My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 46 : Dilema Keputusan



"Airin!!..."


Airin menghapus air matanya dan menoleh saat Zemin menghampirinya. Tentu saja Zemin sudah tahu jika Airin menangis, tapi ia memilih diam.


"Zemin, Kau belum berangkat?" Tanya Airin dengan mata memerahnya.


"Aku baru pulang. Pekerjaan ku sudah selesai."


Airin mengangguk dan menunduk. Kemudian mengangkat kepalanya menatap Zemin.


"Emm... Aku ke kamar terlebih dulu." Ujar Airin meninggalkan Zemin dengan gontai karena ia sedang tidak ingin berbincang dengan orang lain.


Zemin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Airin.


Ceklek!


Airin menoleh, menatap Zemin yang berdiri dari balik pintu dengan segelas jus di tangannya. Airin yang sedang duduk di lantai dan bersandar pada ranjang dengan kedua lutut ditekuk di depan dada, segera berdiri dan berpindah duduk di pinggir ranjang saat Zemin melangkah masuk dan mendekatinya.


"Minum!" Kata Zemin menyodorkan jus ada Airin.


"Terima kasih." Airin mengambil gelas yang disodorkan Zemin, dan meminumnya hingga setengah.


"Sudah?" Airin mengangguk. Zemin kembali mengambil gelas dari tangan Airin dan meletakkannya pada nakas.


Zemin menatap mata Airin dalam. Dia tahu bahwa Airin baru saja menangis lagi terlihat dari mata wanita itu sedikit merah dan sembap.


"Kau ingin cerita?" Duduk Zemin di pinggir Airin untuk menemaninya.


"Uh... Cerita?! Cerita apa?"


"Jangan menyembunyikan apapun. Kau sedang hamil sehingga jangan memendam masalah terlalu berat sendirian. Kau masih memiliki kami. Berbagilah! Aku juga teman mu."


Airin menunduk, memainkan ujung dressnya. Dia ingin bercerita, tapi dia ragu. Dia sudah merepotkan banyak orang pada masalahnya dengan Adnan.


"Cerita lah! Jika kau ingin anggaplah aku adalah kakak mu. Kakak mu ini akan mendengarkan dan melindungi mu. Ada apa, hum? Apa kau sedih mengenai Tuan Adnan?!"


Airin menghela napas panjang.


"Tadi di Mansion Kak Andra, Kami bertemu. Dia meminta maaf. Dan..." Airin bercerita semuanya mengenai pertemuan dengan sang suaminya tadi. Dan berbagi banyak hal mengenainya.


"Kau.. Mencintainya?" Tanya Zemin berikutnya setelah Airin selesai bercerita.


Airin menunduk tidak menjawab.


"Pikirkan lagi baik-baik dan tanyakan pada hatimu. Seseorang memang harus saling memaafkan dan berhak mendapatkan kesempatan kedua. Itu jika kau mengikhlaskan kesalahannya. Namun jika tidak, Jangan lakukan. Itu akan membuat hatimu semakin sakit apalagi saat ini kau sedang mengandung calon buah hatimu yang nanti akan membutuhkan ayahnya. Apapun yang terjadi pada kalian nanti, Jangan sembunyikan apapun dari anak mu, dia berhak tahu siapa ayahnya."


"Apa aku harus memaafkannya demi buah hati kami? Tapi dia tidak tahu jika aku sedang mengandung anaknya, lalu bagaimana jika nanti dia mengulanginya kembali? Bagaimana jika dia tidak tulus meminta maaf." Gundah Airin dengan kebingungan terhadap keputusannya sendiri.


"Itu yang harus kau cari jawabannya. Hanya kau yang bisa merasakan ketulusannya." Pungkas Zemin menjawab.


"Jika aku tetap ingin berpisah?!" Tanya Airin menatap dengan mata berbinarnya.


"Itu keputusanmu. Berarti kau sudah memikirkannya baik-baik. Tapi ingat Airin, Jangan jauhkan anak dari ayahnya. Anak mu berhak tahu siapa ayahnya karena sosok ayah yang sesungguhnya tidak dapat terganti, jika kau memang tidak ingin kembali dengannya. Aku juga tidak akan selalu ada untukmu di sini, aku harus kembali pulang ke China. Kau adalah kekasih ku dulu, jika bisa saat ini posisi mu bukan istri orang lain, aku pasti ingin sekali menikahi mu." Pungkas Zemin tidak sadar air mata di pelupuknya mengenang.


