My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 48 : Firasat Buruk



1 Bulan Kemudian...


Sebulan telah berlalu. Zemin dan Jasmine sudah kembali ke negaranya masing-masing sebulan yang lalu esok harinya setelah Airin sadar, saat pingsan setelah peristiwa perpisahan itu dengan Adnan.


Dan selama sebulan pula, Adnan benar-benar membiarkan Airin. Tidak menemuinya apalagi mengganggunya. Dan selama sebulan itu, kehidupan Adnan benar-benar berantakan tidak terarah. Nasihat kakak-kakaknya diabaikannya. Ia hanya bisa menahan rindu dan memahami ternyata tidak semudah yang dipikirkan.


Berulang kali Adnan bertingkah nekat menemui istrinya, tapi di urungkan, dirinya tidak ingin jika Airin semakin membencinya dan benar akan mengirimkan surat cerai padanya.


Hari-hari Adnan sangat kacau tidak karuan tanpa Airin di sisinya. Rissa yang setiap harinya memperhatikan Tuannya merasa kasihan dan tidak tega. Baru sebulan sudah seperti tidak semangat hidup, Apalagi satu tahun, Entah apa yang akan terjadi pada Tuan tampannya.


Rissa menghampiri Adnan yang terbaring di sofa. Pria itu baru saja pulang bekerja.


"Tuan membutuhkan sesuatu? Ingin dimasakan apa untuk makan malam?" Tanya Rissa yang selalu melihat Tuannya itu murung.


"Aku hanya ingin istriku!" Jawab Adnan demikian.


Manik Rissa bergerak bingung. Adnan menjawab sembari memejamkan mata. Tidak ingin bertanya lebih karena takut mara, Rissa hanya menatap Adnan yang terlihat lelah.


"Tuan.. Saya sudah menyiapkan air hangat untuk anda mandi. Sebaiknya anda membersihkan badan lebih dulu. Saya akan menyiapkam makan malam anda."


"Hmm..."


Rissa pergi meninggalkan Tuannya yang masih terlelap di sofa.


Di sisi lain...


Di Rumah Daniel yang hanya tersisa berdua selama sebulan kepulangan Zemin ke negaranya dan Jasmine kembali melanjutkan studinya.


Terdapat Daniel yang sedang berusaha membuat Airin makan diusia kandungannya yang kini akan menginjak dua bulan.


"Kenapa tidak di makan? Jika sudah dingin nanti tidak enak." Kata Daniel yang perhatian.


Airin menggeleng tidak berselera makan.


"Tidak menyukai makanannya? Ingin mengganti menu? Kau ingin makan apa?" Tanya Daniel penuh kesabaran.


Lagi-lagi Airin menggeleng. Daniel menghela napas berat. Tangannya meraih sendok, mengisinya dengan beberapa menu makanan, kemudian di sodorkannya di depat mulut Airin.


Melihat Daniel akan menyuapinya, senyum Airin merekah. Mulutnya terbuka lebar dan melahap makanan yang di sodorkan Daniel,


Daniel ikut tersenyum melihat antusias Airin. Ia baru menyadari jika Airin ingin di suapi. Daniel terus menyuapi Airin hingga makanan di piring tandas.


Satu jam setelah jam makan malam. Daniel melihat Airin yang berdiam diri sendirian di halaman samping, wanita itu terlihat melamun, menatap kosong ke depan. Daniel berjalan mendekati Airin dan mengambil duduk di sampingnya. Menyampirkan sweaternya pada bahu Airin agar tidak kedinginan.


"Kenapa di sini? Di luar sangat dingin. Kasihan bayinya jika kedinginan."


Airin tersenyum kecil menanggapi. Wajahnya terlihat sedih dan banyak pikiran.


"Kenapa? Kau memikirkan sesuatu?"


Airin menggeleng. Daniel memerhatikan Airin sedang memainkan ujung dressnya.


"Kau merindukan suami mu, hum?"


"Ti-tidak Tuan..."


"Apa kau ingin bertemu dengannya? Aku akan mengantarkan mu. Mungkin ini bawaan si bayi yang ingin menemui ayahnya." Ujar Daniel.


"Tidak.."


Airin semakin menunduk. Ia memainkan jemarinya yang saling bertautan.


"Atau kau ingin menghubunginya? Kau bisa pakai ponselku."


Airin menoleh menatap Daniel di sampingnya.


"Jangan Tuan. Aku.. aku hanya.. Entah kenapa aku memikirkannya. Aku takut sesuatu terjadi padanya."


Daniel tersenyum dan mengusap kepala Airin lembut.


"Itu namanya kau merindukannya. Bayi mu juga merindukan ayahnya. Besok sore, sepulang ku dari bekerja, Aku akan mengantarkan mu ke mansion nya."


"Mungkin memang tidak perlu menyiksanya hingga berlebihan. Tidak perlu menunggu satu tahun, tapi aku memang harus menemuinya besok hari." Kata Airin yang sepertinya sudah memaafkan sepenuhnya kesalahan Adnan dan siap kembali padanya.


Daniel tersenyum beralih mengacak gemas rambut Airin.


...***...


