My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 41 : Hubungan Kita Telah Usai



2 Minggu Kemudian...


Sudah Dua minggu Airin di mansion Adnan. Niatnya awal hanya ingin meminta tanda tangan perceraian mereka, tapi malah terulur karena Adnan menolak menanda tanganinya. Dan selama seminggu ini, Adnan dan Airin sudah melakukan hubungan suami istri sebanyak tiga kali. Yang pertama dan ketiga tentunya dengan paksaan Adnan, dan yang kedua ketidaksadaran Adnan karena waktu itu dirinya mabuk.


Sudah tiga hari lalu Rissa kembali ke mansion Adnan. Rissa kembali menemani Airin. Tentu tanpa ada yang tahu jika sebenarnya Rissa adalah tangan kanan Andra untuk memperhatikan rumah tangga adiknya. Terkecuali Daniel dan Zemin yang mengetahui semuanya. Setelah kembalinya Rissa ke mansion Adnan, tentunya Andra dan Daniel tidak pernah tertinggal kabar apapun mengenai Airin dan Adnan.


Ceklek!!


"Nyonya.. waktunya makan siang." Rissa memasuki kamar Airin.


"Nanti saja Rissa. Aku belum lapar." Jawabnya lemah.


"Tapi, Sejak pagi Nyonya belum makan."


"Nanti aku akan makan Rissa." Jawabnya tetap sama.


Rissa menghembuskan napas panjang.


"Baiklah, Saya buatkan Jus mangga, ya. Yang penting perut Nyonya Airin harus terisi."


Tanpa menunggu jawaban dari Airin, Rissa pergi keluar kamar.


Tidak lama kemudian, Rissa datang dengan segelas jus mangga di tangannya.


"Nyonya, Ini jus kesukaanmu. Ayo di minum!!"


"Rissa maaf. Tadi aku ingin memberitahumu. Tapi kau sudah terburu pergi."


"Ada apa Nyonya? Nyonya perlu sesuatu katakan saja."


"Rissa, aku tidak ingin jus mangga."


Ucap Airin membuat mata Rissa mengerjap beberapa kali padahal tidak ada debu yang masuk ke matanya sampai kelilipan.


"Aku ingin jus strawberry, Rissa."


"Ini, ku bawakan untukmu." Ujar seseorang yang baru datang.


Airin dan Rissa menoleh ketika Adnan tiba-tiba memasuki kamar Airin.


Airin menatap terpesona isi nampan yang dibawa Adnan. Terdapat Jus Strawberry dan juga Roll Cake Strawberry.



"Aku tahu kau sangat menginginkannya." Ucap Adnan membawa nampan itu semakin dekat dan ia duduk di tepi ranjang.


Airin masih diam menatap nampan ditangan Adnan. Sebenarnya dia memang sangat ingin, tapi dia masih kesal dengan Adnan. Jadi, gengsi ingin menerima pemberiannya.


"Airin!!" Panggil Adnan.


Airin menatapnya dalam dan matanya berbinar, hingga membuyarkan lamunan Airin.


"Bawa saja. Aku tidak ingin." Ketus Airin. Ia beralih mengambil paksa jus mangga dari nampan Rissa.


Rissa terkejut yang tiba-tiba Airin mengambil gelas dari tangannya. Untung saja ia memegangnya kuat dan hampir tidak tumpah.


"Lho! Bukannya tadi Nyonya Airin tidak ing-..."


"Aku ingin. Aku akan meminumnya." Potong Airin langsung menimpalinya. Jawabnya cepat, sembari meminum jus mangga sampai tandas.


Adnan tersenyum sangat tipis. Lalu, meletakkan nampan pada meja nakas di samping ranjangnya.


"Aku letakkan di sini, ya?! Kau bisa memakannya nanti. Aku keluar dulu."


Airin tidak menjawab. Hanya melirik pergerakan Adnan hingga hilang dibalik pintu.


...***...


Di Siang Hari...


Ding.. dong...


Ceklek!


Airin membuka pintu utama. Menatap datar tamu yang menyelonong masuk tanpa permisi.


"Tuan!! Tuan Adnan!! Aku ingin kita bicara. Aku akan jelaskan semua!! Tuan!! Keluarlah! Aku tahu kau di dalam. Adnan!! Tolong dengarkan penjelasanku!! Tuan!!" Teriaknya terus memanggil dan membuat kebisingan di dalam Mansion.


Karena terganggu, Adnan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Ia melihat Shana yang berteriak di ruang tengah. Tidak jauh dari Shana, di belakangnya ada Airin yang bersedekap dada memperhatikan.


"Tuan!!" Shana menghampiri Adnan dengan begitu tergesa-gesa.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Adnan dingin.


"Dengarkan penjelasan ku!" Shana meraih tangan Adnan, namun dengan segera Adnan menghempaskannya.


"Kita sudah berakhir. Penjelasan mu tidak akan berarti dan tidak dibutuhkan lagi."


"Adnan, Kau salah paham. Dengarkan aku."


"Setelah apa yang aku lihat dengan kau berhubungan ranjang dengan pria lain, Kau masih mengatakan aku salah paham?!!" Sentak Adnan membuat kedua wanita itu terkejut.


"Penjelasan apa yang kau bawa? Kau akan mengatakan bahwa kau diperkosa?! Atau dia memaksamu melakukannya?! Berapa kali kalian melakukan adegan ranjang di belakang ku? Apa pria itu membayarmu? Berapa?! Aku bahkan bisa membayarmu 10x lipat dari pria itu. Asal kau pergi dari kehidupan ku. Aku sudah muak!!" Hardik Adnan bertubi-tubi.


"Tidak. Hiks... Aku mencintaimu, Adnan." Shana mulai berlutut dan menangis di bawahnya.


"Berani sekali kau memanggil dengan menyebut namaku. Bahkan istriku sendiri masih memanggil ku dengan sebutan Tuan. Pergi dari sini!! Aku tidak ingin melihatmu. Dan aku tunggu surat pengunduran dirimu di mejaku."


"Tidak Tuan. Tolong jangan begini, aku mencintaimu. Kau sudah berjanji akan menikahiku. Hiks, tolong jangan tinggalkan aku."


Jengah dengan drama keduanya, Airin memutuskan pergi ke kamarnya. Melangkah melewati keduanya, seketika terhenti ketika seseorang mencengkal pergelangan tangannya. Airin menoleh, melihat Adnan yang masih menatap ke arah lain, tapi tangan pria itu menggenggam erat lengannya.


"Pergi!! Aku ada urusan dengan istriku." Ucap Adnan menahan Airin pergi.


Airin dan Shana saling pandang. Lalu, tatapan keduanya dibuyarkan teriakan Adnan memanggil penjaga untuk membawa Shana keluar.


Penjaga datang, menarik paksa Shana untuk keluar Mansion dan Shana terus memberontak minta dilepaskan.


"Mari Nona! Jangan membuat saya memaksa anda dengan kekerasan." Ucap Penjaga tersebut.


"Lepaskan Aku!! Tuan! Kau tidak bisa begini padaku. Kau sudah janji akan menikahiku dan menceraikan wanita itu. Tuan!! Maafkan aku, Kumohon. Lepas brengsekk!! Adnan Tuan!!"


Seolah tuli, Adnan merangkul bahu Airin menaiki tangga menuju kamar. Membiarkan Shana diseret oleh penjaga menuju luar.


"Singkirkan tanganmu!!" Airin menghempas kasar tangan Adnan dari bahunya, lalu berlari memasuki kamar. Tanpa sadar, Adnan tersenyum tipis, lalu memasuki kamarnya juga.