My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 23 : Adnan Ketahuan Selingkuh



Keesokan Pagi Harinya di Shanghai China...


"Della, Daniel dan Airin belum turun? Apa kau sudah memesan sarapan?" Tanya Kirana menghampiri adiknya.


"Hmm... Aku sudah memesannya. Daniel, dia sedang lari pagi di halaman. Jika Airin, sejak tadi aku belum melihatnya."


"Jika begitu aku akan lihat Airin ke kamarnya."


"Aku saja, Kak. Sekalian aku ingin mandi, tolong kau tunggu pesanannya, ya. Sudah ku bayar."


"Baiklah, perintahkan dia supaya cepat turun."


Della berdehem sebagai jawaban setelah beranjak, lalu pergi.


Tok! tok! tok!


"Airin, Ayo turun! Kita sarapan bersama." Teriak Della dari luar.


Berulang kali Della mengetuk tetap tidak terdengar sahutan dari dalam. Jadi, Della membuka pintu kamar Airin yang kebetulan tidak terkunci. Della mendekati ranjang yang masih terisi seseorang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai leher.


"Airin, Ayo bangun! Kita harus sarapan, yang lain sudah menunggu di bawah. Oh APA?!! KAK KIRANA!! DANIEL!!!"


Della panik ketika mencoba mengusap kepala Airin untuk membangunkannya. Dan refleks merasakan suhu Airin yang sangat panas dan dirinya teriak memanggil yang lain.


Kirana dan Daniel dengan tergesa memasuki kamar Airin.


"Ada apa, Della??" Tanya Kirana dengan napas terengah-engah karena ia berlari saat mendengar teriakan takut terjadi sesuatu.


"Kak, suhu tubuh Airin panas, Airin sakit. Demam badannya tinggi sekali, kita harus memanggil dokter."


"Akan ku panggilkan. Kak Kirana tolong ambilkan obat dan kompres saja, ya!!" Ujar Daniel bergegas menelepon.


Kirana mengangguk. Dengan cepat dirinya berlari menuju dapur.


Beberapa saat setelah dokter memeriksa Airin. Kirana duduk disisi ranjang memandang dan mengusap lembut kepala Airin yang tertidur. Badannya masih demam, wajahnya pun juga pucat.


"Della, sepertinya kita batalkan saja urusan di Beijing. Airin tidak mungkin pergi dengan keadaan seperti ini. Aku akan menghubungi Tuan Zixuan." Kata Kirana tidak tega meninggalkan adiknya yang sedang sakit.


"Tapi pertemuan ini sangat penting untuk kita, Kak. Bulan lalu kita sudah pun membatalkan janji dengan Tuan Zixuan, dan sekarang membatalkannya lagi? Bukan aku tidak peduli pada Airin, tapi ini adalah kesempatan kedua yang diberikan untuk mendapatkan peluang emas bagi butik kita."


"Tapi Airin sedang sakit. Aku khawatir jika terjadi apa-apa dengannya." Menentang Kirana bersikeras.


"Aku juga khawatir dengannya. Tapi baiklah, aku akan menghubungi Tuan Zixuan untuk mengundur pertemuan ini saja."


"Jangan dibatalkan ataupun diundur. Tuan Zixuan akan kecewa. Kalian pergilah! Biar aku yang menjaga Airin di sini."


"Tapi Daniel, kami yang membawa kalian kemari, tidak mungkin kami meninggalkan kalian." Kata Kirana.


"Tidak apa kakak ipar. Pertemuan kalian sangat penting. Kalian sudah jauh-jauh datang dan kita sudah ada ditahap ini mana mungkin disia-siakan. Nanti setelah Airin sudah lebih baik, aku akan membawanya kembali ke Indonesia."


"Baiklah, Terima kasih, Daniel. Aku titip Airin ya. Beri kami kabar jika kalian akan kembali Indonesia."


Daniel mengangguk. Beralih pada Airin yang terbaring lemah di ranjang.


Sejak keberangkatan Kirana dan Della tadi sore beralih pergi ke kota Beijing, Daniel tidak pernah sedikitpun meninggalkan Airin. Hanya ke kamar mandi dan ke dapur. Tadi Kirana dan Della juga meninggalkan beberapa pelayan penginapan itu untuk membantu Daniel merawat Airin. Sedangkan Daniel juga memanggil beberapa bodyguard untuk berjaga-jaga membantunya nanti. Sedari tadi Daniel duduk di kursi samping ranjang Airin, dengan ponsel di genggaman. Sesekali mengecek laporan pekerjaan lewat ponselnya.


Eunghh...


Erangan Airin mengalihkan perhatian Daniel. Tangannya refleks mengusap lembut kepala Airin ketika mata gadis itu mulai terbuka sedikit demi sedikit.


"Airin! Kau bangun! Apa masih pusing? Kau butuh sesuatu? Ingin minum?"


"Tu-tuan Da-daniel?!" Bicara lemah Airin kebingungan.