Pukul 22.30 Wib...


Di Mansion Adnan...


"Aku akan keluar sebentar. Kau jaga mansion, ya!" Titah Adnan bergegas pergi dengan pakaian cukup tebal karena udara malam sangat dingin.


"Tapi kemana? Ini sudah hampir tengah malam."


"Tidak akan lama, Rissa. Aku ingin menenangkan diri."


Rissa sedikit khawatir melihat Tuannya. Pasalnya, Tuannya saat ini dalam keadaan berantakan. Bisa dilihat mata Adnan agak sembap, sepertinya selesai menangis, wajahnya juga sedikit pucat. Mana bisa dia membiarkan Adnan keluar sendiri malam-malam begini.


Rissa memerhatikan dengan khawatir mobil Tuannya yang sudah keluar gerbang Mansion. Dengan cepat Rissa masuk kedalam Mansion mencari ponselnya. Setelah ditemukan, Jari Rissa dengan cepat mencari kontak seseorang serta meneleponnya.


"Tuan Adnan baru saja keluar Mansion. Tapi saya khawatir jika terjadi sesuatu, karena kondisi Tuan Adnan terlihat tidak baik-baik saja saat ini." Bicaranya pada seseorang dalam telepon.


".........." Jawaban seseorang di dalamnya.


"Baiklah..."


Rissa kembali menutup panggilan dan kembali menuju pintu utama untuk menutupnya.


Di sisi lain...


Adnan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan terlihat basah, sepertinya di daerah tersebut selesai turun hujan, maka dari itu jalanan terlihat sepi pengendara dan cukup licin.


Adnan terus melajukan mobilnya tanpa tujuan dengan sesekali mengusap tetesan air di pipinya.


Bibirnya terus menggumamkan nama "Airin" dan kata "Maaf" serta "Aku mencintaimu".


Perasaannya sangat kacau saat ini. Kepalanya terus berdenyut pening seolah beban masih menggerogoti tubuhnya.


Saat mobilnya mencapai tikungan, Adnan tidak mengurangi kecepatan, hingga dia terkejut ketika ada sebuah truk tanpa lampu penerangan yang cukup dari arah berlawanan. Sontak dengan refleks tangannya membanting setir memutar ke kanan pembatas jalan.


BRUGK!!


JEDERR!!


DUAARR!!



Dan tidak dapat dihindari mobil menghantam pembatas jalan dan berguling hingga beberapa meter. Para pengendara lain yang tidak banyak di sekitar jalan tersebut menyaksikan peristiwa tersebut di depan mata mereka setelah mendengar suara tabrakan yang cukup keras.


Mereka menghentikan mobilnya dan berhamburan keluar, beberapa kendaraan juga terlihat berhenti. Mereka menghampiri mobil Adnan yang sudah tidak berbentuk. Terlihat si pengemudi masih bisa bertahan dan bergerak berusaha untuk mengeluarkan tubuhnya yang terjebak di bangkai mobil.


Para pengendara membantu mencoba membuka pintu mobil yang macet karena kondisi dari mobil yang sudah rusak parah. Sebisa mungkin mereka memberikan pertolongan pertama untuk korban. Dan salah satu orang segera menghubungi ambulance untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.


Pyar!!



"Akh!!"


Di Rumah Daniel, Airin yang sedang berada di dapur dan mengambil air minum seketika tidak sengaja menjatuhkan gelasnya hingga pecah berkeping-keping.


Daniel yang terkejut segera menghampiri Airin yang terlihat berkeringat dingin dan perasaan yang tidak tenang.


"Airin!! Kau tidak apa-apa?" Daniel memeriksa tubuh Airin barangkali ada luka. Sedangkan Airin hanya diam menatap kosong pada gelas yang pecah dan masih syok.


"Biarkan saja!! Biarkan Bibi yang membersihkannya. Ayo, ku antar ke kamar! Sudah ku katakan keadaan mu sedang lemah dan jika ada sesuatu kau katakan padaku." Kata Daniel mencegah Airin yang akan mengambil pecahan beling untuk dibersihkan. Kemudian, menuntun tubuh Airin pergi dan mengantarnya ke kamar.


Di Kamar...


"Istirahatlah! Kau pasti lelah. Ini sudah larut malam. Tidak baik juga untuk bayi mu."


Airin menatap cemas Daniel yang menata selimut untuk menyelimuti tubuhnya.


"Tuan Daniel..." Lirih Airin memanggil.


"Hemm?!"


"Bisa tolong kau hubungi, Tuan Adnan?!Sebentar saja." Pinta Airin tiba-tiba.


"Tapi, Ini sudah tengah malam. Mungkin Adnan pun sudah tidur. Besok saja, ya. Aku antar kau menemuinya."


"Ku mohon..." Rengek Airin memelas.


"Baiklah... Tunggu sebentar." Daniel segera mengocek saku celananya untuk mengambil handphonenya dan mencari nama kontak seseorang untuk memanggilnya.


Mana tahan Daniel jika sudah melihat wajah memelas dari wajah Airin. Terlihat Airin pun yang tidak sabar agar Adnan dapat mengangkat teleponnya.