Airin pun termenung. Ia memahami perasaan Zemin padanya. Tapi perasaan itu perlu dibuang jauh-jauh.


"Terima kasih, Zemin. Aku sedikit lega sudah bercerita. Dan sekarang aku hanya perlu memikirkan keputusannya. Aku harap keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang baik."


Zemin tersenyum dengan mengusap lembut kepala Airin.


Hoek... Hoek..


Jasmine membantu memijat tengkuk Airin.


"Kak Airin, Sudah selesai?"


"Hmm..." Jawab Airin lemah.


"Wajah Kakak sangat pucat. Ayo, aku antar ke kamar. Kakak harus beristirahat."


Jasmine menuntun Airin menuju kamarnya. Tapi baru keluar dari dapur, mereka bertemu Zemin.


"Perlu ku panggilkan Dokter?" Tanya Zemin.


"Tidak Zemin, Istirahat sebentar saja sudah akan lebih membaik." Jawab Airin menolak.


"Baiklah. Jika terjadi sesuatu, kabari aku, ya."


Airin mengangguk.


"Jasmine sudah kau kemas barang-barang mu?" Tanya Zemin setelahnya.


"Semua sudah selesai, Kak Zemin." Jawab Jasmine.


"Hmm... Baiklah. Aku ke kamar dulu. Aku juga ingin mengemas barang-barang ku karena pekerjaan ku di sini sudah selesai dan harus segera kembali pulang." Zemin pun pergi dengan napas yang sangat berat.


"Masa libur kuliah mu sudah selesai, Ya? Itu artinya kau harus kembali ke Firlandia. Aku jadi sedih kau harus pergi. Selain kau, Zemin juga akan kembali ke negaranya. Itu artinya aku kehilangan dua anggota keluarga ku. Sering-sering memberi kabar, ya. Dan jika kau kembali libur panjang, pulanglah cepat kemari. Aku pasti merindukan mu."


"Kakak jangan khawatir. Aku akan menghubungi Kak Airin setiap hari. Sebenarnya aku sangat berat meninggalkan kalian semua di sini, tapi di sana aku belajar dan tidak akan lama lagi kelulusan. Nanti aku juga akan membawa ayah dan ibuku, lalu diperkenalkan pada Kakak, mereka juga pasti akan senang."


Jasmine memeluk Airin dan Airin membalasnya.


Sore tadi Daniel baru sampai Rumah. Pria itu baru saja melangsungkan perjalanan bisnis Ke Jepang dan Singapure selama 4 hari. Lusa Jasmine juga akan kembali ke Firlandia dan Zemin harus pergi ke negaranya di China karena pekerjaan Zemin di Indonesia sudah selesai.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


"Aku ingin bertemu dengan Airin. Bisa di panggilkan? Ini penting." Ujar seseorang yang datang ke Rumah Daniel dan dibuka oleh pelayan rumahnya.


"Silakan masuk, Tuan. Saya akan panggilkan Nona."


Adnan memasuki Rumah dan menunggu Airin di ruang tamu. Sedangkan pelayan tadi pergi memanggil Airin.


Adnan menoleh ketika mendengar langkah kaki menuruni anak tangga. Dia dapat melihat istrinya berjalan dengan Jasmine di sampingnya, dan juga Daniel, Zemin mengikuti keduanya dari belakang. Adnan berdiri dan melangkah mendekati keempatnya, tepatnya mendekati Airin.


"Kak Adnan, Duduklah! Kalian bicara baik-baik." Titah Jasmine.


Adnan menggeleng kepala. Tangannya meraih kedua tangan Airin, kemudian berlutut di hadapan Airin. Membuat keempat orang di depannya terkejut.


"Airin, maafkan aku. A-aku minta maaf... Hiks." Ujar Adnan yang tidak sungkan berlutut di kaki istrinya.


Airin menatapnya kosong. Dirinya masih terkejut dengan apa yang Adnan lakukan di hadapannya.


Karena merasa kedua pasangan suami istri perlu ruang untuk menyelesaikan masalah keduanya. Zemin memberi kode pada Daniel dan Jasmine untuk pergi meninggalkan Airin dan Adnan. Kemudian, mereka bertiga pergi untuk membiarkan keduanya menyelesaikan masalah. Mereka akan memantau keduanya dari jauh, berjaga-jaga jika Adnan kembali kasar pada Airin.