
Setelah mendapat kabar dari Zemin, Daniel dengan tergesa memasuki Rumahnya. Ia mendapati Zemin sedang duduk di ruang keluarga.
"Apa dia membuat ulah? Dia menyakiti Airin lagi?"
"Tenanglah. Duduklah dulu. Tuan Adnan tidak menyakiti Airin. Dia bahkan tadi sempat menyampaikan minta maaf."
"Aku akan menemuinya." Daniel bergegas hendak ke kamar Airin.
"Airin baru saja istirahat. Jangan mengganggunya."
Daniel menghiraukan Zemin. Ia tetap pergi menuju kamar Airin.
Daniel membuka pintu perlahan. Menyembulkan sedikit kepalanya. Ia melihat Airin yang duduk bersandar pada kepala ranjang, dan melamun.
"Jangan sering melamun.. di sini banyak penghuninya."
Daniel terkekeh berjalan mendekati ranjang, dan duduk di tepinya.
"Tuan Daniel sudah pulang?! Tidak biasanya pulang lebih awal?"
"Zemin hyung menelepon ku jika Adnan datang ke rumah. Adnan menyakitimu?"
"Tidak Tuan. Zemin melindungi ku, Jadi Tuan Adnan tidak sampai mendekatiku karena ada bodyguard galak yang melindungi ku. Xixi..." Ucap Airin masih bisa bercanda.
Daniel ikut tertawa mendengarnya.
"Siapa yang kau sebut bodyguard galak? Aku?! Mana ada bodyguard setampan diriku."
Zemin tiba-tiba masuk kamar dan ikut duduk di samping ranjang. Berhadapan dengan Airin, dan di samping Daniel.
"Mana ada orang tampan mengaku tampan. Masih tampan aku dibandingkan dirimu!" Ketus Zemin ikut menimbrung.
"Wanita hamil ternyata mengesalkan, ya, Zemin?! Untung cantik." Balas Daniel.
"Tuan Daniel juga tahu jika aku cantik." Lontar Airin.
"Masa?!"
Goda Zemin pura-pura dengan wajah terkejutnya.
"Tuh kan... Sekarang siapa yang mengesalkan..." Rengekan gemas Airin membuat kedua pria itu tertawa, apalagi dengan bibir yang cemberut. Siapa yang tidak gemas. Daniel saja sampai mengacak gemas pucuk kepala Airin, sedangkan Zemin lembut mencubit kedua pipi Airin.
Jasmine yang baru datang memasuki kamar Airin.
"Ada apa ini? Seru sekali sampai tidak mengajak." Tanya Jasmine membuat ketiganya melirik.
"Jasmine! Hiks..."
"Lho. Kenapa jadi menangis?" Tanya Jasmine mendekati Airin dan duduk sisi ranjang.
"Hey, Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Daniel menjadi khawatir karena Airin tiba-tiba saja menangis.
"Airin, Aku panggilkan Dokter, ya?" Ujar Zemin.
Panik ketiganya karena tiba-tiba Airin menangis sesenggukan.
"M-mereka mengesalkan. Hiks... Jasmine, usir mereka dari rumah ini! Hiks.. hiks.."
Ketiganya mematung seketika sama-sama terkejut. Dan setelahnya tertawa bersama karena rupanya Airin hanya pura-pura menangis.
...***...
Airin sedang berkunjung ke Mansion Andra untuk menemui kakaknya. Kirana sudah mendapat kabar dari Andra, Jika Airin sedang mengandung. Usia kandungannya baru 2 minggu. Jadi, Kirana sekaligus untuk mengucapkan selamat dan temu rindu kebetulan adiknya itu datang.
Tapi Naas, Setelah 2 jam Airin berada di Rumah Daniel, Adnan datang dan mereka bertemu. Sempat sudah berpamitan akan pergi tapi Adnan menahannya. Karena sepertinya kedua pasang suami istri ini perlu ruang untuk bicara, Kirana meninggalkan mereka hanya berdua.
"Aku tidak akan menandatangani surat itu." Ucap Adnan masih memperdebatkan perceraiannya.
