My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 30 : Pukulan Atas Nama Airin



"Tuan Daniel, kendalikan dirimu! Ini di perusahaan." Ucap Sang Asisten Pribadi Adnan kewalahan mengatasi amarah Daniel yang datang ke perusahaan Future Company dalam keadaan marah.


"Aku tidak peduli."


Daniel terus berjalan melewati koridor menghiraukan Reynand yang berusaha menenangkan emosi dan mengejarnya.


BRAK!!


Bantingan keras pada pintu mengalihkan perhatian kedua pria di dalamnya. Di sana terdapat Andra dan juga Adnan.


Bugh! bugh! bugh!


Bertubi-tubi pukulan Daniel lesatkan pada Adnan. Sementara Andra dan Reynand sekuat tenaga menghentikan amarah Daniel yang sudah memuncak. Pertengkaran terhenti, membuat keempatnya sama-sama mengatur napas beratnya.


"Daniel!! Apa yang kau lakukan? Lihat! Sebenarnya apa yang terjadi? Jika kalian berdua ada masalah, selesaikan baik-baik. Tidak seperti ini." Ucap Andra bertanya.


"Tanyakan sendiri pada pria bajingan itu. Apa yang dia lakukan pada Airin." Hardik Daniel.


Keduanya bersamaan menatap tanya pada Adnan.


Adnan hanya diam, memegangi wajahnya yang terasa ngilu dan perih.


"Adnan, sebenarnya ada apa? Kau bertengkar dengan Airin? Bukannya ketika kalian makan malam kemarin semalam, kalian baik-baik saja?!"


Adnan tetap diam tidak menjawab. Bahkan dirinya memalingkan wajah, enggan menatap kakaknya.


"Jika kau tidak mencintainya, jangan di nikahi. Jika kau tidak bisa membuatnya bahagia, jangan menyakitinya." Ketus Daniel.


"Adnan! Jelaskan, ada apa sampai Daniel turun tangan atas Airin?"


Adnan tetap diam, membuat Daniel semakin kesal.


"Semalam, dia menurunkan istrinya secara paksa di tengah jalan dalam keadaan jalanan sepi dan gelap. Meski Airin sudah memohon dan menangis padanya untuk tidak di tinggalkan sendirian di sana, tapi dia tidak peduli. Melupakan bahwa Airin takut kegelapan." Ungkap Daniel menjelaskan.


"APAA??"


Pekik keduanya bersamaan dan terkejut akan penjelasan Daniel.


Bugh!


Kini giliran Andra yang memukul bertubi-tubi adiknya tanpa perlawanan. Yang benar saja, Adnan begitu tega meninggalkan Airin di tengah kegelapan, jika dalam posisi Daniel yang menemukan Airin kemarin malam, maka Andra sendiri tidak akan tinggal diam.


Di Rumah Daniel.


"Di mana dia?" Tanya Daniel pada pelayannya. Ia menanyakan Airin yang tinggal di rumahnya karena enggan pulang ke mansion Adnan.


"Nona sedang di kamar, Tuan. Sejak tadi nona tidak ingin makan. Katanya ingin menunggu tuan Daniel pulang." Ucap Pelayan.


"Tolong kau siapkan makanan dan antar ke kamar!" Perintah Daniel.


"Baik Tuan, akan saya siapkan."


"Terima Kasih..."


"Sama-sama, Tuan. Jika begitu saya pamit."


Setelah kepala pelayan itu pergi Daniel berbalik, melangkah menuju kamar utama.


Ceklek!


Airin menoleh dan tersenyum setelah tahu siapa yang membuka pintu dan memasuki kamar.


Daniel duduk di sofa, berhadapan dengan Airin yang duduk di pinggir ranjang.


"Kata bibi, kau tidak ingin makan. Kenapa, hum? Apa kau tidak lapar?!"


Airin menggeleng.


"Aku ada urusan dengan Kenzo. Setelah ini, Kau harus makan!"


"Dengan Tuan, ya!"


"Kita makan bersama." Daniel mengangguk dan tersenyum.


Tidak lama, kepala pelayan mengetuk pintu dan memasuki kamar, membawa beberapa makanan di nampan.


"Tuan, ini makanan yang anda minta."


"Letakkan di meja, Bi!"


Pelayan menyusun makanan yang di bawanya di atas meja.


"Ada lagi yang Tuan dan Nona inginkan?"


"Tidak ada, Bi. Terima kasih banyak." Jawab Airin.


"Sama-sama, Nona. Saya permisi."


Daniel dan Airin pun segera makan bersama.


...***...


Di Mansion Andra...


Brak!!


Kepulangan Andra dilakukan dengan bantingan keras pada pintu membuat Kirana yang berada di ruang tengah berjingkat terkejut. Kirana segera menghampiri suaminya, dan disuguhnya wajah suaminya yang menegang dan memerah.


"Sayang, kau kenapa pulang marah-marah seperti ini? Apa ada masalah di perusahaan, hum?!" Kirana mengusap lembut rahang suaminya yang mengeras.


"Adnan benar-benar keterlaluan."


"Adnan?! Kenapa dia?"


"Dia menurunkan dan meninggalkan Airin di tengah jalan yang sepi kemarin malam."


"A-apa maksudmu?! Bagaimana bisa? Bukankah mereka-..."


Dan Andra menjelaskan semuanya pada istrinya.


"Ya Tuhan. Lalu, Bagaimana dengan Airin sekarang? Apa dia baik-baik saja?"


"Airin baik-baik saja. Sekarang dia berada di rumah Daniel."


"Apa Della dan Kak Dario tahu mengenai ini?"


"Aku belum memberitahu mereka."


"Airin..." Lirihnya, sangat khawatir dan sedih dengan yang dialami Airin.


"Sayang, Aku ingin menemui Airin."


"Aku khawatir dengannya."


"Jangan sekarang sayang. Biarkan dia menenangkan diri dulu. Aku akan menghubungi Daniel untuk tahu keadaan Airin."


"Baiklah. Nanti kita temui Airin, ya?!"


"Iya sayang.. Nanti kita kesana."


Andra memeluk istrinya. Menenangkan sedikit rasa khawatirnya pada Kirana.