
2 Bulan Kemudian...
2 bulan berlalu. Keadaan Adnan tetap sama, belum ada perubahan. Pihak rumah sakit seakan pasrah, Jika dalam seminggu ini keadaan Adnan belum ada perubahan, pihak rumah sakit akan melepas seluruh alat dari tubuh Adnan atau pihak keluarga bisa membawa pasien berobat keluar negeri. Tapi percuma, hasilnya akan tetap sama saja, karena rumah sakit di sini adalah rumah sakit terbaik di negara, Sistem pelayanan juga tidak jauh berbeda dengan pelayanan rumah sakit di luar negeri. Maka dari itu, Airin menolak membawa suaminya dipindahkan ke rumah sakit luar negeri. Kini keluarga dan pihak rumah sakit hanya berdoa semoga Adnan segera diberi kesembuhan untuk sadar dalam waktu seminggu ini, minimal perubahan yang lebih baik mengenai kondisinya.
Airin menatap sendu suaminya, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman tangan Adnan. Kecupan ringan Airin layangkan pada kening Adnan, mengusap lembut kepalanya, tidak jarang juga Airin mengarahkan tangan Adnan pada perutnya yang sudah tidak rata diusia 5 bulan membantu mengusapnya lembut.
"Tuan... Hiks.. bagaimana ini? Mereka akan melepas semua alat di tubuhmu, jika dalam seminggu ini kau tidak sadar. Apa kau marah padaku karena aku menjauhkan mu dari bayi kita? A-aku minta maaf. Kau bisa memarahi ku nanti, tapi tolong sadarlah."
"Lihat, perut ku sudah terlihat, bayi kita sudah bertambah besar, apa kau merasakannya? Anak kita merindukan ayahnya. Jadi, cepatlah bangun. Apa kau tidak ingin menggendongnya di saat dia sudah lahir nanti? Apa kau tidak ingin menemani ku dalam persalinan? Hikss.."
"Ku mohon bangun.. A-aku menyayangi mu, Aku mencintai mu . Maafkan aku membuatmu seperti ini. Tuan Adnan, Hiks.."
Airin menangis terisak dengan memeluk tangan Adnan, mendekapnya di dalam genggamannya. Dadanya terasa sakit dan sesak. Bagaimana jika dalam satu minggu ini suaminya benar-benar tidak menunjukkan perubahan. Airin sudah membayangkan bagaimana nasib anaknya nanti, Jika dia lahir tanpa sosok ayah. Tangisnya seketika terhenti ketika seseorang mengusap kepalanya lembut. Airin pun mendongakkan kepalanya dan terkejut.
Adnan menatapnya dengan tersenyum.
Tangan kirinya yang masih terpasang infus, Mengusap lembut kepala Airin. Sedangkan tangan satunya yang terbebas masih dalam dekapan Airin.
"Tu-tuaan..."
Tidak menunggu lama, Airin segera berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh Adnan erat. Tangisnya semakin keras ketika melihat suaminya sudah sadar. Tuhan mengabulkan doanya dengan cepat.
"Hey, Kenapa malah menangis? Suami mu sudah sadar, kau tidak senang?" Ucap Adnan surau dan lemah. Untuk pertama kalinya lagi Airin bisa mendengar suara suaminya.
Airin segera melepaskan pelukannya.
"A-aku akan memanggil Dokter. Tunggu sebentar." Airin segera berlari keluar kamar untuk memanggil Dokter. Adnan terkekeh melihatnya. Saking panik istrinya, Sampai wanita itu tidak sadar, Jika memanggil Dokter cukup menekan tombol di sebelah ranjangnya.
Beberapa saat setelah Dokter memeriksa Adnan, Dokter mengatakan bahwa kondisi Adnan sudah jauh membaik, hanya tinggal menunggu pemulihan. Airin juga sudah memberi kabar yang lain dan mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Kini tersisa Adnan dan Airin dalam ruangan. Keduanya hanya diam dan saling memandang tanpa ada suara sekalipun.