"Jangan bergerak! Kau sedang sakit. Aku di sini. Kau ingin sesuatu, hum?"


"To-tolong matikan AC nya. Dingiiinnn.."


"AC nya tidak nyala, Airin. AC nya sudah mati sejak tadi karena aku pikir kau akan kedinginan."


"Apa masih dingin?"


Airin mengangguk. Daniel segera mengambil selimut tebal di kursi sofa yang di pakainya tadi, Kemudian di tumpuk di atas selimut yang dipakai menyelimuti Airin.


"Apa sudah sedikit hangat?"


"Diingiinn... Tuan..."


Daniel menoleh ke kanan kiri mencari sesuatu yang bisa untuk menghangatkan tubuh Airin.


Salah satu pelayan memasuki kamar.


"Xiānshēng, nín xūyào bāngzhù ma?"


Pelayan itu bertanya dalam bahasa Mandarin. Jelas Daniel tidak mengerti maksud yang dikatakan pelayan itu padanya dan hanya terdiam. Ia tidak tahu jika sebenarnya Daniel bukan berasal dari negara mereka.


"Agh, I'm sorry Sir." Pelayan itu meminta maaf setelah menyadari jika sebenarnya ia tidak mengerti perkataannya.


"Sir, do you need any help?" Pelayan itu kini mengulang pertanyaan menggunakan bahasa Inggris, ia sangat mahir dan terlatih di negaranya untuk menggunakan bahasa Inggris pada orang luar.


(Tuan, Apakah anda memerlukan bantuan?)


"Why is the heating here in this room not working?"


(Kenapa penghangat ruangan di sini tidak berfungsi?)


"I'm sorry sir, the heating is broken here."


(Maaf Tuan, di sini penghangat ruangan sedang rusak.)


Daniel semakin frustasi ditambah gigi Airin semakin terdengar bergemerutuk dan pucat.


"Get me some thicker blankets!"


(Ambilkan beberapa selimut yang lebih tebal!)


Pelayan tersebut mengangguk dan segera pergi.


Beberapa saat setelah pelayan datang memberikan beberapa selimut tebal. Daniel segera membungkus tubuh Airin.


"Apa sudah sedikit hangat?"


Tidak ada respon. Bahkan Airin semakin mengeratkan pelukannya pada selimut, tubuhnya terlihat masih menggigil.


"Airin, Kau bisa mendengar ku?"


Daniel semakin cemas karena tidak mendapat jawaban. Tidak ada pilihan lain!


Daniel menyingkap selimut yang membungkus tubuh Airin, Daniel membaringkan tubuhnya disebelah Airin, mengambil tubuh Airin agar semakin dekat dengan tubuhnya dan mendekapnya erat. Bahkan Daniel menyuruh pelayan nya untuk menambahkan selimut lagi membungkus tubuh keduanya. Tidak disangka, Airin juga melingkarkan tangannya pada pinggang Daniel, memeluknya erat, dan menghangatkan kepalanya pada dada bidang milik Daniel.


Detak jantung Daniel berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Ia terpaksa melakukan hal ini


...***...


"Reynand, Jika Adnan sudah datang sampaikan padanya aku keluar sebentar dan beritahu setelah jam makan siang akan ada meeting dengan Tuan Maxim yang kemarin baru datang dari inggris. Tuan Maxim mendadak ingin bertemu dengan ku dan dengannya." Ujar Andra pada asisten pribadi Adnan.


"Baik Tuan, nanti saya sampaikan." Jawab Reynand menunduk hormat. Setelahnya, Andra pergi.


Andra mengendarai mobilnya membelah jalanan. Dia akan ke kantor sahabatnya sekaligus kakak iparnya, Dario. Rencananya keduanya akan menyusul istri dan adik mereka ke Beijing nanti sore, setelah mendapat kabar dari adik dan istri jika Airin sedang sakit di Shanghai. Di tengah lampu merah, Andra melihat mobil yang tidak asing di depannya.


"Bukankah itu mobil Adnan?!! Ingin kemana dia? Kemana arahnya akan pergi, bukannya langsung ke perusahaan. Tapi sepertinya dia tidak sendiri. Dengan siapa?!" Heran Andra bertanya pada dirinya sendiri yang membuat ia stress tidak membuahkan jawaban dari rasa penasarannya.


Karena penasaran, Andra mengikuti mobil adiknya. Sampai mobil itu berbelok di sebuah restoran sepertinya untuk sarapan. Setelah memarkirkan mobilnya dengan sembunyi-sembunyi, Andra menunggu Adnan turun dari mobil sampai akhirnya adiknya mulai terlihat.


Tangannya mengepal erat, ketika melihat adik bungsunya sedang bersama wanita lain yang bukan Airin istrinya. Mereka berjalan memasuki restoran dengan saling memeluk satu sama lain, sesekali Adnan mengecup kepala dan pipi si wanita dengan lembut.


Tak ingin menunggu lama. Andra cukup melihat banyak hal dari kelakuan adiknya, begitu muak Andra segera menancap gas pergi dari restoran itu.