"Jangan mempersulit keadaan. Kita akan tetap bercerai."
"Tidak akan! Sudah ku katakan, Jika kau sampai hamil, Aku tidak akan pernah menceraikan mu."
"Aku tidak h-..."
"Aku akan menunggunya sampai kau hamil!" Potong Adnan cepat.
"Jangan gila!!"
"Tapi aku serius." Ucap Adnan terus menyakinkan dengan memegang kedua tangan Airin.
"Simpan keseriusan itu untuk kekasih tercintamu."
"Tapi aku mencintaimu." Tangan Adnan dengan cepat mencekal lengan Airin yang hendak pergi.
"Aku mencintaimu, Airin." Ulang Adnan ketika Airin menoleh dan menatapnya terkejut. Mata keduanya bertemu, Adnan menatap sendu manik Airin dan Airin berusaha mencari kebohongan dari manik Adnan.
"Lep-pashh!!" Airin berusaha melepas cengkraman tangan Adnan.
"Tidak. Sampai kau berhenti dan menarik surat gugatan itu."
"Kenapa kau meminta ku?! Katakan saja pada kakak ku. Dia yang mengurus segalanya."
"Dia mengatakan semua keputusan ada ditangan mu."
"Dan kau sudah tahu jawabannya."
"Dan aku menolaknya!!"
"Aku tidak peduli. Secepatnya kita harus melakukan persidangan."
Adnan meraih kedua bahu Airin untuk menghadapnya.
"Airin Lihat aku!! Aku tahu kau pasti tidak percaya akan ini. Entah sejak kapan perasaan ini muncul padamu, bahkan sebelum kita melakukan untuk yang pertama kali. Aku benar-benar serius akan ucapan ku. Aku mencintaimu, Airin. Aku bersungguh-sungguh mencintaimu. Aku-... Aku minta maaf. Aku terlalu banyak menyakitimu, menghancurkan hatimu. Dan aku menyesal."
"Kenapa kau bicara seperti ini? Kenapa kau baru menyadarinya sekarang? Apa kau pikir setelah kau mengatakan itu, aku akan dengan mudah memaafkan mu? Kau bahkan tidak akan mengerti bagaimana sakitnya aku. Suamiku sendiri lebih membela wanita lain daripada aku yang istri sah suamiku sendiri yang sedang asik bercumbu dengan wanita lain di depan mataku. Suamiku sendiri yang tidak pernah sedikitpun menghargai dan menganggap ku sebagai istri. Dan sekarang dengan mudahnya kau meminta maaf?!"
"Kau bisa menghukum ku. Tapi tolong, Jangan tinggalkan aku. Aku berjanji akan berubah untukmu, kita bisa mulai dari awal. Aku tidak ingin kehilanganmu, Airin." Terus bujuk Adnan sangat tulus dan menyesal.
"Aku harus pergi."
Adnan tidak menjawab, ia masih sibuk menahan Airin. Airin melepas kedua tangan Adnan dari bahunya. Lalu, pergi mencari keberadaan Airin dan Andra untuk berpamitan.
"Airin!!!..."
Adnan terus mengejar Airin, ketika istrinya yang sudah berpamitan pada kakaknya langsung pergi keluar Mansion. Seakan tuli, Airin terus berjalan dengan cepat menghindari Adnan. Bahkan dengan kasar menepis tangan Adnan yang hendak meraihnya.
"Airin! Jangan pergi!! Tolong maafkan aku. Hukum aku jika itu bisa membuatmu puas. Tapi tolong jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa kehilanganmu. Airin!!" Teriaknya.
Airin terus melangkah menuju mobilnya berada.
Adnan berusaha meraih mobil Airin dan mengetuk kaca jendela, berharap Airin menghentikan mobilnya. Tanpa peduli, Airin semakin menancap gasnya. Membiarkan Adnan tersungkur karena pegangannya terlepas dari mobil Airin. Adnan bangkit mengejar mobil Airin yang sudah keluar dari pekarangan Mansion Andra, dan semakin jauh dari pandangan