Adnan mengambil posisi duduk bersandar pada kepala ranjang dan Airin duduk di pinggiran ranjang. Keduanya saling berhadapan.
"Apa kau benar sudah memaafkan ku?" Tanya Adnan yang mendengar segalanya dalam koma.
Pada dasarnya, bahwa penderita koma setidaknya 15-20 persen bisa mendengar suara. Namun, mereka tidak bisa merespons karena kinerja otak tidak berfungsi akibat pembengkakan atau pendarahan yang terjadi.
Penderita koma tidak bisa bergerak, mengeluarkan suara, bahkan membuka mata, meski sudah diberi rangsangan. Tapi hal itu, sebenarnya bukan membuat orang koma layaknya mayat hidup atau orang seperti saat tidur yang tidak mendengar suara apapun, mereka hanya tidak bisa merespons saja.
Airin mengangguk dengan menunduk. Tangannya memilin ujung dressnya karena gugup.
"Maafkan Aku. Aku bersungguh-sungguh meminta maaf, Aku sangat menyesal telah menyiakan mu. Apa kau ingin jika kita memulai hubungan dari awal?"
Airin kembali mengangguk. Adnan tersenyum lega, tangannya meraih kedua tangan Airin untuk di genggam dan dikecupnya berulang kali menyalurkan kerinduan dan sayangnya.
Adnan menarik Airin dalam dekapannya.
"Airin, Terima kasih untuk buah cinta kita. Aku sangat senang kau sedang mengandung." Kata Adnan tepat di telinga istrinya.
Airin sontak melepaskan pelukannya. Mata Airin membulat sempurna dengan bibir sedikit terbuka. Ia heran kenapa Adnan bisa tahu, padahal ia belum memberitahukannya saat tersadar dan menceritakannya dalam koma.
Adnan tersenyum tipis melihatnya.
"Maksud mu, Kau.. Sudah mengetahui?!! Kapan? Aku belum mengatakannya padamu."
Adnan mengangguk mengambil tangan Airin dan diarahkan bersamaan pada perutnya. Adnan kembali terkejut ketika merasakan perut Airin ada sedikit pergerakan.
"Bayi kita mungkin senang karena ayahnya sudah bangun. Ini yang sering kau lakukan ketika berbicara dengan ku. Aku mendengar semua perkataan mu dalam koma."
Adnan turut mengusap perut Airin dengan lembut. Tidak sadar, air matanya menetes.
"Be-benar dia anakku? Anak kita?" Tanya Adnan demikian karena ia masih tidak menyangka.
Airin mengangguk. Jemarinya terulur mengusap air yang menetes di pipi suaminya.
"Usianya sudah memasuki lima bulan. Bayi kita sehat, Dia selalu aktif di dalam. Dia juga selalu menemani ku menjaga ayah nya selama koma. Bayi kita sangat kuat dia juga tidak sabar untuk melihat ayah nya." Kata Airin.
Air mata Adnan semakin deras. Di dekapnya tubuh istrinya sangat erat. Airin merasakan tubuh suaminya bergetar, suaminya sedang menangis bahagia.
...***...
"Adnan, Kau tidak ingin berterima kasih padaku?" Tanya Daniel yang ada di sana.
"Untuk apa?"
"Tck... Aku sudah menjaga istri dan anakmu dengan baik dan sehat selama kau koma."
"Tidak akan, Karena kau sendiri sudah membawa istriku." Ketus Adnan yang dirindukan semua orang.
"Itu juga salah mu." Ujar Daniel terkekeh.
"Sayang, Apa Daniel menggodamu selama kau tinggal dengannya? Dia pasti yang menghasut mu untuk meninggalkan ku waktu itu?!"
"Baru tersadar kau sudah sangat menyebalkan sekali. Alangkah lebih baiknya kau terbaring koma lagi." Ucap Daniel hanya bercanda.
"Jikapun Airin benar ingin meninggalkan mu, Aku juga akan merestuinya dengan Daniel." Goda Kirana.
