
Beberapa saat setelah kepergian Adnan, Rissa datang dan terkejut melihat isi kamar Airin yang berantakan.
"Ya Ampun!! Nyonya Airin tidak apa-apa? Ayo saya bantu!" Rissa membantu Airin untuk berdiri dan duduk di pinggir ranjang.
"Sebentar, Saya akan ambil alat pembersih dan juga kotak p3k, Nyonya tetap di tempat, jangan kemana-mana. Mengerti?!
Airin mengangguk dan tersenyum. Sampai kepergian Rissa menghilang di balik pintu. Sementara dirinya, segera mengusap genangan air mata yang belum sempat terjatuh di pipi putihnya.
Cukup 15 menit Rissa membersihkan kekacauan di kamar Airin. Setelahnya, Rissa membantu mengobati tangan Airin yang terluka. Airin terus memperhatikan Rissa dengan tatapan sendu.
"Kenapa kau belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam. Kau pasti sangat lelah seharian mengurus rumah." Ujar Airin.
"Bagaimana saya bisa tertidur jika keadaan kamar Nyonya kacau begini. Lagipula sudah pekerjaan saya mengurus rumah ini, Nyonya."
"Maafkan aku sudah mengganggu waktu istirahatmu."
"Tidak Nyonya. Jangan bicara seperti itu. Saya justru khawatir pada anda. Saya takut jika Tuan melakukan sesuatu pada, Nyonya. Dan ternyata dugaan ku itu benar."
"Apa wanita itu sudah pulang juga?" Tanya Airin sendu.
"Saya tadi lancang mengusir wanita itu, tapi ia bersikeras akan pergi jika Tuan sendiri yang memintanya. Kami juga bertengkar tadi. Dan setelah itu mungkin Tuan ada di kamar tamu."
Airin terkekeh. Tangannya terulur mencubit pipi Rissa gemas membuat Rissa hanya tersenyum.
"Malam ini tidur dengan ku, ya?!" Pinta Airin.
"Ta-tapi Nyonya-..."
"Ini perintah. Dan aku tidak suka penolakan."
"Baiklah jika Nyonya memaksa."
Rissa tersenyum paksa membuat Airin bersorak kegirangan, menularkan senyum di bibir Rissa.
...***...
Menjelang Pagi...
Airin yang sudah selesai mandi pun mulai menuruni anak tangga. Tujuannya adalah meja makan, untuk sarapan.
"Pagi Rissa..." Sapa Airin tersenyum.
"Selamat pagi, Nyonya Airin. Silakan sarapan. Saya permisi."
Rissa hendak pergi, tapi terhenti ketika Airin menyerukan namanya.
"Rissa, Kau ingin kemana? Ayo kita sarapan bersama!!" Ajak Airin karena sudah memperlakukan Rissa seperti adiknya.
"Tapi, Nyonya, Bagaimana dengan Tu-..." Rissa selalu ragu dan sungkan.
"Dia akan sarapan di tempatnya. Tidak dengan kita." Ucap Airin memotong. Tetap menunduk fokus pada piring makannya karena ia sudah kecewa pada Adnan.
"Benar, Nyonya? Saya akan sarapan di dapur saja. Takut Tuan nanti akan sarapan di sini."
Dan benar saja, Adnan sudah memakai setelan jasnya dan menuruni anak tangga menuju dapur. Di sana Airin melihat kedatangan Adnan dan berbeda dari sebelumnya ia sepertinya akan sarapan di rumah yang malah mengambil kursi duduk di meja makan sampai membuat Airin muak.
Kemudian, Airin berdiri dengan tangan membawa piring makannya.
"Jika begitu, aku akan menemanimu sarapan di dapur. Ayo!!"
Adnan mengangkat kepala, Menatap Airin tidak suka dengan ucapannya barusan.
"Duduk Airin!! Kembali ketempat mu!!" Seru Adnan dingin.
Airin menghiraukan perintah Adnan. Dia terus saja mengajak Rissa untuk pergi, tapi Rissa malah terdiam di tempatnya menatap Tuannya dengan takut dan cemas.
"Airin! Kau dengar aku?! Cepat duduk di tempatmu!!" Bentak Adnan melihat tajam ke arah istrinya.
"Rissa, ayo! Sudah, tidak apa-apa. Ayo kita sarapan bersama di dapur." Ajak Airin bersikeras.
"Kau Airin!! Ku perintahkan duduk di tempatmu!!" Gertak Adnan semakin darah tinggi. Dan lagi-lagi Airin tidak acuh dengan perintah Adnan.
"Tapi Nyonya, Tuan-..." Cemas Rissa masih takut jika Adnan akan mengamuk.
"Tidak apa. Ayo kita sarapan. Aku sudah sangat lapar." Kata Airin demikian. Dan Rissa menurut karena tarikan paksa Airin.
