My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 35 : Aku Mencintainya!



Pukul 23.35 Wib...


Adnan baru saja sampai di Mansion nya. Wajahnya terlihat sangat lelah. Tadi dia meninggalkan Shana di rumah sakit sendiri dan menitipkan Shana pada suster. Dia meminta izin pada Shana untuk pulang dan akan kembali besok pagi.


"Kau baru pulang? Bagaimana keadaannya?"


Adnan menghentikan langkahnya ketika pandangannya melihat Airin berdiri di samping tangga. Rupanya wanita itu belum tidur!


"Apa kondisinya cukup parah? Dokter mengatakan apa?"


Adnan tidak menanggapi pertanyaan Airin. Adnan kembali melanjutkan langkahnya, melewati Airin dan menaiki anak tangga.


"Aku bicara dengan mu, Tuan Adnan!!!"


Adnan menghentikan langkahnya. Menolehkan kepala tanpa membalikkan badan.


"Tidak perlu so peduli, jika awalnya kau berniat mencelakainya. Kau menanyakan kabarnya agar jika dia selamat, kau bisa mencelakainya lagi. Buang pikiran busuk mu, karena aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya."


"Berulang kali ku katakan, aku tidak mencelakainya."


"Kau pikir aku akan percaya?! Tidak akan!!"


Airin menatap kepergian Adnan. Dirinya berjalan mendekati Sofa ruang tengah, menduduki sofa tunggal dan menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Kepalanya sedikit berdenyut, merasakan sesak di dadanya, ternyata suaminya lebih memercayai wanita lain daripada dirinya yang istri sah.


...***...


Pagi Harinya...


Seperti biasa setelah bangun tidur dan membersihkan diri, Airin selalu turun menemui Rissa yang sudah berkutat di dapur.


"Selamat pagi, Rissa..." Sapa Airin.


Brak!


"Aakh.. Pa-pagi, Nyonya..." Kaki Rissa tidak sengaja tersandung kaki meja.


"Ya Ampun! Hati-hati, Rissa..." Wajah khawatir Airin ketika kaki Rissa terbentur kaki meja.


"Maaf Nyonya... Saya hanya terkejut."


"Apa kau terluka?"


Rissa menggeleng dan tersenyum.


"Nyonya, membutuhkan sesuatu? Tidak sarapan?"


"Tidak. Aku hanya..." Bicara Airin terpotong.


"Rissa! Bekal yang aku pinta apa sudah siap?"


Airin menatap Adnan yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Su-sudah, Tuan. Sudah saya letakkan di dalam mobil, Tuan Adnan." Jawab Rissa demikian.


"Hmm..." Adnan pergi tanpa melihat gadis di sebelahnya. Dan Airin mengikuti Adnan dari belakang.


"Apa kau ingin pergi ke rumah sakit? Boleh aku ikut? Aku ingin menjenguknya."


"Tidak perlu. Jangan coba-coba mendekatinya." Balas Adnan tanpa menghentikan langkahnya dan terus diikuti Airin.


"Kenapa? Aku hanya menjenguknya. Aku tidak akan macam-macam."


"Kau pikir aku percaya?! Bisa saja di sana kau bertindak di luar batas mu."


"Kenapa kau lebih percaya wanita lain daripada istrimu sendiri?! Sebegitu bencinya kau padaku hingga kau menutup hatimu pada kebenaran?! Selingkuhan mu yang berbohong, Bukan aku! Untuk apa kau memasang banyak cctv di mansion mu jika kau menutup mata?! Kau bodoh Tuan Adnan. Kau lebih memercayai wanita licik sepertinya."


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Airin yang memaksanya menolehkan kepalanya ke kanan secara mendadak.


"Jaga ucapanmu, Airin! Meski kau istriku, aku tidak peduli. Dan aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku."


"Aku pastikan kau akan menyesal, Adnan. Aku tidak takut apapun ancaman mu." Kata Airin sambil memegang pipi kirinya yang memerah.


PRANG...


Adnan mendorong pelan bahu Airin. Karena tubuh Airin sedikit tidak enak badan dan agak lemas. Tubuhnya oleng menyenggol guci besar hingga terjatuh pecah, diikuti tubuh Airin terjatuh dan sedikit terkena pecahan guci. Adnan yang melihat tidak berniat menolong dan pergi begitu saja meninggalkan Airin yang meringis kesakitan.


Bugh! bugh! bugh!


Belum sampai Adnan membalikkan badan, pukulan bertubi-tubi lebih dulu Daniel layangkan pada Adnan. Tadi Daniel yang baru sampai mansion Adnan, dikejutnya suara benda pecah dan keributan di dalam Mansion. Jadi, Daniel segera berlari memasuki Mansion. Tapi seketika dikejutkan dengan kondisi ruangan dan Airin yang kesakitan. Rahangnya mengeras menatap Adnan yang tidak berbuat apa-apa.