"Kakak Ipar, Jangan membela perebut istri orang. Aku suaminya..."
"Tapi, Kau jahat dengan adik ku!" Jawab Kirana.
Airin menjulurkan lidahnya membuat Adnan tambah kesal. Tapi itu hiburan untuk Airin, wanita itu tertawa terbahak di samping Kirana.
"Dan jika kau menyakitinya lagi. Aku sendiri yang akan membawanya pulang!!!" Timpal Dario.
"Kali ini tidak akan, Kakak Ipar. Aku sudah berjanji. Sebaiknya kau peringati juga Daniel dan Kak Ken untuk tidak membawa istriku kabur lagi dan juga mantan kekasihnya dulu yang mencoba menjalin hubungan lagi."
"Itu juga tergantung padamu, Adnan. Adikku ini cantik dan baik, Mana mungkin tidak ada yang ingin dengannya. Wajar saja dia menjadi rebutan. Aku bahkan masih bisa menikahkannya dengan pria lain." Kata Dario.
"Tck... Sayang, kau tidak ingin membela suami mu?!" Tanya Adnan yang cukup kesal.
"Jangan mencari pelindung. Kau yang salah dan kau tetap salah." Jawab Airin terkekeh.
"Baiklah.. Baiklah.. Wanita memang selalu benar dan pria selalu salah!"
Suara ketukan pintu membuat mereka menoleh di sela tertawa bersama mereka.
"Permisi.. Saya Dokter pengganti untuk shift malam karena shift Dokter sebelumnya sudah habis. Saya akan memeriksa kondisi Tuan Adnan." Ucap Dokter itu.
"Silakan, Dokter." Andra mempersilakan Dokter tersebut dan asistennya.
Dokter memeriksa kondisi Adnan, serta menanyakan beberapa keluhan yang dirasakan pasien. Sedangkan asistennya sibuk mencatat hasil pemeriksaan.
"Bagaimana kondisi suami saya, Dokter?" Tanya Airin kemudian.
"Kondisi Tuan Adnan sudah jauh lebih baik. Tinggal menunggu beberapa hari agar bisa pulang. Jika kondisinya mulai stabil, Tuan Adnan sudah diperbolehkan pulang." Jawab Dokter.
Setelah keluarga pasien mengucapkan Terima kasih, Dokter beserta asistennya keluar meninggalkan ruang rawat.
"Airin, Sebaiknya kau pulang dan istirahat. Malam ini suamimu biarkan aku dan Kenzo yang menjaga." Ucap Daniel.
"Tidak apa, Tuan Daniel. Aku juga akan di sini saja."
"Daniel benar, Airin. Kau sudah lama tidak pulang. Kau bisa istirahat dengan nyaman di rumah, Besok pagi kau bisa kembali." Titah Adnan yang harus turun tangan.
"Emm.. Baiklah jika begitu." Akhirnya setelah Adnan memberi sedikit pengertian, ia setuju.
Airin mendekati Adnan di ranjang.
"Tuan, Aku pulang terlebih dahulu, ya.. Besok pagi aku akan kembali. Akan ku bawakan masakan dari rumah, Kau pasti bosan makanan rumah sakit."
"Terima kasih sayang.. Istirahatlah dengan nyaman. Terima kasih kau sudah menjagaku di sini."
Adnan menarik Airin dalam pelukan. memberikan kecupan hangat pada pucuk kepala, kening, pipi, dan bibir dihadapan semua orang. Mereka hanya bisa tersenyum mesem.
"Aku mencintai mu!"
Airin tersenyum membalasnya.
Disusul yang lainnya berpamitan pada Adnan. Daniel yang akan mengantarkan Airin pulang ke Mansion Adnan. Ia sudah menghubungi Rissa untuk menyiapkan keperluan Airin di Mansion, Karena selama Adnan koma, Airin sama sekali tidak pernah pulang ke Mansion bahkan saat hubungan mereka renggang. Dan malam ini, Daniel dan Kenzo yang bergantian akan menjaga Adnan.