...***...
Setiap hari Airin selalu menghabiskan waktunya sendirian. Meskipun ia bersuami, ia terlihat seperti wanita yang masih lajang karena pergi tanpa ada pendamping. Siang hari, ia memutuskan untuk makan di sebuah restoran dan tidak sengaja bertemu dengan seseorang.
"Airin!..." Teriak seseorang memanggil.
Airin menoleh dengan mulut penuh makanan.
Pria itu adalah Zemin Tao. Ia terlihat datang dengan berlari kecil menghampiri Airin yang masih tidak percaya pria itu ada di Indonesia.
Zemin tertawa kecil melihat mulut Airin yang mengembung penuh makanan.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Zemin.
Airin mengangguk cepat dengan mulut yang perlahan kembali mengunyah.
"Telan dulu makanannya. Pelan-pelan! Kau bisa tersedak nanti." Peringatan Zemin yang perhatian.
Setelah menelan semua makanan di mulutnya, Airin tersenyum gigi tanpa dosa dan mulai mengajukan pertanyaan.
"Zemin, mengapa kau bisa ada di sini? Kau sedang apa datang kemari?" Tanya Airin demikian.
"Memberi makan kucing!" Ketus Zemin menjawab dengan candaan.
"Memangnya di China tidak ada kucing, ya? Sampai kau harus jauh-jauh datang kemari?" Kondisi wajah Airin menatap Zemin terkejut dan kebingungan.
Bukannya memberi jawaban, Zemin malah tertawa dengan keras.
"Dan kau percaya?"
"Jika kau yang mengatakannya, aku percaya, meski sedikit aneh rasanya."
"Itu namanya kau lugu. Percaya begitu saja pada orang lain."
"Jadi, aku tidak boleh percaya pada mu?!"
"Itu terkecuali." Jari telunjuk Zemin mengacung di depan wajahnya, dan menggoyang-goyangkan ke kanan-kiri. Airin sangat bingung dengan gerakan Zaemin yang aneh menurutnya.
"Kenapa begitu?"
"Karena aku tidak pernah membohongimu. Jika jari telunjuk ini lebih panjang dari jari tengah maka kau patut mencurigai ku."
Keduanya saling menatap dalam sampai suara seseorang muncul memanggil nama Zemin.
"Zemin?!!..." Teriaknya memanggil dan Zemin pun menyapanya dengan melambaikan tangan.
"Di sini saja. Duduklah! Aku sudah memesankan mu." Pinta Zemin.
"Terima Kasih. Lho !! Airin?! Kau juga di sini?" Ujar pria itu baru sadar dan ia adalah Kenzo.
"Hai kak! Kak Ken mengenal Zemin?" Tanya Airin karena heran kenapa Kenzo juga ada di sana menemui Zemin.
"Tentu saja. Zemin adik tingkatku waktu aku melanjutkan kuliah S2 di China, lalu kami bertemu kembali waktu dia mulai mengurus perusahaan ayahnya lewat undangan kerja sama. Dan kau mengenalnya juga?!"
"Agh... Ternyata dunia itu sempit, ya. Bahkan bisa jadi orang yang ada di samping kita pun pernah ditemui sebelumnya. Aku dan Zemin sudah mengenal saat Sekolah menengah sampai kuliah S1." Ungkap Airin memberitahu.
"Emm... Kami juga pernah ada hubungan spesial dulu." Timpal Zemin tidak tanggung sampai membuat Airin membuka mata lebar.
Kedua alis Kenzo berkerut tidak paham.
"Hubungan kami berjalan dua tahun, sampai aku harus berpindah negara tinggal di sana mengikuti ayah ku dan melanjutkan kuliah di sana. Dan ternyata Airin sudah menikah sampai tidak mengundang ku. Jahat sekali." Meskipun Zemin tertawa di akhir, dibalik tawa itu menyimpan luka yang tidak bisa diterima jika Airin telah menikah.
Sejujurnya ia belum melupakan Airin. Zemin berpikir, jika saja ia lebih dulu meminang gadis itu dan memboyong ke negara ayahnya maka sudah dipastikan Airin berstatus sebagai istrinya sudah lama.
"Hahaa.. Aku tidak tahu jika kalian pernah ada hubungan. Jika aku tahu, aku yang akan mengundang mu kemarin. Hitung ingin melihat, sudahkah kau move on darinya... Sekarang sudah zamannya pernikahan dihadiri mantan terindah."
Kedua pria itu dan Airin tertawa bersama.
"Airin!..."
Datangnya Adnan yang tidak disangka membuat ketiganya menoleh, dan melunturkan senyuman Airin juga Zemin. Airin tidak merespon, ia menatap Adnan datar tanpa ingin bertanya apapun.