Bugh. bugh. bugh.


Pukulan Daniel bertubi-tubi masih dilayangkan. Adnan yang semula berada di bawahnya segera bangkit dan membalas pukulan Daniel.


Bugh!


"Jangan mencampuri rumah tangga ku! Bugh. Kau tidak akan tahu apa-apa!" Gertak Adnan membalas pukulannya.


"Aku tahu, Adnan. Aku tahu semuanya. Aku tahu jika aku menyakitinya!" Kata Daniel sembari saling serang membalas pukulan.


"Kau membelanya?"


Bugh!


"Jangan kau kira aku akan diam saja saat kau sudah menyakitinya. Sudah cukup kau memperlakukannya seperti ini dan tidak akan lagi!"


Bugh!


"Membela orang lain yang bukan keluarga kita?!" Keterlaluan Adnan ternyata menganggap Airin orang lain.


"Dia memang orang lain untukmu. Tapi tidak untukku. Dia sangat berarti bagiku."


Bugh! Bugh!


"Jangan mengatakan kau-..."


"Ya. Aku menyukainya. Bugh! Aku menyukainya sejak pertama kami bertemu. Bugh. Aku tidak akan minta maaf padamu karena aku mencintai istrimu. Bugh. Kau bahkan tidak pantas untuk gadis sebaik Airin. Bugh. Aku akan lebih rela dia kembali dengan mantan kekasihnya, daripada harus tetap mempertahankan pernikahannya denganmu. Bugh. Lepaskan dia, jika kau tidak mampu membahagiakannya. Bugh!" Ungkap Daniel di sela pertengkarannya yang membuat Adnan terkejut. Tak terkecuali Rissa dan Airin yang mendengarnya.


Mereka terus saling memukul satu sama lain. Tidak sadar jika gadis yang di perebutkan menatap kosong pada keduanya. Bahkan dia melupakan sakit pada tangannya yang terluka karena ucapan Daniel.


"Tuan... T-tolong hentikan. Nyonya Airin-..." Ujar Rissa menderai pertengkaran mereka.


Daniel menghentikan aksinya dan menoleh pada Rissa. Ia mendapati Rissa yang memangku kepala Airin di atas pahanya. Airin pingsan! Daniel segera menghampiri keduanya dan mengambil alih Airin dan menggendongnya.


"Ambilkan P3k. Bawa ke kamarnya!" Titah Daniel membawa Airin ke kamar.


"Baik Tuan..." Rissa bergegas mencari kotak P3K.


Adnan menatap diam kepergian keduanya. Sesekali meringis merasakan kebas pada seluruh badan dan wajahnya.


Rissa datang di kamar Airin setelah Daniel membaringkan Airin di ranjangnya. Daniel perlahan membersihkan luka pada tangan Airin dan Rissa membantu menbersihkan kaki Airin yang sedikit terkena pecahan guci.


...***...


Di Kamar Airin...


Lama sekali Airin tidak sadarkan diri dari pingsannya. Mungkin memang wanita itu sangat lelah dan biarkan dia istirahat.


Eunghh...


Rissa yang sedang beraga duduk dipinggir ranjang menoleh mendengar lenguhan Airin.


"Nyonya!! Tu-tuan Daniel, Nyonya Airin sudah bangun."


Daniel yang tertidur di sofa sontak bangun dan segera menghampiri ranjang Airin.


"Kak Dario..." Panggilnya saat terbangun dengan suara serak dan lemah.


"Hei, jangan bangun. Cukup berbaring saja. Lukamu belum kering."


Airin yang sudah mengangkat setengah badannya untuk duduk, kembali berbaring di bantu Daniel.


"Apa ada yang sakit atau ada lagi yang terluka di bagian lain, hum? Perlu aku panggilan dokter? Katakan jika kau merasakan sakit."


Airin tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis menatap Daniel yang terlihat khawatir padanya.


Tangan Airin terulur menyentuh luka memar disudut bibir Daniel.


Ssshh...


Daniel meringis kesakitan.


"Uh... Maaf, maaf..."


Airin terkejut dan menarik kembali tangannya. Sebelum itu, tangan Daniel lebih dulu menahan tangan Airin dan meletakkan kembali pada pipinya, menuntun tangan Airin mengusap pipinya pelan. Manik keduanya saling menatap.


Rissa yang masih di tempat, pergi meninggalkan keduanya dengan terkikik. Ia pergi karena tidak ingin mengganggu Daniel dan Airin yang sepertinya tidak membutuhkan nyamuk seperti Rissa.