulang juga akhirnya. Kemana Daniel membawamu pergi?!" Tanya Adnan yang menghampiri istrinya dengan raut wajah senang.
Airin diam dan tidak menjawab.
Airin mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Ia meletakkannya di meja dekat Adnan.
"Tanda tangan!!" Kata Airin tidak perlu berbasa-basi lagi.
"Apa ini?!"
Adnan menatap bingung pada map yang diletakkan Airin.
"SURAT CERAI!!!..."